RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 128. Break


__ADS_3

Ayah ...


Di sini ku sendirian merenungi kata


Yang dulu kau berikan


Betapa beratnya hidupku rasakan


Inginku bertemu katakan Ayah


Restu tersenyum ketika malam hari mendengarkan lagu yang dulu menjadi penyemangatnya ketika dia merasa ingin menyerah.


Tolong beritahu ibu


Ingin memeluknya tapi aku malu


Malu jika hanya bisa mengeluh


Maafkan aku Ayah Ibu


Restu tersenyum pilu ketika mendengar bait kedua. Bukan tanpa alasan, jika melihat sang ibu hatinya lemah. Walaupun Nesha hanya ibu angkatnya, tapi tetap di hati Restu Nesha adalah perempuan yang memberikan cinta tulus pertama untuknya. Dia sangat amat menyayangi Nesha walaupun dia bukan orang yang bisa mengungkapkan semuanya. Di dalam lubuk hatinya paling dalam dia sangat menyayangi Nesha.


"Suatu saat nanti kan ku gantikan tugasmu Ayah. Doakan aku Ibu ... restumu sertai langkahku. Ayah dengarkanlah bahagia pasti datang. Percayalah ibu ... engkau kuatkan aku." Restu pun mengikuti lirik lagu tersebut dengan air mata yang tak tertahan. Dari keluarga Rindra Addhitama dia merasakan kasih sayang begitu tulus. Dia merasakan arti kasih sayang yang sesungguhnya. Juga ketulusan yang luar biasa.


"Aku janji, aku akan terus berada di samping Papih dan Mamih. Aku gak akan pernah tinggalin kalian." Suara Restu begitu lirih.


Dia bukanlah kacang yang lupa akan kulitnya. Dia juga bukan anak yang merongrong kepada kedua orang tua. Dia bersyukur karena bisa dipertemukan dengan dua malaikat tak tak bersayap itu.


.


Kesedihan melanda Aleesa. Keberangkstan Aleena ke Singapura membuat suasana rumah menjadi sangat sepi. Terlebih Aleena tidak mengizinkan ibu dan kedua adiknya ikut mengantar dirinya ke bandara. Dia tidak ingin melihat tiga wanita yang dia sayang menitikan air mata. Terlalu sakit untuknya jika melihat bulir bening itu menetes di pelupuk mata mereka. Aleena pergi karena memang dia ingin menenangkan diri.. Dia tidak ingin terus disalahkan. Dia juga berhak untuk bahagia. Dia berhak untuk mencari kebahagiaan yang selama ini tidak pernah dia dapatkan semenjak hubungannya dengan Kalfa berakhir.

__ADS_1


"Baba, maafkan Kakak Na." Sudah sering sekali Aleena mengucapkan kata maaf kepada sang ayah. DIA merasa bersalah karena telah membuat kegaduhan. Padahal itu bukan salahnya, tapi karena dia sering disalahkan maka dialah yang meminta maaf duluan.


"Carilah kebahagiaanmu. Baba akan selalu mendukung kamu." Sebuah kalimat yang membuat Aleena menitikan air mata. Ucapan sang ayah tadi sangat mengiris hatinya. Dia tahu ayahnya sangat sedih. Dia tahu ayahnya tengah menahan air mata. Namun, sang ayah berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya agar tidak menetes. Cukup kesedihannya dia rasakan sendiri dan anak-anak serta istrinya tidaklah perlu tahu.


"I love you, Ba."


Aleena memeluk ayahnya kembali dengan begitu erat seakan dia tidak akan bertemu dengan sang ayah. Aleena pun tak kuasa membendung bulir bening yang sedari tadi ingin keluar membasahi pipi.


Aleena akan pergi jauh untuk menenangkan hatinya setelah kuliahnya selesai. Dia tidak akan kembali ke Indonesia sebelum dirinya menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Ke mana Aleena pergi pun hanya kedua orang tuanya yang tahu. Mereka hanya bisa mendukung. Mereka hanya ingin melihat Aleena bahagia.


"Salam kepada Papa dan Mama," ucapnya kepada Aleena.


"Pasti Pipo dan Mimo akan bahagia karena KakaK Na menjenguknya."


.


Kalfa, dia sudah mendatangi rumah Yansen. Dia akan mengajak Yansen untuk membalaskan dendam kepada Restu karena telah mengambil Aleesa. Dahi Yansen mengkerut. Kedua alisnya pun menukik dengan begitu tajam.


"Untuk apa?" tanya Yansen begitu datar. "Biarkanlah Aleesa bahagia dengan Kak Restu. Aku sudah ikhlas, aku tidak masalah. Jadi, jangan pernah mempengaruhi pikiranku dengan pikiran jelekmu."Kalfa gagal mempengaruhi Yansen.


"Lu itu begoo!"


Yansen pun tertawa. Enteng sekali Kalfa berbicara seperti itu. Namun, tak dia ambil hati.


"Lu terlalu pasrah sama keadaan gak ada perjuangan." Cibiran itu membuat Yansen tersenyum lagi.


"Keadaan gua sama lu itu beda, Kalfa. Kalau lu pinter coba lu pikir, apa benteng yang tinggi bisa gua gapai? Ketika gua gak satu tujuan," papar Yansen. "Ini bukan be-go atau pandai, tapi ini berhubungan dengan kepercayaan dan kita memang tidak mau mengorbankan Tuhan."


Diskakmat seorang Kalfa Putra Satria oleh Yansen. Dia memang tidak tahu duduk permasalahannya, tapi dia sudah berjanji untuk mengikhlaskan Aleesa. Terlebih Aleesa nampak sangat bahagia di hari pertunangannya. Tujuan hidupnya sekarang bukan untuk mencari kebahagiaan, tapi membahagiakan orang yang dia sayang.


"Jangan menjadikan orang lain umpan atas niatanmu yang tidak benar. Semuanya ada karma yang harus mempertanggungjawabkan sekecil apapun perbuatan kita."

__ADS_1


.


Rangga, dia terdiam ketika mendengar dari Agha bahwa Aleena sudah kembali ke Singapura. Dia sedikit kecewa padahal hampir seharian tadi Aleena bersamanya, tapi dia tidak berkata apapun. Sekarang, malah dia menerima kabar ini. Sungguh memilukan.


"Nana itu misterius, Kak. Banyak yang dia sembunyikan dari semuanya. Bahagia atau sedihnya kita semua tidak pernah tahu karena wajah Aleena Sama saja."


Raut kecewa hadir di wajah Rangga. Ternyata dia belum bisa membuka hati Aleena. Kebersamaannya kemarin ternyata bukan apa-apa untuk Aleena. Sedangkan Rangga sudah sangat percaya diri dan sangat yakin atas semuanya. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya.


Agha pun menepuk pundak Rangga. Adiknya itu seakan mengerti dengan apa yang dirasakan oleh sang kakak.


"Nana adalah salah satu mimpi Kakak setelah menjadi penerbang, Mas yakin Kakak bisa menggapai Nana. Awan saja bisa Kakak terabas, Nana pun pasti bisa Kakak gapai." Rangga tersenyum kecut mendengarnya. Adiknya sangat yakin sedangkan dia merasa tidak yakin.


Apalagi semalam dia mendengar jelas betapa sang ayah sangat memuji Restu membuatnya merasa insecure. Kriteria calon menantu juga calon keponakan seorang Ghassan Aksara Wiguna, yakni seperti Restu Ranendra. Kriteria yang cukup tinggi. Akankah dia bisa masuk ke dalam kriteria keluarga besar Wiguna dan Addhitama?


Beda halnya dengan Rangga yang tengah mengalami krisis percaya diri, Kalfa malah berdecak kesal ketika mendengar ucapan Aleesa tentang kriteria jodoh yang diinginkan ayahnya.


"Apa sih istimewanya tuh orang? Sampe semua orang suka sama dia? Heran!" Begitulah batin Kalfa berkata.


"Keluarga kamu tuh aneh," ujar Kalfa. Brandalan kok dibanggain." Aleeya hanya diam. Aleeya pun tidak tahu kenapa Kalfa sampai setidak suka itu kepada Restu. Jika, membahas tentang Restu dia pasti akan meninggikan suaranya.


Aleeya terngiang-ngiang akan ucapan Aleesa semalam. Wajah Aleesa yang sangat murka terlihat begitu jelas.


"Lu boleh punya masalah sama gua dan Kak Restu, tapi jangan pernah mencari masalah sama kedua orang tua juga Kakak Na karena hati mereka mudah remuk." Aleesa berkata dengan cukup berapi-api.


"Lu boleh benci gua sama Kak Restu sesuka hati lu, tapi jangan benci Kakak Na di mana dia sudah banyak berkorban untuk lu. Pengorbanannya begitu menyakitkan, tapi masih lu balas dengan kebencian. Masih adakah kewarasan di kepala lu?" Sarkas memang ucapan Aleesa. Namun, dia bukan orang yang suka berbasa-basi.


"Cinta dan bego itu beda tipis, Ya. Entah lu cinta atau mudah dibegoin makanya gak tahu mana yang harus belain."


Aleeya terdiam sejenak. Kalimat Aleesa tadi sangatlah menampar hatinya.


"Kalfa, aku ingin break sejenak."

__ADS_1


...***To be Continue***...


Komen dong ....


__ADS_2