
Langkah Aleesa terhenti di ambang pintu. Dia sangat tahu itu punggung siapa. Namun, di kedua sisi tubuh sang kekasih ada dua orang yang memakai seragam keamanan dan terlihat tengah menahan pria yang berada di tengahnya.
"Bie--"
Pria itupun perlahan menoleh, sontak Aleesa terkejut karena tangan Restu diborgol. Aleesa segera berlari ke arah Restu.
"Bie, kenapa bisa kayak gini?" Wajah Aleesa sudah sendu sekaligus cemas. Dia segera menggenggam tangan Restu yang sudah diborgol.
"Bie, jawab aku," pinta Aleesa dengan nada lemah dan penuh permohonan. Tangannya masih menggenggam tangan Restu.
Tak ada jawaban, Restu hanya menunduk. Dia tidak berani menatap ke arah Aleesa. Hembusan napas kasar keluar dari mulut kekasih Restu tersebut.
"Bie, jawab aku," pinta Aleesa sekali lagi. Akan tetapi, Restu masih membungkam mulutnya.
Aleesa mulai tak sabar, dia menangkup wajah Restu dan menatapnya dengan begitu dalam. Dia berharap Restu akan berkata jujur kepadanya.
"Kenapa? Kenapa kamu begini?" Mata Aleesa sudah nanar dan suaranya sudah bergetar. Sebentar lagi air matanya luruh membasahi pipi untuk kesekian kalinya Aleesa membuang napas kasar agar hal itu tak terjadi. Aleesa memilih menunduk dalam membiarkan air matanya jatuh tanpa Restu lihat. Dia lelah, dia takut, dan dia merasa bersalah akan hal ini.
🎶
I wanna grow old with you
I wanna die lying in your arms
Aleesa terkejut, kenapa ada suara orang yang bernyanyi. Dia juga merasa tidak asing dengan suara itu. Tangannya mulai menyeka ujung matanya.
🎶
__ADS_1
I wanna grow old with you
I wanna be looking in your eyes
Aleesa mencoba untuk menegakkan kepala. Alangkah terkejutnya dua ketika melihat Restu sudah bersimpuh di hadapannya dengan tangan yang sudah terkenal dari borgo. Tangannya sudah menunjukkan kotak cincin berwarna putih yang sudah terbuka. Ada dua cincin di dalamnya.
🎶
I wanna be there for you
Sharing in everything you do
I wanna grow old with you
Aleesa tidak bisa berkata, ditambah satu per satu keluarganya sudah mulai keluar. Dari kedua orang tuanya, orang tua Restu, Empat paman Aleesa juga para istri mereka serta sang kakak yang tengah belajar di Singapura sekarang ada di hadapannya. Begitu juga dengan sang adik yang tengah menimba ilmu di Jogja ada di Jakarta.
"Ketika restu sudah ditangan, tidak akan pernah aku lepaskan. Kamu, wanita yang aku sayang. I love you, Aleesa." Restu sudah membuka suara dan mampu membuat semua orang yang hadir di sana tersnyum. Termasuk Rio dan Rangga yang juga hadir.
Speechless. Aleesa membeku dengan rasa terkejut luar biasa. Dia menatap ke arah kedua orang tuanya juga kedua saudaranya. Meminta jawaban dari mereka semua. Pasalnya Restu mereka akan mempermudah hubungannya dengan Restu ke depannya. Mereka hanya tersenyum bahagia dan mengangguk pelan.
"Maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Juga ibu dari anak-anakku?" Restu sudah bertanya lagi. Hanya air mata yang menjawab pertanyaan Restu.
"Ya." Jawaban yang begitu pelan dan diiringi dengan anggukan. Restu tersenyum bahagia. Dia segera memeluk tubuh Aleesa dengan begitu erat.
"Terima kasih, Lovely." Aleesa menangis.
Restu mengendurkan pelukannya dan mengusap lembut air mata Aleesa. "Don't cry."
__ADS_1
"Kamu hampir buat aku gila." Restu malah tertawa. Dia memeluk Aleesa untuk kesekian kalinya lagi.
"Begitu manisnya," ujar Aleeya.
Restu masih memegang kotak cincin. Sebelum dia memakaikan cincin tersebut di tangan Aleesa, ada sepatah dua patah kata yang ingin dia sampaikan.
"Om Raditya dan Tante Echa ... Lamaran aku sudah diterima oleh putri kedua Om dan Tante. Bolehkah aku memasangkan cincin ini di jari manis Aleesa?" Kedua orang tua Echa hanya tersenyum.
"Silahkan." Radit menjawab tanpa ragu. Barulah Restu memasangkan cincin itu di tangan Aleesa dan tepuk tangan gemuruh pun terdengar di sana.
Cincin pengikat yang pertama Restu lepaskan dan dia simpan di saku celana. Kini, diganti dengan cincin Couple yang baru saja Aleesa sematkan di jari manisnya.
"I love you, Lovely."
"Love you more." Restu pun mencium kening Aleesa dengan begitu lembut dan dalam. Kebahagiaan bukan hanya milik Restu dan Aleesa. Melainkan milik semua orang. Mereka melengkungkan senyum yang begitu lebar. Restu pun tak mau melepaskan pelukannya kepada Aleesa.
Radit dan Echa saling tatap. Senyum pun terukir di wajah mereka berdua. Kemudian, mereka berdua kompak menoleh kepada putri pertama mereka. Aleena tersnyum.
"Makasih, Kakak Na." Aleena pun menggeleng.
"Kak Restu adalah laki-laki gentle. Rela datang ke Singapura hanya untuk meminta restu ke Kakak Na. Setelah itu dia pulang lagi. Tidak ada alasan untuk menghalangi cinta mereka karena Kakak Na sangat melihat betapa seriusnya Kak Restu pada Sasa. Juga Sasa juga sayang banget sama Kak Restu. Kebahagiaan Sasa adalah kebahagiaan Kakak Na juga." Aleena adalah duplikat dari Raditya Addhitama.
Rangga tak henti memandang Aleena yang tengah berbincang dengan kedua orang tuanya. Ketika Aleesan tersnyum, Rangga dari kejauhan ikut tersenyum.
"Akankah kamu bisa aku gapai? Akankah aku bisa mengajakmu mengudara bersamaku?"
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...
"