
Yansen masih berpikir keras siapa yang telah memberitahu Aleesa. Dia benar-benar tak habis pikir dengan sikap orang yang telah tega itu.
"Apa sih maksudnya?" gumamnya.
Tuan Michael Hartono masuk ke kamar perawatan Yansen dengan wajah yang kurang bersahabat. Yansen menukikkan kedua alisnya ke arah pria yang sudah tidak muda itu.
"Kenapa kamu gak bilang jika kekasih kamu adalah cucu dari almarhum Addhitama?"
Yansen hanya tersenyum tipis. Wajahnya masih terlihat sopan ke arah calon mertuanya. Mood yang sudah berantakan di pagi hari yang cerah, semakin berantakan dengan pertanyaan yang menurut Yansen bodoh.
"Apa pernah Om berbicara kepada saya perihal pertunangan ini?" Yansen menunjukkan punggung tangannya yang sudah tersemat cincin emas berwarna putih di jari manisnya. "Bukankah semuanya sudah Om dan Kakak saya rencanakan tanpa berunding dengan saya? Sekarang, Om malah menyalahkan saya." Yansen berkata tanpa ragu. Orang dengan tipikal diam jika sudah marah pasti akan menyeramkan. Begitulah Yansen.
Tuan Michael membisu mendengar ucapan dari pemuda yang berada di depannya. Pemuda yang akan menjadi menantunya kelak.
"Kalian menjebak saya hingga saya masuk ke dalam lubang kesalahan yang tidak pernah saya lakukan. Saya mencintai Aleesa Addhitama, bukan Nathalie Hartanto." Penuh penekanan.
Suasana mendadak hening. Tuan Michael dan Yansen sama-sama terdiam. Wajah sendu Yansen pun kini hadir. Dia merasa sedih, tapi di lubuk hatinya terdalam dia merasa bahagia. Dia tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
"Sa, sedang bersama siapa kamu di sana? Setiap aku memikirkanmu, ada rasa sedih di hatiku. Juga ada rasa bahagia yang tak terkira yang aku rasa. Apa kamu bahagia di sana?"
Wanita yang tengah Yansen pikirkan sudah bersiap untuk pergi. Restu tak memberitahu akan ke mana mereka. Aleesa pun tidak banyak bertanya. Sedang asyik sarapan, suara bel terdengar dan membuat mereka berdua menghentikan aktifitas mereka. Aleesa sudah berdiri, tapi dicekal oleh Restu.
"Biar aku aja." Aleesa mengangguk dan melanjutkan sarapannya yang terasa tidak nikmat. Bayang wajah Yansen dan Nathalie masih menari-nari.
"Nih!" Restu membuat Aleesa terkejut dan sudah ada ponsel miliknya yang dipegang oleh Restu.
"Om Radit tadi titip ke orang bawah." Aleesa masih terdiam, tangannya pun tak berniat untuk mengambil ponselnya tersebut.
"Katanya, Aleena dan Aleeya mengkhawatirkan keadaan kamu." Restu masih menatap ke arah Aleesa yang masih membeku.
"Pegang saja sama Kakak." Dahi Restu mengkerut. Kemudian, dia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Aleesa.
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin menenangkan diri sebelum--" Aleesa tak kuasa melanjutkan ucapannya.
"Kembali bertemu dengan dia." Aleesa mulai menegakkan kepalanya dan menatap ke arah Restu.
__ADS_1
"Bisa gak kalau lagi sama aku lupakan dia sejenak. Kamu boleh kecewa, tapi bodoh jangan." Jika, menyangkut laki-laki yang dicintai Aleesa Restu akan berubah menjadi pencemburu berat. "Sudah berkali-kali aku bilang, kenapa begitu sulit kamu lakukan?" Nada bicara Restu sudah berubah.
Aleesa tersenyum dengan mata yang nanar. Dia masih menatap Restu dengan tatapan tak terbaca sama sekali.
"Aku memang wanita bodoh yang masih mengingat dia yang sudah membuat aku kecewa." Bulir bening hampir terjatuh. "Aku memang bodoh." Kali ini bulir bening itu terjatuh juga dan Aleesa pun menunduk dengan begitu dalam.
Dekapan hangat Restu berikan. Cemburu sudah membuatnya berucap sedikit kasar kepada Aleesa.
"Maafkan aku." Tidak ada balasan dari Aleesa. Dia masih menitikan air mata tanpa suara. Namun, punggungnya bergetar.
"Aku terlalu cemburu dan membuat aku tidak bisa mengontrol emosi. Maafkan aku, Sa." Masih tidak ada jawaban. Namun, punggung Aleesa sudah tidak bergetar membuat Restu curiga. Perlahan dia mengendurkan pelukannya dan benar dugaannya. Aleesa terlihat menahan sesak di dada.
Tanpa berpikir panjang, Restu segera membawa Aleesa ke kamar dan memberikannya obat yang semalam.
"Maafkan aku." Restu sudah menggenggam tangan Aleesa dengan wajah penuh rasa bersalah. Aleesa malah tersenyum dan mengusap lembut wajah pria yang membuatnya merasa terlindungi.
"Kakak gak salah. Aku emang yang bodoh. Aku--" Sebuah kecupan di bibir membuat mulut Aleesa terbungkam seketika. Tatapan Restu teramat dalam kepalanya.
"Aku gak mau dengar itu lagi."
"Memang benar 'kan aku wa--"
Restu mengecup bibir Aleesa untuk kedua kalinya di pagi ini. Kini, nektra
mata mereka bertemu. Saling menatap dengan begitu dalam.
"Maaf," ucap Restu. "Aku cemburu karena aku juga ingin dipikirkan oleh kamu." Aleesa malah tersenyum mendengarnya. Dia mengusap lembut wajah Restu.
"Aku mencintai kamu, Sa." Tidak ada jawaban dari Aleesa. Namun, matanya masih menatap lekat ke arah Restu.
Seperti terhipnotis, Restu malah semakin menjadi. Dia mulai mendekatkan wajahnya ke arah Aleesa kembali. Deru napasnya seakan memburu. Tak sabar ingin cepat mengecup bibir manis Aleesa.
"Kak, kamar ini 'kan dipasang cctv." Restu mulai melemah dan dia malah meletakkan kepalanya di bahu Aleesa.
"Aarrghh!" erangnya kecil.
Di lain tempat Rio terbahak-bahak begitu juga dengan kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Aleesa. Morning kiss yang gagal maning.
__ADS_1
"Bahaya tuh, Uncle." Radit hanya tersenyum. Dia tahu dia menitipkan Aleesa kepada orang yang tepat. Laki-laki yang akan melindungi putrinya. Berciuman seperti itu memang tidak dibenarkan, tapi dilarang pun pasti tidak bisa. Radit pernah merasakan gejolak muda.
Kembali ke unit apartment yang diisi oleh dua manusia berlawanan jenis. Restu tengah menyiapkan apa saja yang hendak mereka bawa. Sedangkan Aleesa tidak diperbolehkan untuk membantu. Dia hanya diperbolehkan untuk berada di samping Restu.
"Kita cek kesehatan kamu dulu ya, ke dokter aku. Kalau katanya boleh, kita lanjut. Kalau enggak, kita di sini saja." Aleesa mengangguk. Dia juga tidak tahu mau diajak ke mana oleh Restu.
Restu sudah menggenggam tangan Aleesa dengan begitu erat. Masker pun dia pakaikan karena dia tidak ingin orang lain melihat Aleesa. Begitu juga dengannya yang memakai masker juga topi berwarna hitam.
"Masih sesak gak?" Restu bertanya ketika dia selesai memasangkan seatbelt untuk Aleesa. Hanya gelengan kepala yang menjadi jawabannya.
Belum juga menyalakan mesin mobil, ponsel Aleesa berdering. Restu meraih tas kecil yang dia bawa dan memperlihatkan nama si pemanggil kepada Aleesa.
Grace.
"Angkat saja, Kak. Bilang kalau Kakak calon suami aku."
"Hanya itu?" Aleesa malah bingung, dia menatap ke arah Restu dengan penuh tanya.
"Enggak sekalian suami sah saja," goda Restu.
"Pengen banget ya kayaknya." Restu pun mengangguk. Aleesa malah tertawa. Dia baru mengetahui sisi lain dari seorang brandal tampan ini.
"Terserah Kakak saja."
"Suami dong bukan Kakak," ralat Restu. Lagi-lagi Aleesa tertawa.
"Terserah Kakak," jawab Aleesa.
"Kok pasrah banget."
"Kalau aku ngelarang pun pasti Kakak akan maksa dan ngaku-ngaku." Kini, Restulah yang tertawa. Dia sengaja mencandai Aleesa agar perempuan di sampingnya tidak sedih lagi. Dia tahu apa yang akan Grace katakan.
Restu meraih tangan Aleesa dan sudah membuka maskernya. Pandangan Aleesa pun masih tertuju pada Restu.
"Aku mencintai kamu, Sa. Jadilah calon istri dan anak-anakku di masa depan."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ... 50 komen, ya. Biar sore up lagi.