RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 139. Kantor


__ADS_3

Sudah seminggu Restu bekerja di perusahaan sang ayah. Dia jarang berinteraksi dengan karyawan lain. Sedangkan karyawan wanita banyak yang sok kenal dengannya. Ingin mendekat kepadanya.


"Res, nanti makan siang bareng yuk." Karyawan wanita menghampiri Restu. Jika, telinganya tidak salah mendengar perempuan itu adalah karyawan paling cantik. Namun, Restu sama sekali tak tertarik. Dia pun tidak mengindahkan ajakan dari perempuan itu. Dia juga tidak tahu siapa nama perempuan itu.


Jika, sudah di depan komputer mata Restu akan terus fokus. Dia tidak akan melirik ke sana ke sini. Begitulah seorang Restu Ranendra. Dia merasa pusing dengan obrolan para karyawan yang tengah membicarakan ponsel upel keluaran terbaru yang harganya dua puluh lima juta. Restu hanya menggelengkan kepala.


"Bating jigoh juta aja heboh banget," ujar Restu di dalam hati.


"Res, lu punya hape gak sih? Kok gua nggak pernah lihat lu pegang HP." kalimat yang sedikit menyindir.


Restu masih terfokus pada layar komputer di depannya. Dia hanya menjawab singkat jelas dan padat. "Punya."


"Pasti hapenya merk biasa kan," ucap karyawan songong sembari menunjukkan ponsel upel terbaru.


"Ya bisa nilai sendiri lah." Restu sudah dicap sebagai karyawan ketus dalam berbicara. Padahal baru seminggu dia bekerja di sana, tapi sangat berani.


Restu adalah orang yang malas menjawab pertanyaan yang tidak penting. Apalagi cuma pertanyaan tak jelas dan basa-basi.. Selama seminggu ini dia mencoba untuk bertahan dengan kebisingan para karyawan yang membuat telinganya pengang.


Disela kerja mereka selalu menyempatkan untuk mengghibah orang lain. Sungguh membuat Restu tidak suka. Apalagi yang mereka ghibah teman sendiri. Ada juga yang membicarakan tentangnya. Padahal posisinya dekat dengan mereka. Restu memiliki telinga yang masih normal, masih bisa mendengar walaupun samar.


"Udah sih jangan ngebully dia. Kasihan gebetan gua." Tiba-tiba perut Restu mendadak mual mendengarnya.


"Walaupun kere tampilannya oke." Restu tersenyum kecut mendengarnya. Zaman sekarang menilai hanya dari casingnya saja tidak melihat bagaimana isinya.


Kehadiran office boy membuat acara ghibah mereka sedikit terhenti. Office boy tersebut memberikan minuman dari kedai merk ternama yang harganya tidak ramah di kantong kepada Restu dan mampu membuat mereka semua tercengang.


"Gegayaan lu! Gajian aja belum," cibir salah satu karyawan di sana.


Lagi-lagi Restu menggelengkan kepala. Manusia sekarang senangnya menghina orang lain. Mentang-mentang memiliki jabatan. Senang merendahkan orang lain padahal dia sendiri baru merangkak belum bisa berdiri tegak, tapi sudah seperti orang kaya sungguhan.


Restu masa bodoh dengan ucapan mereka. Dia dengan santai meminum kopi yang dia pesan. Persetan dengan ucapan mereka. Toh dia membeli itu dengan uangnya sendiri. Jangankan kopi yang harga tujuh puluh atau delapan luluh ribu. Kedainya pun bisa dia beli jika dia niat.


"Papih memperkerjakan orang yang salah, " gumamnya dalam hati.


Jam istirahat sudah tiba. Restu menghembuskan napas kasar dan merenggangkan otot-ototnya sebentar. Para karyawan wanita terlama melihat otot yang kekar milik Restu karena ketika dua mengegrakkan tangannya terlihat jelas betapa gagahnya dia. Tetap saja Restu menjadi manusia datar.


Dia pun mulai beranjak dan menuju tempat makan siang. Namun, dia merasa bosan dengan makanan yang ada di sekitaran kantor. Dia sedikit terkejut ketika karyawan perempuan yang mengajaknya makan siang sudah ada di sampingnya. Dia tersenyum manis, tapi Restu menatapnya sinis.

__ADS_1


"Aku punya tempat makan langganan yang murah, tapi enak." Dia berkata dengan begitu bangganya. Sedangkan Restu dia tidak mendengarkan sama sekali.


Samar terdengar ghibahan para karyawan laki-laki di telinga Restu. Mereka mengatakan jika di bawah ada wanita cantik yang tak lain adalah keponakan dari pemilik perusahaan tempat merek bekerja. Restu semakin menajamkan telinga dia mendengarkan dengan cara diam.


"Calon istri gue itu," celetuk salah satu karyawan laki-laki yang bergaya parlente. Bisa dibilang dia memiliki jabatan sedikit tinggi di perusahaan Rindra.


"Emang di mana ceweknya?" tanya yang lain.


"Di lobby. Dia kayaknya lagi nunggu seseorang deh," timpal yang lain.


Restu penasaran dengan perempuan yang sedang mereka bicarakan. Apalagi mereka terus memuji perempuan itu. Restu mulai sedikit penasaran. Siapa yang tengah dibicarakan dan menjadi topik utama di jam makan siang. Rasanya ingin sekali dia mengeluarkan ponsel. Namun, sekarang banyak karyawan. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian.


Perempuan yang sedari tadi berada di samping Restu terus mengoceh bagai beo, tapi Restu sama sekali tidak mendengarkan apalagi mengindahkan. pendengarannya masih tertuju pada obrolan para lelaki.


Di dalam lift pun para lelaki itu masih membahas perihal perempuan cantik yang tak lain adalah kerabat dari pemilik perusahaan. Sudah pasti dia bukan wanita sembarangan. Restu ingin segera cepat turun ke lantai bawah karena hatinya mengatakan hal yang berbeda.


Ketika pintu lift sudah tiba di lantai satu, para karyawan sibuk membenarkan penampilannya masing-masing. Beda halnya dengan Restu yang menyerobot untuk keluar dari sana. Langkahnya begitu lebar hingga perempuan yang awalnya ada di samping Restu kini ada di belakang Restu dengan jarak yang cukup jauh.


Dahi Restu mengkerut ketika melihat ada perempuan yang tengah duduk menyilangkan kaki di sofa lobby. sedang memainkan ponsel.


Mendengar langkah kaki yang mendekat membuat perempuan itu menegakkan kepala. Dia langsung menyunggingkan senyum yang begitu manis kepada sosok yang sedikit terkejut melihat kehadirannya.


"Namanya juga surprise," jawab Aleesa.


Interaksi Restu dan Aleesa menjadi tontonan para karyawan di sana. Mereka menghentikan langkah dengan begitu kompak. Begitu juga dengan karyawan perempuan yang mengajak Restu makan siang.


"Kok bisa kenal sama karyawan baru itu?"


"Tapi cocok ganteng dan cantik."


"Enggak, nggak mungkin. Cuma kebetulan kali."


Banyak karyawan yang tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Baik itu karyawan laki-lakii maupun perempuan. Namun, semuanya melebarkan mata ketika Aleesa merangkul lengan Restu dan dibalas dengan usapan lembut di ujung kepala oleh Restu


"Anjir!!" Salah satu dari benar tak menyangka. "Apa benar cucu dari pemilik perusahaan ini mau sama anak magang itu?" Mereka meras kalah sebelum bertanding.


"Punya apa dia? Motornya aja matic." Karyawan lain pun ikut kesal

__ADS_1


"Wah nggak bener nih."


Aleesa sangat gemas melihat wajah Restu yang merengut seperti itu. Dia mencubit gemas pipi tunangannya sampai merah.


"Semua karyawan di sana ramai membahas kamu." Restu sudah mengadu ketika d dan menghentikan langkahnya diikuti oleh Aleesa. dia menatap tajam ke arah wanita yang sangat dia rindukan.


"Lalu?" tanya Aleesa. "Biarkan saja." Aleesa malah menjawab dengan begitu santai.


"Ya enggak begitulah konsepnya, Lovely," jawab Restu tidak setuju. "Banyak dari mereka yang menginginkan kamu menjadi kekasih mereka. Ada juga yang bilang jika kamu adalah calon istrinya, kan ngeselin." Aleesa terbahak mendengar perkataan Restu yang penuh dengan kekesalan.


"Biarkan mereka menghalu tinggi. Kenyataannya Aku ini sudah jadi calon istri salah satu karyawan magang di perusahaan tempat mereka juga bekerja." Alisa berbicara seraya tertawa dan Restu pun ikut tertawa juga. Tangannya sudah merangkul mesra pundak Aleesa, dan mereka meneruskan langkah kaki mereka menuju tempat untuk mereka makan siang bersama.


Mereka berdua menuju restoran cepat saji. Walaupun awalnya Redtu tidak mau karena dia merasa bosan dengan makanan itu itu saja. Berhubung istirahat hanya satu jam Alisa memilih tempat yang dekat dari kantor karena dia dak ingin mengganggu pekerjaan sang tunangan.


"Kayaknya banyak mata-mata," ujar Aleeda kepada Restu yang baru saja meletakkan makanan di meja.


"Bodo amat ." Lagi-lagi Alisa tertawa Dia sangat gemas jika melihat calon suaminya itu kesal dan marah.


"Besok malam ada acara?" tanya Aleesa pada Restu.


"Kenapa emang?" Restu malah menatap dalam Aleesa.


"Aku mau kenalin kamu sama Kemala dan Raina." Aleesa menunggu jawaban dari Restu.


"Di mana?"


"Di restoran juga enggak apa-apa." Restu pun mengangguk dan Aleesa tersenyum bahagia.


"kamu udah mempublikasikan hubungan kita?" Aleesa menggeleng, dia menceritakan semuanya dan Restu hanya tersenyum


"Biarkan mereka tahu agar mereka bisa menjaga kamu." Dahi Aleesa mengkerut, tidak mengerti dengan ucapan Restu.


"Jagain mata kamu biar tidak jelalatan ke mana kamu ke sana kemari." Aleesa berdecak kesal dan melirik tajam sang tunangan.


"Mana ada aku begitu-begituan," elaknya. Restu malah gemas ketika melihat Aleesa seperti ini. Restu membawa tangan Aleesa yang sudah dia genggam ke bibirnya. Sontak semua mata para karyawan yang mengikutinya melebarkan mata. Mereka syok dan ditampar oleh kenyataan penuh kepedihan.


"Fix, mereka pacaran."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ....


__ADS_2