RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab. Pov Aleena


__ADS_3

Di tengah keramaian, seseorang merasa kesepian. Dia masih tenggelam dalam rasa sakit yang sulit disembuhkan. Rasa yang selalu ada dan tak tahu akan sampai rasa itu pergi dan menghilang.


"Kenapa rasanya masih sakit?" gumam Aleena. Dia teringat akan kejadian di mana Rangga kembali ke Indonesia dan seorang laki-laki muda berlutut di hadapannya dengan berderai air mata.


"Na, aku sangat mencintai kamu. Aku menyayangi kamu, Na."


Deraian air mata keluar dari pelupuk matanya. Air mata yang penuh dengan kepiluan. Air mata yang penuh kesakitan.


"Aku lelah jika harus terus dipaksa mencintai perempuan yang tidak ada di hati aku. Aku hanya mencintai kamu, Aleena."


Aleena segera meraih pundak Kalfa. Dia menyuruh Kalfa untuk bangkit karena dia tidak ingin menjadi tontonan banyak orang yang berlalu lalang. Aleena menatap dalam wajah Kalfa yang basah.


"Aku sudah mengubur cintaku kepada kamu dalam-dalam. Biarkan cinta itu menyatu dengan tanah dan hancur lebur tak tersisa. Kini, biarkan aku menyusun kembali serpihan hati yang pernah kami hancurkan hingga berserakan."


Aleena berkata seperti itu dengan senyum yang mengembang. Senyum yang penuh dengan kepiluan, tapi tak dia tunjukkan. Biarkanlah semuanya dia simpan dalam-dalam.


"Tapi, Na--"


"Kamu berhak bahagia, begitu juga dengan aku. Mungkin, Tuhan memang tak merstui hubungan kita. Kita dipertmukan bukan untuk menjadi pasangan, hanya sebagai teman."


Aleena menunduk dalam ketika mengingat kejadian malam itu. Sudah seminggu berlalu, tapi ingatan itu tak kunjung hilang.


Setelah puas menikmati kesendiriannya di tempat yang ramai, Aleena memilih untuk kembali ke apartment. Ketika dia hendak membuka pintu, di depan pintu ada pesawat kertas. Dia mengerutkan dahi, perlahan mencoba untuk meraihnya.


"Apa ini?" gumamnya. Namun, di sayap pesawat kertas tersebut ada tulisan open.


Aleena pun membuka pesawat kertas tersebut. Ada sebuah kalimat di sana. Don't forget to smile. Sebuah tulisan yang membuat Aleena ikut menyunggingkan senyum.


"Siapa yang mengirim ini?" Dia mencari menoleh ke kiri dan kanan. Mencari tahu siapa yang mengrimnya. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana.


Aleena memilih membawa pesawat itu masuk ke dalam. Bibirnya masih tersenyum ketika pesawat itu sudah dia letakkan di atas nakas.


"Siapapun kamu, makasih banyak udah ngingetin aku untuk selalu tersenyum walaupun berat rasanya."


Sudah tiga hari ini Aleena selalu mendapatkan pesawat kertas  di depan unit apartment-nya. Di dalamnya berisi kalimat yang membuat hatinya hangat. Kali ini dia mendadak pesawat kertas berwarna ungu muda. Aleena segera membuka pesawat kertas tersebut.


You are not alone. Many people who love you.


Bibir Aleena terangkat sempurna ketika membaca tulisan tangan yang begitu cantik itu. Dia pun membawa pesawat kertas itu ke dalam. Meletakkannya di samping dua pesawat kertas yang lainnya.


Di luar sana seseorang masih bersandar di tempat yang diketahui oleh Aleena. Bibirnya terangkat dengan sempurna ketika dia melihat Aleena tersenyum dengan begitu cantik.


"Hanya bisa dilihat, belum boleh mendekat," gumamnya.


Orang itupun mulai meletakkan kupluk hoodie-nya dan berjalan meninggalkan apartment itu. Langkahnya terhenti ketika dia berpapasan dengan seseorang yang dia kenali. Matanya memicing, dan dia melihat jika orang itu seperti sedang tak terkendali.

__ADS_1


Aleena yang sedang membersihkan tubuh berdecak kesal karena suara bel terus terdengar. Dia mengabaikan karena dia pun belum selesai membersihkan tubuhnya. Selama Aleena berada di Singapura dia tidak memiliki banyak teman. Teman-temannya pun tidak pernah main ke apartment yang Aleena huni. Bukan tanpa alasan Aleena hanya tidak ingin teman-temannya tahu siapa dia sebenarnya? Apalagi unit apartment yang dia huni berada di salah satu apartment mahal di Singapura.


Aleena sudah menggunakan handuk di kepala. Memakai baju santai rumahan yang pastinya sopan. Akan tetapi, suara bel tersebut belum.berhenti membuat Aleena mengerang kesal. Dia pun menuju pintu dan membukanya. Tubuh Aleena menegang ketika melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang. Wajah kacau dengan rambut yang berantakan.


"Kak--"


Bibir Aleena dibungkam secara paksa oleh Kalfa. Itu membuat Aleena menggigit bibir Kalfa dengan cukup kencang dan mendorongnya hingga dia terjungkal. Dada Aleena sudah turun naik, dia juga menghapus keras bibirnya yang basah dengan punggung tangan.


"Apa maksud kamu?" Suara Aleena bergetar. Dia marah sekaligus sedih.


"Aku bukan wanita murahan yang hanya dengan kamu berikan sebuah ciuman akan luluh begitu saja!"


"Na, aku--"


"Pergi!" teriak Aleena. Namun, Kalfa menolak. Dia meraih tangan Aleena, sayangnya dia mengibaskan tangan Kalfa dengan begitu keras.


"Aku bilang PERGI!" Seruan yang penuh dengan penekanan. "Aku benci kamu, Kalfa. BENCI!"


Aleena masuk ke dalam apartment dengan berderai air mata. Dia merasa sudah kotor. Bibir yang harusnya dia berikan kepada seseorang yang berhak mendaptkannya malah direnggut paksa oleh orang tak waras.


"Aku benci kamu, Kalfa. Benci!"


Di luar unit apartment, Kalfa terus menggedir-gedir pintu.Dia terus menekan bel, tapi Aleena sama sekali tidak membukakannya.


"Na, maafkan aku. Aku terlalu frustasi."


Kalfa putus asa. Dia memutuskan untuk pergi dari sana dengan langkah yang gontai. Tanpa dikethui olehnya ada seseorang yang mengikutinya dari jarak yang tak dekat. Orang berhoodie itu terus mengikuti Kalfa hingga di tempat yang sepi dia melebarkan langkahnya dan menarik kerah belakang Kalfa hingga dia terhuyung ke belakang.


Bugh!


Pukulan keras mendarat tepat di wajah Kalfa Ada darah yang menetes di ujung bibir Kalfa karena pukulan itu sangat keras dan penuh emosi. Tak sampai situ, pukulan kedua tepat mengenai hidung Kalfa hingga darang segar mengalir dari hidungnya Kalfa tak bisa membalas karena matanya sudah kunang-kunang. Dia juga tidak bisa melihat dengan begitu jelas siapa yang sudah memukulnya. Orang itu sangat tertutup dan hanya terlihat matanya saja.


.


Raditya Addhitama sudah menunjukkan emosi dan marah yang membuncah ketika mendapat laporan putrinya dipelakukan tidak senonoh oleh Kalfa. Wajahnya yang biasa tenang kini menjadi sangar. Urat-urat emosinya sudah hadir di wajah tampannya yang tak pernah pudar meskipun dia sudah berumur.


"Kami akan membalaskan semuanya, Tuan." Salah seorang anak buahnya sudah berkata. Mereka tidak berani menegakkan kepala.


"Namun, kami sudah didahului oleh seseorang." Dahi Radit pun mengerut. Dia menatap ke arah anak buangnyanyang tak berani mengangkat kepala.


"Siapa?"


Raditya Addhitama sudah menatap nyalang ke arah Satria dan juga Kalfa, putranya. Mereka berdua sangat berani menampakan wajah ke depan Raditya yang sudah tahu bagaimana perlakuan mereka berdua kepada putrinya. Radit diam bukan berarti dia tidak tahu.


Sebuah rekaman video yang diberikan oleh Satria sudah dia tonton, dan itu membuat Radit murka. Namun, wajahnya masih terlihat biasa. Tangannya sudah mengepal keras. Kedua matanya sudah menatap dengan begitu tajam ke arah dua orang yang seperti tidak merasa berdosa.

__ADS_1


Radit menghubungi seseorang. bukannya takut Satria malah tersenyum mengejek. Dia sangat yakin Radit akan mengelak akan video yang dia berikan. Sedangkan Kalfa dia terus meremas kedua tangannya karena merasa takut. Sedari tadi tangannya sudah mengeluarkan keringat dinginm


Seseorang datang dan langsung masuk menemui Radit. Dia pun mengangguk dengan sopan ke arah Radit. Sepertinya itu adalah orang kepercayaan dari Raditya Addhitama. Dia menyerahkan iPad kepada Radit dan tetap berdiri di samping Radit.


Pria yang baru saja tiba sudah hafal bagaimana Radit marah, fan wajahnya sekarang pun menandakan Dia sangat murka. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui raut wajah Radit yang tengah marah.


"ini apa?" Suara Radit sudang meninggi. Dia Kun menunjukkan video yang ada di dalam iPad tersebut kepada ayah dan anak itu.


"Laki-laki sejati tidak akan pernah merusak perempuan!" bentak Radit. Kini, urat kemarahan di wajahnya nampak begitu jelas. Matanya pun melotot..


"Apa kamu pikir Aleena senang diperlakukan seperti ini? Apa kamu tidak mikir apa konsekuensinya setelah melakukan tindakan bodoh ini? APA KAMU PERNAH BERPIKIR AKAN ITU?" Lagi-lagi ucapan Radit penuh penekanan. Kalfa pun hanya bisa meminta maaf dengan kepala yang menunduk dalam.


"Apakah dengan kata maaf bisa mengembalikan senyum putriku yang begitu tulus? APA BISA?"


"JAngan bentak anak saya!" Satria tidak terima. Sedangkan Radit sudah tersenyum meledek ke arah adik dari ayahnya itu.


"Baru aku bentak, belum aku masukkan ke dalam penjara!" Perkataan yang tidak main-main yang keluar dari mulut Radit. Kesabarannya sudah habis.


Satu kali jentikan jari, kedua laki-laki berbeda usia itu ditarik paksa oleh orang berbadan tegap. Radit menyunggingkan senyum setipis mungkin.


"Aku tak akan mengeksekusi kalian. Biarlah orang yang tepat yang melakukannya."


Mata Satria melebar dengan sempurna ketika keponakannya yang paling sadis sudah ada di depan mata.


"Beraninya keroyokan," ujar Satria. Rindra Addhitama tersenyum dengan begitu tipis. Dia melirik tajam ke arah Satria dan Kalfa.


"Mana ada keroyokan." Rindra mulai mendekat. Dia menatap ke arah Satria dan juga Kalfa.


"BEJAT!"


Sebuah tendangan kuat Rindra berikan di sudut bibir Satria. Dia seolah tengah membalaskan apa yang telah pria tua itu lakukan kepada Aleena. Sekarang, pandangan Rindra tertuju pada Kalfa. Dia tersenyum, secepat kilat kaki Rindra yang memakai sepatu pantofel sudah menempel di bibir Kalfa. Rindra pun tertawa dengan begitu keras.


"Apa yang kalian lakukan pada keponakanku, pasti akan kubalaskan kepada kalian." Ancaman penuh keseriusan.


Di lain tempat Aksara tertawa melihat video yang baru Radit kirimkan. Aksa menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Lumrah, Bandit," sahut Aksa. Hembusan napas kasar keluar dari mulut Radit.


"Lu mau apa sekarang? Mau gua ganti rugi? Berapa? Apa mau ngawinin anak lu sama anak gua? Gua mah siap aja."


Aksara merasa sangat bahagia ketika mengetahui video ini. Itu menandakan hati Aleena tak sebeku dulu. Dia juga sangat yakin jika Aleena memiliki perasaan yang sama kepada Rangga. Hanya saja dia belum menyadari.


"Gua malah mau berterima kasih." Dahi Aksa mengkerut. Dia tidak mengerti akan ucapan kakak iparnya itu.


"Sebelum kejadian di video itu, Rangga seharian menemani Aleena dan menjaganya." Aksa hanya tersenyum.

__ADS_1


"Dia tahu apa yang harus dia lakukan tanpa orang memintanya. Gua gak akan mempromosikan putra sulung gua itu. Biarlah lu, Aleena yang melihat bagaimana diri Rangga sebenarnya. Gua juga yakin, kalian bukanlah orang yang peduli akan masa lalu seseorang. Kalian juga bukan orang yang mengukur apapun dari segi materi."


Semua keluarga Radit tahu bahwa Rangga hanyalah anak yatim piatu yang sudah Aksa anggap seperti putranya. Latar belakang Rangga yang hanya anak panti asuhan terkadang akan menjadi pembahasan dan pertimbangan. Itulah yang Aksa takutkan.


__ADS_2