RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 191. Sudah Tidak Tahan


__ADS_3

Aleesa menunggu Restu di depan pintu ruang kerja sang papih. Ruangan itu kedap suara sehingga tidak bisa dengar mereka sedang membicarakan apa. Setelah mendengar petuah dari sang ibu mertua, rasa bersalah semakin menyeruak di hati Aleesa.


Sudah satu jam Aleesa menunggu Restu di sana. Nesha pun sudah bolak-balik menyuruh Aleesa untuk menunggu suaminya di ruang keluarga, tapi Aleesa tetap tidak mau.


"Gak apa-apa, Mih." Aleesa sampai duduk di lantai dengan tubuh yang bersandar di dinding.


Nesha tidak tega, akhirnya dia mengirim pesan kepada sang suami tanpa sepengetahuan Aleesa.


"Pih, apa masih lama membicarakan pekerjaan dengan Restu? Aleesa sudah lebih dari satu jam menunggu Restu keluar ruangan."


Sepertinya dua pria dewasa itu sedang membicarakan hal penting sehingga pesan yang Nesha krim tak langsung direspon. Nesha pun menghela napas kasar.


Dua jam sudah Aleesa menunggu Restu di depan ruang kerja. Dia ingin segera memeluk tubuh suaminya dan meminta maaf. Tak lama suara pintu ruang kerja terbuka dan Aleesa langsung berdiri. Itu membuat Restu terkejut.


"Love--"


Aleesa berhambur memeluk tubuh Restu dengan air mata yang sudah menetes. Restu kebingungan dan dia pun membalas pelukan istrinya.


"Maafkan aku."


"Kamu kenapa?" Restu sudah mengusap lembut punggung Aleesa dengan begitu lembut. Tidak ada jawaban, hanya isakan kecil yang menjadi jawaban darinya.


Rindra sedari tadi memeprahtikan putra dan menantunya melalui cctv tersenyum bahagia. Dia tidak menyangka jika Restu akan selembut itu kepada Aleesa. Sifatnya yang keras kepala dan memiliki ego tinggi perlahan memudar. Malah nyaris tidak ada jika tengah bersama Aleesa.


Ketika sudah mulai tenang, Restu melonggarkan pelukannya. Dia mengusap lembut wajah Aleesa yang basah.

__ADS_1


"Aku gak suka kamu menangis." Aleesa mulai mencium aroma asap dan refleks tangan Aleesa memukul dada suaminya.


"Kenapa lagi?"


"Bau rokok." Restu malah tertawa.


"Aku ganti baju dulu, ya." Aleesa mengangguk dan merangkul mesra lengan suaminya. Terdengar gelak tawa di dalam sana.


"Kita ke apartment." Aleesa pun terkejut.


"M-mau apa?" Wajah resah sudah terlihat jelas.


"Aku mau nge-gym di sana, Lovely." Dia merangkul mesra mesra pundak sang istri dan mencium pipinya.


"Sekalian olahraga bareng kamu." Seketika tatapan tajam Aleesa berikan dan sontak Restu terbahak.


"Lovely, besok 'kan aku akan pergi ke Zurich. Boleh dong aku puas-puasin dulu. Sudah pasti aku akan libur Mimi sama kamu dan buat kamu menjerit keenakan."


"Bie--" Wajah Aleesa nampak memerah karena malu.


"Mau 'kan?" Aleesa akhirnya mengangguk dan membuat Restu semakin bersemangat.


Tibanya di apartment, Restu segera menuju ruangan fitness. Sang istri ditinggalkan sendiri. Aleesa pun mulai bosan karena sudah satu jam lebih dia ditinggal oleh sang suami. Aleesa turun dari tempat tidur dan membuka ruang olehraga mini milik sang suami. Aleesa cukup terpana dengan ruangan itu. Ditambah sang suami yang sudah bermandikan keringat.


__ADS_1


"Bie," panggil Aleesa. Restu mulai menoleh dan sang istri sudah berjalan mendekat ke arahnya.


"Kenapa?" Jika, orang lain yang mengganggunya dia sudah marah. Namun, kepada Aleesa dia tidak bisa berbuat apa-apa. Aleesa malah melingkarkan tangan di pinggang Restu dan mencium bibir Restu seidkit lama.


"Aku belum selesai, Lovely." Kini, Restu yang mencium singkat bibir Aleesa.


"Aku ingin sekarang, Bie." Suara manja penuh the Sahan yang keluar dari mulut Aleesa. Tangannya pun sudah menyusuri bagian bawah perut Restu.


"Lovely--" Sungguh istrinya sangat nakal membuat aliran darahnya mengalir dengan sangat deras.


"Aku ingin sekarang, Bie." Kalimat yang diucapkan oleh Aleesa yang sangat manja membuatnya tak tahan.


"Baiklah, kalau kamu memaksa." Restu menyudahi olahraganya. Aleesa pun tersenyum ke arahnya.


"Aku mau mie rebus super pedas dengan double telur." Seketika Restu menganga.


"Kenapa bengong, Bie?" tanya Aleesa.


"Tadi 'kan kamu bilang udah gak tahan."


"Iya, aku gak tahan nahan perut aku yang lapar," jawab Aleesa tanpa dosa. "Jadi, tolong buatin, ya. Aku ingin dimasakin kamu." Aleesa mencium pipi Restu sekilas sebelum meninggalkan Restu yang sudah kesal.


"Aleesa!!!"


Sang istri malah tertawa teramat keras.

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2