RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 59. Ingin Pulang


__ADS_3

Restu tidak menyangka jika Aleesa akan mengatakan itu semua. Dia tercengang, tapi dia juga bisa bernapas lega. Walaupun dia tahu hati Aleesa sakit tak terkira


"Hubungan kita memang salah dari awal. Maka dari itu, kita saling menyakiti seperti ini," lanjut Aleesa kembali. Yansen hanya terdiam.


"Bisakah kita kembali menjadi sahabat seperti dulu lagi?" ujar Aleesa dengan mata berair. Dia juga sudah mengulurkan tangannya ke hadapan Yansen.


Laki-laki yang ada di depan Aleesa terdiam. Dia menahan rasa sakit yang tak terkira mendengar penuturan dari wanita yang sangat dia sayangi. Matanya sudah tertuju pada tangan Aleesa yang terulur. Perlahan Yansen menerima uluran tangan Aleesa, tapi dia malah menarik tangan Aleesa ke dalam pelukannya. Sontak tubuh Agha menegang. Dia tengah mengkhawatirkan orang yang ada di balik sambungan video. Sudah pasti dia murka.


Aleesa benar-benae terkejut. Dia mencoba untuk melepaskan Yansen, tapi tenaga Yansen lebih kuat darinya.


"Aku mencintai kamu, Sa. Aku sungguh mencintai kamu." Aleesa terus berusaha melepaskan diri dari pelukan Yansen. Namun, sangat sulit.


"Kenapa kamu tega, Sa. Kenapa?"


Urat-urat kemarahan sudah terlihat jelas di wajah Restu. Dadanya sudah turun-naik dengan begitu cepat seakan dia tengah menahan emosi yang menggebu.


"Berengsek! Beraninya lu peluk calon istri gua."


Bukan hanya botol air mineral yang dia remas, kini kaleng yang berisi minuman sudah dia remas dengan sekuat tenaga. Tak dia hiraukan isi dari kaleng itu meluber ke mana-mana.


"Si alan! Lepasin calon istri gua!" Akhirnya Restu mengeluarkan suara. Sontak Aleesa dan Yansen menoleh ke arah Agha yang tengah mengarahkan kamera ke arah mereka.


Aleesa melihat jelas wajah sang kekasih yang sudah murka. Sekuat tenaga dia ingin terlepas dari Yansen. Namun, tidak bisa.


"Bie," panggil Aleesa begitu lemah. Dia masih berada di dalam pelukan Yansen. Seketika tubuh Yansen membeku ketika mendengar panggilan Aleesa kepada Restu. Dia menatap Aleesa begitu dalam. Namun, Aleesa menatap ke arah Restu dengan mata berkaca-kaca. Sorot matanya meminta bantuan.


"Lepasin calon istri gua!" Restu berteriak lagi.


"Dia masih pacar aku!" Yansen mulai menimpali.


"Wah, perang dunia nih," gumam Agha dalam hati. "Dijadiin mini series laku keras nih," gumamnya lagi.


"Ingat ya, kasta pacar lebih rendah dibandingkan calon suami." Restu masih dengan wajah murkanya. Perkataannya pun penuh dengan penekanan.


Yansen pun terdiam. Hingga dia teringat akan adegan yang telah Restu dan Aleesa lakukan. Senyum tipis pun mulai terukir dari wajah Yansen. Tangannya sudah menangkup wajah Aleesa dan membuat Aleesa melebarkan mata. Apalagi wajah Yansen yang sudah menatap bibir mungil Aleesa. Restu sudah sangat geram. Raut wajahnya sudah seperti monster. Apalagi melihat wajah Aleesa yang ketakutan.


__ADS_1


"Jangan lakukan itu bang sat!" Tiba-tiba Restu kehilangan gambar Aleesa dan Yansen. Dia panik dan terus memanggil Aleesa. Sedangkan sambungan video masih tersambung.


"Aleesa!!"


"Lovely!!"


Restu terus memanggil sang kekasih. Namun, dia mendengar ada sedikit suara gaduh. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana.


Agha yang melihat Yansen hendak mencium paksa Aleesa bergegas mendekat dan menarik kerah jaket Yansen bagian belakang hingga dia mundur beberapa langkah. Tangan putih Agha sudah memberikan cendera mata di wajah Yansen.


"Jangan sok berengsek lu!" Agha benar-benar geram. Sedangkan Aleesa sudah ketakutan.


"Harus lu ingat, Yansen. Apapun yang dipaksa itu rasanya gak enak. Jangan egois!" Agha sudah membuka suara dengan penuh ketegasan.


Napas Aleesa sudah tidak beraturan. Tangannya sudah berada di atas dada. Suaranya pun terdengar tersengal.


"P-pin."


Bukan hanya Agha yang menoleh. Yansen pun ikut menoleh dan seketika Agha segera menghampiri Aleesa begitu juga dengan Yansen.


"Sa," panggil Yansen.


"Ini semua gara-gara lu!" Agha sudah membentak Yansen.


Pak Joe yang mengerti kondisi segera menghampiri mereka bertiga. Tanpa banyak bicara, Pak Joe memapah tubuh Aleesa menjauhi Yansen. Diikuti oleh Agha di samping sang sepupu.


"Ke rumah sakit, ya." Agha khawatir.


"Jangan bilang ke Baba atau Bubu." Suara Aleesa nampak terputus-putus. Agha hanya mengangguk.


Sebuah penyesalan kini terukir di wajah Yansen. Seharusnya dia tidak melakukan hal bodoh ini yang mengakibatkan penyakit Aleesa kambuh kembali.


"Bodoh!" erang Yansen seraya menjambak rambutnya.


.


Restu benar-benar khawatir akan keadaan Aleesa. Setelah kegaduhan yang terdengar, sambungan video terputus dan kini ponsel Aleesa tidak bisa dihubungi. Dia geram sendiri. Ingin rasanya dia meminjam pintu ke mana saja milik Doraemon agar bisa menemui Aleesa.

__ADS_1


"Arrghh!!" erangnya.


Gemke yang sedari tadi memperhatikan sang leader hanya menatap bingung. Tidak biasanya seorang Mr. R murka seperti ini. Ini kali kedua dia melihat Mr. R benar-benar murka yang tak terkendali.


"Gemke," panggil seseorang dari arah belakang. Gemke sedikit terkejut dan dia membalikkan tubuhnya untuk menyapa siapa yang datang.


"Mr. R di mana?" Gemke menunjuk ke arah ruangan mereka dengan sedikit takut.


Madam Zenith perlahan membuka pintu ruangan dan terdengar Mr. R tengah berbicara dengan ponsel yang ada di telinga.


"Si alan!" Madam Zenith terkejut dengan kata kasar yang Mr. R lontarkan.


"Gua akan buat perhitungan ketika gua kembali ke sana. Apalagi kalau calon istri gua kenapa-kenapa, tidak akan pernah gua biarin dia hidup!"


Madam Zenith berkaca-kaca mendengar ucapan dari Mr. R. Dia seperti tengah melihat orang yang sangat dia sayang pada diri Mr. R. Cara bicara, cara Mr. R marah itu sama percis dengan pria yang menjadi cinta pertamanya.


Madam Zenith melihat betapa frustasinya Mr. R. Hembusan napas kasar juga mampu dia dengar. Mr. R juga sedang sibuk menghubungi seseorang lagi.


"Pih."


Hati madam Zenith terasa nyeri ketika dia mendengar Mr. R memanggil seseorang dengan sebutan papih. Hati kecilnya seakan tidak rela.


"Pantau Aleesa ya, Pih. Aku gak tahu harus minta tolong ke siapa." Suara Restu nampak frustasi. Dia benar-benar tidak tenang sekarang.


"Kalau aku gak keikat kontrak aku pasti akan ikut pulang, Pih. Aku benar-benar gak tenang. Belum lagi orang gila itu terus menabuhkan genderang perang."


Baru kali ini madam Zenith mendengar Restu begitu frustasi. Apalagi perkataannya kepada ayahnya begitu lirih. Wanita paruh baya itu kini melihat sang bodyguard menunduk begitu dalam.


"Kenapa aku merasa sakit dan sedih ketika melihat dia seperti ini?" batinnya. "Aku ingin memeluknya," lanjutnya membatin.


Dia ingin mendekat, tapi dia ragu. Dia takut mengganggu. Dia hanya bisa melihat punggung Restu dari belakang.


"Arrghh!!" erang Restu lagi. "Gua pengen pulang."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2