RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 86. Paket Tanpa Nama


__ADS_3

Aleesa baru saja pulang dari kampus. Dia dijemput oleh Rio kerena sang ayah harus ke luar Kota. Ibunya tengah meeting dengan para petinggi A&R bakery. Dia hanya sendiri di rumah. Seorang asisten rumah tangga memberikan sebuah paket berukuran sedang.


"Dari siapa, Mbak?"


"Gak tahu, Non. Katanya ini buat Non Sasa." Aleesa membawa paket itu ke kamar. Dia ragu untuk membukanya. Ada sedikit rasa takut di hatinya.


Keraguan itu sangat didukung ketika ponselnya berdering dan nomor luar masuk ke dalam ponselnya. Dia pun mengabaikan paketan tersebut.


"Hai." Wajah Aleesa sudah sangat ceria menyapa Restu. Sedangkan Restu seperti orang yang kelelahan.


"Baru sampe banget aku," lapor Restu.


"Istirahat, Bie. Jaga kesehatan dan kembali dengan ketampanan kamu yang tak terkalahkan itu." Restu malah tertawa mendengarnya. Sungguh kekasihnya ini membuatnya tidak ingin pergi dari sisinya.


"Jaga diri kamu baik-baik ya, Lovely. Aku akan terus memantau kamu. Jangan macam-macam." Masih saja mengancam Aleesa. Padahal wajahnya sudah sangat kusut.


"Cuma satu macam aja kok, Bie." Restu berdecak kesal dan itu membuat Aleesa tertawa. Namun, tiba-tiba matanya berembun ketika menatap Restu.


"Miss you."


"Miss you too so much." Restu tidak tega melihat Aleesa seperti ini. Dia ingin cepat kembali ke Jakarta dan tinggal di sana. Belajar mengelola perusahaan bersama papihnya.


"Dua Minggu lagi, ya. Aku janji aku akan pulang dan kita bisa terus bersama." Aleesa tersenyum dan mengangguk.


"Tolong bertahan jika ke depannya hubungan kita banyak menemukan rintangan. Kamu tahu jika aku bukan orang baik. Aku bukan--"


"Setiap manusia memiliki masa lalu. Aku melihat kamu yang sekarang karena kita bukan berada pada waktu itu. Kita berada di masa sekarang dan akan berlanjut ke masa depan." Sungguh hati Restu terasa sejuk mendengar penuturan dari Aleesa.


"Makin cinta deh sama kamu." Aleesa tersnyum hangat ke arah sang kekasih.


"Boleh janji satu hal gak?"


"Apa?" Restu sudah menatap Aleesa dengan penuh cinta.

__ADS_1


"Kembalilah tanpa ada luka sedikit pun. Aku gak mau melihat kamu dalam keadaan jelek." Restu malah tertawa.


"Akan selalu aku usahakan. Apapun yang kamu minta pasti akan aku turuti." Tulus, itulah yang dapat Aleesa dengar dari seorang Restu.


Di balik kamar Restu seorang tengah menguping pembicaraan mesra pria di dalam kamar itu. Ada rasa sakit ketika mendengarnya. Terdengar suara Restu sangat lembut dan dia tahu Restu tengah berbicara dengan siapa.


"Kenapa aku merasa cemburu?"


.


Ketika malam tiba, Aleesa yang tak bisa tidur memilih untuk membuka paket yang dia terima. Nama pengirimnya pun tidak ada. Rasa penasaran yang semakin menjadi membuatnya memutusakan untuk membuka paket tersebut.


"Flashdisk?" Aleesa nampak kebingungan. Pertanyaan berkecamuk di kepalanya.


Dia turun dari tempat tidur dan membuka laptopnya. Dia mulai memasang flashdisk tersebut dan dua buah video yang ada di sana.


"Apa ini?" Tangannya sudah membuat video tersebut dan suara tembakan yang terdengar dari video tersebut. Aleesa menutup mulutnya karena dia melihat jelas darah menyembur di dada pria tua. Matanya melebar dengan sempurna.


Tubuh Aleesa menegang. Dia kenal suara itu dan ketika dia perbesar, air matanya luruh begitu saja. Anak laki-laki itu menangis keras dan berteriak.


"Aku tidak membunuh Kakek. Tidak!" Aleesa dapat melihat jelas anak itu memegang pistol dengan tubuh yang bergetar.


Aleesa tidak bisa berkata. Dia masih saja terdiam dengan air mata yang masih menetes. Dia membuka kembali video yang kedua dan kini dia melebarkan mata. Dia tahu pria itu karena pernah melihatnya, dan jeritan dari pria itupun terdengar sangat keras. Dia terlihat sangat kesakitan. Terdengar suara tulang yang patah di telinganya.


Pria itu ditinggalkan begitu saja oleh seseorang yang sangat marah. Membiarkan pria itu dengan napas yang sudah tersengal. Wajahnya sangat menahan kesakitan yang luar biasa. Aleesa tidak bisa berkata. Hatinya berkecamuk. Hingga di akhir video ada suara seorang perempuan.


"MASIHKAH KAMU MAU DENGAN PRIA KEJAM ITU? KAKEK DAN AYAHNYA SAJA DIPERLAKUKAN SEPERTI ITU. SELANJUTNYA, KAMU YANG AKAN MENJADI KORBANNYA. KAMU YANG AKAN DIBUNUH OLEHNYA."


Aleesa menghembuskan napas kasar. Dia memejamkan matanya sejenak dan air mata pun menetes begitu saja.


"Ada apa lagi ini, Tuhan?" Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aleesa. Apakah ini yang dimaksud oleh Restu?


Aleesa semakin tidak enak tidur. Apalagi mimpinya semalam terus menghantui kepalanya. Ditambah video tadi membuatnya tidak nafsu makan dan terus mencoba untuk berpikir positif. Dia memilih untuk menghubungi sang kekasih. Tak dia hiraukan jam berapa sekarang.

__ADS_1


"Kamu belum tidur?" Restu melihat ke arah jam dinding. Di sana menunjukkan pukul sepuluh malam. Wajah tampan memenuhi layar ponsel Aleesa. Wajah yang sangat tampan dan sudah semakin dia rindukan. Padahal.baru dua puluh empat jam mereka terpisah.


Aleesa tidak menjawab. Dia melihat raut wajah Restu semakin dalam. Terlihat sedikit ada tekanan di sorot mata Restu. Aleesa melihat sorot mata yang berbeda dari biasanya.


"Are you okay?"


"No," sahut Restu. Terdengar helaan napas kasar.


"Kenapa?" Aleesa penasaran dan hatinya berdegup tak karuhan.


"Sedari terbang dari Jakarta perasaanku gak enak dan aku ingin pulang." Perkataan yang begitu lirih. Aleesa terkejut ketika mendengarnya.


"Perasaan kamu aja itu mah, Bie." Aleesa mencoba menenangkan. Dia merasakan hal yang sama juga. Tidak biasanya dia ingin terus tahu kabar sang kekasih.


"Biasanya instingku benar jika hatiku sudah tak enak juga." Restu menatap ke arah Aleesa dengan tatapan sendu. Aleesa menggeleng.


"Jangan buat aku cemas, Bie." Restu mencoba untuk tersenyum.


"Lovely, selalu tunggu aku, ya. Aku janji akan berusaha untuk pulang dan menemui kamu. Aku cinta kamu, dan aku tidak akan pernah menyakiti kamu."


Aleesa mengangguk, dalam hatinya dia menangis mendengar ucapan dari sang kekasih yang memang datang dari hati. Bagaimana tidak, suara perempuan di akhir video yang ada di dalam flashdisk tadi sedikit menggoyahkan hatinya. Namun, mendengar ucapan yang begitu tulus dari sang kekasih seakan menepis ucapan yang dilayangkan. Restu tidak akan mencelakainya. Dia yakin itu.


Mereka tidak banyak berkata. Mereka hanya saling pandang dengan sorot mata penuh kerinduan. Hingga mereka terlelap dengan layar ponsel yang masih menyala dengan menunjukkan wajah mereka yang sama-sama terlelap.


Hari kedua, Aleesa masih bisa berkomunikasi dengan Restu. Wajah Restu semakin menunjukkan ketidaknyamanan. Hari ketiga, Restu sudah mulai sulit dihubungi. Aleesa masih berbaik sangka. Hingga di hari keempat tidak ada kabar dari Restu sama sekali. Itu membuat Aleesa sedikit cemas. Pesan beruntun sudah dia kirimkan, tapi belum ada jawaban juga.


Dia masih diam dengan rasa cemas yang bersarang di dada. Ponsel yang biasa sering dia tinggalkan kini selalu dia genggam. Berharap kekasihnya membalas pesannya.


"Semoga kamu baik-baik saja di sana, Bie."


...***To Be Continue***...


Komen atuh yang banyak biar Up lagi.

__ADS_1


__ADS_2