
Yansen yang mengikuti Aleesa malah kehilangan jejak. Dia melihat Aleesa keluar, tapi ketika dia tiba diparkiran Aleesa sudah tidak ada di sana.
"Ke mana my Sasa?"
Restu yang memang sudah tahu perihal Yansen yang membuntuti Aleesa, sengaja mengganti pakaiannya dan langsung menculik Aleesa. Dia tidak ingin Yansen mendekati kekasihnya. Dia ingin menjadi orang yang egois saat ini.
Liptint yang Aleesa gunakan pun habis tak tersisa. Kini, bibir Aleesa berwarna merah muda alami.
Tangan Aleesa masih melingkar di pinggang Restu. Begitu juga dengan tangan Restu yang memeluk erat tubuh Aleesa.
"Kamu jahat," ucap lemah Aleesa. Sejatinya, dia sudah kehilangan banyak napas karena ulah sang kekasih yang terus menyesap bibirnya tanpa ampun.
"Bukan jahat, tapi surprise." Aleesa hanya tersenyum. Tak hentinya Restu mengecup ujung kepala Aleesa.
Mereka saling berpelukan, dan juga berciuman dengan sangat puas di dalam mobil selama seminar berlangsung.
Aleesa sudah menatap wajah Restu. Dia mengusap lembut bibir sang tunangan dan membuat Restu menatap ke arahnya lagi.
"Mau lagi?" Aleesa hanya tersenyum dan kini membenamkan wajahnya di dada bidang Restu.
"Senang gak?" Aleesa hanya mengangguk. "Aku gak ingin jauh dari kamu, Sa."
"Aku juga."
Bagi Aleesa Restu adalah obat penawar untuk sakitnya. Baik itu sakit secara fisik maupun secara psikis.
"Aku antar kamu pulang, ya." Aleesa terkejut ketika mendengar ucapan Restu. Padahal seminar selesai setengah jam lagi.
"Tapi--"
"Aku gak akan membiarkan kamu di sini terlalu lama. Aku tidak ingin melihat kamu diperhatikan terus menerus oleh seseorang." Dahi Aleesa mengkerut. Dia tidak mengerti dengan apa yang Restu katakan. Restu menunjuk ke arah luar dan Aleesa hanya bisa menghela napas kasar ketika Yansen berdiri di parkiran dengan mata yang mencari seseorang.
"Bie--"
"Tidak ada toleransi untuk hal ini." Restu sudah keluar dari mobil dan menutup pintu dengan sangat kencang hingga Aleesa terlonjak. Sebelumnya, Restu memakai maskernya kembali agar orang yang tengah mencari Aleesa tidak curiga.
"Kebiasaan!!" Aleesa pun mengomel.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Aleesa yang asyik memainkan ponsel terkejut ketika mobil berhenti mendadak.
__ADS_1
"Pindah!" Perintah yang tidak bisa dibantah.
"Enggak. Kamunya aja galak. Gak ada manis-manisnya. Kalah sama air mineral botolan."
Kembali seperti Tom dan Jerry. Pada akhirnya, Restu keluar dari mobil dan menarik paksa kekasihnya untuk duduk di kursi penumpang depan. Aleesa tidak bisa melawan ketika Restu mengangkat tubuhnya dan memasukannya ke kursi penumpang depan. Aleesa hanya merengutkan wajahnya.
"Jangan ada drama lagi," tukas Restu.
Mobil pun kembali melaju dan sedari tadi wajah Aleesa ditekuk sedemikan rupa. Restu asyik mengulum senyum.
"Jelek tahu manyun begitu," goda Restu. Tangannya sudah mengusap lembut rambut Aleesa.
"Biarin!"
Restu tertawa dan semakin gemas mengusap lembut rambut Aleesa. Tidak Restu sangka tangannya yang ada di kepala Aleesa digenggam oleh Aleesa.
Tibanya di rumah Aleesa, Restu mengantar Aleesa hingga masuk ke dalam. Echa terkejut dengan kehadiran Restu.
"Ya ampun." Restu tersenyum dan mencium tangan sang calon mertua. "Kenapa kemarin gak bareng aja?"
"Aku hanya sedang ada tugas di sini, Tan." Echa mengangguk dan menyuruh Restu untuk duduk walau sebentar. Namun, Restu menolak dan berpamitan kepada Echa.
"Kalau tugasku selesai lebih awal, aku akan datang lagi ke sini." Tetap saja wajah Aleesa belum berubah.
"Hei!" panggil Restu. Aleesa memeluk tubuh Restu dan membuat Echa menggelengkan kepala.
"Jangan lama-lama melepas rindunya," kata Echa yang kini sudah mulai menjauhi dua anak manusia yang tengah jatuh cinta.
"Aku masih merindukan kamu." Restu pun tersenyum.
"Aku juga." Dia mengusap lembut punggung Aleesa. "Aku janji, aku akan menemui kamu lagi setelah tugasku selesai."
.
Madam Zenith harus berbincang dengan pihak kampusnya dulu di mana dia menimba ilmu. Hanya Gemke yang mengawal madam Zenith. Sedangkan Restu menunggu di dalam mobil. Bukan tanpa alasan, banyak mata yang tengah mengincar madam Zenith.
Mata Restu memicing ketika melihat kekasih sungguhan Aleesa digandeng oleh perempuan lain. Restu hanya tersenyum tipis.
"Bodoh!" ejeknya di dalam mobil.
__ADS_1
Satu jam kemudian, madam Zenith baru keluar dan di sampingnya ada Gemke. Restu segera menyalakan mesin mobil dan menuju tempat kedua, yakni sebuah pemakaman elite yang ingin madam Zenith datangi.
"Kamu tahu 'kan di mana tempatnya?" Mr. R pun mengangguk. Pemakaman itu adalah pemakaman kakek Addhitama dan juga Engkong Rion Juanda. Juga, kakek kandungnya, Wiratama.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Restu harus berhati-hati karena sedari tadi ada mobil yang terus mengikutinya. Restu hanya berdecih dalam hati.
Tibanya di pemakaman elite khusus orang berduit, Restu memilih untuk tinggal di dalam mobil. Dia tidak ingin musuhnya malah menyerang madam Zenith. Dia hanya memberikan kode kepada Gemke. Anak buahnya itupun mengangguk mengerti.
Restu menghela napas kasar. Dia tidak habis pikir kenapa dia masih menjadi incaran orang suruhan ayah kandungnya. Padahal, dia sama sekali tidak menginginkan harta kakeknya. Dia kerja menjadi pengawal pun karena dia ingin mendapat pundi-pundi besar dan ingin membangun sebuah perusahaan ke depannya. Dia juga tidak ingin terus-terusan menjadi bodyguard. Kalimat yang Aleesa ucapkan membuat hatinya tersentil.
"Apa semurah itu nyawamu? Kamu mampu menjaga nyawa orang lain, tapi tidak mampu menjaga nyawamu sendiri."
"Setelah kita menikah, aku akan mengakhiri pekerjaan ini. Aku janji," gumamnya.
Ketukan di kaca jendela mobil membuat Restu menoleh dan sudah ada seseorang yang menatapnya dengan tajam. Restu pun berdecak kesal. Tanpa rasa takut dia membuka pintu mobil, dan serangan pun dia terima. Namun, bukan Restu jika dia kalah begitu saja. Tangannya sudah menghajar wajah orang suruhan ayahnya dengan membabi-buta.
"Tanya kepada si tua Bangka penghuni neraka mau dia apalagi?" Suara Restu sudah sangat geram. Untungnya tempat itu sepi. Sengaja Restu memarkirkan mobil di tempat yang sepi.
"Dia ingin kamu mati!"
Tubuh Restu menegang ketika sebuah peluru mengenai bagian punggungnya bagian kanan. Suara senjata api membuat Gemke yang tengah memayungi madam menghentikan langkahnya.
"Mr. R!"
Madam Zenith pun terkejut. Gemke meninggalkan madam Zenith begitu saja dan berlari menuju mobil yang diparkirkan Restu di area parkir yang cukup jauh dari sana.
.
Gelas yang dipegang oleh Aleesa tiba-tiba terjatuh dan pecah berkeping-keping. Tubuh Aleesa menegang. Matanya tiba-tiba nanar. Sang ibu yang menegurnya tidak dapat Aleesa dengar.
"Bie." Air matanya meleleh begitu saja.
"Sa--"
"Kak Restu, Bu." Aleesa sudah histeris. "Kak Restu!"
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1