
"Nak--"
Kalfa menoleh, dia memicingkan mata ketika melihat wanita yang sama sekali tidak dia kenali. Wanita yang memanggilnya bak anak kepada dirinya.
"Anda siapa?"
Kalfa melihat mata wanita itu nanar. Ada haru bercampur rindu yang sorot matanya katakan. Tak mendapat jawaban dari wanita tersebut, dia mulai menatap Restu. Suami dari adik Aleena itu hanya menatapnya datar.
"Jangan pernah percaya dengan apa yang wanita itu katakan."
Suara Satria sudah terdengar dengan begitu jelas. Kalfa menoleh, sorot mata sang ayah terlihat ketakutan.
"Dia pembohong besar."
Dahi Kalfa menukik dengan tajam. Dia menatap sang ayah heran.
"Memang apa yang sudah Tante ini katakan?" Wanita yang ada di depannya tidak mengatakan apapun.
Satria pun terdiam. Sedangkan Restu sudah tersenyum tipis. Rasa takut yang bersarang di hati Satria membuat dia membongkar kartunya sendiri. Kebodohan yang seharusnya tidak dia lakukan.
"Kok aku curiga kalau Papih menyembunyikan sesuatu dari aku." Kalfa mulai menelisik sang papih.
"Ti-tidak--"
"Memang benar ayah kamu menyimpan rahasia besar." Wanita itulah yang menjawab. Kalfa terdiam dan menoleh ke arah wanita yang tengah duduk di kursi roda.
"Apa maksud, Tante?"
"Jangan dengarkan ucap--"
__ADS_1
"Stop, Pih!"
Satria terkejut karena Kalfa berani membentaknya. Dia juga berani menatap sang ayah dengan tatapan tak bersahabat. Selama lima belas tahun bersama Kalfa dia baru melihat Kalfa seperti ini.
"Aku hanya ingin tahu sebuah kebenaran."
Restu tersenyum mendengarnya. Dia melirik ke arah Satria dengan meremehkan. Sedangkan Satria sudah mati langkah.
"Papih mohon, Fa. Jangan dengarkan penjelasan penuh kebohongan itu."
"Cukup, Mas!"
Kini Kalfa yang membeku mendengar sebutan yang keluar dari mulut wanita yang bersama Restu.
"Mas."
Kalfa semakin tidak mengerti. Dia semakin membeku dan hanya bisa berdiri menatap wajah yang kini bermandikan air mata. Wajah yang penuh kesedihan yang mendalam.
"Uang lima ratus juta tak membuat aku merasa bahagia. Aku malah merasa terpuruk dan seperti kehilangan separuh jiwa karena telah membuang darah dagingku sendiri atas permintaan ayah biologis yang tak punya hati."
Sudah banyak air mata yang wanta itu keluarkan. Setiap lelehan air mata membuat hati Kalfa merasa sakit dan sedih.
"Apa maksud Tante Aku tidak mengerti."
Kalfa mendadak bodoh. Dia mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh wanita yang dia tak tahu namanya, tapi egonya masih tinggi dan tidak ingin mempercayai apa yang dia dengar.
"Saya ... Saya wanita yang melahirkan kamu, Nak."
Kalfa merasa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh wanita di depannya. Dia menoleh ke arah sang ayah yang sudah berwajah pucat. Tidak ada jawaban dari pria itu.
__ADS_1
"PIh, apa benar?" Lagi-lagi Satria terdiam. Mulutnya kelu.
"Nyonya Ratu adalah ibu yang melahirkan kamu." Pria berbadan kekar pun membuka suara. Pria itu tak lain adalah anak buah sang ayah.
Mata Kalfa mulai berembun. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria berbadan kekar itu. Kepalanya refleks menggeleng. Melihat putranya maish tak percaya, wanita itu membuka suara kembali.
"Kamu punya ini 'kan, Nak."
Wanita yang berada di atas kursi roda memberikan Kalung mas putih berliontinkan namanya, Kalfa. Untuk kesekian kalinya dia menggeleng pelan dengan air mata yang sudah tertahan.
"Itu kalung yang Ibu tinggalkan di kardus ketika Ibu membuang kamu atas perintah ayah kandung kamu, Mas Satria."
Tes.
Bulir bening menetes begitu saja.
"Aku anak angkat Papih. Aku bukan anak kandungnya." Suara Kalfa mulai bergetar. "Ibu aku sudah meninggal," lirihnya.
"Beliau memang sudah merawat kamu, tapi Ibu yang mengandung kamu hingga sembilan bulan walaupun ayah kamu menyuruh Ibu untuk menggugurkan kamu. Ibu tidak mau." Suara Ratu Karina, wanita yang ada di atas kursi roda itu bergetar hebat.
"Ibu memang wanita malam, tapi Ibu masih memiliki naluri. Ibu tidak mau menjadi manusia tak berhati. Hewan saja tidak seperti itu," jelasnya.
Satria tidak bisa berkata apapun. Dia memejamkan mata sejenak mendengar ucapan dari Ratu, wanita malam yang mencintai dirinya setelah Satria memakainya.
"Saya ibumu, Kalfa. Ini Ibu, Nak."
...***To Be Continue***...
Komen dong ....
__ADS_1