RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 136. Singapura


__ADS_3

Aleeya sudah berada di Bandara. Dia berangkat hanya sendiri. Dia ingin berbincang berdua dengan sang kakak dari hati ke hati. Juga meminta maaf atas keegoisannya selama ini.


Aleeya sudah memakai masker juga topi Dia sedang menunggu keberangkatan. Dia pun sengaja tak mengabari Kalfa dan malah dia sudah mengganti nomor ponsel. Dia sudah lelah, dia ingin menata hidupnnya yang baru


Tengah asyik sendiri, terdengar ada suara seseorang yang memanggilnya. Aleeya menoleh dan dia me my icingkan mata ketika seseorang meghampirinya. Laki-laki berkaos putih dengan menyampirkan tas berwarna hitam di salah satu pundaknya.


"Mau ke mana?" tanya Rangga.


Aleeya malah melihat Rangga dari atas sampai bawah. Penampilan yang begitu mempesona. Ditambah Rangga semakin dewasa semakin tampan dan kharismanyaa luar biasa. Laki-laki yang masih menyukai sang kakak dari dulu hingga sekarang..Laki-laki yang sudah sukses menjadi penerbang.


"Mau ke Singapura dulu," jawab Aleeya santai.


"Bareng kalau gitu." Rangga sudah menunjukkan tiket pesawat kepada Aleesa. Pesawat yang ditumpangi oleh Rangga pun sama dengan yang ditumpangi oleh Aleeya. Namun, Aleeya malah mengerutkan dahi. Sepertinya ada misi terselubung.


"Ngapain lu ke Singapura?" Aleeya mulai curiga.


"Mau nyari cewek yang pergi tanpa pamit dan kata ke gua. Padahal seharian kemarin dia terus bersama gua." Wajah Rangga terlihat sendiu. Sedangkan Aleeya hanya menyunggingkan senyum kecil.


Aleeya hanya mengangguk saja. Dia tidak bisa membantu Rangga karena diabtabu bagaiman sang kakak sesungguhnya. Hatinya sangat sulit terbuka untuk orang lain jika sudah terpatri kepada satu pria..


Mereka masuk ke dalam pesawat secara bersama. Duduk pun berdampingan. Namun, mereka tidak banyak bicara hingga pesawat mengudara.


"Lu masih suka sama Kakak gua?" Aleeya sudah membuka suara. Rangga hmyang ayah memejamkan mata hanya menjawab dengan lirikan mata sekilas.


"Gua sedang mencoba meraih salah satu bintang ta g bersinar di langit. Bintang yang selalu ada di setiap malam gua, dan cahaynya semakin hari semakin terang. Sayangnya, sulut seki gua gapai." Aleena tersenyum mendengar ucapan dari Rangga.


"Lu cuma penasaran doang sama Kakak gua karena ku belum bisa dapetin dia." AleeyA mencoba untuk menebak.


"Kalau cuma rasa penasaran gak akan sedalam ini," ujar Rangga. Sudah lebih dari dua tahun gua gak ketemu, tapi rasa itu masih tetap sama. Apa itu yang dinamakan penasaran?" Aleeya lun terdiam. Dia hanya Isa menghembuskan napas kasar.


"Kakak gua itu beda. Dia sulit jatuh cinta, tapi sekalinya jatuh cinta dia pasti akan setia.Waluapun pasangannya menyakitinya." Aleeya berkata realita. Kalfa dan dirinya sudah menyakiti hati Aleena.


"Setia dan bodoh itu beda tipis. Kalau udah disakitin nagapain dipertahanin. Mending tinggalin." Sebuah kalimat tamparan untuk Aleeya. Rangga sama saja menyindir dirinya juga.


"Itulah yang dikatakan magic of love, yang jelek pun terlihat bagus begitu juga sebaliknya." Rangga hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Kadang manusia salah mengatur mindset, makanya banyak yang bodoh kalau udah jatuh cinta."


Rangga memang dadaakan pergi ke Singapura. Tanpa adanya perencanaan. Hanya berbekal alamat dari adiknya, Agha. Dia memberanikan diri untuk pergi ke negeri Singa untuk menemui Aleesa. Dia sudah tidak mampu menyimpan perasaannya sendirian. Dia ingin mengungkapkan semuanya. Mau diteima ataulun ditolak kembali tidak masalah. Dari pada dia terus-terusan dihantui rasa yang tak tahu bagaimana mengendalikannya.


"Lu temuin Kakak guanya nanti. Gua mau bicara empat mata dulu sama Kakak gua. Gua janji gua akan memberikan ruang sama lu." Rangga lun mengangguk. Aleena meminta nomor ponsel Rangga agar dia bisa menghubungi Rangga jika permasalahannya dengan sang kakak selesai.


Rangga menghembuskan napas kasar ketika dia sudah masuk ke kamar hotel. Dia duduk di tepian tempat tidur. Menatap lurus ke depan..


"Ngga, mana bisa tahu dia tentang perasaan kamu jika kamu.hanu memandangnya dari jauh." Kalimat yang sanga ayah angkat ucapkan tadi pagi..


"Laki-laki itu harus berani ambil ririsko," lanjutnya lagi.


Kalimat yang terdengar biasa, tapi membawa impact luar biasa bagi pemikiran Rangga. Cutinya tinggal sehari, masih ada kesempatan untuknya mengejar cintanya sebelum dia kembali pada pekerjaannya.


Sang adik pun sangat mendukung. Dia terus menyemangati dan memberikan alamat apartment Aleena kepada Rangga. Agha adalah adik yang super pemilih, tapi semenjak dia tahu bahwa Rangga menyukai Aleena dia menjadi pendukung terdepan untuk hubungan dari kakaknya itu.


.


Aleena terkejut dengan apa yang dia lihat. Aleeya ada di depan pintu apartment dan berhambur memeluk tubuhnya.


Aleena tidak pernah membenci adiknya bagaimanapun perlakuan Aleeya kepadanya. Dia banyak mengalah pun karena dia tidak ingin merusak hubungan persaudaraan mereka bertiga. Biarkan Aleena yang sakit, menahan sedih dari pada adik-adiknya yang merasakan itu semua. Dia teringat akan perkataan sang pipo, "jadi anak pertama itu harus memiliki bahu yang kuat."


Aleeya menyesali semua perbuatannya. Dia mengungkapkan semuanya dan Aleena hanya tersenyum. Dia menenangkan adiknya itu.


"Kakak sudah ikhlas, Dek. Kalau kamu mau sama dia pun Kakak tidak masalah. Kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan Kakak juga."


Berdamai dengan diri sendiri itulah yang paling sulit. Dia tahun bukanlah waktu yang sebentar. Aleena bergelut dengan batin juga logikanya. Bertarung tanpa henti dengan hati yang ingin memiliki. Dia harus ke psikiater dan meminum obat penenang jika perkelahian itu hadir. Aleena sangat tersiksa, tapi Aleena tak banyak bercerita.


Aleena dapat melihat penyesalan yang luar biasa dari Aleeya. Dia menggenggam tangan sang adik dengan senyum yang mengembang.


"Kakak bahagia karena kamu sudah meminta maaf kepada Bubu dan Baba. Jangan pernah buat mereka menangis. Sesuskses apapun kita nantinya, kita tidak akan pernah bisa membalas apa yang sudah mereka berikan kepada kita." Aleena mulai menasihati.


"Untuk masalah hati itu tidak bisa dipaksa. Kakak udah ikhlaskan sedari hubungan kalian awal. Berbahagialah dengan orang yang kamu sayang. Kakak gak bisa larang dan hanya bisa mendoakan."


.

__ADS_1


Rangga sudah mendapat pesan dari Aleeya. Dia bergegas ke apartment Aleena. Menekan bel di mana unit apartment itu dihuni oleh wanita yang masih ada di hatinya. Aleena terkejut ketika sudah membuka pintu. Tubuhnya menegang. Rangga tersenyum ke arah Aleena.


"Apa kita bisa keluar sebentar?" Aleena terkejut dengan apa yang dia dengar. Rangga mengajaknya keluar.


"Tidak lama kok." Rangga sudah melanjutkan ucapannya. "Gak apa-apa di sekitaran apartment juga. Gak enak kalau aku masuk ke apartment kamu."


Aleena tercengang dengan apa yang dia dengar. Di zaman sekarang masih ada pria yang begitu sopan seperti Rangga ini.


"Apakah penting?" Itulah jawaban dari Aleena.


"Buat aku penting."


Aleena pun terdiam, dan akhirnya dia mengiyakan. Dianjuga harus keluar untuk membeli kebutuhan yang sudah habis. Rangga dan Aleena jalan berdua. Tidak ada yang membuka suara terlebih dahulu. Rangga masih terdiam begitu juga dengan Aleena.


"Kenapa kamu gak bilang?" Langkah Aleena terhenti ketika mendengar pertanyaan itu. Dia menoleh ke arah ke arah Rangga yang ada di sampingnya.


"Padahal hampir seharian kemarin aku bersama kamu. Apa aku ini tidak berhak tahu atas diri kamu?"


Aleena menunduk sejenak sembari menghembuskan napas kasar. Dia pun mulai menatap ke arah Rangga.


"Apa sebegitunya kamu berpura-pura? Terus memikirkan perasaan orang lain tanpa pernah memikirkan perasaan kamu." Aleena merasa tertohok dengan apa yang dikatakan oleh Rangga.


"Aku hanya tidak ingin menilaiku sebagai perempuan lemah. Aku tidak ingin menunjukkan semuanya karena aku tidak mau menunjukkan sisi lemahku. Aku pergi karena aku tidak ingin menjadi biang Keributan di rumah. Aku ingin keluargaku damai dan mungkin akulah yang harus berkorban dan pergi menjauh dari mereka." Mata Aleena mulai berkaca-kaca. Ingin rasanya Rangga memeluk tubuh Aleena. Dia tahu bagaimana perasaan Aleena sesungguhnya.


"Jangan pernah membocorkan kelemahanku kepada siapapun. Hanya kamu yang tahu akan kerapuhanku seperti apa." Aleena mencoba untuk tersenyum.


"Aku akan menuruti apa yang kamu mau, asalkan kamu mau menjawab pertamyaanku." Tanpa berpikir panjang Aleena pun mengangguk.


"Aku mencintai kamu, Aleena. Apakah kamu mau menjadi wanitaku?" Tubuh Aleena menegang mendengarnya. Aleena kira pertanyaan apa tenyata ungkapan hari Rangga.


"Jangan mau, Na!"


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2