RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
235. Aqiqah


__ADS_3

Acara aqiqahan yang mendadak membuat kelautan besar Wiguna sedikit marah. Mereka merasa tidak dihargai oleh Restu, tapi bukan begitu maksud Restu.


Ayah baru itu hanya tersenyum ketika mendengar sang paman mengomel layaknya ibu-ibu. Dia malah asyik menghisap rokok begitu dalam. Kemudian, membuang asapnya ke udara.


"Aku gak mau merepotkan siapapun."


Aksa berdecak kesal mendengarnya. Dia menatap Restu dengan begitu tajam dan dalam.


"Selagi aku masih mampu melakukannya sendiri akan aku lakukan."


Helaan napas berat terdengar. Baru kali ini dia melihat pria penuh tanggung jawab seperti Restu. Padahal keluarga Wiguna sudah biasa bahu membantu, tapi anak itu seperti keras kepala. Namun, keras kepalanya ditahap yang berbeda..


"Bagaimana dengan kakak dan adik ipar kamu?"


Yang Aksa maksud adalah Aleena dan juga Aleeya. Akan tetapi, keponakannya itu malah terdiam.buak menjawab. Decakan kesal keluar lagi dari mulut Aksa.


"Apa ada yang lagi lu rahasiain?"


Restu malah tertawa. Dia menggerus puntung rokoknya. Kemudian, menggeleng pelan sambil menatap ke arah sang paman.


"Bie!"


Aleesa sudah membawa banyak papar bag dari butik ternama. Butik yang Aksa benci. Bukan karena dia sudah dikecewakan oleh butik itu melainkan karena jika mengingat nama butik itu pasti dia akan mengingat mendiang sang ibu tercinta.


Aleesa memberikan sebuah paper bag kepada sang paman. Di mana isinya ada baju gamis dan Koko untuknya dan juga sang istri. Juga untuk kedua sepupunya.


"Oh iya, ini buat Rangga."


Dahi Aksa mengkerut mendengar nama sang putra angkat disebut oleh Aleesa.


"Kamu tahu dia akan ke sini?"


Aleesa dengan cepat menggeleng. Memang dia tidak tahu apapun tentang Rangga.


"Istri aku emang sengaja beliin baju itu untuk semua keluarga. Mau dipake atau enggak, gak masalah."


Keponakannya tak pernah berubah. Diperistri oleh Restu dia semakin royal dan tak pernah perhitungan. Dia juga akan menjadi manusia penuh perhatian.


"Makasih, ya."


Aleesa mengangguk. Namun, ada raut sedih yang Aleesa tunjukkan. Dia dapat melihat sang paman sedikit tidak suka dengan nama butik yang tertera di sana.


"Maaf ya, Uncle."


Restu menoleh ke arah sang istri dengan dahi yang mengkerut. Dia bingung kenapa Aleesa meminta maaf kepada sang paman.


"Sasa sengaja memesan semua baju kita di sana karena Sasa tahu pasti di surga sana Mimo akan bahagia melihat kita memakai baju dari butik langganan Mimo


Aksa tak bisa berkata-kata. Dia masih terdiam dengan senyum tipis penuh kesedihan.


"Sasa jug beliin buat Mimo dan Pipo."


Aleesa menunjukkan paper bag bernamakan kedua kakek nenekny, juga sang opa. Aksa semamkin terdiam.


"Di hati Sasa, Mimo, Pipi, dan juga Opa selalu hidup. Maka dari itu, Sasa membelikan untuk mereka."


Ingin rasanya air mata Aksa menetes. Mendengar nama kedua orang tuanya disebut membua hati Aksa sangat sakit. Namun, dua juga merasa bersyukur Aleesa masih menganggap kedua orangtuanya masih hidup sama seperti dirinya.


.


Setelah Aksa pergi tinggal Aleesa dan juga Restu di sana. Mereka berdua saling peluk dengan sangat mesra. Sesekali Restu mengecup ujung kepala istrinya.


"Lusa aku kembali kerja."


"Ya enggak apa-apa, Bie. Kewajiban seorang suami 'kan mencari nafkah. Aku yang ngurus di tampan di rumah."


Aleesa menjawab dengan begitu santai. Dia tidak mempermasalahkan suaminya bekerja karena dua sudah tahu kodrat seorang wanita itu apa.


"Aku sih berharapnya, kamu selalu menjadi suami dan ayah Yang siaga untuk aku dan putra kita."


"Tanpa kamu minta, aku akan melakukan itu." Restu berkata dengan begitu tegas dan serius.


Aleesa menatap ke arah sang suami dan Restu membalasnya dengan sebuah kecupan di kening dengan begitu dalam.


"Tegur aku jika aku terlalu sibuk dan tidak memperhatikan kamu dan si tampan." Aleesa pun mengangguk. Tangannya sudah melingkar di pinggang Restu.


.


Di kamar cucu pertama Radit dan Echa, mereka berdua terus mengucapkan syukur karena memiliki menantu seorang Restu. Laki-laki yang penuh dengan tanggung jawab.


"Baba sangat bahagia karena putri kita yang selalu kita anggap lemah dibandingkan yang lain sekarang sudah memiliki jagoan yang nantinya akan menjadi pelindung untuk ibunya."


"Terkadang apa yang kita anggap lemah, dia adalah yang paling kuat." Echa menimpali.

__ADS_1


Suara pintu terbuka, kompak Radit dan Echa menoleh. Seketika mata mereka melebar melihat siapa yang datang.


"Bubu, Baba."


Senyum yang beda dari Aleesa membuat Echa refleks berdiri dan Aleeya berhambur memeluk tubuh ibunya.


"Akhirnya, kamu bisa ke sini lagu, Dek."


Setiap kali mendengar suara sang ibu yang bergetar, menggetarkan hatinya yang juga sangat merindukan kedua orang tuanya. Sudah hampir satu tahun, Aleeya tidak pulang ke Jakarta dan malah meminta kedua orang tuanya yang datang ke Bandung untuk menjenguknya.


Semenjak kepergian Kalfa pada waktu itu, membuat Aleeya takut kembali. Dia takut bertemu Kalfa dan takut hatinya terluka lagi karena kehadiran dia..


Sekuat tenaga Aleeya menahan laju air matanya. Dia tidak ingin menunjukkan kesedihannya. Tangannya mulai mengusap lembut punggung sang ibu.


"Adek 'kan pernah bilang ke Bubu dan Baba, Adek hanya sementara di sana dan pasti akan kembali ke rumah di mana banyak kenangan kita semua."


Aleeya mencoba untuk tersenyum. Namun, dia menghindari tatapan sang ayah. Sekuat tenaga apapun dia mencoba untuk berbohong, tetap saja ayahnya akan mengetahuinya.


Radit mengusap lembut rambut Aleeya dan mulailah sesak di dadanya. Radit pun memeluk tubuh putrinya yang sebenarnya masih ringkih. Perlahan, tangan Aleeya mulai melingkar ke pinggang sang ayah.


"Jangan menghindar, tapi jalankanlah. Di depan, Tuhan telah menyiapkan rencana yang sangat indah dan juga kebahagiaan yang berlimpah." Aleesa hanya mengangguk tanpa bersuara. Air matanya sudah menetes membasahi baju bagian depan ayahnya.


"Bu, tolong ambilkan susu cokelat dingin untuk Adek." Echa mengangguk dan segera menjalankan apa yang diperintah suaminya.


Ketika pintu kamar keponakannya tertutup, isakana tangis pun terdengar. Radit semakin memluk tubuh putrinya


"Maafkan Adek, Ba."


Seribu kata maaf sudah Aleeya ucapkan kepada ayah dan ibunya. Namun, dia tetap saja merasa bersalah karena sudah membangkang kepada orang yang merawat dan menyayanginya sedari kecil dengan penuh cinta.


"Tanpa kamu minta maaf, Baba dan Bubu sudah memaafkan kamu."


.


Aleesa yang kebetulan ada di dapur terkejut ketika Sang ibu memeluknya dengan begitu erat. Ibunya terisak.


"Bubu kenapa?" Aleesa nampak bingung.


"Makasih, Sa. Makasih.*


Aleesa bernapas lega karena dia tahu maksud dari ucapan sang ibu itu apa. Aleesa mengusap lembut punggung sang ibu.


"Ini seperti mimpi bagi Bubu, Sa."


"Ini nyata, Bu."


Restu menyandarkan tubuhnya di kursi yang ada di halaman samping. Dia memejamkan matanya sejenak. Senyum pun melengkung di bibirnya. Dia tidak ingin keluarga ini retak. Bagaimanapun dia sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Jadi, dia dan istrinya harus mengembalikan keharmonisan keluarga ini.


Aleesa dan Restu tersenyum senang ketika melihat Aleeya yang terus menggoda si tampan hingga wajahnya merah karena teru diganggu. Bukannya berhenti, Aleeya malah semakin menjadi. Dia malah merekam keponakannya yang tengah berubah warna.


"Jangan dipost di media sosial."


"Enggak bakal. Adek juga gak mau keponakan Adek kenapa-kenapa."


Aleeya sudah tahu ketika si tampan baru lahir hendak dicelakai oleh keluarga Kalfa. Dia pun sangat marah.


"Udah dong, Dek. Kasihan anak gua. Entar pas acara rewel lagi." Aleesa sudah melaranga Aleeya untuk berhenti menggoda si tampan


.


"Kasih tahu dulu siapa nama nih bayi." Aleeya mulai memaksa seraya mengancam.


"Nanti malam aja."


Tetap saja Aleesa tidak mau membocorkan walaupun Aleeya sudah mengancam. Aleesa malah meninggalkan sang adik yang tengah bersama sang ibu. Dia menghampiri sang suami yang tengah mengontrol konsumsi dan hampers juga sembako untuk anak yatim bawa pulang. Belum lagi uang santunan.


"Udah semua, Bie?"


"Tinggal uang santunan yang masih ada di Rio." Restu sudah merangkul pundak sang istri.


"Ini gak sedikit loh." Radit sudah membuka suara.


"Gak apa, Ba. Namanya juga syukuran."


Suara aeretan koper terdengar. Mereka bertiga menoleh dan sudah ada Aleena di sana. Dia tersenyum ke arah ayah dan juga adik dan suaminya.


Aleena menatap ayahnya dengan begitu dalam. Ada kerinduan yang sedang dia ungkapkan. Sang ayah sudah merentangkan tangan dan Aleena segera berhambur memeluk sang ayah. Tak ada pembicaraan di antara mereka berdua membuat Restu dan Aleesa saling pandang.


"Aku sih berharap kehadiran putra kita akan membuat keluarga ini menghangat kembali." Aleesa mengaminkan.


Hari ini Echa dan Radit terus diberikan kejutan yang membahagiakan karena dua putrinya pulang ke Jakarta untuk menghadiri acara aqiqah keponakan mereka.


Senyum kebahagiaan terukir di wajah sang ibunda. Senyum yang sudah jarang Aleesa lihat kini hadir kembali. Aleesa merasa sangat bahagia.

__ADS_1


"Makasih, Sa." Lagi-lagi sang ibu berterima kasih kepada Aleesa.


"Ini bukan karena Sasa, Bu. Melainkan karena si tampan yang menjadi jembatan sekaligus jalan untuk kita semua berkumpul dengan formasi lengkap."


Semua saudaranya pun tersenyum. Mereka kompak memeluk tubuh Aleesa.


"Bubu sangat merindukan momen ini." Echa pun memeluk tubuh ketiga putrinya.


.


Di lain tempat RIndra tengah berpikir keras ketika sang putra mengadakan acara begitu mendadak. Tidak mungkin jika tidak ada acara di balik acara aqiqah ini. Dia mengingat-ingat tentang tanggal hari ini.


"Apa ada yang aku lupa?"


Baju untuk acara nanti malam sudah Rindra dapatkan. Begitu juga dengan Rifal. Rindra yang tak menemukan jawaban segera menghubungi Rio..


"Iya, Pih."


Rio mendengarkan dengan seksama. Padahal dua tengah sibuk memasukkan uang ke dalam amplop.


"Coba Papih ingat-ingat deh. Tanggal di bulan ini ada apa?"


Rio malah menyuruh sang ayah untuk menebak. Padahal dia sudah tidak menemukan jawaban.


"Atuhlah, Yo. Papih udah gak bisa mikir." Rio malah tertawa. Akhirnya, Rio mengatakan ada apa di hari ini selain hari aqiqah anak dari Restu.


"Ya Allah, kenapa Papih lupa?"


Bukan hanya RIndra yang tidak ingat, Aksa pun baru ingat ketika menjelang sore. Dia segera memberitahu adiknya dan kuah istrinya.


"Tuh anak cerdas juga, ya." Aska memuji sang keponakan yang selalu ada saja tindakan yang tak terduga.


Mereka semua sudah berkumpul dengan memakai pakaian yang diberikan Aleesa. Sungguh kompak mereka semua, dan terlihat hanya Radit dan Echa yang memakai baju berbeda.


Aleeya dan Aleena memeluk tubuh sang paman. Mereka melepas rindu dengan Aksa maupun Aska. Kedua pamannya pun tersenyum. Mereka tak menyangka jika kedua keponakannya yang sudah seperti bang Toyib kini kembali ke Jakarta


"Masih ingat jalan pulang?*


Sindiran Aska membuat Aleeya dan juga Aleena tertawa.


"Petunjuk jalannya kan si bayi pipi merah."


Mereka pun tertawa keras. Aska merangkul pundak Aleeya dan Aksa merangkul pundak Aleena. Tangan kedua keponakannya melingkar di pinggang kedua paman mereka. Sungguh Aksa merasa sangat bahagia ketika keluarga sang kakak seperti ini.


"Pesan Uncle, jangan buat Bubu kalian sedih." Aksa memberikan nasihat kepada dua keponakannya.


"Bahagiakan kedua orang tua kalian sebelum kalian menikah. Bubu dan Baba kalian tidak perlu harta, melainkan waktu bersama kalian berdua."


Aleeya dan Aleena hanya terdiam mendengar nasihat dari sang om. Apa yang dikatakan oleh Aska memang benar.


"Di manapun kalian berada, luangkan waktu barang sejenak untuk menjenguk kedua orang tua kalian. Jangan pernah kesibukan kalian, kalian jadikan alasan. Ingat, waktu tidak akan pernah bisa diulang."


Aleena dan Aleeya tersentak ketika mendengar ucapan sang paman. Hati mereka terasa tersentil. Ada rasa bersalah yang bersarang di hati mereka berdua saat ini.


"Daddy!"


Suara yang tak asing terdengar. Tiba-tiba tubuh Aleena menegang. Dadanya mulai berhenti berdetak. Sang paman menoleh dan juga mengajak tubuhnya untuk menatap ke arah orang yang baru datang.


Baik Rangga maupun Aleena saling pandang dengan raut yang begitu datar. Namun, sorot mata Rangga masih menunjukkan rasa cinta yang begitu dalam. Sedangkan Aleena seakan tak mau menatap Rangga.


"Masih di mobil, ya." Aksa menganggukkan kepala apa yang dimaksud oleh Rangga. Dia memilih untuk pergi dari sana.


"Ngga!" Aska memanggilnya. Laki-laki tampan itupun menoleh.


"Mau ke mana?" Aska tengah menggoda putra sang kakak.


"Aku keluar dulu, Om. Aku enggak mau ganggu. Permisi."


Aleena terdiam dan ketika Rangga semakin menjauh barulah dia menatap punggung kekar itu yang sudah semakin menghilang.


Dia teringat akan perkataan terakhir di pertemuan terakhir mereka di sebuah penyeberangan jalan.


"Sudahi cinta kamu kepada aku, Ngga. Aku gak mau melihat kamu terluka lagi dan lagi jika bersama aku. Tolong, jauhi aku demi keselamatan kamu."


"Enggak, Na. Aku akan--"


"Kalau kamu cinta sama aku, jauhi aku. Aku mohon. Pikirkan diri kamu dan jangan berkorban terlalu banyak untuk perempuan yang belum tentu mencintai kamu."


Jika, mengingat itu Aleena akan mendongakkan kepalanya menahan air mata yang ingin melaju membasahi pipi. Apalagi dia sangat melihat dengan jelas bagaimana wajah Rangga pada saat itu.


"Maafkan aku, Ngga."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


.


__ADS_2