RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 205. Bau Bang-kai Terendus


__ADS_3

"Aku gak mengerti dengan jalan pikiran, Om." Rifal mulai emosi. Dia yang tadi duduk di sofa, kini mendekat ke arah sang paman dengan tatapan nyalang.


"Om tega!" pekik Rifal. "Bohongi Papih hingga Papih menutup mata." Rifal menekan setiap perkataan.


Dia pun menggelengkan kepala dengan menatap tajam ke arah Satria. Bisa-bisanya adik yang selama ini dibela oleh sang ayah berkhianat. Menyembunyikan semua kebejatannya hingga pada akhirnya Restu lah yang membongkar semuanya.


"Udahlah, Pang. Lu marah juga gak akan didenger."


Semua yang dikatakan Rindra memang benar. Dia hanya sebatas keponakan. Sang paman pun akan mengabaikan ucapannya karena merasa dirinya lebih tua.


"Biarin aja. Kalau kita bertiga keseret dalam masalah dia, anggap aja kita gak kenal tuh orang." Sadis sekali ucapan dari Rindra.


.


Restu Ranendra benar-benar sangat jenius sekali. Dia memiliki peluru yang sangat mematikan yang tidak orang lain miliki. Satria pun bukan orang sembarangan, dia menyimpan sangat rapat bangkai miliknya hingga tak ada seorang pun yang bisa mengendus termasuk sang kakak.


Lain halnya dengan Restu yang sudah mencari tahu siapa Kalfa dan juga Satria ketika kejadian di bangku SMA. Dendamnya membuat dia terus mencari tahu perihal Kalfa dan Satria. Hingga semua bukti dia pegang dan dia simpan dengan aman. Itu hanya untuk jaga-jaga saja, dan sekarang bukti itu dia gunakan untuk membalas perbuatan Satria.


Kepulan asap rokok sudah mengudara. Restu yang baru saja menertawakan Satria mulai menikmati waktunya untuk bersantai sejenak. Istrinya masih terlelap dan ini kesempatannya untuk menikmati sebatang atau lebih rokok yang biasa dia hisap.


"Kenapa lu bisa dapat itu semua?" Restu menoleh ke arah suara. Rio sudah membawa wine ke arahnya.

__ADS_1


"Dendam yang sudah mendarah daging." Jawaban yang membuat Rio tertawa.


"Hebat," puji Rio. Restu hanya tersenyum. Dia menyesap wine yang sudah Rio tuangkan ke dalam gelas.


"Pasti tuh aki-aki lagi nyari ide lagi buat jatuhin lu." Respon Restu hanya tersenyum tipis.


"Apa bisa?" tanya Restu meremehkan.


"Ya kali aja." Restu malah tertawa.


"Gua malah penasaran dengan respon anak kesayangannya itu."


.


"Kamu udah tahu perihal Kalfa dari awal?" Dev mengangguk.


"Aku juga tahu di mana ibu dari Kalfa." Iyan melebarkan mata mendengar ucapan dari Dev.


"Masih hidup?" tanya Iyan. Dev menoleh ke arah Iyan dengan wajah berantakan.


"Ada saatnya itu semua terungkap." Dahi Iyan mengkerut mendengar ucapan Dev

__ADS_1


"Restu yang akan mengungkapkannya?" Iyan sudah menebak ke arah sana. Dev hanya tersenyum tanpa menjawab apapun.


"Semenjak Papih menemukan Kalfa, dia tidak pernah menemui aku lagi. Kamu bisa lihat 'kan. Pusara ku tidak seperti pusara ayah kamu yang selalu dihiasi bunga segar setiap bulan. Didatangi oleh orang terkasih. Pusaraku sepi, sama seperti hatiku." Dev tersenyum perih.


"Apa kamu ikut andil dalam pembongkaran semua ini?" Iyan mulai menyelidiki.


"Aku hanya memberi petunjuk kecil. Restu yang memiliki otak cerdas di atas rata-rata. Makanya, dia bisa mengerti petunjuk kecil yang aku berikan." Dev mulai membuka suara.


"Jadi--"


"Petunjuk itu aku berikan ketika Restu masih sekolah dan nakal. Aku melakukan itu karena aku ingin melihat papihku berubah. Tidak bermaksud lain. Aku melihat didikan Papih terhadap Kalfa salah," paparnya. "Ternyata keinginanku harus pupus karena Restu malah tak membongkarnya. Dia malah menyimpan bukti tersebut." Ada alasan mengapa Restu melakukan itu.


Iyan tercengang mendengar penuturan dari Dev. Bukti yang dikumpulkan oleh Restu ternyata fakta yang sudah lama dia ketahui dan baru sekarang dia bongkar.


"Tapi, sekarang aku malah senang karena Restu sudah membeberkan semuanya. Bau bangkai sudah mulai terendus."


Sungguh fakta yang mencengangkan. Pantas saja Restu bersikap santai. Ternyata peluru mematikan sudah dia pegang sedari dulu.


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


Maaf, ya. Semalam gak bisa tepatin janji


__ADS_2