RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 167. Unfaedah


__ADS_3

Aleesa masih membeku di tempatnya bersama Yansen tadi. Pria yang sudah menjadi mantan kekasihnya itu sudah pergi, tapi dia malah tak bergerak di sana.


"Ada apa? Kenapa ketika dia berpamitan hatiku hancur berantakan? Kenapa?"


Yansen mengendari motornya dengan lengkungan senyum lega. Bulir bening menetes begitu saja, tapi itu bukan bulir bening kesedihan. Melainkan kebahagiaan.


"Aku yakin kamu pasti akan sangat bahagia setelah menikah dengan Kak Restu. Aku juga akan selalu menjaga kamu, Sa."


.


Pelukan hangat Yansen masih bisa Aleesa rasakan. Dia belum terpejam padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul dua pagi. Dia tak bisa terpejam bukan karena gugup akan acara sakral besok. Melainkan ada perasaan yang bercampur aduk di dadanya. Perasaan yang dia juga tidak tahu apa.


Ponselnya berdering. Lamunannya terpecah dan hanya melihat nama si pemanggil saja bibirnya melengkung indah.


"Iya, Bie."


"Kamu belum tidur?"


Mereka berdua berbincang hingga pagi datang. Restu yang memang gugup dan Aleesa yang memang tengah bergelut dengan pikiran dan perasaannya. Hingga para MUA datang barulah sambungan telepon itu berakhir.


Aleesa sudah dirias di kamar yang memang bukan kamar miliknya. Kamarnya tidak boleh ditempati setelah didekor sedemikian rupa. Aleeya mendekat dan memberikan ponselnya kepada Aleesa. Sang kakak sudah ada di sana dan senyum manis nan cantik Aleesa tunjukkan.


"Cantik sekali, calon pengantin ini." Aleesa tertawa.


"Jangan sampai gak dipake bajunya." Aleena pun tertawa melihat rengekan Aleesa.

__ADS_1


"Kakak Na sudah menitipkan hadiah untuk kamu dan Kak Restu."


"Ke siapa?" tanya Aleesa.


"Nanti dia datang ke acara akad kamu." Dahi Aleesa mengkerut. Siapa yang dimaksud oleh sang kakak. Rangga kah?


.


Di kediaman Rindra, Restu sudah menghabiskan sebungkus rokok karena baru kali ini dia merasa segugup ini. Kopi pun sudah gelas kedua yang dia minum.


"Hafal belum?" Sang ayah meminjam korek kepada Restu. Di saat Nesha sedang dirias secantik mungkin, dua pria itu malah asyik merokok.


"Jangan malu-maluin Papih." Restu berdecak kesal. Senang sekali ayahnya dan adiknya meledek dirinya karena kemarin salah berucap.


"Saya terima nikah dan kawinnya Raditya Addhitama binti Aleesa Addhitama ...."


"Itu si Rio yang salah nulis, Pih. Aku 'kan cuma baca doang. Kertasnya juga masih ada."


Rindra tertawa dan seseorang dari belakang menoyor kepala bagian belakangnya hingga Restu mengumpat karena dia tahu siapa pelakunya.


"Siyalan!"


Rio sudah membawa susu cokelat dingin dan langsung direbut oleh Restu. Namun, Rio tak mau kalah. Dia merebut kembali susu yang baru saja hendak Restu minum.


"Entar malam aja lu nyusunya." RIndra malah tertawa. Jika, sudah kumpul begini pasti kekocakan yang akan tercipta.

__ADS_1


"Itu mah gua kenyot sampe kempot pun gak bakalan keluar airnya." Restu menjawab setelah membuang asap rokok ke udara.


"Bukan air susu yang keluar, tapi phe juuu." Rindra tergelak mendengar ucapan sang putra. Mereka berdua malah bertos ria. Terlihat mereka sangat bahagia meledek Restu.


"Entar Papih kirimin tutorial ngeluarin phe juu yang enak kayak gimana."


"Tanpa Papih kirimin pun aku udah punya banyak referensi." Restu menjawab dengan begitu santai sambil menggerus puntung rokok.


"Dari lokal, Asia sama Eropa pun aku ada." Rindra menggelengkan kepala tak percaya. Ternyata Restu sebrandal itu.


"Lu punya itu ukuran berapa?" tanya Rio.


"Ukuran perawan itu sempit loh, Res. Jangan sampai buat istri kamu kesakitan pas ngedobraknya." RIndra memberi petuah.


"Ya gak panjang-panjang amat dan diameternya pun gak lebar-lebar amat." Restu malah melihat ke arah resleting celananya.


"Berapa Senti bodoh?" Rio geram sendiri.


"Mana gua tahu. Rajin amat gua bawa penggaris ke toilet cuma buat ngukur begituan."


...***To Be Continue***...


Santai dulu, ya.


Jangan lupa komen ...

__ADS_1


Nanti aku UP lagi kalo komen banyak


__ADS_2