RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
211. Merasa Nyaman


__ADS_3

Satria tersenyum ketika mendengar itu semua. Dia berbalik menatap ke arah Rindra.


"Silahkan kamu cari tahu," tantangnya. "Semua barang bukti sudah saya lenyakan." Tawa Satria pun menggema.


.


Kepulangan Restu tanpa sepengetahuan siapapun. Orang suruhan ayahnya pun tidak bisa melacak dirinya. Ini dia lakukan dengan sengaja.


Di bandara, tangan Restu tak pernah sedikitpun melepaskan Aleesa. Tangannya terus bertaut. Mereka bertiga memilih untuk makan siang di bandara terlebih dahulu karena penerbangan mereka masih lama.


Rio menyerahkan iPad kepada Restu di saat makanan belum datang. Namun, Aleesa segera meraihnya dan meletakkan iPad tersebut di atas meja di depannya dengan posisi terbalik.


"Bisa gak sih simpen dulu pekerjaannya." Aleesa mulai geram. Rio dan Restu pun saling pandang. Apalagi wajah Aleesa yang sudah ditekuk sedemikan rupa.


"Maaf, Lovely." Restu meraih tangan Aleesa dan menariknya ke dalam pelukan.


"Kerja ada waktu dan tempatnya. Istri kamu juga butuh diperhatiin." Restu mencium ujung kepala Aleesa dengan begitu lembut dan mengucapkan kata maaf untuk kesekian kalinya. Selama di Zurich dia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Pulang malam dan langsung menyerang istrinya hingga tengah malam. Jarang ada obrolan di antara mereka berdua.


Rio tidak bisa marah karena dia melihat bertapa tulusnya Restu kepada Aleesa. Sikap Restu berubah melemah jika bersama Aleesa. Sepupunya itu bagai pawang untuk kakak angkatnya.


Rio sudah terbiasa dengan sikap Aleesa dan juga Restu. Dunia seakan milik mereka berdua. Apalagi Restu yang tak segan mencium bibir Aleesa di depan dirinya yang masih jomblo. Ingin rasanya dia memaki Restu, tapi dia sadar diri sekarang dia tengah berasa di negara yang bebas. Tidak seperti di negara asalnya


Di dalam pesawat, Restu menerima e-mail genting. Dia meminta ijin terlebih dahulu kepada Aleesa untuk membukanya. Aleesa pun mengangguk.


Di negara yang berbeda, sudah dua hari Aleeya tak keluar kamar. Echa maupun Radit terus membujuk sang putri, tapi Aleeya masih bergeming.


"Dimanfaatkan hanya karena sebuah perusahaan," lirih Aleeya untuk kesekian kalinya. Hatinya teramat sakit. Dia benar-benar kecewa dan marah.


Berkali-kali Kalfa menghubunginya, tapi tak sama sekali Aleeya jawab. Hatinya sudah terlanjur kecewa. Bohong jika Kalfa tidak tahu tentang tujuan awal ayahnya perihal kedekatannya dengan dirinya.


Aleena sengaja tak mendekat. Dia tidak ingin disalahkan untuk kesekian kalinya oleh adiknya. Aleena memilih untuk berkemas karena dia ingin kembali Sydney untuk menenangkan hati dan pikirannya.


"Tidak ada lagi alasan untukku mengharapkanmu. Aku harus melupakan kamu dan kembali menatap awan biru yang siapa tahu di sana ada jodohku."


Aleena bergumam dengan pikiran yang melayang. Bayang wajah pemuda tampan dengan senyum menawan sudah terus menari di kepalanya. Hingga suara ketukan pintu terdengar dan membuyarkan lamunan.

__ADS_1


"Aku boleh gak temui Aleeya."


Pemuda yang mengetuk pintu itu bertanya kepada Aleena. Dia sebenarnya bisa saja mengetuk pintu kamar Aleeya, tapi dia harus meminta ijin kepada Aleena agar Aleena tidak salah paham.


"Temui aja. Gak ada yang larang."


"Jangan marah dong, Na. 'Kan aku cuma mau nemeuin adik ipar aku."


Aleena menatap malas ke arah Khairan dan menutup pintu kamarnya kembali. Itu membuat Khairan terkejut.


"Juteknya gak ilang-ilang," gumam Khairan dengan nada kesal.


Khairan mengetuk pintu kamar Aleeya. Dia merasa kasihan kepada Aleeya yang selalu dimanfaatkan oleh Kalfa dan ayahnya. Saking cintanya kepada Kalfa akhirnya mata Aleeya benar-benar buta.


Tak ada jawaban dari dalam sana. Namun, Khairan tak menyerah begitu saja. Dia terus mengetuk pintu hingga sang pemilik kamar membukakan pintunya. Senyum manis Khairan berikan kepada Aleeya yang berwajah sembab.


"Boleh gua masuk gak?" Aleeya tak menjawab. Dia meninggalkan Khairan dengan membuka pintu. Khairan pun masuk ke dalam kamar Aleeya tanpa menutup pintu. Dia tidak ingin timbul fitnah nantinya.


"Gua tahu lu kecewa," ujar Khairan. "Gua juga tahu lu pasti marah dengan kenyataan yang ada."


Aleeya terdiam. Dia berdiri di depan kaca jendela dengan tangan yang diipat di depan dada.


Kata Khairan membuat Aleeya tersenyum tipis. Dia ingin menyahuti, tapi mulutnya sangat kelu. Aleeya hanya bisa membuang napas kasar.


"Jangan siksa diri lu dengan kaya gini," tambah Khairan. "Belum tentu dia merasakan hal yang sama dengan apa yang lu rasakan. Bisa sebaliknya 'kan, dia malah senang liat lu begini."


Perlahan Aleeya membalikkan tubuhnya. Dia menatap ke arah Khairan yang berwajah cemas. Tidak ada kepalsuan yang wajah Khairan tunjukkan. Dia begitu tulus mengatakan itu semua


"Walaupun kenyataan ini menyakitkan, tapi lebih baik lu tahu dari sekarang. Daripada lu tahu belakangan itu akan lebih menyakitkan."


Aleeya pun tersenyum mendengarnya. Dia meraskan ketulusan yang luar biasa atas ucapan Khairan kepadanya.


"Lu boleh kok nangis, biasanya hati akan merasa lebih baik jika air mata sudah keluar."


Mata Aleeya berkaca-kaca mendengarnya. Matanya mulai berembun dengan tatapan masih pada tertuju pada Khairan.

__ADS_1


"Kalau lu butuh pundak untuk bersandar, pakailah!" Khairan menepuk pundaknya.


Aleeya malah menunduk dalam dengan tubuh yang bergetar. Khairan menghela napas kasar. Dia pun mulai mendekat karena merasa kasihan dan tidak tega.


"Menangislah di pundak gua agar lu tahu bahwa masih ada tempat bersandar di saat lu terputuk." Khairan memajukan kepala Aleeya dengan begitu lembut hingga membentur pundakanya. Terdengarlah suara tangis lirih di sana.


"Tumpahin semuanya. Terus lupakan rasa sakit dan kecewa. Gantilah dengan rasa bahagia yang baru."


Tangis Aleeya semakin keras. Refleks tangan Khairan memeluk tubuh Aleeya. Mengusap lembut punggung adik dari Aleena itu.


"Bukan hanya gua yang ada untuk lu. Semua keluarga lu akan selalu ada untuk lu. Jadi, cukupkan bodoh lu. Jadilah perempuan pintar dan jangan mau dibohongi oleh laki-laki jahanam macam dia."


Tak ada jawaban dari Aleeya. Tangannya kini malah melingkar di pinggang Khairan. Mereka berdua saling berpelukan. Tanpa mereka ketahui ada kedua orang tua Aleeya yang berada di ambang pintu melihat apa yang Aleeya dan Khairan lakukan.


Radit merangkul pundak Echa dan menatapnya dengan lembut. Bibirnya pun melengkungkan senyum.


"Aleeya tidak akan sedekat itu jika dia tidak merasa nyaman."


Echa hanya terdiam. Dia masih menatap ke arah sang putri yang memeluk erat tubuh Khairan, anak dari Khrisna Soediatmadja yang tak lain adalah anak dari teman sang mertua, mendiang Addhitama.


"Khai anak baik. Dia sudah biasa menghadapi perempuan yang kacau seperti Aleeya dan Aleena."


Echa mengerutkan dahi. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sang suami.


"Nanti Bubu akan tahu."


.


"Kamu sudah membuang semua barang bukti 'kan." Satria menanyakan kembali untuk meyakinkan. Anak buah dari Satria pun mengangguk tegas.


"Bagus," ucapnya.


Namun, di lain tempat ada seseorang yang tertawa mengejek. Dia menyerahkan kembali iPad ke tangan adiknya.


"Akan ada kejutan ketika gua muncul ke publik. Kejutan itu bisa menyebabkan kematian."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2