RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
bab 80. Masih Sakit


__ADS_3

Tangan Restu terus menggenggam tangan Aleesa hingga menuju unit apartment mewah miliknya. Sesekali Aleesa menoleh ke arah sang kekasih yang terlihat lebih tampan jika dari samping. Namun, Restu terus melanjutkan langkahnya. Hingga mereka berada di dalam lift hanya berdua.


"Kamu masih ingat gak ketika kita terjebak di dalam lift berdua?" Aleesa menoleh ke arah Restu dan dia mengangguk. Itu tejadi di pernikahan Iyan ketika dia hendak mengambil makanan di lobi.


"Kok aku berharapnya lift ini macet dan kita mengulang momen itu lagi." Aleesa sudah berdecak dan memukul lengan Restu. Sedangkan Restu.malah tertawa. tertawa. Dia memeluk tubuh Aleesa dan mencium ujung kepalanya. Tangan Aleesa pun sudah melingkar di pinggang Restu.


"Lusa aku harus kembali lagi ke Zurich." Seketika Aleesa mendongakkan wajahnya. Menatap dalam Restu yang sudah berwajah datar.


"Bie--"


"Kontrakku tersisa empat belas hari lagi." Kini, Restu menatap ke arah Aleesa yang masih menatapnya.


"Kenapa harus terpisah lagi?" Mata Aleesa nanar. Restu tidak menjawab. Dia semakin memeluk erat tubuh Aleesa.


"Anggap ini untuk memperkuat cinta kita." Hanya helaan napas kasar yang menjadi jawaban dari Aleesa. Ketika sedang sayang-sayangnya pasti harus dipisahkan lagi.


Aleesa sudah masuk ke sebuah apartment yang luar biasa cantiknya. Interior apartment itu sungguh luar biasa. Aleesa sampai terpana dan matanya terus melihat ke setiap penjuru sudut. Dia yakin harga apartment ini tidak biasa.


"Kamu senang gak?" Restu sudah memeluk Aleesa dari belakang. Aleesa tengah menatap jendela menuju balkon yang ada di kamar.


"Banget." Aleesa sudah menatap ke arah Restu yang sudah meletakkan kepalanya di pundak Aleesa.


Restu tersenyum dan mengecup singkat bibir Aleesa. Dia membalikkan tubuh Aleesa dan membenarkan anak rambut kekasihnya yang sedikit berantakan.


"Ini semua aku beli dan aku atas namakan nama kamu." Aleesa terperanjat mendengar apa yang dikatakan oleh Restu. Dia membeku dan membuat Restu menarik tangan Aleesa menuju tempat tidur yang besar dengan bersprei biru. Dia memangku Aleesa dan menatap dalam wajah putri kedua dari Raditya Addhitama.


"Apartment ini milik kamu. Aku sedikit merombak agar sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Itu semua aku lakukan agar kamu betah berada di apartment ini ketika kita sudah resmi menjadi sepasang suami-istri." Ya. Ini akan menjadi rumah mereka sementara setelah menikah.


Speechless, Aleesa tidak bisa berkata-kata. Dibelikan apartment mewah oleh kekasih bukan menjadi keinginannya. Namun, ini yang terjadi. Restu membeli apartment seperti membeli kacang goreng. . Mata Aleesa sudah berkaca-kaca. Dia benar-benar menemukan sosok pria yang tidak banyak berkata, tapi selalu membuktikan. Dia sangat bersyukur.


"Love you, Lovely."


"Love you too, Bie."


Bibir mereka berdua bersatu dalam kecupan mesra nan lama. Merasakan sensasi yang berbeda dengan posisi baru, yakni Aleesa yang duduk di pangkuan Restu. Suara saling membalas terdengar dan mereka hampir tak terkendali. Namun, rem mereka masih pakem dan mereka menyudahi agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Restu tersenyum karena sudah bisa menghapus tuntas liptint yang digunakan oleh Aleesa.


"Bibir kamu sangat manis, Lovely." Aleesa tersenyum dan dia memberikan kecupan singkat untuk kekasihnya.


Sore hari, Restu sudah selesai membersihkan tubuh karena dia harus kembali bekerja. Dia menghampiri Aleesa dengan hanya bertelanjangg dada dan hanya memakai celana bahan hitam panjang.


"Hubungin siapa?" Aleesa terkejut dan memegang dadanya. Dia memperlihatkan layar ponselnya. Ternyata Agha yang sedang Aleesa hubungi.


"Dia ngajak nonton bioskop, ada Kak Iyo juga." Aleesa seakan memohon.


"Kapan?" Restu sudah duduk di sofa seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Besok malam."


"Aku ikut." Jawaban Restu membuat Aleesa menukikkan kedua alisnya. Dia menatap tajam ke arah kekasihnya itu.


"Serius?" Restu mengangguk. "Kapan lagi nonton bareng tunangan." Aleesa tersenyum manis dan mencium pipi Restu.


Namun, kini Aleesa terpaku pada badan kekar Restu. Ada beberapa luka sayatan di dada bidangnya. Perlahan, tangan Aleesa menyentuhnya. Namun, Restu tahan. Manik mata mereka berdua pun terkunci.


"Aku baik-baik saja. Itu hanya luka kecil." Aleesa menggeleng dengan cepat.


"Luka kecil?" ulang Aleesa. "Lalu, luka besar menurut kamu seperti apa? Nyaris mati, gitu?" Emosi.


"Lovely--"


"Aku hanya tidak ingin melihat kamu terluka. Aku hanya ingin melihat kamu baik-baik saja. Aku khawatir. Aku cemas, aku takut." Air mata Aleesa sudah mengalir deras, dan Restu memeluknya dengan begitu erat.


Dia dapat merasakan betapa tulusnya kasih sayang Aleesa untuknya. Dia merasa sangat beruntung. Dia merasa dicintai dengan sepenuh hati.

__ADS_1


"Maaf."


"Aku takut, Bie. Aku tidak ingin kamu kerja seperti ini. Ini sangat membahayakan diri kamu. Aku gak mau kehilangan kamu."


Restu tidak menjawab. Dia masih ragu untuk meninggalkan pekerjaannya ini. Uang yang dia hasilkan sangatlah banyak. Itu dia lakukan agar masa depannya dengan Aleesa terjamin.


"Bie, boleh aku meminta sesuatu?" Aleesa mengurai pelukannya dan menatap ke arah Restu dengan wajah yang basah.


"Apa?"


"Berhentilah jadi bodyguard di negeri orang. Kembalilah ke negara di mana kamu dilahirkan dan dibesarkan. Uncle Papih, Om Ipang, Baba pasti akan mau merangkul kamu. Jangan terus bahayakan nyawa kamu karena banyak orang yang menyayangi kamu, Bie." Restu tidak bisa berkata-kata. Dia hanya menatap lembut wajah Aleesa. Kemudian, memeluknya.


"Makasih, sudah mau menerima aku dan menyayangi aku. Aku janji aku tidak akan menyia-nyiakan kamu."


Restu tidak main-main. Sebelum mengantar Aleesa pulang dia menyerahkan surat kepemilikan apartment kepada Aleesa. Perempuan yang sudah dipeluk Restu dari samping pun nampak tidak percaya.


"Bie--"


"Ini milik kamu, Lovely." Sungguh terharu sekali Aleesa. Dia mencium singkat bibir Restu dan membuat Restu tersenyum bahagia.


"Agak lama dong," tawarnya. Lagi-lagi Aleesa tertawa dan mencium kembali bibir sang kekasih. Cukup lama mereka berpagut. Hingga ketika napas sudah mulai tersengal pagutan itu berakhir.


"Mau ke mall dulu gak?" tanya Restu yang sudah memakai pakaian serba hitam. Dia memang harus menjaga madam Zenith, tapi tidak menggunakan pakaian dinas.


"Enggak deh. Besok 'kan mau ke mall." Restu tertawa dan mengusap lembut rambut Aleesa.. Perempuan yang dia sayang itupun tidak banyak menuntut dan juga merengek. Aleesa lebih suka menghabiskan waktu berdua dengan Restu di rumahnya.


Mereka banyak tertawa ketika berada di perjalanan menuju kediaman Aleesa. Mata Restu memicing ketika melihat sebuah motor masuk ke area rumah besar Aleesa.


"Itu motor siapa?" Aleesa ikut memicing.


"Kayaknya Yansen deh." Raut wajah Restu sudah berubah. Aleesa meraih tangan kekasih.


"Mau ngapain lagi sih dia?" Restu sudah mengomel.


Mobil Restu sudah terparkir di halaman rumah Aleesa. Terlihat Restu bagai anak kecil yang tengah merajuk.


"Ayo turun," ajak Aleesa. Restu masih terdiam. "Bie," bujuknya lagi.


Masih tidak bergerak. Akhirnya, Aleesa mengecup pipi sang kekasih sebagai bujukan yang tidak akan pernah bisa ditolak oleh Restu.


"Kamu 'kan harus balikin aku kepada Bubu dan Baba. Kalau kamu cuma nganter sampai sini jangan harap bisa bawa aku pergi lagi."


Restu menghela napas kasar. Ternyata sekarang Aleesa pandai mengancamnya. Namun, raut Restu masih ditekuk membuat Aleesa menghela napas kasar kembali. Dia menghadap ke arah sang kekasih yang lebih tinggi darinya.


"Bie," panggil Aleesa. Dia menggenggam kedua tangan Restu. Menatapnya penuh dengan cinta.


"Kamu adalah satu-satunya di dalam hati aku. Sekarang dan selamanya." Restu masih mematung dan membuat Aleesa berjinjit dan mencium singkat bibir Restu. Namun, ciuman itu sengaja Restu tahan dan cukup lama bibir mereka berdua berpagut dalam.


Ada dua hantu bungkus permen yang bersorak gembira melihat Aleesa dan juga Restu yang sedang berciuman.


"Berasa nonton drama Korea." Tante Pocita sudah berbicara. "Aleesa kamu nakal, tapi aku suka."


Restu pun akhirnya mau masuk dengan tangan yang menggenggam erat Aleesa. Kedatangan mereka berdua disambut hangat oleh Echa dan juga Radit. Restu pun dengan sopan mencium tangan kedua orang tua Aleesa. Namun, tubuh Aleesa terlihat sedikit menegang ketika melihat Grace ada di sana.


Sang kekasih yang peka, segera meraih pundak Aleesa hingga dia menatap kepada Restu. Sorot mata Restu memberikan Aleesa ketenangan.


"Sa, Grace mau bicara empat mata sama kamu." Sang ibu sudah memberitahukan dan membuat Aleesa terkejut. Usapan lembut di pundaknya yang dilakukan oleh Restu membuat Aleesa kembali menoleh kepada kekasihnya itu. Restu tidak bicara, tapi sorot matanya banyak mengatakan sesuatu. Itu tak luput dari pandangan Yansen. Restu adalah sosok pria sejati. Dia dapat melihat itu.


Radit mengajak Yansen dan Restu untuk keluar. Begitu juga dengan Echa. Dia dapat melihat kecanggungan di antara Restu dan Yansen. Dua anak manusia itu memang memilik karakter yang berbeda.


Sedangkan di ruang tamu hanya ada Grace dan juga Aleesa. Sedari tadi Aleesa hanya terdiam. Hatinya mulai berdegup kencang karena dia takut ucapan yang tidak mengenakkan lagi yang dia terima.


Ting!

__ADS_1


Aleesa sangat tahu siapa yang mengirim pesan di saat seperti ini.


"Ada aku, Lovely. Aku akan memeluk kamu."


Inilah yang membuat seorang Aleesa merasa nyaman bersama Restu. Pria yang selalu peka tanpa diminta. Pria yang selalu mengerti.


"Sa, aku minta maaf."


Aleesa yang masih menatap ke layar ponsel pun terkejut mendengarnya. Dia mulai melihat ke arah kakak dari Yansen.


"Maaf. Aku sudah menyakiti hati kamu. Sudah membuat kamu terluka akan kata-kataku dan juga teror yang aku kirimkan." Aleesa hanya terdiam. Dia tidak bisa menjawab apa yang dikatakan oleh Grace.


"Aku menyesal."


"Aku menyayangkan sikap Kakak kepadaku. Kakak sudah mengenalku sedari kecil. Harusnya Kakak bisa bicara baik-baik. Bukan dengan cara seperti itu," jawabnya dengan nada yang sangat tegas. "Tanpa Kakak minta pun, lambat laun aku pasti akan meninggalkan Yansen. Hubungan kita akan berakhir. Namun, tidak dengan seperti itu." Kini, mulut Grace yang terkatup rapat.


"Kalau Kakak mau menjodohkan Yansen pun aku tidak masalah. Aku yang akan mengalah karena aku tahu hubungan aku dan Yansen tidak akan pernah bisa sampai pada kata sah."


Aleesa berani berkata karena dia sudah lelah dihina, diinjak juga dikatai. Dia juga manusia biasa yang memiliki batas kesabaran.


"Maafkan aku, Sa."


"Apakah kata maaf bisa mengembalikan rasa sakit hatiku? Bisa menyembuhkan Aritmia ku?" Aleesa menekan perkataannya. "Aku mengalah, masih saja Kakak salahkan. Malah lebih parahnya Kakak sebut aku ******. Bukankah itu tidak menyakitiku?" Aleesa sudah mulai berteriak.


Restu yang mendengar itu segera menuju ruang tamu. Diikuti oleh Yansen dan Radit.


"Lovely."


Aleesa menoleh dan air matanya sudah merembes. Restu segera memeluk tubuh Aleesa.


"Tenang, Lovely. Tenang." Namun, mata Restu sudah menatap nyalang ke arah Grace.


"Mulutnya terlalu jahat, Bie. Kamu dengar 'kan dia bilang apa ke aku?" Restu mengangguk. Radit hanya bisa menyaksikan tanpa bisa melakukan apa-apa.


"Aku ingin ke kamar, Bie."


"Sa--"


"Baba, hati Sasa masih sakit. Jangan paksa Sasa." Radit pun terdiam. Grace sudah menunduk dalam.


"Bie, bawa aku ke kamar."


Yansen merasa iri kepada Restu. Selama lima belas tahun mengenal Aleesa dia tidak pernah masuk ke kamar Aleesa. Beda halnya dengan Restu yang seakan memiliki kebebasan.


"Maaf ya, Grace. Aleesa memang berhati keras. Itupun pasti ada alasannya."


"Gak apa-apa, Tante," jawab lemah Grace.


.


Di kamar.


Restu masih memeluk tubuh Aleesa. Itulah yang selalu Aleesa inginkan jikalau dia sedang tidak baik-baik saja.


"Terlalu sakit, Bie. Dia terlalu menghina aku." Ucapan Aleesa begitu lemah. Restu hanya bisa menenangkan. Dia yang mendengar langsung bagaiman ucapan kasar dari Grace kepada Aleesa.


"Udah, ya. Sekarang kamu mending istirahat." Restu mengecup kening Aleesa.


Restu menemani sang kekasih hingga dia terlelap. Dia benar-benar tahu seberapa traumanya Aleesa dengan perkataan Grace yang menyebutnya wanita jalank.


"Kalau kamu jalank, berarti aku berengsek. Jalank dan berengsek adalah pasangan yang sempurna." Sebuah jokes yang selalu Restu katakan ketika di resort pantai agar rasa sakit dibilang wanita murahan hilang di dalam benaknya. Apartment yang baru saja Restu berikan adalah bukti bahwa dia membeli bibir Aleesa di atas tiga puluh milyar. Bagaimana jika dia membeli keperawanann Aleesa? Berapa uang yang akan Restu keluarkan?


Restu memeluk tubuh Aleesa dalam posisi tidur bersama hingga Aleesa terlelap dengan damainya. Dia terus memandangi wajah cantik itu dan mengecup kening Aleesa dengan begitu dalam.

__ADS_1


"Terima kasih sudah membuat aku jatuh cinta sangat dalam."


__ADS_2