
"Restu Ranendra."
Dahi Restu pun mengkerut melihat pria yang sangat rapi ada di depannya. Pria yang memakai kemeja putih, dibalut dengan jas hitam dan juga kacamata yang bertengger di hidungnya. Usia pria itu seperti kedua orang tuanya. Wajahnya ramah, tapi tetap saja Restu harus waspada.
Aleesa menoleh ke arah Restu dan sang kekasih malah menatap datar ke.adah pria itu. Tangan Aleesa semakin erat menggenggam tangan sang kekasih membuat Restu menoleh dan menggelengkan kepala. Menandakan dia juga tidak tahu. Jangan ditanya bagaimana Restu melindungi Aleesa. Tubuhnya sudah menghalangi Aleesa dan meletakkan tangan Aleesa di pinggangnya. Dia sudah memasang badan untuk Aleesa. Ada rasa takut di hati Aleesa, tapi ketika tangan Restu mengusap lembut punggung tangannya membuat hatinya mulai tenang. Dia merasa sangat dilindungi.
"Bisa ikut saya?" Pria itu begitu sopan. Selalu menyunggingkan senyum kepada Restu.
Kepala Restu mulai menoleh ke belakang. "Ponsel." Aleesa memberikannya dan ternyata Restu menghubungi sang ayah, dan tak lama Rindra dan Radit menghampiri Aleesa dan Restu juga ada pria tersebut.
Rindra dan Radit saling pandang. Mereka tidak tahu siapa pria itu. Restu pun terlihat sangat melindungi Aleesa. Waspada, itulah yang sedang mereka lakukan.
"Anda siapa?" Jangan ditanya bagaimana Rindra bersiaga. Semua anak buahnya sudah dikerahkan untuk berjaga sedari Restu mengatakan jika ada yang menghadangnya di depan.
"Saya anak pengacara dari tuan Wiratama." Rindra sedikit terkejut. Kini, dia menatap ke arah Restu. Putranya itu nampak malas dan kesal mendengar nama itu disebut.
"Saya ingin bicara dengan Restu Ranendra yang tak lain adalah Rajendra Wiratama." Pria itu mulai menegaskan lagi.
"Aku sudah lelah, Pih. Aku ingin cepat pulang dan istirahat." Begitu malasnya Restu berurusan dengan keluarga kandungnya sendiri. Dia benar-benar sudah muak. Rindra pun tidak bisa memaksa.
"Lain kali saja ya, Pak. Putra saya baru saja tiba dari luar negeri dan kondisi tubuhnya pun belum sepenuhnya fit." Rindra berbicara dengan begitu sopan. Dia sudah mendapat kabar orang itu memang anak dari pengacara kepercayaan Wiratama.
Di dalam mobil, Restu tak berbicara sepatah kata pun. Aleesa juga tidak membuka suara karena dia tahu jika sudah begini Restu tengah benar-benar marah. Raut wajahnya sudah menjelaskan semuanya. Mereka pun harus terpisah di mana Restu harus kembali ke rumah Nesha dan Rindra juga Aleesa yang harus kembali ke rumahnya.
"Aku gak mau pisah." Mode manja sudah Restu keluarkan. Aleesa hanya tertawa.
"Besok 'kan kita bisa ketemu lagi, Bie." Wajah murung Restu terlihat begitu jelas. Aleesa mengusap lembut pipi Restu. "Istirahat, ya."
"Kalau aku kangen gimana?" Aleesa teringat jika sang kekasih belum memiliki ponsel.
"Besok kita cari ponsel baru buat kamu. Gak pernah 'kan kita jalan berdua." Restu pun mengangguk.
Tibanya di rumah, Restu sudah ditunggu oleh Rindra yang sudah lebih dulu datang. Tatapan Rindra sangatlah Restu hafal. Dia pun akhirnya duduk di depan sang ayah.
__ADS_1
"Papih tidak memaksa kamu, tapi alangkah baiknya kamu temui pengacara itu dulu. Jika, kamu tidak mau bertemu di luar ajaklah bertemu di rumah ini. Setidaknya Papih juga tenang karena Papih bisa memantau kamu dari sini."
Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari.mulut Restu. Malas, lelah dan sudah tidak ingin tahu perihal keluarganya. Itulah yang tengah Restu rasakan.
"Atur aja sama Papih." Restu pun beranjak dan meninggalkan Rindra.
Nesha menghampiri Rindra dan mengusap.lembht pundak suaminya. "Jangan paksa Restu, Pih."
"Dia harus tahu juga perihal ini, Mih. Jika, dia sudah tahu semua, keputusan ada di tangan dia. Lagi pula Papih sudah menyiapkan masa depan Restu."
Di dalam kamar, Rio sudah menunggunya. Dia menelisik wajah Restu yang nampak kesal.
"Kenapa?"
"Gua males berurusan dengan keluarga kandung gua." Restu sudah membuka laci meja di mana dia menyimpan rokok yang biasa dia hisap.
"Mau ngapain lu?" sergah Rio dengan mata melebar.
"Udah lama gua gak buang asap." Dia sudah membuka kotak rokok dan mengambil satu batang rokok. Kemudian, menyalakan api dan membakarnya. Dia hisap rokok tersebut dengan begitu dalam.
Kepulan asap sudah ada di udara. Restu masih tanpa suara. Dia masih tenang dengan rokoknya. Teringat bagaimana sang kakek memperlakukannya pada waktu kecil. Kakeknya baik, tapi dia banyak mengajarkan kebohongan kepada Restu. Itulah yang membuat dia merasa kecewa.
"Jika, gua boleh memilih ... gua ingin dilahirkan dari rahim Mamih Nesha." Rio mendekat. Dia pun duduk di samping Restu.
"Walaupun lu gak terlahir dari rahim Mamih, tapi lu sudah menjadi bagian dari hidup Mamih."
"Ya, gua merasa sangat beruntung."
.
Pagi hari rumah Raditya Addhitama sudah kedatangan tamu, yakni calon menantunya.
"Ngapelnya kepagian, Mas," canda Radit. Restu pun tertawa. Dia mencium tangan ayah dari Aleesa yang sudah duduk di teras rumah sambil menikmati udara pagi.
__ADS_1
"Sengaja, Om. Menikmati udara pagi." Restu sengaja memakai motor untuk ke rumah Aleesa.
"Mau ngopi apa?" tanya Radit. Echa yang baru saja keluar membawa gorengan hangat sedikit terkejut karena sudah ada Restu.
"Masih jam berapa ini, Res?" tanya Echa. Restu hanya tertawa..
"Mau kopi atau teh?"
"Kopi aja, Tan." Echa pun tersenyum. Akhirnya, sang suami memiliki teman bicara di pagi hari.
Sebuah kebetulan atau tidak, Aleesa sudah turun ke lantai bawah dengan masih menggunakan piyama tidur pendek. Baju kesukaannya jika di rumah.
"Tumben udah bangun?" Aleesa hanya tersenyum dan dia segera membuka lemari pendingin. Mencari susu kotak dingin rasa cokelat kesukaannya.
"Kalau mau cireng isi ada di luar, di Baba," ujar sang ibu. Echa tak memberitahu jika ada Restu di sana.
"Kenapa gak disisain di dalam sih, Bu?" Aleesa mulai merengek.
"Tinggal ambil aja di luar," sahut Echa dengan begitu santai.
Tanpa ragu Aleesa pun segera keluar karena cireng isi adalah makanan kesukaannya. "Baba, mana ci--"
Tubuh Aleesa menegang ketika melihat sudah ada sang kekasih di sana. Restu menatap Aleesa dengan mata yang tak berkedip. Muka bantal Aleesa sangat menggemaskan di mata Restu. Aleesa pun membalikkan tubuhnya dan bergegas masuk ke dalam karena malu. Restu dan Radit malah tertawa.
"Kamu serius sama anak Om?" Bahasa formal yang biasa Radit ucapkan kini sudah hilang.
"Serius banget, Om." Radit tersenyum mendengar ucapan dari Restu.
"Lalu, kapan kamu mau meminang putri Om?" Restu malah berbalik tersenyum ke arah ayah Aleesa.
"Sudah aku pikirkan, Om. Aku juga sudah punya waktu yang tepat kapan aku melamarnya."
"Kapan?"
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ....