RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 127. Keputusan


__ADS_3

Belum juga kering air mata Echa, dia mendapat kabar lagi perihal sang putri pertama yang akan terbang lagi ke Singapura. Hati Echa rasanya sangat hancur berkeping.


"Tidak bisakah lusa saja, Kakak Na?" pinta Echa. Aleena menggeleng.


"Baba sudah mengijinkan." Aleena menjawab dengan begitu tegas. Dia menggenggam erat tangan sang ibu. Dia tersenyum ke arah wanita yang sangat dia sayangi itu.


"Bubu jangan khawatir, Kakak Na akan baik-baik saja." Seulas senyum Aleena berikan kepada Aleena. Padahal, di dalam.hatinya dia menangis sangat keras. Dia masih rindu akan sang ibu, tapi jika keadaannya seperti ini terus kasihan kedua orang tuanya.


Pesan ayahnya malah kejadian, sewaktu mereka masuk sekolah menengah sang ayah mengatakan jika mereka bertiga tidak boleh bertengkar hanya karena laki-laki. Pesan itu malah tak didengar dan hubungan mereka merenggang. Aleena yang selalu mengalah masih saja disalahkan. Bagaimana jika di memilih untuk egois?


Baru saja Echa merasa tenang dengan kondisi Aleesa, kini cobaan datang lagi. Terkadang dia berpikir apa salahnya sehingga keluarganya terus diberikan ujian yang tidak seberapa dibandingkan dengan ujian manusia lainnya. Namun, tetap saja ujian ini begitu sulit. Apalagi sudah menyangkut keluarga. Echa ingin melarang Aleena. Dia masih rindu kepada putri pertamanya, tapi jika Radit sudah memberikan ijin sudah pasti Echa tidak akan pernah melarang.


Aleesa yang masih berada di apartment Restu pun diharuskan untuk pulang karena sang ayah menyuruhnya untuk makan malam bersama. Aleesa merasa curiga tidak biasanya sang ayah seperti ini. Dia pun meminta ini kepada Restu. Dan tunangan pun mengijinkan karena dia tahu besok Aleesa harus kuliah. Dia juga tidak boleh meminta Aleesa terus:terusan bersamanya.


"Gak apa-apa 'kan aku tinggal sendiri?" Restu mengangguk seraya tersenyum. Aleesa memeluk tubuh Restu. Dia tidak tega, tapi dia tidak mungkin terus-terusan berada di samping Restu sedangkan mereka belum sah menjadi sepasang suami-istri.


Seperti biasa sebelum pergi Restu akan meminta kiss kepada Aleesa. Kissing yang tak biasa yang akan membuat part tersebut memakan waktu lama. Sesapan lembut menjadi candu untuk mereka berdua. Ketika napas sudah tersengal, Aleesa dan Restu mengambil napas. Namun, mereka memulai kembali. Tidak ada kata cukup untuk kecupan manis. Apalagi Restu yang terus membuat Aleesa merasa ketagihan.


"Bie--" Aleesa merasa sudah tidak bisa bernapas dan membuat Restu tertawa ketika hendak menciumnya lagi.


"Ya udah, kamu boleh pulang." Akan tetapi, tangan Restu masih melingkar di pinggang Aleesa.


"Tangan kamunya." Restu malah tertawa dan mencium gemas ujung kepala Aleesa Addhitama.


"I will miss you." Belum juga berangkat, sudah bucin.


"Me too."


Tibanya di rumah, suasana mendadak sepi. Padahal hari masih sore. Aleesa segera menuju kamarnya. Adik super reseknya pun tidak ada membuat Aleesa bisa bernapas lega. Ketika dia membuka pintu kebetulan Aleena keluar dengan membawa tas ransel di punggungnya..


"Mau ke mana?" Aleesa nampak curiga.

__ADS_1


"Kakak Na akan kembali ke Singapura." Aleesa nampak terkejut. Dia menggelengkan kepalanya.


"Kakak Na bohong 'kan." Aleena hanya tersenyum. Dia memeluk tubuh Aleesa.


"Kakak Na ikut bahagia melihat kamu bahagia bersama Kak Restu. Maaf, jika kehadiran Kakak membawa kegaduhan." Aleesa menggeleng, air matanya mengalir begitu deras. Dia belum ingin berpisah dengan Aleena ditambah ucapan sang kakak membuat hatinya sakit.


"Kenapa begitu sebentar, Kak?" Suara Aleesa bergetar.


"Kakak hanya ingin Bubu dan Baba merasa tenang dan damai. Kakak merasa kehadiran Kakak membawa ketidaknyamanan di rumah ini." Suara Aleena pun sudah bergetar dan berat


"Kak--"


"Baba sudah mengijinkan." Aleesa pun menunduk dalam.


"Kakak gak boleh pergi. Sasa masih kangen sama Kakak." Aleesa bagai anak kecil sekarang. Aleena malah tersenyum dan momen ini seperti momen ketika mereka masih kecil. Selalu kompak da. terus berpelukan.


"Kamu beruntung bisa mendapatkan pria seperti Kak Restu. Kakak ikut bahagia."


Di meja makan pun hanya keheningan yang tercipta. Tidak ada yang berbicara sama sekali. Aleesa tidak Bernafsu menikmati makanan yang ada di depannya. Aleesa menatap tajam ke arah Aleeya yang sedari tadi menunduk dalam. Dia yakin Aleeya sudah membuat ulah.


"Kalau Yaya mendahului Kakak Na untuk menikah, Kakak Na akan setuju saja siapapun jodohnya, tapi Kakak Na tidak akan pulang karena Kakak Na gak mau kejadian seperti ini terjadi lagi."


Radit dan Echa terdiam. Aleena seakan tengah mengungkapkan kesakitan yang sesungguhnya. Aleeya terlonjak begitu juga dengan Aleesa.


"Kak--" Aleesa mulai merengek.


"Begitu juga dengan pernikahan kamu, Sa. Kakak akan selalu mendoakan yang terbaik untuk adik-adik Kakak." Aleesa berhambur memeluk tubuh Aleena sedangkan Aleeya hanya diam saja.


Radit dan Echa mencoba untuk menahan tangis. Ada sesuatu hal yang sudah Aleena ungkapkan dengan deraian air mata sebelum mereka berada di meja makan. Kedua orang tua Aleena tidak bisa berbuat apa-apa.


"Baba hanya berpesan satu hal kepada kalian," ucap Radit dengan nada berat. "Ke manapun kalian pergi, tapi ingatlah keluarga tempat kalian pulang. Keluarga tempat di mana kalian diterima seburuk apapun kalian. Family is number one." Kalimat menohok yang membuat ketiga anak Radit membeku.

__ADS_1


.


Di lain tempat dua orang pria sudah saling berhadapan. Pria yang usianya lebih tua menatap serius ke arah pria yang lebih muda.


"Kamu serius?" Pria muda itupun mengangguk.


"Kenapa?" Penasaran. Itulah yang terjadi.pada pria paruh baya.


"Mengalah belum tentu kalah 'kan." Pria muda itu tersenyum setelah mengatakan itu semua. Dia nampak santai. Harusnya dia sedih karena sudah membuang ladang uang.


"Ini nilainya tidak sedikit loh," ujar pria paruh baya itu.


"Saya tahu." Dia malah menyandarkan tubuhnya di sofa. "Saya hanya ingin mencari ketenangan dan kebahagiaan bukan kemewahan." Santai sekali ucapannya.


"Kamu tidak akan menyesal?" Pria muda itupun menggeleng.


"Baiklah kalau begitu." Pria paruh baya itu mengalah karena melihat keyakinan yang tak terbantahkan dari pria muda yang sangat tegas walupun wajahnya penuh luka lebam.


Sebuah keputusan yang harus pria muda itu ambil. Bukan tanpa alasan, dia hanya tidak ingin membuat kekacauan. Dia adalah orang baru, tidak mungkin merusak ikatan kekeluargaan.


Keputusannya ini adalah murni keputusannya sendiri tanpa ada campur tangan orang lain. Keputusannya itupun dia buat atas kesadarannya sendiri.


Sebuah laporan datang kepadanya jikalau seorang pemuda yang usianya lebih muda lima tahun darinya melaporkan atas sikapnya di makan malam pada waktu itu. Ditambah si tua Bangka sedikit ketakutan jika dia akan mengambil alih semuanya dan dia akan disingkirkan.


"Licik!" serunya. Namun, dia malah tertawa.


"Bahagia tuh orang kalau gua hidup miskin. Namun, itu tidak akan pernah terjadi."


Senyum licik pun terukir di wajahnya. Banyak orang yang terlalu merendahkan dirinya. Banyak orang menyangkanya dia hanya menumpang hidup dari keluarga kaya.


"Jangan pernah dengarkan apa kata orang. Itu akan membunuh kamu secara perlahan. Fokus saja dengan apa yang menjadi tujuan. Terus menatap ke depan karena Mimpimu berada di sana, bukan di belakang."

__ADS_1


...***To Be Continue**...


Komen dong ...


__ADS_2