RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 61. Profesional


__ADS_3

Tidak ada orang tua yang tidak sedih melihat putrinya menutupi kesedihannya. Tibanya di rumah, tawa dan senyum palsu dia hadirkan. Walaupun terlihat tulus, tetap saja semuanya hanya kepura-puraan, dan semua orang tahu akan hal itu.


"Sa, hp kamu kenapa gak aktif?" Rio yang niatnya akan tidur dengan nyenyak malah menuju ke rumah sang paman bersama kedua orang tuanya. Mereka khawatir kepada Aleesa.


Sang sepupu pun baru sadar. Sedari tadi dia tidak memegang ponsel. Aleesa pun menatap ke arah Agha. Remaja tampan itu hanya memamerkan giginya.


"Mana hape gua?" Aleesa sudah menengadahkan tangannya.


"Maaf, Sasa." Mendengar ucapan tersebut membuat perasaan Aleesa merasa lain.


"Perasaan gua gak enak nih," terka Aleesa. Dia sudah menatap ke arah sang sepupu yang tengah mengusap tengkuk lehernya.


"Pin!"


Akhirnya, remaja itu menyerahkan ponsel Aleesa yang layarnya sudah retak dan tidak bisa digunakan. Mata Aleesa pun melebar.


"Ganti rugi!!"


"Enggak, bukan salah Mas." Remaja itu malah mengelak.


"Gak salah gimana? Sedari tadi hape gua di tangan lu, Pin." Aleesa sudah marah.


"Sasa sendiri 'kan yang ngasih ke Mas." Aleesa tercengang mendengar ucapan dari Agha.

__ADS_1


"Atuhlah, Pin. Ini hape baru ganti. Gak bakal dibeliin lagi sama Baba." Aleesa berkata apa adanya. Wajahnya nampak frustasi.


"Kakak Sa."


Sang paman sudah memanggil Aleesa. Dia pun menoleh. Aksa menunjukkan sebuah kardus ponsel yang sama dengan ponselnya yang rusak.


"Ini buat kamu." Mata Aleesa pun berbinar. Dia segera menghampiri sang paman dan memeluk tubuh Aksara.


"Makasih Uncle."


Aksa hanya tersenyum ketika Aleesa terlihat gembira.Waluapun hanya senyum yang palsu dia tunjukkan.


"Jangan lupa beri kabar sama kekasih kamu yang ada jauh di sana." Sontak mata Aleesa melebar mendengar ucapan sang paman. Sedangkan Aksa sudah menunjukkan wajah jahilnya.


"Ih, apaan sih." Aleesa terlihat malu. "Siapa sih yang Uncle maksud? Sasa gak ngerti."


"Cinta emang kadang bikin orang be-go," sahut Askara dan ditimpali tawa oleh semuanya..


"Ih, apaan sih." Aleesa memilih pergi karena tak ingin terus diledek.


.


Restu, dia masih menatap foto sang kekasih dengan raut tak terbaca. Masih ada kekhawatiran walaupun dia sudah mendapat kabar dari Rio jikalau Aleesa sudah kembali ke rumah.

__ADS_1


"Dia pasti akan terus mendekati kamu. Aku sangat yakin itu," gumamnya.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Restu. Ingin rasanya dia tidak profesional sejenak. Dia ingin melindungi kekasihnya. Dia ingin menemani Aleesa


di saat kekasihnya drop. Dia menginginkan itu, tapi apakah dayanya. Kontrak masih tersisa dua Minggu lagi. Semenjak meninggalnya Philip bayarannya malah dilipat gandakan oleh madam Zenith karena dia ingin pengawalan yang sangat ketat.


Dia juga sudah mendapat tugas dari seseorang untuk mengawal di negara kelahirannya. Namun, dia menunggu kontrak di sini selesai barulah pulang. Keprofesionalan yang tengah dia pegang teguh.


"Mr. R."


Suara lembut seorang wanita membuatnya menoleh. Tatapan lembut madam Zenith yang dia lihat. Wanita yang masih cantik dalam usia yang tak lagi muda menghampirinya. Bodyguard tampan itu segera berdiri.


Wanita itu tersenyum ke arah Restu membuatnya merasa merindukan seseorang. Samar bayangan seseorang memutari kepalanya.


"Mamih."


Setelah dua puluh dua tahun berlalu, bayang wajah ibunya baru hadir. Dia merasakan kerinduan yang mendalam pada sosok yang hanya bisa dia lihat dalam kurun waktu tiga tahun. Setelah itu, sang ibu dinyatakan hilang dan meninggal. Tanpa dia tahu di mana makam ibunya.


Sentuhan lembut tangan madam Zenith membuat tubuh Restu menghangat. Tatapan tajamnya berubah menjadi lembut.


"Kita ke Indonesia. Bersiaplah!"


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen atuh ...


__ADS_2