
Setelah mendengarkan lagu di angkringan semalam, Yansen sadar bahwa dia terjerat cinta segitiga antara dirinya, Aleesa dan sang maha pencipta. Yansen dihadapkan pada pilihan yang sulit sama seperti lagu itu. Perlahan hatinya mulai terbuka. Egonya mulai melebur. Hati yang keras kini mulai melembut. Yansen menatap foto dirinya dan Aleesa yang selalu teroajang di meja. Dia tersenyum, apalagi di foto itu terlihat Yansen tengah mengenakan kalung salib dan Aleesa mengenakan hijab.
"Antara salib dan tasbih, jalan tengahnya hanya satu. Tuhan kita masing-masing." Yansen tersenyum perih seraya mengusap lembut kaca figura tersebut.
Lama Yansen menatap figura itu dengan hati yang sakit dan mata yang nanar. Namun, dia harus melakukannya. Dia tidak ingin sakit terlalu lama dan tidak ingin mengganggu kebahagiaan Aleesa.
"Tuhan, jika ini yang terbaik ... aku mohon, lapangkan hatiku. Ikhlaskan aku untuk melepasnya. Biarkan aku saja yang terluka, aku mau dia bahagia." Sebuah doa yang Yansen panjatkan sebelum dia terlelap. Doa yang begitu tulus yang dia minta kepada Tuhan. Matanya terpejam dengan tangan yang menggenggam.
Pagi ini dia berniat untuk bicara berdua dengan Aleesa. Kali ini, dia tidak akan memaksa. Dia akan merelakan Aleesa bersama laki-laki yang memang tepat untuk Aleesa. Laki-laki yang diinginkan Yansen untuk menjadi kekasih Aleesa. Sekarang, Tuhan sudah mengabulkan dan dia harus merelakan. Dia juga akan bicara baik-baik dengan Aleesa.
🎷🎷🎷
Ketika kuhadapi kehidupan ini
Jalan mana yang harus kupilih
Ku tahu ku tak mampu
Ku tahu ku tak sanggup
Hanya kau Tuhan tempat jawabanku
Aku pun tahu ku tak pernah sendiri
Sebab engkau Allah yang menggendongku
TanganMu membelaiku
CintaMu memuaskanku
Kau mengangkatku ke tempat yang tinggi
JanjiMu seperti fajar pagi hari
Dan tiada pernah terlambat bersinar
CintaMu seperti sungai yang mengalir
Dan kutahu betapa dalam kasihMu
Lagu rohani yang pagi ini Yansen putar mengawali harinya, yakni Janji-Mu Seperti Fajar. Dia tersenyum mendengarnya. Hatinya merasa tesentuh dan sudah saatnya dia berdamai dengan semuanya. Dia tidak sendiri, hidupnya akan baik-baik saja karena ada Tuhan yang selalu bersamanya.
"Berdamai dengan segala rasa sakit, rasa sedih dan kecewa memang sulit, tapi aku yakin aku bisa menghadapi semuanya." Senyum terukir di wajah Yansen yang berada di depan cermin.
Ketika dia berada di ruang makan, sang kakak sudah menyambutnya dengan senyuman. Padahal hari ini dia kembali dipanggil oleh pihak berwajib. Namun, wajahnya terlihat sangat berseri. Tidak seperti pemanggilan pertama.
"Apa Kakak tidak takut?" Yansen langsung bertanya tanpa basa-basi. Grace pun menggeleng. Senyumnya masih merekah.
"Kakak sudah berserah diri kepada Tuhan. Apapun yang Tuhan takdirkan akan Kakak jalankan." Hati Yansen terharu mendengarnya. "Kakak memang salah. Jadi, Kakak harus mempertanggungjawabkan semuanya." Yansen terdiam mendengarnya. Kakaknya benar-benar sudah berubah.
"Sen, setelah Kakak pulang dari kantor polisi, antar Kakak menemui Aleesa, ya. Kakak mau minta maaf kepadanya. Kakak mau mohon pengampunan padanya." Yansen mengangguk dengan cepat. Ada kebahagiaan yang tak bisa dia ungkapkan.
Dari setiap musibah akan ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Kakaknya yang keras kini sudah berubah. Yansen sangat bahagia akan itu. Dia merasa sangat bersyukur. Terkadang, manusia harus ditegur lebih dulu agar sadar akan kelalaiannya pada Tuhan.
Sebelum Kakaknya yang meminta maaf, Yansen terlebih dahulu ingin mengejar maaf kepada Aleesa. Dia rela menunggu Aleesa keluar dari kelas. Yansen tersenyum ketika melihat Aleesa tengah berbincang dengan Kemala dan Raina yang baru saja keluar dari kelas.
"Sasa!"
Langkah tiga perempuan itu terhenti. Kemala berdecak kesal dan Raina sudah menatap nyalang. Kemala sudah memasang badan begitu juga dengan Raina.
"Mau ngapain lagi lu?" Kemala bak preman.
"Gua mau bicara sama Sasa sebentar." Ucapan Yansen begitu serius.
"Mau bicara apa lagi, Sen?" Aleesa sudah membuka suara. Dia maju ke depan dan menggeleng pelan ke arah dia temannya.
"Aku ingin bicara berdua dengan kamu."
__ADS_1
"Bicara apa lagi?" tanya Aleesa. Kemarin sudah bicara, semalam pun sudah bicara juga. Begitulah batinnya.
"Gak bisa dijelaskan di sini, Sa," balasnya. Aku janji, aku hanya meminta waktumu sebentar." Aleesa pun menghela napas kasar, tapi dia tidak tega dan mengiyakan. Tempat yang Yansen inginkan pun Aleesa setujui.
Sebenarnya Restu sudah menjemput Aleesa di parkiran karena jadwal Madam Zenith tidak terlalu banyak. Aleesa sudah mengirim pesan kepada Restu perihal Yansen. Restu tidak rela, tapi harus dia biarkan sejenak. Dia juga bisa memantau Aleesa dari belakang.
Mereka berdua masuk ke sebuah kafe yang terletak di samping kampus. Yansen sudah memesan minuman kesukaan Aleesa di kafe ini. Orang yang sedari tadi berdiam diri di dalam mobil sudah berdecak kesal.
"Aku akan telepon kamu, langsung jawab dan tetap biarkan ponsel aku dan kamu tersambung. Aku ingin mendengar apa yang dia katakan."
Pesan panjang lebar yang Restu kirimkan kepada Aleesa. Pesannya pun sudah Aleesa balas. Restu segera menghubungi Aleesa dan terdengarlah suara Yansen di sana.
"Aku mau minta maaf," ucap Yansen begitu tulus. Dia pun tersenyum ke arah Aleesa. "Antara kamu dan Tuhanku, itu pilihan yang sulit."
Aleesa terkejut mendengarnya. Dia melihat Yansen yang dulu telah kembali lagi. Ada rasa bahagia di hatinya.
"Aku memang tidak bisa melupakan kamu, tapi aku akan berusaha mengikhlaskan kamu. Kebahagiaan kamu segalanya buat aku."
Tiba-tiba mata Aleesa berair mendengarnya. Ucapan itu begitu tulus. Wajah Yansen pun sangat berseri.
"Biarkan aku tetap mencintai kamu walaupun kamu sudah bahagia dengan laki-laki yang lebih baik dari aku. Kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan aku juga."
Tes.
Air mata Aleesa menetes begitu saja. Inilah alasan kenapa Aleesa mau menerima permintaan Yansen untuk bicara berdua. Dia yakin, Yansen yang dia kenal akan kembali lagi.
"Jangan nangis. Aku gak suka kamu menitikan air mata kamu," tuturnya. Yansen berpindah tempat. Kini, dia berada di dekat Aleesa. Mengusap lembut air mata Aleesa.
"Aku suka kamu seperti kemarin. Dewasa, tidak mudah ditindas dan tegas. Aku tidak suka kamu seperti ini." Sentuhan lembut Yansen berikan di kepala Aleesa.
"Jaga diri kamu baik-baik, ya." Yansen sudah tersenyum ke arah Aleesa. "Aku masih tetap mencintai kamu."
Ada hati yang panas di luar sana. Restu sudah tidak tahan. Akhirnya dia keluar dari mobil dan menghampiri Aleesa. Langkah lebarnya terhenti ketika melihat Aleesa menangis. Dia segera menghampiri Aleesa yang tengah menunduk di samping Yansen.
"Lovely."
"Maaf, Kak. Aku tidak bisa memeluk tubuh Aleesa karena Aleesa sudah menjadi milik orang lain." Restu terkejut dan menatap ke arah Yansen. "Aku juga tahu jika pelukan Kakak lebih hangat dari pelukanku."
Restu tahu kenapa Aleesa menangis. Yansen yang dulu telah kembali. Dia semakin memeluk erat tubuh kekasihnya dan Yansen tersenyum ke arahnya.
"Aku titip Sasa ya, Kak. Selalu bahagiakan dia dan sayangi dia. Aku janji, aku tidak akan mengganggu Kakak dan Aleesa lagi." Yansen pergi dengan hati yang lega. Tidak dipungkiri ada rasa sakit di hatinya walaupun secuil.
"Tuhan, aku sudah belajar ikhlas. Sekarang, ijinkan aku untuk fokus kepadamu hingga Engkau memanggilku ke pangkuan-Mu."
Sentuhan lembut masih Restu berikan di rambut Aleesa. Sesekali dia mengusap lembut rambut sang kekasih. Menenangkannya, itulah yang tengah Restu lakukan.
Isak tangis sudah tak terdengar lagi. Restu mengecup ujung kepala Aleesa dengan begitu dalam.
"Ke apartemenku, yuk." Perkataan Restu membuat Aleesa melebarkan mata. Walaupun matanya sembab, tapi masih terlihat pelototan Aleesa yang menyeramkan.
"Jangan berpikir buruk dulu," ujar Restu seraya mencubit gemas pipi Aleesa.
"Bubu dan Baba kamu 'kan gak ada. Aku gak akan biarin kamu sendirian di rumah." Alasan seorang Restu.
"Ke rumah Aunty Mamih aja," tawar Aleesa. Namun, dengan cepat Restu menggeleng.
"Enggak! Pokoknya ke apartment."
"Aku belum siap, Bie." Restu berdecak kesal.
"Emang aku mau ngapain kamu?" Restu sudah menatap lekat ke arah sang kekasih yang dibalas tertawa lepas oleh Aleesa.
"Hug me again." Restu menggelengkan kepala dan memeluk tubuh Aleesa untuk kesekian kalinya.
.
Yansen, dia menghentikan motornya tepat di pemakaman umat kristiani. Dia sudah berada di samping pusara sang ibu.
__ADS_1
"Halo, Mih. Udah lama ya gak ketemu." Yansen menahan sesak di dada.
"Menjadi dewasa itu tenyata tidak seindah yang dibayangkan ya, Mih. Aku dipaksa mundur, aku kalah dan aku tidak bisa memilih antara Tuhan atau Aleesa." Yansen menunduk dalam. Air matanya menetes begitu deras.
"Aku baru merasakan ternyata begini hidup sendiri. Tidak memiliki orang tua dan tidak ada yang bisa diajak bicara. Selama ini, aku merasa baik-baik saja karena ada mereka yang baik yang selalu ada untuk aku. Namun, sekarang Tuhan seakan mengujiku. Tuhan menyuruhku untuk memilih, dan harus ada yang aku korbankan, yakni perasaan."
Banyak tangis yang keluar dari mulut Yansen. Dia seakan mengungkapkan semua isi hatinya kepada pusara sang ibu. Dia seakan tengah meluapkan segala kegundahan, kesakitan dan juga kekecewaan yang tengah dia rasakan.
"Mamih pasti tahu siapa orang yang aku maksud karena dia yang selalu aku ceritakan kepada Mamih. Dia yang mampu menerima aku sedari Mamih pergi. Dia yang sudah aku sebut cinta pertama dan terakhirku." Yansen mencoba untuk tersenyum.
"Aku tunggu Mamih jemput aku, menggenggam tangan aku dan pergi ke rumah Bapak di surga." Yansen bicara seperti itu dengan suara yang begitu tulus.
Dia betah duduk di samping pusara sang ibu. Tak banyak bicara, tapi air matanya terus mengalir. Anak yang ditinggal sedari umur lima tahun dan kini sudah berusia dua puluh tahun. Lima belas tahun berlalu, dan dia dipaksa untuk dewasa dan menerima kenyataan yang pahit ini. Untung saja ada Radit dan Echa yang mendampinginya. Jika, tidak sudah pasti dia akan ikut menyusul ibunya.
"Mih, kalau aku boleh minta ... jemput akunya jangan sampai buat Kakak menangis, ya." Lagi-lagi Yansen menangis. Kerapuhan yang sudah lama dia pendam sendirian.
Dia membiarkan tubuhnya kepanasan duduk di samping pusara. Dia hanya menatap nanar dan datar pusara yang masih sangat terawat. Biaya perawatan pun Radit yang tanggung.
"Andai Mamih masih ada, pasti aku akan menangis di pangkuan Mamih."
.
Grace, dia mencoba untuk terus kuat menghadapi kasus yang tengah dia hadapi. Apalagi hari ini Radit dan Echa menemani Grace membuat rasa bersalah di hati Grace semakin dalam. Hingga Aksara marah karena dia baru mengetahui kakaknya masih membela Grace. Jelas-jelas dia salah.
"Dengarkan gua dulu," ucap Radit. Aksa yang masih emosi pun menatap tajam ke arah Radit.
"Lu gak akan pernah tahu gimana rasanya jadi anak yatim piatu. Lu juga gak akan pernah tahu bagaimana rasanya hidup sendirian karena hidup lu waktu kecil masih didampingi kedua orang tua. Beda halnya dengan mereka." Radit tidak emosi. Sedangkan Grace sudah menangis di ruangan yang berbeda. Dia tidak ingin membuat Radit dan Aksa bertengkar hanya karena dirinya.
"Sedari kecil dipaksa harus dewasa. Hidup mandiri, tanpa siapapun yang mendampingi. Apa hati mereka kuat? Apa hati mereka tidak menjerit? Sedangkan seusia mereka harusnya mereka bermain dan banyak bercerita kepada kedua orang tua mereka." Radit menjelaskan dengan berkaca-kaca. Melihat Yansen dan Grace seperti melihat dirinya sewaktu kecil.
"Gua tahu, gua sudah dikhianati sama Grace, Aleesa sudah dibuat sakit, tapi gua yakin ini sudah menjadi takdir gua. Menjadikan gua untuk lebih perhatian lagi sama anak gua. Gua marah, pasti. Gua kecewa, pasti. Jika, gua mengedepankan emosi pasti mereka berdua sudah habis, tapi gua masih berpikir logis karena gua tahu ada beban di pundak Grace yang dia pikul sendirian selama lima belas tahun, dan dia hanya salah mengeksekusi."
Mulut Aksa pun tertutup rapat. Namun, masih terlihat jelas wajahnya yang masih emosi.
"Gua hanya memberikan pendampingan kepada Grace. Gua gak akan menghalangi tuntutan lu. Gua cukup memberikan pengacara, psikiater untuk mendampingi anak itu. Gua sangat yakin, dia pasti tertekan."
Jika, Radit sudah berbicara pasti Aksa akan mendengar. Penuturan Radit memang selalu berdasarkan logika. Itu dapat diterima oleh akal Aksa.
"Gua harap lu mengerti. Dia hanya dijadikan alat hingga pada akhirnya dia melakukan itu semua." Aksa pun akhirnya mengangguk.
"Gua gak akan mencabut laporan gua," tekan Aksa.
"Iya, gak masalah buat gua. Biar pengadilan yang memutuskan."
Grace masih menangis dan ditenangkan oleh psikiater. Dia takut jika Aksa dan Radit bertengkar. Dia tidak mau merusak hubungan keluarga mereka. Radit sudah sangat baik kepadanya. Sesalah-salahnya dia tetap saja Radit membelanya.
"Tenang, Om Radit dan Om Aksa pasti hanya beradu argumen." Echa datang dan mencoba untuk menenangkan.
"Aku gak mau Om bertengkar hanya karena membela aku." Grace sudah berurai air mata.
"Kamu anak kami. Pasti kamu akan kami bantu dan lindungi sekalipun kamu salah." Grace memeluk tubuh Echa dengan begitu erat. Dia benar-benar dipertemukan dengan malaikat tak bersayap sesungguhnya. Sudah disakiti, dikecewakan masih bisa mau memaafkan dan merangkulnya kembali.
"Maafkan aku, Tante."
"Iya, Grace. Maaf ya, Tante dan Om hanya bisa membantu sampai sini doang."
"Gak apa-apa, Tante. Aku malah berterima kasih banget karena Tante mau bantu aku."
Rasa sakit di hati Echa memang masih ada. Namun, dia mencoba untuk tidak semakin tersulut. Dia banyak belajar dari sang suami untuk menjadi pribadi yang lebih sabar dan berpikir jernih.
Pintu ruangan terbuka dan Radit datang dengan senyum yang mengembang. Grace sudah sembab dan menatap ke arah ayah dari Aleesa tersebut.
"Kenapa nangis? Om baik-baik saja. Semuanya hanya salah paham." Radit menghampiri Grace seraya mengusap lembut rambut kakak dari Yansen tersebut.
"Kamu tenang, ya." Mata Grace berkaca-kaca mendengarnya.
"Tuhan, kenapa Engkau mengirimkan dua orang yang baik hati kepada manusia yang jahat sepertiku ini?" Dia membatin dengan rasa syukur yang tak henti.
__ADS_1