RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 241.Mengenalkan Pada Dunia


__ADS_3

Restu sudah memilih hari di mana dia akan mengadakan konferensi pers perihal status dan keluarganya. Konferensi pers tersebut akan diadakan di dua negara. Negara yang pertama adalah negara kelahirannya.


"Beneran kamu udah siap?"


Restu masih bertanya di malam sebelum besok diadakannya konferensi pers. Aleesa bukannya menjawab, tapi malah menukikkan kedua alisnya.


"Satu kampus lakan geger dengan berita ini."


Aleesa menggenggam tangan Restu. Sebenarnya sedari awal dia menginginkan kejujuran perihal pernikahannya. Namun, Restu melarang. Dia takut istrinya akan kena sindiran atau perkataan tidak enak dari teman kampusnya. Pernikahannya hanya diketahui oleh tiga orang saja, almarhum Yansen dan juga Kemala serta Raina.


"Aku gak peduli," sahut Aleesa. "Aku akan baik-baik selama kamu ada di samping aku. Kamu adalah penjaga terbaik aku."


Lengkungan senyum pun terukir di wajah Restu. Sungguh dia sangat bahagia mendengar ucapan yang begitu tulus dari istrinya.


Keesokan paginya semuanya sudah siap. Abang Er sangat tampan dengan pakaian serba branded dari ujung kaki hingga ujung kepala. Restu maupun Aleesa sudah memakai baju dengan warna senada.


"Sudah siap?" Aleesa mengangguk.


Hari ini dia menggunakan dress selutut dengan warna baby blue yang dipadukan dengan tas branded kecil dengan logo H. Juga Flat shoes yang harganya tak main-main.


"Cantik banget, Mi."


Aleesa hanya tersenyum dan membenarkan baju yang digunakan sang suami. Restu merengkuh pinggang sang istri dan mencium kening Aleesa dengan begitu mesra.


"Masa iya suami CEO Zenth Grup jelek."


Restu malah terkekeh. Tangannya mengusap lembut perut Aleesa yang di dalamnya tengah berkembang buah cinta kedua mereka.


.

__ADS_1


Aleesa dan Restu serta Abang Er sudah menuju tempat di mana diadakannya konferensi pers. Selama Aleesa hamil, Abang Er tidak mau digendong oleh Aleesa. Namun, dia sangat amat terlihat sayang kepada calon adiknya. Tangan Abang Er selalu mengusap lembut perut sang ibu jika ibunya tengah bersama dirinya.


"Kalau adik sudah lahir Abang harus jaga adik, ya."


Bayi berusia sepuluh bulan itu menatap ke arah sang ayah dengan serius. Dia mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh ayahnya.


"Harus jadi pelindung untuk adik dan Mami, oke?"


Tak Restu dan Aleesa sangka bayi berusia sepuluh bulan itu mengangguk. Aleesa mengusap lembut rambut sang putra.


"Abang sayang adik?"


Abang Er pun mengangguk lagi. Itu membuat Radit dan Rindra yang berada di balik kemudi juga di kursi penumpang depan tertawa melihat tingkah cucu mereka dari spion depan.


Tangan kanan Restu menggendong sang putra sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan sang istri tercinta. Restu merasakan tangan Aleesa yang begitu dingin hingga membuat langkahnya terhenti. Aleesa pun ikut terhenti.


"Jangan gugup dan takut. Semuanya akan baik-baik saja." Aleesa mengangguk dan Restu menarik tangan Aleesa hingga masuk ke dalam pelukannya.


"Muuwah!"


Mendadak mata Aleesa perih ketika mendapat perlakuan seperti itu dari sang putra. Dia jadi merasa sedih sekaligus haru.


"Kenapa sih Abang Er selalu buat Mami melow begini."


Tangan mungil itupun mengusap lembut pipi sang ibu yang sudah sedikit basah.


"Mami gak boleh nangis ya, Bang."


Balita itupun mengangguk dan membuat kedua kakeknya terharu sekaligus bangga. Mereka meyakini jika Abang Er kelak akan menjadi laki-laki hebat yang sayang dengan ibunya.

__ADS_1


.


Kedatangan Restu dan keluarga kecilnya tengah dinanti oleh para pewarta berita. Ketika Restu datang dengan menggendong Abang Er dan juga menggandeng wanita muda yang sangat cantik suara kamera mulai terdengar riuh. Apalagi Abang Er yang sangat sadar akan kamera. Bayi itu hanya menunjukkan wajah datar.



Selama pembuka acara berbicara, balita itu masih anteng dan duduk di pangkuan sang ayah. Hingga tiba sudah Restu angkat suara.


"Selama ini kalian semua mencari tahu tentang saya 'kan. Kepo akan kehidupan pribadi saya." Restu menjeda ucapannya. Suasana pun mendadak hening.


"Sekarang, saya muncul karena saya tidak ingin berita yang terus kalian goreng berakibat fatal pada keluarga kecil saya. Diamnya saya bukan karena saya takut, melainkan karena saya tidak ingin membuat istri saya sedih akan pemberitaan di luar."


"And now, ini adalah istri saya. Aleesa Addhitama yang tak lain adalah putri kedua dari Bapak Raditya Addhitama."


Semua mata karyawan melebar mendengarnya. Mulut mereka mencoba untuk terbuka, tapi suara Restu mendahului mereka.


"Saya bukan anak kandung dari Bapak Rindra Addhitama. Kalian sudah tahu itu 'kan. Jadi,.tidak perlu kalian mengatakan sepupuan bisa jadi pasangan. Pada nyatanya saya dan istri saya tidak ada ikatan saran sama sekali."


Para media pun menutup mulut mereka mendengar penjelasan mereka. Semuanya seakan takut dengan Restu.


"Juga, saya sudah memiliki seorang putra yang berusia sepuluh bulan. Bayi tampan yang saya Gendong ini bernama Erzan Akhtar Ranendra."



Bayi tampan itu malah tersenyum ketika mendengar namanya disebut oleh sang ayah sekaligus dia dikenalkan kepada dunia oleh sang ayah.


"Saya dan istri saya pun tengah menanti anak kedua."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2