
Di luar sana Aleesa merasa sangat cemas karena sang suami belum juga kembali. Dia ingin turun, tapi dilarang oleh sang sepupu.
"Aku khawatir, Kak."
"Percaya sama Kak Iyo dia gak akan ke mana-mana."
Rio mencoba menenangkan sang sepupu. Dia percaya Restu tidak akan kenapa-kenapa. Apalagi bekingan dia sekarang adalah anak buah dati paman ayahnya.
"Aku takut jika anak buah Opa Addhitama hanya akan mengecoh Kak Restu doang, dan malah berbalik menyerang."
Aleesa berpikiran seperti itu karena dia tahu bagaimana watak dari paman ayahnya. Kepada Aleena saja dia bisa kejam, apalagi kepada Restu yang notabene anak yang selalu dia rendahkan dan menjadi musuh bebuyutan.
"Kalau dia cuma bermain-main dengan Restu Ranendra, sudah pasti dia tengah menyerahkan nyawanya kepada Restu. Ingatlah, suami kamu itu bukan orang baik. Dia memiliki hati bagai iblis jika sudah arah." Rio mulai menjelaskan apa yang ada.
__ADS_1
Aleesa hanya bisa menghela napas kasar. Apa yang dikatakan oleh Rio memang benar. Seharusnya dia tidak takut, tapi tetap saja hati kecilnya sangat cemas.
"Dia hanya tengah membongkar fakta yang ada. Dia sedang berbuat baik. Tuhan pasti akan melindungi dia." Rio berkata dengan sangat bijak.
Akhirnya, Aleesa pun memilih menunggu di dalam mobil. Dia teringat akan sebuah kenyataan yang baru dia ketahui. Dia benar-benar terkejut dengan apa yang dia dengar dari mulut wanita yang datang bersama bodyguard dari Satria.
Flashback on.
Bukan sekali saja mereka berhubungan suami-istri. Mereka sering melakukannya karena Ratu sudah tidak mau menerima pelanggan lagi kecuali Satria. Dua bulan berlalu, Ratu menyerahkan testpack kepada Satria. Sontak Satria terkejut. Dia menggelengkan kepala. Bagaimana bisa, mereka berdua hanya melakukan hubungan tiga kali. Sudah hampir sebulan ini dia tidak bertemu Ratu, tepatnya tidak membutuhkan Ratu karena sudah ada Amanda yang lebih menggoda.
"Gugurkan saja." Sangat ringan sekali ucapan dari Satria.
"Belum tentu juga itu anak saya." Satria mulai mengelak. "Ingat, kamu itu wanita malam. Jangan pernah menjebak saya karena saya sudah khatam dengan jalan pikiran kalian para pe-rek."
__ADS_1
"Aku tidak menjebak, Ini memang anak kamu, Mas." Ratu menimpali dengan penuh keyakinan. "Sudah dua bulan ini aku hanya berhubungan dengan kamu. Aku tidak menerima tamu selain kamu karena aku sudah berjanji untuk setia pada kamu. Maka dari itu, aku selalu tidak memaki pengaman jika berhubungan dengan kamu."
Satria tersenyum tipis. Dia tidak akan percaya begitu saja akan ucapan Ratu. Banyak para pekerja malam yang ingin menipunya dengan mengancam, tapi Satria tidak pernah mempedulikan. Biasanya dia juga selalu memakai pengaman jika berhubungan dengan wanita bookingan. Namun, dengan Ratu dia seakan tidak ingin memakai apapun. Dia ingin mengeluarkan benih cintanya di lubang milik Ratu. Keluar di dalam. Itulah yang dilakukan oleh Satria. Hingga dia berkata kepada Ratu jika benihnya tumbuh dia akan bertanggung jawab. Pada nyatanya malah sebaliknya. Dia malah menyuruh Ratu untuk menggugurkan benih yang sudah mulai tumbuh. Itu adalah perbuatan yang sangat kejam dan tak berperikemanusiaan.
"Saya tidak ingin melakukannya karena saya tidak ingin menjadi ibu yang jahat. Walaupun diri saya hina di mata orang, tapi saya tidak ingin dianggap hina oleh anak saya sendiri."
Aleesa tersentuh mendengar ucapan dari Ratu. Wanita yang sangat kurus itu tidak berdusta dengan apa yang dia katakan. Dia seakan menanggung rindu yang besar juga salah yang tak bisa dilupakan seumur hidup.
#Flashback off.
...***To Be Continue***...
Komen dong ..
__ADS_1