RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 135. Berandai-andai


__ADS_3

Wajah Aleesa yang nampak berseri membuat Kemala dan juga Raina bertanya-tanya. Aleesa itu susah ditebak. Dua tahun menjadi teman Aleesa banyak yang tidak mereka ketahui tentang Aleesa.


"Happy banget sih," ujar Kemala kepada Aleesa yang baru saja datang. Sedangkan Raina tengah menelisik penampilan Aleesa. Kalung yang pernah dia lihat sudah tidak Aleesa gunakan.


"Senang salah, sedih salah. Terus gua kudu gimana?" jawab Aleesa. Raina pun tertawa.


Tidak ada yang mencurigakan hingga Kemala melihat ada cincin di jari manis Aleesa ketika mereka sedang berada di kantin. Cincin yang berbeda dari sebelumnya. Kemala langsung meraih tangan kiri Aleesa dan membuat Aleesa terkejut.


"Lu beneran udah tunangan?" Kemala bertanya tanpa basa-basi. Aleesa pun terdiam apalagi melihat tatapan penuh tanya dari Raina.


"Mereka tahu dari mana?" batinnya berkata.


Belum juga sempat menjawab, ponsel Aleesa berdering. Kedua temannya itu semakin curiga.


"Iya, Bie."


Kemala dan Raina saling tatap. Mereka masih mencuri dengar apa yang dibicarakan oleh Aleesa dengan seseorang yang ada di balik sambungan telepon. Begitu mesra dan lembut setiap kalimat yang keluar dari mulut Aleesa.


"Love you, too."


Kemala dan Raina semakin menatap Aleesa dengan tatapan tajam. Mereka benar-benar curiga. Aleesa pun menghela napas kasar. Dia mengerti apa yang diinginkan oleh media sahabatnya ini.


"Jelasin ke kita, Sa!"desak Raina.


"Ya. Gua udah tunangan." Aleena mencoba untuk jujur.


"Sama siapa?" Dua temannya itu sangat kompak. Aleesa hanya tersenyum.


"Laki-laki yang tulus menyayangi gua lah." Kemala pun berdecak kesal karena Aleesa masih bermain tebak-tebakan.


"Iya, siapa?" Raina penasaran.


"Nanti ada saatnya gua kenalin ke kalian."


"Beneran?" Kemala nampak tidak percaya. Aleesa mengangguk dengan begitu tegas.

__ADS_1


"Oke, gua tunggu waktu itu." Aleesa hanya tertawa.


Selepas kelas berakhir, panggilan dari Yansen membuatnya menghentikan langkah. Yansen sudah tersenyum ke arahnya.


"Selamat, ya." Yansen sudah mengulurkan tangan kepada Aleesa. Wanita itupun mengangguk dan menyambut uluran tangan tersebut. Dia sangat yakin kabar pertunangannya sudah sampai ke telingan Yansen. Aleesa tidak tahu jika yang bernyanyi di acara lamaran itu adalah Yansen.


"Boleh aku bicara empat mata sama kamu?" tanya Yansen. Aleesa pun mengangguk. Namun, sebelumnya dia melakukan sambungan video dengan sang kekasih untuk meminta izin. Dia tahu bagaimana tuangannya jika tengah marah.


Biasanya Restu akan sulit untuk dimintai izin apalagi ini menayngjut Yansen, tapi kali ini berbeda. Restu seakan mengizinkan dengan mudah. Tidak ada cemburu, tidak ada marah. Restu seakan sangat berubah semenjak mereka bertunangan.


"Sa, kemarin malam Kalfa datang ke rumah." Aleesa pun sedikit terkejut dengan apa yang dia dengar dari Yansen. Dia sangat yakin jika Kalfa ingin mempengaruhi Yansen.


"Benar-benar licik!" batinnya.


"Mau apa dia?" tanya Aleesa.


"Dia menyuruhku untuk mengambil kamu dari Kak Restu." Aleesa pun tersenyum tipis. Ada rasa kesal di hatinya. Ada rasa gondok di dadanya.


"Kenapa harus membawa orang lain sih? Masalahnya kan hanya sama aku dan Kak Restu. Kenapa dia harus membawa kamu dan juga yang lainnya?" Aleesa nampak geram mendengar laporan dari Yansem.


Aleesa menceritakan semuanya tanpa terkecuali. Yansen terkejut, dia tidak menyangka jika Kalfa yang dia kenal sangat berubah sekarang.


"Aku pun menolaknya, Sa. Aku sudah ikhlas kamu bersama Kak Restu, bersama orang yang kamu sayangi bersama orang yang kamu cintai. Semenjak bersama dia aku melihat kamu selalu bahagia beda halnya dengan--" Yansen tidak melanjutkan. Aleesa pun ikut terdiam.


"Maaf," ucapnya penuh sesal.


"Hubungan kita adalah hubungan yang salah. Kita terus memaksa walaupun kita tahu kita tidak akan pernah bisa bersama." Aleesa melanjutkan ucapan yang terjeda dari mulut Yansen


"Ya, kamu benar. Kita terlalu egois hingga kita mengesampingkan Tuhan. Padahal Tuhan tidak boleh dijadikan pilihan."


Aleesa pun mengangguk setuju dengan ucapan dari Yansen.. Hubungannya bersama Yansen adalah hubungan yang salah dari awal, berakhir dengan kesakitan pun itu sudah wajar karena mereka mencoba mempertaruhkan Tuhan di dalam hubungan mereka yang tidak benar itu.


"Kita dipertemukan bukan untuk disatukan. Kita hanya disuruh untuk saling menghargai sebuah perbedaan." Yansen tersenyum mendengarnya. Semakin ke sini pola pikir Aleesa semakin dewasa. Dia sangat bangga. Sudah pasti itu ada peranan penting dari Restu.


"Bahagia terus ya, Sa." Yansen berbicara dengan sangat tulus.

__ADS_1


"Kamu juga." Yansen menyunggingkan senyum sambil menganggukkan kepala. Meja di mana mereka berada pun sunyi. Mereka berdua terlihat sangat canggung seperti tidak pernah bertemu bertahun-tahun.


"Andaikan aku pergi jauh dan tidak akan pernah kembali. Apakah kamu akan sedih?" Pertanyaan yang membuat Aleesa menegakkan kepala dan menatap tajam dan penuh tanya ke arah Yanse. Dahinya pun mengkerut. Kedua alisnya menukik. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Yansen.


"Kenapa berandai-andai? Emangnya kamu mau ke mana?" tanya Aleesa. Mata Aleesa masih tertuju pada Yansen yang masih menyunggingkan senyum


"Ya sekali-kali boleh kan. Aku hanya ingin tahu jawaban dari kamu. Dari sahabat sedari kecilku."


Aleesa menarik nafas panjang sebelum dia menjawab. Dia meletakkan kedua Tangannya di atas meja. Menatap Yansen dengan begitu dalam.


"Bohong jika aku tidak sedih. Bohong jika aku tidak merindukan kamu Kamu adalah sahabatku sedari 15 tahun dan hampir 16 tahun yang lalu. Kita bersahabat sangat lama, apakah mungkin aku tidak akan sedih? Apakah mungkin aku akan menerima kepergian kamu dengan mudah? Tentu tidak akan, Sen." Aleena berbicara sebagai seorang sahabat.


"Jika, itu terjadi. Bolehkah aku minta sesuatu kepada kamu?" Perkataan Yansen semakin ngawur untuk Aleesa.


"Udahlah, Sen. Jangan berandai-andai terus. Aku tuh nggak suka. Hidup kita itu di dunia nyata," tutur Aleesa.


"Ya nggak apa-apa. Berandai-andai kan gratis." Yansen masih menunjukkan senyumnya.


Lagi-lagi Aleesa menghela napas berat. Ucapan Yansen kali ini sangatlah aneh.


"Ya udah, intinya aku boleh minta sesuatu nggak sama kamu. Anggaplah ini permintaan terakhir dari aku. Aku janji aku nggak akan pernah meminta sesuatu lagi sama kamu."


"Apa?" Walaupun malas akhirnya Aleesa mau mengabulkan juga


"Jangan buang air mata kamu ketika aku pergi. Jangan buang waktu kamu untuk menangisiku ketika aku tak kembaki. Aku ingin kamu tetap tersenyum, tetap bahagia bersama orang-orang yang tulus menyayangi kamu."


"Kok aku merasa ucapan itu seperti--"


"Itu hanya permintaan dari aku yang terakhir. Aku juga tidak akan pernah meminta lagi kepada kami. Aku tidak akan mengganggu kamu lagi, dan aku yakin kamu akan bahagia dengan pasangan yang direstui oleh keluarga besar kamu. Aleesa lun tersenyum.


"Restuku, untukmu Aleesa. Kak Restu Untukmu Sasa."


...***To Be Continue***...


Komen atuh ...

__ADS_1


__ADS_2