
Tugas Rangga si Singapura sudah selesai. Dia sudah harus kembali ke tanah air. Namun, dia masih tidak bisa meninggalkan seseorang yang masih bergelut dengan rasa sedihnya. Dia tahu untuk menghampiri, tapi dia juga ingin memastikan perempuan itu baik-baik saja.
Pada akhirnya langkah dan nalurinya membawanya menuju sebuah apartment mewah di mana di sana di huni oleh perempuan cantik. Tangannya mencoba untuk menekan bel. Namun, belum ada tanda-tanda dibukakan pintu. Ketiga kali Rangga membukakan pintu akhirnya pintu itu terbuka dan mata Rangga melebar dengan sempurna dengan apa yang dia lihat.
"Na--"
Tangan Rangga segera menyentuh bibir Aleena yang berlumuran darah. Namun, Aleena malah menunduk dalam. Dia terisak dengan begitu lirih. Rangga segera memeluk tubuh Aleena dengan begitu erat. Tak ada balasan dari Aleena, tapi itu tak masalah yang paling penting Aleena tidak menolaknya.
Rangga membawa masuk Aleena dan mendudukkan tubuh perempuan malang itu di atas sofa. Dia kembali mengusap darah yang masih menetes di bibir miliknya. Tak ada ringisan yang keluar dari mulut Aleena padahal darah itu mengalir cukup banyak.
Rangga yang ada di hadapannya dengan setengah bersimpuh mulai mendekatkan bibirnya. Dia menghisap lembut darah yang terus mengalir di bibir Aleena. Dada Aleena berdegup tak karuhan. Begitu juga dengan Rangga. Namun Rangga sebisa mungkin harus kuat iman. Tidak boleh melakukan lebih. Tanpa Rangga sadari, mata Aleena terpejam setiap kali Rangga menghisap dengan begitu lembut dan penuh sayang bibirnya yang dia lukai. Perlahan, hisapan Itu semakin membuat Aleena merasa nyaman. Hingga Rangga mengakhiri hisapannya dan mata Aleena pun mulai terbuka. Rangga tersenyum dengan begitu manis. Dia meraih tisu dan mengusap lembut bibir Aleena yang basah karenanya.
"Kita ke klinik, ya."
Aleena menggeleng. Dia menolak ajakan dari Rangga. Terdengar helaan napas kasar oleh Aleena dan Rangga pun sudah menatap tajam ke arahnya.
"Apa kamu akan terus membuat aku khawatir dengan keadaan kamu yang seperti sekarang ini?" Rangga sudah berbicara penuh dengan penekanan.
"Apa kamu mau terus melukai bibir kamu yang tak bersalah ini? Sedangkan pelakunya--"
__ADS_1
Aleena terkejut mendengar ucapan Rangga. Dia menatap Rangga penuh tanya dengan mata nanar.
"Aku tahu," lanjutnya lemah. Kepala Aleena menudnjk kembali itu membuat hati Rangga begitu sakit. Dia menarik tangan Aleena dan memeluk Aleena dengan sangat erat.
"Aku sudah kotor, Ngga. Aku kotor."
Rangga sangat merasakan kesedihan yang tengah Aleena alami. Dia memejamkan matanya sejenak. Jujur, dia marah. Namun, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa kejadian kemarin amatlah cepat bagai kilat.
Perlahan Rangga mengendurkan pelukannya. Dia menatap dalam wajah Aleena yang berderai air mata. Dia pun memberikan senyum termanis untuk Aleena.
"Sekotor apapun kamu, aku akan tetap mencintai kamu."
Sebuah kalimat yang mampu membuat tangis Aleena reda. Sebuah kalimat yang begitu tulus terucap. Tubuh Aleena menegang dan tangan Rangga sudah menggenggam tangan Aleena dengan begitu erat.
Pernyataan cinta yang belum dijawab oleh Aleena. Dia hanya menatap dalam wajah Rangga. Laki-laki langka yang belum pernah dia temui. Ketulusannya tak Aleena ragukan.
Rangga bangkit dan mulai membantu Aleena untuk berdiri. Dia pun menghapus terlebih dahulu air mata yang membasahi wajah Aleena.
"Jangan nangis terus. Mata kamu udah sembab itu."
__ADS_1
Baru saja membuka pintu, tubuh Aleena perlahan mundur dan memegang ujung jaket yang Rangga kenakan. Rangga melihat ada trauma juga ketakutan di wajah Aleena hingga Rangga meraih tangan Aleena dan menggenggamnya dengan begitu erat. Aleenaa sudah bersembunyi di balik punggung Rangga.
"Na, aku minta maaf." Laki-laki itu mencoba untuk meraih Aleena, tapi dengan sigap Rangga menghalangi lelaki itu.
"Jangan ikut campur!' Bentakan Kalfa memnuat Aleena memeluk tubuh Rangga dari belakang. Pelukan itu begitu erat menandakan dia amat takut.
"Ngga--"
Tangan Rangga menggenggam erat tangan Aleena yang ada di depan perutnya. Telapak tangan Aleena terasa sangat dingin.
"Tolong pergi dari sini dan jangan buat Aleena takut." Rangga masih berkata dengan begitu sopan. Namun, pandangan Kalfa tak beralih pada tangan Rangga dan Aleena yang saling menggenggam.
"Bang sat!" Kalfa hendak menghantam wajah Rangga, tapi dengan cepat Rangga membalikkan tubuhnya hingga posisi Aleena dan Rangga kini berpelukan.
Bugh!
Punggung Rangga yang terkenal Bogeman mentah dari Kalfa. Aleena dapat melihat Rangga menahan sakit.
"Ngga--"
__ADS_1
Rangga menggeleng pelan dan masih menyunggingkan senyum indah. "Apapun akan aku korbankan demi kamu."
.