RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
bab 184. Gara-Gara Mie Instan


__ADS_3

Di kediaman Radit dan Echa ada dua orang yang sedari tadi berseteru. Siapa lagi jika bukan Khairan dan juga Aleeya. Khairan terus merengek bagai anak kecil.


"Cepetan bikinin. Itu kayaknya enak." Khairan masih merengek tak henti.


"Bikin sendiri!" Aleeeya sudah membawa mie instan komplit yang dia buat untuk dirinya sendiri. Namun, Khairan terus merengek ingin memakan apa yang Aleeya buat. Padahal, tinggal masak sendiri. Mie instan ada, pelengkapnya juga ada, tapi anak itu malah teru membuntuti dirinya


"Please, bikinin."


"Enggak." Aleeya mulai meniupi mie instan kuah yang masih mengepulkan asap. Kini, dia sudah berada di ruang keluarga. Aroma mie rebus sangat enak. Khairan benar-benar ingin memakannya.


"Atuhlah!" Lagi-lagi Khairan merengek. Kini, dia malah duduk di samping Aleeya, melihat Aleeya makan mie rebus sambil menelan ludah. Melihat Aleeya makan mie tersebut terasa sangat enak dan menggugah selera.


"Ih, sana!"


"Gak mau!" Khairan menolak. "Kalau gak dibikinin gua gak akan pergi dari sisi lu."


"Etdah!"


Aleeya membiarkannya saja. Dia juga tidak memperbolehkan Khairan menyicipi mie instan buatannya.


"Enak banget sumpah!" goda Aleeya. Terlihat Khairan menelan ludah melihat Aleeya.


"Ya udah, gua minta dikit deh." Khairan yang menyerah. Akan tetapi, Aleeya bukan orang yang murah hati. Dia tidak mau berbagi.


"Gak boleh!"


Aleena baru keluar dari kamar dan menuju ruang keluarga di mana ada suara bising di sana.


"Dikit aja!" Khairan sedikit memaksa.


"Enggak!"


"Khai!"


Suara Aleena membuat Khairan terkejut. Dia menatap takut ke arah Aleena. Apalagi tatapan tajam dari Aleena membuat Khairan menunduk dalam. Dia seperti anak kecil yang ketahuan makan es krim ketika pilek.


"Urusin nih teman Kakak. Gangguin Adek makan mie rebus aja." Aleeya mengadu. Mata Aleena kini berubah sangat tajam.


"Aku gak makan, Na. Sumpah!" Khairan sampai mengangkat dua jarinya. Aleeya mengerutkan dahi mendengar ucapan dari Khairan yang terdengar ketakutan. Apalagi melihat kakaknya yang tak biasa melarang orang lain makan mie instan.


"Aku bilangin Papih kamu loh kalau bandel." Khairan menggeleng bagai anak kecil. Lalu, dia beranjak dari tempat di mana Aleeya berada.


Aleeya tidak mengerti dengan Khairan. Ketika dia dengannya dia kekeh ingin mie instan, tapi ketika kakaknya datang Khairan seperti orang ketakutan. Aleeya memperhatikan Khairan yang sudah pergi dari ruang keluarga. Terlihat dia pergi ke halaman samping. Raut wajah kecewanya sangat kentara.


"Bubu sama Baba ke mana?" Pertanyaan sang kakak membangunkan lamunannya.


"Enggak tahu. Tadi kata Mbak mah pagi-pagi banget Bubu sama Baba pergi. Gak lama Kak Sasa sama Kak Restu pergi juga." Aleena mengangguk dan meninggalkan Aleeya sendirian di ruang keluarga.


Anak ketiga Radit tengah memikirkan Khairan dan mie instan. Tadi terlihat jelas Khairan menginginkan mie instan. Semenjak Aleena datang, Khairan malah pergi.


"Tau ah!" Aleeya melanjutkan makannya.


Selesai makan, dia mengambil minuman teh dingin yang selalu tersedia di lemari pendingin. Dia mencari Khairan yang sedari tadi tak bersuara. Ternyata dia tengah duduk di bawah pohon mangga sambil bersandar di batang pohon yang besar. Aleeya melihat ke arah tangannya yang memegang minuman dingin. Dia kembali lagi ke dapur dan mengambil minuman dingin lagi. Membawanya menuju pohon mangga yang rindang.


"Nih!"


Khairan yang tengah melamun terkejut dengan adanya botol teh dingin. Dia mendongak sedikit ternyata Aleeya yang memberinya minuman dingin.


"Makasih." Aleeya tersnyum. Dia hendak duduk di rerumputan itu. Namun, dilarang sejenak oleh Khairan.


"Pake ini!" Dia menyerahkan sandal yang dia gunakan untuk menjadi alas duduk Aleeya.


"Rumputnya kotor."


Aleeya pun meraihnya. Dia menduduki sandal Khairan. Matanya terus memperhatikan Khairan.


"Lu kenapa begitu takut sama kakak gua?" Khairan menoleh dengan mengerutkan dahi. Menandakan dia kurang mengerti.


"Tadi, pas gua bilang lu pengen mie." Khairan tersnyum kecil.


"Seumur hidup, gua belum pernah makan yang namanya mie instan."


"Apa?" Aleeya sangat terkejut. Khairan hanya tertawa.


"Lu gak mampu beli?" Khairan Malah tergelak.


"Kakak gua, dia pecinta mie banget. Setiap hari makannya mie dan jarang banget makan nasi. Sampai akhirnya Kakak gua terkena penyakit hati kronis dan bak bisa diselamatkan. Dari situlah, gua dilarang makan mie instan sama bokap gua."


"Lu 'kan bisa nyoba sembunyi-sembunyi." Khairan menggeleng.

__ADS_1


"Gua takut apa yang menimpa kakak gua terjadi sama gua. Gua masih ingin mengurus nyokap gua."


"Kalau gak keserigan mah gak apa-apa." Aleeya mulai menjelaskan. "Gua ini calon dokter. Jadi, sedikit banyak gua tahu bahaya mie instan."


"Lu calon dokter juga?" Aleeya mengangguk. Khairan malah tersenyum.


"Gua juga calon dokter." Akhirnya Aleeya mendapat teman satu frekuensi dengannya. Banyak hak yang mereka bicarakan tentang kesehatan. Ada juga gelak tawa di antara mereka berdua hingga Aleeya mulai berani memukul Khairan.


Aleena yang melihat mereka dari balik pintu kaca hanya tersenyum. "Kalian adalah dua manusia ceria."


"Lu penasaran 'kan sama mie instan?" Khairan mengangguk. "Nanti malam gua ajak lu makan mie instan komplit dan enak."


"Tapi--"


"Gua gak akan bilang sama Kakak Na." Aleeya sudah menunjukkan jari kelingkingnya dan itu membuat Khairan tersnyum.


"Janji, ya." Khairan sudah menautkan jari kelingking ke jari kelingking Aleeya.


"Iya."


"Ciye ciye!"


Suara seorang anak laki-laki membuat Aleeya dan Khairan menoleh, tapi dengan jari kelingking yang masih bertaut.


"Pacaran nih, ye," godnya lagi. Alis keduanya menukik dengan tajam. Anak itupun menunjuk dengan bibirnya ke arah kelingking mereka berdua. Aleeya dan Khairan terkejut dan sontak melepaskan pagutan jari kelingking mereka. Apang malah tertawa sangat puas.


"Dasar bocah bandel!" omel Aleeya. Apang masing tertawa.


"Oh iya, Yaya mau beli telur gulung gak?" Tujuan Apang ke rumah sang baba yakni menawari sepupunya telur gulung. Jajanan kesukaan para cucu Wiguna dan Juanda.


"Mau!" Aleeya pun sudah berdiri dan kegirangan layaknya anak kecil. Khairan malah tertawa melihat tingkah Aleeya.


"Si mamangnya lagi dipanggil sama bang Iam." Apang menjelaskan.


"Suruh ke rumah ini aja."


"Ok!" Apakah membentuk jaringan seperti huruf O.


"Mmmh ...." Aleesa mulai curiga jika Apang sudah hum ham Hem Hem.


"Apang jajanin sama Yaya, ya." Anak Aska pun sudah memasang wajah melas, tapi menggemaskan dan membuat Aleeya tidak tega. Akhirnya, Aleesa menghembuskan napas berat dan berkata, "iya."


"Yeay! Apang boleh jajan sepuasnya, ya. Yeay!" Kini, Aleeya yang melongo mendengar ucapan dari Apang.


"Gua yang bayarin." Aleeya terkejut. Sedangkan Khairan sudah tersnyum. Aleeya terpesona sejenak melihat senyum yang begitu manis dari Khairan. Senyum yang begitu lebar menunjukkan dia itu laki-laki ceria.


"Liatin guanya biasa aja. Gua emang ganteng." Aleeya salah tingkah dan membuat Khairan tertawa.


"Gua sukanya sama kakak lu." Khairan berdiri dan memakai sandal yang tadi Aleeya duduki.


"Siapa juga yang suka sama lu," balas sengit Aleeya. Khai malah tertawa dan mulai menjauh dari sana.


Aleeya menatap punggung Khairan yang bidan. Kini, dia sudah memasuki rumahnya. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya.


Suara riuh dari si kuartet membuat Aleeya berlari keluar. Ternyata Khairan sudah ada di depan teras melihat lima gerobak berjejer di sana dengan para anak SMP yang kegirangan. Dia ikut senang melihatnya.


"Ke-kenapa--" Ucapan Aleeya tertahan ketika melihat banyak gerobak jajanan.


"Kan Yaya tadi bilang ... kalau Apang mau dijajanin sama Yaya. Apang lagi ingin makan ini semua." Wajah Aleeya nampak lesu sedangkan Khairan malah tertawa merasa terhibur dengan tingkah lucu Apang dan Aleeya.


Khairan menarik tangan Aleeya agar mendekat kepadanya. "Gua yang akan bayar semuanya."


"Beneran?" Khairan mengangguk. Aleeya dapat bernapas lega karena dia tidak memegang uang cash.


Aleena berdehem ketika tangan Khairan masih menggenggam tangan Aleeya. Itu membuat Khairan mulai melepaskan tangannya dengan wajah tegang.


"Ini gak seperti yang kamu kira, Na." Aleena malah tertawa.


"Emang aku mengiranya apa?" Aleena masih tertawa. "Kalau kalian pacaran aku mah malah senang." Mata Aleeya melebar, dan Khairan pun terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Aleena.


Suara deru mesin mobil Terdengar. Aleena tersenyum ke arah orang yang baru saja turun dari mobil hitam mengkilap. Hati Khairan mulai panas karena senyum Aleena tidak pernah pudar. Dia cemburu.


"Wah, kebetulan!" Ghea sudah berteriak.


"Mang, Adek mau telur gulungnya dua lima."


Lelaki muda tampan berjalan ke arah Aleena. Itu tak luput dari pandangan Khai. Lelaki muda itupun terlihat menatap tajam ke arahnya.


"Pacar baru?" Lelaki muda itu bertanya kepada Aleeya dan sontak Aleeya memukul bahunya.

__ADS_1


"Sembarangan kalau ngomong!" Aleeya sudah mengomel. "Calon suami Nana," lanjut Aleeya.


Kedua alis pemuda itu menukik dengan begitu tajam. Aleena menggeleng serta tersenyum dan mendekat ke arah si rupawan tersebut. Aleena malah merangkul lengan pemuda itu dan membawanya masuk ke dalam. Aleeeya mengulum senyum ketika melihat mimik Khairan.


"Dia sepupu kita." Khai pun terkejut. Dia menoleh ke arah Aleeya.


"Di sepupu yang paling ganteng dan berkharisma. Siapapun yang mau dekat sama gua atau kedua kakak gua syarat mutlaknya harus bisa taklukan hati tuh anak."


"Serem tampangnya." Aleeya malah tertawa.


"Dia baik kok. Dia itu pinter dan yang jelas mah susah didekati. Cuma Kak Restu yang bisa dekat dengan tuh anak dengan cepat."


"Namanya siapa?"


"Agha, tapi kita sih memanggilnya Mas walaupun dia lebih muda dari kita." Khai pun mengangguk.


Apang membawakan telur gulung untuk Aleeya dan senyum Aleeya pun merekah. Khai malah menggelengkan kepala. Aleeya percis anak kecil. Kahir terus memperhatikan Aleeya makan hingga dia menelan ludah sendiri.


"Cobain deh. Enak tahu." Aleeya sudah menyodorkan palstik berisi telur gulung kepada Khai. Laki-laki yang mengaku calon suami Aleena lun mengambil satu tusuk dan terlihat matanya berbinar.


"Enak 'kan!" Khai mengangguk.


Apang dengan jahilnya mengambil gambar Aleeya dengan Khai. Dia tertawa sendiri dan mengirimkan kepada Baba Radit.


Aleeya tersedak hingga terbatuk. Kabari berlari mengambil minuman ke dalam rumah menuju dapur. Dia melihat Aleena yang tengah bermanja dengan Agha. Sekilas dia mendengar nama Rangga. Namun, dia mengabaikannya dulu. Tujuan dia adalah untuk mengambil air minum.


Khai memberikan minuman kepada Aleeya. Minuman itu juga udah dibuka. "Makasih."


"Pelan-pelan makannya." Tangan Khai refleks mengisap lembut rambut Aleeya. Bersamaan dengan itu suara sang ayah terdengar.


"Kayaknya ada pasangan baru." Sanga ayah sudah menggoda dan sang ibu mengulum senyum.


"Ih, apaan sih?" Aleeya sedikit tak suka dengan ucapan kedua orang tuanya.


Di belakang sang ibu, sang kakak nampak pucat dan membuat Aleeya menukikkan kedua alisnya. "Kenapa dengan Kak Sasa?"


"Mual, tadi sempat muntah." Restu menjawab sambil memapah tubuh istrinya.


"Masa iya langsung jadi?" ujar Aleeya. "Kak Restu test Drive dulu, ya."


Kedua orang tua Aleesa menghentikan langkah mendengar ucapan dari sang putri bungsu mereka. Kini, mereka berdua menatap tajam ke arah sepasang suami-istri baru.


"Jangan dengerin ucapan Adek yang ngaco itu. Kalau Bubu dan Baba gak percaya test pack aja. Beneran aku hamil apa masuk angin biasa."


Khai menggelengkan kepala melihat tingkah Aleeya tadi. Dia malah tertawa. Khai terheran-heran karena melihat Aleeya yang banyak sekali makan. Semua jajanan gerobakan dia makan.


"Entar malam jadi gak ajak gua makan mie?" Aleeya mengangguk.


.


Khai menggunakan motor menuju tempat mie instan terenak. Dia takjub dengan aneka rasa yang ada juga aneka toping.


"Lu mau yang mana?" tanya Aleeya.


"Kata orang yang mie goreng yang enak.". Aleeya sedikit kasihan mendengar ucapan Khai. Kata orang, miris sekali dia dengar.


"Lu mah mie goreng?" Khai mengangguk. "Mie rebus ya mau gak?"


"Jangan banyak-banyak. Gua takut."


Aleeya mengangguk. Dia pun memesan mie goreng dengan toping komplit juga mie rebus komplit untuknya. Khai melihat sekelilingnya. Tempat ini cukup ramai. Seorang pelayan yang membawa air minum hampir menumpahkan air yang dja bawa jika Khai tidak menarik tangan Aleeya. Tubuh Aleeya pun membentur dada bidangnya.


"Maaf," ucap pelayan. Aleeya tersnyum kecil. Kini, dia menatap ke arah Khai.


"Makasih." Khai pun mengangguk dengan senyum manisnya.


Pelukan Khai mengendur ketika pesanan mereka datang. Aroma khas mie instan sudah menusuk hidung. Khai mulai memakan mie instan yang dia pesan. Aleeya tersnyum dan masih menatap lelaki tampan itu. Lucu melihat reaksi Khai ketika menikmati mie goreng sejuta umat.


"Enak banget." Matanya berbinar.


"Cobain deh yang kuahnya." Aleeya mengambil kuah mie instan, lalu meniupinya. Kemudian, dia berikan kepada Khai. Mereka terlihat seperti pasangan.


"Enak gak?" Khai pun mengangguk.


Khai tak segan menyuapi Aleeya mie goreng miliknya. Mereka terlihat sangat mesra. Juga canda tawa hadir di antara mereka berdua. Ketika hendak pulang, hujan turun dengan cukup deras. Aleeya tidak memakaai jaket. Cuaca malam itu terasa dingin. Tanpa Aleeya minta, Khai membuka jaketnya dan memasangkannya pada tubuh Aleeya. Adik Aleena pun menoleh dan lagi-lagi Khai tersnyum.


"Cowok itu harus mau mengalah sama cewek. Juga harus peka sama apa yang cewek butuhkan tanpa diminta." Aleeya tersenyum begitu lebar dan gak lupa mengucapkan terima kasih.


"Carilah laki-laki yang mampu menjaga dan melindungi. Juga tidak selalu egois sendiri."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong...


__ADS_2