
Sudah banyak Aleesa kehilangan kabar tentang Yansen. Semenjak bersama Restu dia seakan melupakan Yansen, tapi tidak dengan Yansen. Dia masih selalu ingat kepada Aleesa.
Laki-laki yang masih mencintai Aleesa itu kini menjadi penyanyi kafe. Suaranya yang merdu membuatnya dicintai para pelanggan yang sering berkunjung ke kafe tersebut. Bukan hanya di kafe, dia juga sering mengisi acara di event-event di dalam mall.
Perihal Aleesa yang menyusul Restu ke Zurich dia pun tahu. Dia sangat yakin jika Aleesa memang sangat mencintai Restu. Dia hanya bisa tersenyum dengan menyimpan sakit di dalam hatinya. Vonis hukuman sang kakak yang cukup lama membuatnya harus menjadi laki-laki mandiri. Kuliah sambil kerja, itulah yang dilakukan Yansen sekarang. Walaupun biaya kuliah sudah Raditya Addhitama tanggung hingga dia lulus nanti, tidak membuat Yansen leha-leha. Dia tidak ingin mengecewakan orang yang sudah berbuat baik kepadanya.
Hari ini selepas kuliah dia ada jadwal nyanyi di sebuah mall. Yansen yang terus bergegas setelah mata kuliah selesai hampir tak mengindahkan sapaan Raina dan Kemala..
"Mau ke mana?" Raina sudah membuka suara.
"Buru-buru amat." Kemala menambahkan.
"Mau kerja dulu," sahut Yansen dengan senyum manisnya.
Riana dan Kemala sudah tahu apa pekerjaan Yansen. Mereka berdua hanya bisa mendukung. Namun, perihal Aleesa masih menjadi teka-teki bagi dua perempuan itu. Mereka masih penasaran dengan Aleesa.
"Sen, Aleesa emangnya udah punya pacar lagi?" Kemala mulai mencari tahu. Aleesa terlalu banyak menyimpan misteri bagi Kemala. Banyak hal yang Aleesa tutupi dari mereka berdua. Padahal sudah dua tahun mereka menjadi teman.
"Tapi, gua denger dia udah tunangan." Raina menambahkan. "Sepulang dari Zurich Aleesa memakai cincin di jari manisnya. Juga memakai kalung berliontinkan cincin." Yansen hanya tersenyum. Padahal hatinya terasa sakit.
"Sasa berhak untuk bahagia," sahut Yansen. "Kebahagiaan Sasa bukan bersama gua melainkan dengan yang lain." Raina dan Kemala saling pandang. Mereka merasa kasihan kepada Yansen. Rumor yang beredar ternyata benar.
"Kita yang terus memaksa padahal sudah sangat jelas kita tidak bisa bersatu," tambahnya.
"Sen--"
"Gak apa-apa. Santai aja." Yansen masih bisa tersenyum ke arah dua teman Aleesa sebelum dia pergi dari kampus.
.
🎶
Hembusan angin meniup wajah alam
Mataku tak berkedip menatap langit
Terlalu luasa bertepi pandang
Disangka aku menyentuh awan
Kedatangan Aleesa dan Restu ke sebuah mall disambut suara merdu penyanyi pria. Lirik yang indah dipadukan dengan suara yang merdu membuat lagu itu semakin enak didengar.
Restu menggenggam erat tangan Aleesa, dan tidak memperbolehkan Aleesa menunjukan wajahnya. Sang kekasih harus menggunakan masker kesehatan. Begitu juga dengan Restu. Aleesa tidak ingin kekasihnya itu tebar pesona kepada wanita lain. Sama-sama posesif itulah mereka.
"Mau beli yang keluaran terbaru?" tanya Aleesa.
"Kamu mau juga?" Aleesa pun terkejut. Menawari ponsel mahal seperti menawari jajan telur gulung seribuan.
__ADS_1
"Hey, aku nanya kamu." Restu gemas dan merangkul pundak Aleesa.
"Ponsel aku juga masih baru banget," jawabnya.
"Kalau kamu mau ya beli aja. Kita samaan 'kan jadinya couple manis." Aleesa malah tertawa.
🎶
Berwaktu waktu aku mengasuh rasa
Mendengarkan jiwaku berkata kata
Tak mungkin aku abaikan kata hati
Ku harus jujur pada hatiku
Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganmu
Senyumku melepaskan kau pergi
Aleesa terdiam sejenak. Suara itu tidak asing baginya. Dia melihat ke arah bawah di mana panggung itu terlihat. Belum juga dia melihat siapa penyanyinya, rangkulan Restu membuat Aleesa menoleh dan tersenyum kepadanya.
"Cuma satu?" Restu heran.
"Buat kamu aja. Punya aku masih bagus kok. Nanti kalo aku udah bosen tinggal minta sama kamu." Aleesa berkata seraya tertawa. Restu mengusap sedikit kasar rambut sang kekasih hati. Dia menyerahkan sebuah kartu kepada Aleesa bukannya kepada kasir toko.
"PINnya tanggal lahir kamu." Aleesa terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Restu.
Setelah pembayaran selesai, Aleesa mengembalikan kartu milik Restu, tapi Restu menolak. "Itu buat kamu." Lagi-lagi Aleesa tercengang.
"Bie--"
"Itu cuma kartu buat shoping aja, Lovely. Pakailah jika kamu ingin membeli sesuatu. Jangan sungkan."
Ya Tuhan, kenapa semakin ke sini sosok Restu semakin tak disangka? Aleesa selalu dibuat terkejut akan sikapnya yang tak terduga.
Aleesa yang terus dipaksa berbelanja oleh Restu tetap tidak mau. Restu hanya menghela napas kasar dan mengikuti ke mana langkah sang kekasih melangkah.
"Bie, pulang aja, yuk." Restu pun mengangguk.
Langkah Aleesa terhenti ketika mendengar suara seseorang yang tak asing di telinganya.
"Lagu ini untuk dia ... wanita yang masih saya cintai, tapi semesta tak akan merestui."
__ADS_1
🎶
...
Kita berdua tahu DIA bukan pilihan
Tak ada jalan kita harus merelakan
Tapi mengapa ku tak bisa terima
Kehadiranmu hanya untuk menghilang
Inikah yang namanya cinta segitiga
Antara aku, kamu dan sanga maha pencipta
Tak ada yang bersalah
Tapi kita berada
Di iman yang berbeda
Namun, dalam amin yang sama.
Aleesa menoleh ke arah panggung yang tak jauh dari dirinya dan Restu. Benar feelingnya itu adalah Yansen.
"LDR yang tersulit adalah beda keyakinan. Maju tidak bisa, mundur sakit."
Restu yang ikut melihat ke arah yang dilihat Aleesa hanya bisa menghela napas kasar. Genggaman tangannya mulai mengendur dan itu membuat Aleesa tersadar.
"Bie--" Tidak ada jawaban dari Restu. Aleesa sudah merangkul lengan Restu dan menatapnya dengan penuh rasa bersalah.
"Aku akan antar kamu pulang." Rasa cemburu yang tak terkira jika dia sudah berhadapan dengan Yansen.
"Bie--" Restu masih saja terdiam. Di sepanjang perjalanan pun dia seakan membungkam mulutnya. Aleesa hanya bisa menghela napas kasar.
Tibanya di rumah Aleesa, Restu sama sekali tidak turun dari mobil. Cemburunya Restu sangatlah menyeramkan. Aleesa tidak banyak bicara. Dia pun turun dari mobil begitu saja. Jika, kondisi hati Restu sedang kacau dia tidak ingin mengajak Restu berbicara. Tidak ada manja-manjaan yang biasa mereka lakukan. Namun, Restu tetap memastikan Aleesa masuk ke dalam rumah dengan aman. Barulah dia pergi.
Restu berulang kali menghembuskan napas kasar. Dia tidak ingin cemburu, tapi hatinya seakan tidak bisa menerima jika Aleesa menatap Yansen walau sedetik saja..
"Aarrghh!"
Restu melajukan mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Dadanya bergemuruh tak karuhan. Bayang wajah Aleesa yang menatap Yansen tadi membuat hatinya semakin tak karuhan. Dia melajukan mobil kembali ke mall tadi.
"Ya, gua gak bisa tinggal diam."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...