RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 91. Ikatan Batin


__ADS_3

Gelas yang tengah Nesha pegang tiba-tiba terjatuh dan hancur berkeping. Juga mengenai punggung kakinya. Air matanya langsung menetes begitu saja dan bayang wajah sang putra pertama yang ada di kepalanya.


"Restu." Air mata itu terus mengalir.


Rio yang mencari ibunya terkejut dengan serpihan beling yang ada di dekat kaki sang ibu. Punggung kaki sang ibu pun berdarah membuat Rio terkejut.


"Mamih!" Nesha masih mematung dan air matanya tak berhenti menetes. Rio mengira ibunya kesakitan karena serpihan beling.


"Kaki Mamih sakit?" Rio sudah berjongkok melihat kaki sang ibu.


"Hati Mamih yang sakit, Yo. Restu--"


Tubuh Rio menegang ketika mendengar ucapan dari sang ibu. Dia menatap ke arah sang ibu yang sudah berderai air mata.


"Restu akan baik-baik saja, Mih. Dia punya nyawa sembilan. Dia anak hebat." Tangis Nesha pun pecah dan membuat Rio segera memeluk tubuh ibunya. Lelucon yang Rio berikan tak membuat Nesha tersenyum. Malah sebaliknya.


"Bukan hanya Mamih yang merindukan dia. Iyo juga merindukan Restu, Mih. Begitu juga dengan Papih." Tangan Rio sudah mengusap lembut punggung Nesha.


"Perasaan Mamih gak enak, Yo. Punggung Mamih seperti ada yang memukul dengan sangat keras hingga menembus ke dada. Bayang wajah Restu yang ada di kepala Mamih."


.


Aleesa memanggil sang ayah ketika di telinganya terdengar suara tembakan yang begitu keras. Radit yang baru saja pulang segera berlari ke kamar Aleesa. Sang istri masih di jalan arah pulang.


"Sasa!"


Aleesa sudah berderai air mata dan segera memeluk tubuh sang ayah. Dia menangis. Dia ketakutan.


"Kenapa, Sa?"


"Tembakan, punggung, dan darah." Aleesa berkata dengan terbata. "Sasa takut, Ba. Sasa takut Kak Restu dalam bahaya."


Ada rasa takut yang menjalar di hati Radit. Putrinya adalah anak spesial yang memiliki feeling yang cukup kuat.


.


Rindra, dia terkejut ketika cangkir berisi kopi yang baru saja dia pegang terbelah menjadi dua dan mengenai dadanya. Untung saja, kopinya sudah tidak terlalu panas. Namun, dia merasakan hal yang berbeda.


"Restu."


Anak itu memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan kedua orang tua angkatnya. Hingga mereka berdua merasakan ada sesuatu yang terjadi pada Restu.


Suara ponsel Rindra berdering dan dokter Rocki menghubunginya. Tubuh Rindra limbung seketika dan dia menjatuhkan diri ke atas kursi kebesarannya.


"Restu kritis karena terkena tembakan."


.

__ADS_1


Gemke melebarkan mata ketika dia tengah memperhatikan cctv ruangan madam Zenith. Gerakan madam Zenith begitu cepat dan pelatuk sebuah pistol dia tarik dan mengenai punggung Restu. Hati Gemke sakit melihatnya. Antara percaya dan tidak.


"Apa--" Ponsel Gemke berdering dan madam Zenith menghubunginya.


"Ke ruangan saya."


Tibanya di ruangan madam, rasanya dada Gemke sangat sesak melihat kondisi Restu. Gemke melihat jelas peluru itu bersarang di luka terdahulu yang pernah Restu alami.


"Bawa dia ke rumah sakit dan pastikan semua orang tutup mulut akan hal ini." Gemke hanya mematung. "Satu lagi, rusak semua cctv yang ada di rumah ini."


Ingin rasanya Gemke menjerit keras dan memaki sang majikan. Hatinya teramat sakit. Namun, demi kewajibannya menjalankan tugas akhirnya dia menuruti perintah dari madam Zenith. Tubuh Restu dia angkat dan tak terasa air matanya menetes ketika melihat sang leader Tergeletak tak berdaya. Ketika keluar dari ruangan madam Zenith, Gemke menahan darah yang keluar dari punggung Restu.


"Bertahanlah Mr. R."


Mata Restu sedikit membuka dan dia tersenyum ke arah Gemke yang sedang memapahnya dengan susah payah.


"Jangan pernah salah langkah. Junjunglah kebenaran." Gemke melihat ke arah sampingnya dan Restu tersenyum ke arahnya sebelum dia tak sadarkan diri.


"Bertahanlah, Mr. Bertahanlah!"


.


Tubuh madam Zenith luruh ke lantai ketika tubuh Restu dibawa oleh sang pengawal menjauh darinya. Dia menitikan air mata dan menangis dengan cukup keras.


"Maafkan Mamih, Nak. Maafkan Mamih." Dia menatap ke arah pistol yang baru saja dia gunakan untuk menembak Restu.


Gemke terus berteriak kepada sopir agar melajukan mobilnya lebih cepat lagi. Bukan tanpa sebab, dia tahu jika luka lama Restu terkena tembakan lagi akan berakibat fatal. Earphone yang tersambung dengan pengawal lain sudah memberikan sinyal karena ada perintah.


"Dokter sudah menunggu Mr. R."


"Siapa nama dokternya?" Perasaan Gemke sudah tidak enak.


"Dokter Kaira."


Mata Gemke melebar. Dia mematikan earphone tersebut dan tanpa sepengetahuan siapapun dia menghubungi seseorang. Sebuah kode rahasia yang dia kirimkan dan mendapat respon yang begitu cepat.


Benar saja tibanya di rumah sakit dokter Kaira sudah ada di sana. Dia ditugaskan oleh madam Zenith untuk menangani Restu. Gemke pun dilarang untuk ikut masuk menemani Restu itu uang membuat rasa curiga semakin menjadi.


"Pasien kritis." Begitulah laporan dari seorang perawat setelah melihat ke arah monitor yang ada di samping Restu.


.


Rindra, dia sudah sangat panik dan hendak langsung menuju Zurich hari itu juga. Namun, dokter Rocki melarangnya.


"Jangan gegabah!" cegahnya. "Kalian cukup tunggu kabar dari sini."


Hati orang tua mana yang tidak akan sakit dan sedih mendengar kondisi anaknya kritis di negeri orang. Apalagi itu disebabkan oleh tembakan yang dialkukan oleh ibu kandungnya. Rindra marah, dia murka. Namun, dia juga harus mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Rocki karena dia yang lebih Tahu Restu ketika berada di Zurich.

__ADS_1


.


Aksara, dia mengerang kesal ketika kerjasamanya dibatalkan sepihak oleh Zenith Andrea. Dia sudah memberikan modal yang tidak sedikit kepada wanita itu. Dia mencoba untuk terus menghubunginya juga perusahaannya. Namun, tidak ada jawaban sama sekali dari mereka.


"Ada apa ini?" Aksa mencium ada yang tidak beres. Menghubungi Restu pun tidak bisa.


"Siyal!"


Dia segera mendatangi kantor Rindra. Dia memiliki firasat tidak enak. Ketika tiba di kantor, dia melihat orang berbaju hitam berseliweran. Aksa tahu itu adalah anak buah Rindra yang cukup berbahaya.


Ketika pintu ruangan dia buka, Radit tengah menenangkan Rindra yang sedari tadi menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Radit menoleh ke arah pintu, dan Aksa menukikkan kedua alisnya.


"Kenapa?"


"Restu ditembak Zenith dan sekarang kritis." Tubuh Aksa menegang mendengarnya. Tangannya sudah mengepal dengan keras. Pantas saja dia mengatakan kerja sama secara sepihak.


"Bang, lu butuh heli atau jet? Gua akan urus." Aksa menawarkan bantuan yang tak main-main. Bagaimanapun Restu adalah calon keponakannya. Namun, Rindra menggeleng.


"Kenapa?" Aksa tidak mengerti.


"Dokter Rocki tengah berusaha di sana. Dia akan menyelematkan nyawa Restu dulu. Barulah kita bisa bertindak karena jika salah langkah walaupun sedikit itu akan fatal." Radit yang menjelaskan.


"Dia punya dendam apa sama Restu?" Aksa belum tahu perihal Restu dan madam Zenith.


"Restu anak kandung Zenith." Aksa pun terkejut.


.


Usapan lembut dan tawa keras keluar dari mulut Restu dan sang ayah. Ditambah sang ibu yang sangat menyayanginya dan selalu mengusap lembut ujung kepalanya ketika dia hendak pergi ke sekolah.


"Jangan tawuran mulu. Wajah tampan kamu nanti hilang itu." Restu malah tertawa dan mencium tangan Nesha.


"Aku gak janji, Tante." Nesha menjewer telinga Restu hingga sang putra mengaduh.


"Biarin aja sih, Mih. Namanya juga anak cowok. Harus kuat dan tawuran dia juga membela kebenaran 'kan." Restu tersenyum dan malah bertos ria dengan sang ayah. Nesha akhirnya menjewer telinga Rindra dan Restu secara bersamaan hingga mereka berdua mengaduh.


Air mata menetes di ujung mata Restu yang tertutup sangat rapat. Gemke yang memang diperintah menjaga Restu sedikit terkejut melihat bulir bening jatuh di ujung mata Restu. Bukannya menekan tombol emergency, dia malah menghubungi seseorang. Sebelumnya seluruh earphone yang ada di telinganya dia matikan.


"Cepat ke sini." Suaranya bergetar.


.


"Saya akan membuat putra Anda bagai pangeran tidur, dan ketika dia sadar dia akan lupa semuanya."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2