
Potongan undercut membuat Restu semakin gagah dan sangar. Gemke pun memuji potongan rambut baru dari bosnya itu. Melihat istrinya yang sangat bahagia seperti itu membuat Restu ikut melengkungkan senyum lebar.
Tibanya di rumah besar, semua orang yang bekerja di sana seperti melihat Restu ketika pertama kali bekerja di sana.
"Sekarang lebih tampan dan sangat berwibawa."
Begitulah pujian untuk Restu dari mereka yang bekerja di rumah Zenith Andrea.
Aleesa dan Restu terus melangkahkan kakinya. Mereka bisa beristirahat karena sang putra tertidur dengan begitu nyenyak. Tak mengalami jet lag.
Restu sudah memeluk tubuh Aleesa dari belakang yang sudah memakai dress tidur. Tangannya sudah berada di depan perut Aleesa yang sedikit membukit.
"Boleh gak Papi tengokin dedek utunnya!?"
Selama empat bulan ini Restu jarang sekali menyentuh Aleesa itu dikarenakan mual Aleesa yang sangat parah jika dekat dengannya.
"Sebentar aja, ya. Jangan kasar-kasar."
Ingin rasanya Restu berteriak sangat keras ketika mendapat persetujuan dari istrinya. Tanpa banyak bicara dia langsung menggendong istrinya dan melakukan apa yang seharusnya istrinya lakukan. Namun, sesuai dengan keinginan istrinya yang menginginkan tidak lama dan juga tidak kasar.
__ADS_1
Setelah semburan bisa panas, tubuhnya pun terkulai lemas. Aleesa sudah tak bisa berkutik lagi. Dia sudah tertidur. Restu tersenyum dan tak lupa mencium kening Aleesa.
"Sehat terus ya di dalam sana."
Tangan Restu mengusap lembut perut Aleesa yang tak tertutup sehelai benang pun. Dia nampak sangat bahagia dan mulai memeluk tubuh istrinya untuk memejamkan mata. Baru Lima menit menutup mata, suara ketukan pintu terdengar dan tangisan sang putra membuat Restu segera membuka mata dengan cepat.
Perlahan dia turun dari tempat tidur dengan hati-hati. Restu membuka pintu kamar dan benar sang putra sudah menangis kejar.
"Kenapa, Bang?"
Restu langsung mengambil Abang Er dari tangan Aleena. Sang kakak ipar menjelaskan jika ketika bangun tadi dia langsung menangis. Diberi susu pun tidak mau.
Tangis anak itu sedikit reda. Restu pun berterima kasih kepada Aleena dan membawa Abang Er masuk ke kamarnya.
"Jangan nangis, ya. Kasihan Mami."
Anak itu langsung terdiam ketika mendengar perintah dari sang putra. Restu pun mengajak Abang Er bermain hingga anak itu anteng. Sesekali Restu menguap karena kantuk yang menyerang. Namun, tak sedikit pun dia memejamkan mata.
"Kapan kamu tidurnya, Bang?"
__ADS_1
Restu masih berkata sangat lembut sambil mengusap lembut rambut sang putra. Abang Erzan malah terdiam dan mulai fokus mengejan. Itu membuat Restu tertawa.
"Ya Tuhan, tengah malam begini dapat doorprize." Restu malah terkekeh.
Aleesa sama sekali tak terbangun karena kamar utama di rumah besar itu sangat luas. Jadi, mereka bisa bermain di jarak yang jauh dari tempat tidur. Restu terus memperhatikan sang putra yang tengah khusyuk mengeluarkan emas murni. Aroma menyengat pun sudah tercium.
"Ya ampun, Bang." Lagi-lagi dia terkekeh.
Abang Er akan menangis jika sudah mengeluarkan emas murni. Itu menandakan dia sudah tidak betah dan ingin dibersihkan. Restu langsung membawa Abang Er ke kamar mandi. Baru saja dibuka pampersnya, Restu langsung mual karena melihat emas murni itu cair. Abang Er dia terbengong. Apalagi Sang ayah terus uwak uwek.
Aleesa merasa terganggu dengan suara itu. Dia membuka mata dan sang suami sudah tak ada di sana. Dia melihat pintu kamar mandi sudah terbuka. Dia pun langsung menuju kamar mandi dan tubuhnya menegang ketika sang putra tersenyum ke arahnya dan menunjuk ke arah dada Aleesa.
"Mimi, En Nhen."
Sontak Restu yang mual langsung menoleh ke arah sang istri dan melebarkan mata. Aleesa bergegas kembali ke tempat tidur dan memakai bajunya.
"Gob Lok banget sih. Anak mata gua tercemar ini."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...