
Restu tak banyak bertanya tentang Aleesa sekarang. Dia lebih baik diam dan menenangkan. Dari wajah Aleesa saja sudah terlihat jelas jika dia habis menangis. Aleesa baru saja dipanggil oleh sang ayah. Sesuai dengan janjinya, Restu mengajak Aleesa ke posko pencarian korban. Tangan Aleesa terasa dingin ketika tiba di sana. Restu terus menggenggam tangan sang istri yang sesekali menatapnya.
"It's okay." Aleesa mengangguk. Aku akan selalu ada di samping kamu.
Sebuah kalimat yang membuat Aleesa tenang. Sesekali Aleesa memeluk pinggang Restu sambil menunggu. Banyak orang yang melihat kemesraan mereka berdua. Ditambah dengan percaya dirinya Aleesa tak menutup tanda merah yang suaminya berikan semalam. Bagi dirinya ini hal biasa. Dia juga sudah sah menjadi istri dari Restu Ranendra.
Ponsel Restu berdering dan membuat Aleesa melonggarkan pelukannya. Dia menatap dalam sang suami yang tengah berbicara dengan seseorang. Terlihat wajah Restu yang sangat serius. Suaminya seperti tengah berbincang dengan orang penting.
"Ya udah saya ke sana."
Sorot mata Aleesa seakan menanyakan sesuatu kepada Restu. Sang suami hanya tersenyum dan memeluk tubuh Aleesa lagi. Mengusap lembut rambut sang istri.
"Apa dapat kabar?" Restu mengangguk. Dia menatap lembut wajah Aleesa yang sendu.
"Kita ke tempat barang-barang korban." Wajah Aleesa semakin sendu, dan membuat Restu menggelengkan kepalanya perlahan. Menandakan dia tak suka dengan apa yang Aleesa lakukan.
Hembusan napas kasar yang menjadi jawaban dari seorang Aleesa Addhitama. Sejujurnya ada ketakutan di hatinya. Namun, Restu masih setia berada di samping Aleesa untuk mencari tahu tentang Yansen. Kesabaran Restu dan pengorbanan Restu sungguh tak ada duanya.
Setelah berada di tempat barang-barang korban, Restu dan Aleesa terdiam.sejenak.. Restu teringat akan sesuatu hal. Dompet, itulah pesan dari Yansen.
"Lovely, apa di antara dompet itu ada dompet Yansen?" Aleesa menoleh ke arah di mana tumpukan dompet berada. Matanya memicing ke arah salah satu dompet bermerk Gentong original.
Dia pun melangkah maju dan mengambil dompet tersebut. Restu mengikutinya dari belakang. Dompet sudah Aleesa raih. Terlihat tangan Aleesa gemetar ketika memegang dompet yang memang sama percis seperti dompet pemberiannya.
"Lovely," panggil Restu. Aleesa menoleh dengan air mata yang sudah tertahan. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah sang suami dengan mata memerah.
"Ini--" Suaranya lun ikut bergetar.
"Punya Yansen?" Aleesa mengangguk. Dia mulai membuka dompet tersebut dan seketika dompet itu terjatuh. Foto juga id card atas nama Yansen Geremy. Restu segera meraih tubuh Aleesa yang hampir pingsan.
"Aku salah liat 'kan, Bie." Bibir Aleesa sudah tersenyum perih. "Itu bukan Yansen 'kan."
Melihat hal seperti ini membuat Restu tidak tega. Dia memeluk tubuh Aleesa dengan begitu erat. Aleesa terus merancau jika itu bukan Yansen. Istrinya seakan sulit untuk menerima kenyataan yang ada. Restu tak bisa berkata. Dia benar-benar tak tega sekaligus bingung harus berkata apa..
"Pak."
Suara seseorang membuat Restu menoleh. Sedangkan Aleesa masih betah memeluk tubuh suaminya dengan air mata yang masih menetes.
"Ini baju dan kalungnya."
Aleesa mulai melonggarkan pelukannya dan melihat ke arah baju groomsmen pemberiannya. Dia mengambil ponsel dan menyamakan dengan foto terakhir ketika Yansen mengirim pesan kepadanya.
"Enggak. Itu bukan baju Sensen."
Sakit sekali hati Restu melihat istrinya seperti ini. Dia meraih ponsel sang istri. Dia melihat pesan yang dikirimkan oleh Yansen satu jam sebelum kejadian nahas. Restu mencoba untuk menscroll pesan ke bawah. Banyak sekali pesan yang dikirimkan oleh istrinya yang hanya ceklis satu. Semakin perih hati Restu.
Kalung berlambangkan salib mulai Aleesa raih. Dia tahu jika Yansen sering memakai itu. Di belakangnya memang tertera namanya. Restu masih memperhatikan. Perlahan, Aleesa membalikkan kalung salib tersebut dan akhirnya sang istri menunduk dalam. Restu segera memeluk tubuh Aleesa.
"Kita masih boleh berharap." Aleesa menggeleng pelan.
"Apa ini tandanya--"
"Belum ada kepastian. Jadi, jangan pernah menyimpulkan."
Sebisa mungkin Restu harus menjadi penenang. untuk Aleesa. Dia menahan Ego, menahan marah, menahan kecewa hanya untuk menenangkan hati sang istri. Radit dan Echa selalu mengirimkan pesan kepadanya dan tak hentinya berterima kasih karena dirinya sudah mampu membuat Aleesa tenang dan jauh dari kata kambuh.
"Biasanya, jika seperti ini Aritmia dia dengan mudah kambuh."
Benar kata sang mamih, banyak orang yang menggantungkan harap padanya. Pria yang membawa barang-barang Yansen itu mendekat ke arah Restu dan membisikkan sesuatu. Sungguh Restu terlonjak. Sesaat kemudian, dia pun mengangguk. Restu membawa Aleesa menjauh dari sana. Dia tidak ingin istrinya larut dalam kesedihan terus-terusan.
Restu mengajak Aleesa pergi ke hotel yang dekat dengan posko. Dia tidak ingin istrinya terus terpuruk. Aleesa terlihat bingung. Namun, Restu hanya tersenyum.
"Kita istirahat di sini, ya. Sambil nunggu info terbaru."
Restu dan Aleesa sudah masuk ke dalam kamar hotel cukup mewah. Restu masih menggenggam tangan Aleesa dengan begitu erat. Dia menatap ke arah Aleesa yang sendu.
"Enak kali ya minum susu di sini." Aleesa langsung menoleh dan Mata genit sudah Restu tunjukkan.
__ADS_1
"Bie--"
"Haus, Mamih." Rengekan Restu membuat Aleesa tertawa dan tanpa Aleesa duga Restu sudah membawa tubuh Aleesa menuju tempat tidur.
Bagian atas tubuh Aleesa sudah terbuka dan hanya menyuguhkan kulit putih yang menggiurkan. Juga ada tanda merah yang bertebaran di atas dadanya.
Restu sudah menelan ludahnya karena dia baru melihat istrinya seperti ini dengan sangat jelas. Sungguh l!b!Donya naik.
"Katanya mau Mimi." Aleesa malah menawari. Sungguh Restu terkejut dan menatap ke arah sang istri tercinta. Namun, dia menjawab dengan gelengan.
"Aku hanya mau Mimi, Lovely."
Bukannya Restu yang tertidur, malah Aleesa yang sudah pulas karena ulah bibir Restu. Pria itupun tersenyum. Dia ingin menjamah lebih dalam lagi tubuh istrinya. Namun, dia harus ingat sesuatu jika istrinya masih hancur. Dia hanya bisa mengerang kesal. Dia ingin melakukannya. Perlahan dia turun dari tempat tidur.
Restu masih sibuk memantau perkembangan berita Yansen. Satu per satu bagian tubuh yang ditemukan sudah bisa teridentifikasi, tapi belum ada nama Yansen di sana. Restu lelah, Restu ingin menyerah.
"Mau sampai kapan? Aku hanya manusia biasa yang bisa menyerah juga." Erangan yang dikeluarkan dari dalam hati.
Aleesa yang nyatanya tak tertidur pulas memandang suaminya yang sudah duduk di sofa panjang. Restu terlihat frustasi. Dia melihat suaminya menarik rambutnya sendiri dengan erangan kecil. Hembusan napas kasar mampu Aleesa dengar. Juga tubuhnya sudah bersandar di kepala sofa dengan mata yang terpejam.
"Tuhan, aku sudah terlalu jahat. Aku sudah sangat dalam menyakiti hati suamiku." Gumaman hati dari seorang istri. Dia baru kali ini melihat Restu seperti ini.
"Sen, apa kamu masih hidup? Atau sudah tiada?" Aleesa bertanya dalam hati dengan mata terpejam. Air matanya pun menetes disela mata yang tertutup rapat.
"Aku ingin bertemu kamu, Sen. Aku ingin sebuah kepastian agar tak ada hati yang aku sakiti karena aku terus menangisi kamu." Sebuah doa dan harapan yang keluar dari hati Aleesa dengan tulus.
"Setidaknya, beri aku petunjuk. Aku juga ingin membahagiakan suamiku yang sudah banyak berkorban untukku." Masih membatin.
Dia mendengar langkah kaki mendekat. Restu naik ke atas tempat tidur dan mengangkat kepala Aleesa dan dia letakkan tangannya di bawah kepala sang istri.
"Maafkan aku, Lovely." Sebuah kalimat penuh penyesalan. Wajar sebenarnya jika Restu lelah dan ingin menyerah. Di awal pernikahan ini Restu Sudan menjadi suami yang luar biasa. Mampu memahami istrinya dan menunda apa yang harus dia dapatkan di malam pertama.
Hati Aleesa perih mendengar ucapan dari suaminya yang sudah sangat sabar. Hingga sebuah kecupan hangat membuat hati Aleesa tenang dan damai. Apalagi pelukan tangan kekar sang suami yang membuat tubuh Aleesa menghangat. Dia pun kembali terlelap. Restu seperti memberikannya kenyamanan, perlindungan, dan juga kekuatan.
.
Dia memain-mainkan kakinya ketika air laut mulai mendekat. Dia tertawa sendiri bagai pria tak waras. Banyak yang memanggilnya. Banyak mengajaknya bermain. Namun, dia masih asyik menggerak-gerakkan kakinya yang terkena saluan ombak.
"Hai, maaf aku terlambat."
Lelaki itu menoleh dan tersenyum ke arah wanita cantik yang datang dengan wajah ceria. Dia menyuruh wanita itu untuk duduk di sampingnya. Wanita itu menukikkan kedua alisnya. Tangan si lelaki itu menarik tangannya dan akhirnya di wanita itu duduk di atas pasir tepat di sampingnya. Mereka berdua hanya terdiam membiarkan air laut menyentuh kaki mereka. Juga merasakan hembusan angin laut pada kulit mereka berdua. Suara ombak dan burung yang menjadi backsound dari pertemuan mereka.
"Kenapa kamu menyuruhku ke pantai?" Sang wanita mulai membuka suara. Dia menatap wajah sang lelaki yang teramat bersinar. Padahal, hari ini tidak terlalu terik.
Laki-laki itu menoleh dan tersenyum ke arah sang wanita. Dia menatap dalam wanita yang begitu cantik yang kini sudah bukan menjadi miliknya.
"Pantai ataupun air laut ke depannya akan menjadi tempat untukmu melepas rindu." Dahi si wanita itupun mengkerut tak mengerti. Kalimat tak terduga yang tiba-tiba keluar dari mulut pria itu.
"Maksudnya?" Lagi-lagi si pria itu hanya tersenyum. Dia mengusap lembut ujung kepala si wanita.
"Aku akan pergi." Sebuah jawaban yang terdengar begitu santai. Sebuah jawaban yang menimbulkan pertanyaan lagi.
"Ke mana?"
Laki-laki itu tidak menjawab. Dia mendongakkan wajahnya ke arah langit yang biru. Si wanita masih menunggu jawaban pasti.
"Ke tempat di mana aku sudah ditunggu Bapa." Dia tidak menoleh sedikitpun. Matanya berbinar ketika menyebut Bapa. Kini, dia malah memejamkan mata dengan posisi kepala masih mendongak.
"Jangan pergi!" Wanita itupun melarangnya dan menggenggam lengan si laki-laki yang kini sudah menatap ke arahnya lagi.
"Tetap temani aku di sini. Kita 'kan pernah berjanji akan terus menjadi sahabat walaupun keadaan kita sudah tak seperti dulu." Namun, gelengan kepala yang menjadi jawaban dari si pria itu.
"Bukan aku yang akan menemani kamu, tapi dia." Jarinya sudah menunjuk ke arah belakang di mana seorang pria yang mengenakan kemeja putih sudah tersnyum manis ke arahnya. Tangannya sudah melambai. Si wanita pun melambaikan tangannya balik dengan senyum yang begitu lebar.
"Dia yang akan menemani kamu hingga tua." Si wanita mengangguk tanpa menoleh. Tatapannya masih pada si pria yang memakai kemeja putih. "Sekarang, biarkan aku pergi karena tugasku di dunia ini sudah selesai."
"Jangan!" Si wanita masih melarang. Akan tetapi, lelaki itu menggeleng pelan. Dia menatap dalam manik cantik itu.
__ADS_1
"Sudah waktunya aku pergi. Jangan pernah cari aku lagi karena aku tak akan pernah meninggalkan jejak apapun karena itu akan membuat kamu menangis."
Si lelaki itupun mulai berdiri membelakangi pantai. Ada cahaya putih yang mengelilingi tubuhnya sekarang.
"Ketika air laut menyentuh kakimu, itu tandanya aku tengah merindukan kamu. Kamu juga harus merindukan aku, ya." Di tersenyum dengan begitu manis. Juga tawa kecilnya hadir di sana..
"Jangan pernah cari aku lagi. Akhiri juga pencarian kamu karena aku sudah disembunyikan oleh Bapa di balik punggung kekar milik-Nya yang sudah pasti tidak akan bisa kamu atau siapapun temukan." Lelaki itu mulai berteriak.
"Sudahi tangismu, ya. Dan ambillah sesuatu yan ada di dalam kantong baju groomsmen yang aku pakai. Itu pesan untuk kalian semua. Terima kasih sudah bersama aku di dua puluh tahun hidupku. Terima kasih." Lelaki itu menunduk sopan. Kemudian, tersenyum kembali dengan melambaikan tangan
"Bye."
Si wanita melihat dengan jelas jika tubuh si lelaki itu masuk ke dalam air laut.
"Jangan pergi! Jangan pergi!"
Restu yang baru memejamkan mata terkejut ketika istrinya terus berkata jangan pergi. Air mata sudah mengalir di ujung matanya yang terpejam. Dia segera membangunkan sang istri dengan memanggil-manggilnya. Restu yakin Aleesa mimpi buruk.
"Lovely." Tangan Restu pun sudah menepuk pipi Aleesa dengan lembut. Hingga Aleesa membuka mata dan langsung berhambur memeluk tubuh Restu..
"Mimpi apa, Lovely?" Aleesa hanya bisa menangis. Restu sudah tahu jawabannya. Dia pun mengendurkan pelukannya dan menatap Lamat wajah sang istri tercinta.
"Sensen ... masuk ke dalam air laut."
"Apa ini jawaban dari perkataan Om Iyan? Ada saatnya dia meyakinkan Aleesa atas kepergiannya."
"Dia juga bilang kalau ada sesuatu di dalam kantong baju groomsmen."
Restu tengah menyambungkan puzzle kecil. Ketika Aleesa tidur, dia mendapat kabar jika ada sesuatu di dalam kantong baju Yansen. Sekarang, Aleesa yang mendapat pesan itu dari mimpinya.
"Bie--"
Aleesa sudah menatap ke arah Restu dengan wajah yang basah. Restu mengangguk.
"Tapi, tidak sekarang, ya. Kamu harus istirahat. Kamu sudah terlalu banyak menangis." Restu mulai melarang. Ingin rasanya Aleesa membangkang, tapi tatapan Restu kali ini membuatnya takut.
Dengan ritual Mimi susu akhirnya Aleesa terlelap kembali. Begitu juga dengan Restu. Dia ingin mengistirahatkan pikirannya sejenak.
Ketika senja datang, Aleesa mulai mengerjapkan matanya. Sang suami masih terlelap dengan bibir yang masih menempel di chocochips yang sudah lecet. Aleesa ingin membangunkannya, tapi dia tidak tega. Mata Aleesa mulai lengket kembali dan dia lun memejamkan matanya lagi.
Jam delapan malam barulah dua insan ini membuka mata. Aleesa tak peduli bagian atas tubuhnya sudah tak memakai apapun. Dia malah memeluk tubuh kekar sang suami. Perut keroncongan Aleesa membuat Restu tertawa.
"Lapar, Bie."
Sejenak Aleesa melupakan Yansen. Mereka berdua menikmati makan malam romantis di restoran hotel. Aleesa tersenyum sangat bahagia karena Restu memperlakukannya bagai ratu.
Restu pun meminta kepada Aleesa agar esok saja mereka mencari tahu tentang baju groomsmen milik Yansen. Aleesa pun mengangguk.
Jam sembilan pagi Aleesa dana Restu sudah datang ke posko. Sebelumnya Restu sudah menghubungi pihak terkait untuk membawa baju groomsmen kepadanya. Aleesa dan Restu menunggu hingga salah seorang petugas membawakannya.
"Tolong cari sesuatu di kantong-kantongnya." Petugas itupun mengangguk. Tak lama, sebuah pastikan yang kedap air petugas temukan. Dia langsung menyerahkan kepada Restu.
Dahi Restu mengkerut dan dia segera memperlihatkan kepada Aleesa. Sang istri pun segera membukanya.
Bapa, aku sudah siap.
Peluklah aku, dan sembunyikan aku di balik punggung kekar-Mu agar mereka tak bisa melihatku.
Aku tak ingin mereka menitikan air mata.
Leburlah tubuhku dengan air laut agar tak ada tangis yang aku dengar.
Jadikanlah air laut sebagai penawar rindu untuk mereka ketika mengingatku.
-Yansen Geremy-
...***To Be Continue***...
__ADS_1