RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 196. Mengancam


__ADS_3

Yang gak suka cerita bertele-tele jangan baca karya penulis yang setiap bulannya ngejar jumlah kata. Lebih baik skip atau tinggalkan dan jangan komen yang mengenakkan.


Maaf ya salah teknis lagi, padahal revisi kapan terbit kapan. Alhasil bab sebelumnya seperti itu. Kenapa? Alasannya ada di pengumuman cerita Om Ipang.


Yang belum baca bab sebelumnya yuk baca dulu biar nyambung.


...----------------...


"Lakukan saja!"


"Gak usah sok-sokan!"


Bentakan dari belakang membuat Satria menyunggingkan senyum smirk. Kalfa sudah ada di belakang Restu.


"Lu bukan malaikat!" Mulut Kalfa sudah bersuara.


Restu tidak gentar, dia malah bersikap santai. Begitu juga dengan Rio yang seakan menikmati tontonan yang seru ini.


"Susah emang jika nyali preman udah mendarah daging mah," tukas Satria dengan sangat kejam.


"Cukup, Om!" Radit sudah berteriak cukup keras. Dia sudah tidak tahan dengan kelakuan dari pamannya itu.

__ADS_1


"Om mau menjatuhkan mental Aleena dan Aleeya, iya?" Sergahan Radit membuat Satria tersenyum tipis.


"Apa sih salah mereka? Kenapa Om sangat membenci mereka?" Radit menekan setiap ucapannya.


"Karena mereka tidak seperti Aleeya!" Satria menjawab dengan sangat tegas.


Dari perkataan Satria hati Aleena merasa sangat sakit. Dia tahu sedang dibandingkan. Dia tahu dia terlalu lembut beda dengan Aleeya yang kuat. Sikap itulah yang membuat Satria menganggap Aleena adalah wanita lemah yang tidak akan bisa melindungi Kalfa. Terbalik, Satria meminta wanita untuk melindungi putranya.


"Eleh, kami emang dilahirkan dari rahim yang sama dan di waktu yang hampir bersamaan pula, tapi watak kami pasti berbeda. Jangan disama ratakan wahai OPA SATRIA." Aleesa menekan setiap ucapannya.


"Sama halnya dengan Opa Satria dan juga Opa Addhitama. Kalian berdua lahir dari rahim yang sama, tapi memiliki watak yang berbeda. Opa Addhitama adalah malaikat, dan Opa Satria adalah iblis jahat."


Sangat menusuk sekali ucapan dari Aleesa. Ucapan yang sangat sadis itu membuat Satria mengepalkan tangannya dengan sangat erat. Dia pun sudah mulai mendekat. Bukannya takut Aleesa malah menantang pria tua itu. Tangannya sudah melayang ke udara dan dengan kerasnya Restu mencengkeram pergelangan tangan Satria dan memelintirnya hingga Satria kesakitan. Aleesa malah tersenyum penuh kemenangan.


"Kalfa!" Aleeya berteriak. Namun, tatapan kedua orang tuanya yang sangat tajam membuat Aleeya mengurungkan niatnya untuk membantu Kalfa yang terlihat kesakitan.


"Fa," panggil Satria. Kalfa pun tersenyum licik. Dia memperlihatkan apa yang dilakukan oleh Restu kepada Satria. Semua orang pun melebarkan mata mengetahui Satria menjebak Restu.


Radit dan Echa menggelengkan kepala kepada Restu menandakan sudahi dan itu adalah bahaya. Namun, Restu malah memeilintir tangan Satria hingga terdengar suara dan Satria pun menjerit keras. Sudah dipastikan tangan Satria patah. Sedangkan Restu yang mendengar suara tulang Satria malah tertawa renyah.


"Kan sudah istri saya peringatkan, jangan cari lawan yang salah."

__ADS_1


Satria dilarikan ke rumah sakit oleh Kalfa tanpa mendapat bantuan dari Radit maupun Echa. Mereka berdua sudah sangat muak hingga mengabaikan Satria begitu saja.


Sedangkan Aleeya, sorot matanya sudah memohon kepada sang ibu dan ayah. Namun, mereka hanya terdiam. Khairan, sedari tadi wajahnya nampak cemas dan terus tertuju pada Aleena. Dia baru tahu ternyata pria paruh baya itu adalah ayah dari Kalfa.


Restu sudah merangkul mesra pundak Aleesa dan mengusapnya pelan. "Jangan dengarkan omongan orang tua tadi," tutur Restu. Aleesa menggeleng, tapi wajahnya menampakkan kecemasan yang luar biasa.


"Bagaimana dengan kamu, Bie?" Mata Aleesa sudah berair.


"Kenapa dengan aku?"


"Aku tahu mereka berdua sangat licik." Radit dan Echa setuju dengan ucapan Aleesa. Respon Restu hanya tersenyum kecil.


"Video itu pasti akan mereka sebar. Itu bisa merusak citra kamu di mata para petinggi Zenth Corporation. Juga bisa mengancam Zenth Corporation." Radit menakutkan hal itu. Namun, Restu tak merespon hingga sang ibu mertua menegurnya.


"Res--"


"Aku akan baik-baik saja. Jadi, jangan khawatirkan aku."


"Tapi--"


"Maaf, aku tidak bisa berbicara banyak karena aku tidak yakin orang-orang di sini bisa menjaga rahasia dengan aman." Restu melirik tajam ke arah Aleeya.

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2