
Ponsel Yansen disita oleh Grace. Kegeramannya kini menjadikannya wanita yang kejam.
"Kak, aku ini bukan anak kecil," erang Yansen. "Aku tidak ingin dipaksa."
"Kakak gak akan memberikan ponsel ini hingga acara nanti malam selesai."
"Aku gak akan ikut!" tegas Yansen.
Grace segera meraih kunci kamar Yansen dan menguncinya dari dalam. Sebelumnya Grace sudah menyuruh beberapa orang penjaga di bawah untuk mengawasi Yansen jika dia kabur.
"Kak! Biarkan aku mencintai Aleesa, Kak. Aleesa kebahagiaanku!" Yansen sudah menggedor pintu kamarnya. Namun, sang kakak sudah meninggalakan kamar adiknya.
Tubuh Yansen pun luruh ke lantai. Dia bersandar di pintu kamar dengan kepala menengadah ke atas.
"Tuhan, ijinkan aku bahagia bersama Aleesa hingga tiba saatnya Engkau memelukku kembali."
Sebuah doa yang sangat tulus yang keluar dari mulut Yansen. Sejenak dia memejamkan mata. Bulir bening meluncur begitu saja.
"Mami!" Yansen pun terisak. "Peluk Adek, Mih. Adek sudah tidak tahan dengan sikap Kakak. Adek sudah dewasa. Adek berhak meraih kebahagiaan Adek."
Isi hati seorang Yansen Geremy yang sesungguhnya. Dia sudah tidak tahan tinggal di rumah ini, tapi dia tidak mau meninggalkan sang kakak. Dia masih ingat petuah dari Radit ketika dia baru kehilangan sang ibu tercinta.
"Apapun kondisinya, tetaplah berada di samping kakak kamu. Dia rumahmu sekarang. Dia ibumu. Tetaplah bersama dan saling menyayangi."
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Yansen. Dia segera menyeka bulir bening di wajahnya. Mencoba untuk tersenyum kembali.
"Pasti semua ini ada jalan keluarnya," gumam Yansen dengan begitu yakin.
Di lain tempat, seorang wanita tengah menukikkan kedua alisnya dengan begitu tajam.
"Kenapa susah sekali meretas Mr. R?" gumamnya.
Setiap dia melihat Mr. R hatinya berdesir hebat. Jiwa keibuannya meronta-ronta. Tangannya seakan ingin membelai lembut rambut Mr. R. Dia tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan sekarang. Dia seakan tidak ingin jauh dari bodyguard-nya tersebut. Dia ingin memeluk tubuh kekar itu.
"Mamih merindukan kamu, Rajendra." Bulir bening menetes begitu saja. Dia memegang dadanya yang teramat sesak.
"Kenapa Tuhan hanya menitipkan kamu selama dua tahun kepada Mamih?" Air mata itu tak mau berhenti.
"Jika, kamu masih ada mungkin usia kamu seumuran dengan bodyguard Mamih. Dia akan menjadi teman kamu."
__ADS_1
.
"Aku gak suka kamu jadi perhatian para lelaki di sini."
Aleesa terperanjat mendengar ucapan Restu. Langkahnya terhenti begitu saja, membuat Restu pun menghentikan langkahnya juga.
"Aku ke sini malah mau lihat para lelaki yang memiliki roti sobek." Aleesa ingin sedikit bercanda dengan pria yang tengah menarik tangannya. Sontak mata Restu melebar dan tatapannya begitu tajam.
"Lebih baik kita pulang." Restu sudah menarik tangan Aleesa kembali. Kali ini Aleesa menolak.
"Enggak! Aku mau lihat roti sobek." Aleesa masih bersikukuh.
Restu pun mendekat ke arah Aleesa tanpa melepaskan cekalannya pada perempuan itu. Tatapannya sangat tajam seperti seekor elang yang menemukan mangsanya.
"Aku juga punya roti sobek. Kamu mau lihat?" Restu sudah berbisik di telinga Aleesa dan seketika mata Aleesa melebar. Apalagi Restu sudah menarik tangan Aleesa agar masuk ke dalam kaos singlet oversize yang Restu gunakan.
"Kamu juga bisa menyentuhnya sampai kamu puas." Kepala Aleesa menggeleng dengan cepat. Tangannya pun dia jauhkan.
"E-enggak."
Restu memundurkan tubuhnya dan dia melihat kepala Aleesa menunduk sekarang. Dia pun tersenyum kecil melihat perempuan di depannya.
"Ya udah, kita pulang, ya." Restu membujuk Aleesa bagai seorang ayah kepada anaknya.
"Dia ke sini mau nemenin gua gym. Kenapa lu sabotase?" geram Rio.
"Kenapa lu bawa dia ke sini?" Restu mulai geram kepada sahabatnya. "Ini penangkaran buaya, Setan!" Wajah Restu sudah merah padam.
"Sengaja," sahut Rio. Mata Restu seketika hampir terlepas dari tempatnya. "Di sini ada bodyguard termahal. Kenapa gua harus takut."
"Bang sat!" Rio pun terkekeh dan meninggalkan Restu dan Aleesa begitu saja.
Restu mengusap lembut rambut Aleesa hingga perempuan itu memberanikan diri menegakkan kepala.
"Kamu boleh di sini, tapi ...."
Restu sudah membawa Aleesa ke tempat di mana dia bisa memantau Aleesa di saat dia tengah melakukan sesi latihan. Topi yang Restu bawa pun dia pakaikan di kepala Aleesa, dan kini dia bersimpuh di depan Aleesa.
"Aku gak suka kamu dilirik oleh para lelaki di sini. Apalagi sampai kamu melirik laki-laki lain." Tatapan Restu masih sangat serius.
__ADS_1
Aleesa tersenyum dan menangkup wajah Restu. Menatap wajah pria itu dengan begitu dalam.
"Kok posesif?"
"Tanpa aku menjelaskan pasti kamu sudah bisa merasakannya 'kan," jawab Restu seraya meraih tangan Aleesa yang berada di pipinya.
"Tidak semua yang kita rasakan harus diungkapkan. Ada kalanya cukup dengan sebuah tindakan. Itu yang lebih menandakan sebuah keseriusan."
Ada makna yang sangat dalam yang tersirat dari perkataan Restu. Aleesa pun membisu, tak bisa menjawab apa yang dikatakan oleh pria yang semakin terlihat tampan jika dilihat dari jarak dekat.
"Aku nge-gym dan latihan dulu, ya." Aleesa pun mengangguk. Baru saja Restu hendak pergi, Aleesa menarik tangan Restu hingga Restu membalikkan tubuhnya kembali.
"Boleh rekam Kakak gak pas nge-gym atau latihan?" Dahi Restu mengkerut mendengarnya.
"Boleh gak?" Aleesa sudah sedikit memohon.
"Seharunya gak boleh." Aleesa pun merengutkan wajahnya. "Tapi, kalau untuk dilihat oleh kamu sendiri gak apa-apa."
"Serius?" Restu pun mengangguk.
"Ingat, hanya untuk koleksi pribadi dan dilihat sama kamu doang." Aleesa mengangguk dengan cepat dan senyum yang begitu manis.
Terpesona, itulah yang Aleesa rasakan ketika melihat Restu Ranendra nge-gym dan latihan. Semakin berkeringat semakin mempesona. Hingga suara seseorang membuat tatapan Aleesa teralihkan.
"Boleh duduk di sini? Sepertinya kamu orang baru."
Aleesa mengerti dengan bahasa yang diucapkan oleh pria tersebut karena menggunakan bahasa Inggris. Namun, Aleesa sama sekali tidak menggubrisnya. Dia memilih untuk melihat Restu latihan.
Pria itu semakin mendekat dan membuat Aleesa semakin risih. Dia semakin menggeser duduknya, tetapi laki-laki itu ikut bergeser juga. Ketika Restu menoleh ke arah belakang, urat kemarahannya sudah mulai terpancar. Langkahnya begitu lebar dan menghampiri Aleesa.
"Lovely," panggilnya.
Aleesa menoleh. Dia tahu suara siapa itu. Dia menatap ke arah Restu yang sudah bercucuran keringat. Dia berdiri dan memberikan handuk kecil kepada Restu. Pria itupun mengerutkan dahinya ketika perempuan yang tengah dia dekati mendekat ke arah Restu.
"Mr. R siapa dia?" tanya pria itu kepada Restu. Ternyata dia adalah anak buah Restu yang memang sering melakukan latihan bersama.
"Dia istri saya."
Seketika tubuh Aleesa menegang mendengarnya. Restu sudah merengkuh pinggang Aleesa dan mencium bibirnya sekilas membuat jantung Aleesa berhenti berdetak untuk sesaat.
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komennya banyakin dong ...