RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 18. Sang Pencemburu


__ADS_3

"Kamu belum kelar-kelar teleponnya sama Yansen dari tadi?" Nesha sudah membuka suara seraya menggelengkan kepala. Restu dan Rio pun menoleh, menatap ke arah Aleesa. Namun, seketika pandangan itu Restu alihkan. Dia memilih untuk menuju meja barbeque-an.


"Tante, mau apa dulu yang dibakar?"


"Hati lu!" sahut Rio seraya terkekeh. "Yang sedang dibakar cemburu."


Restu menatap tajam ke arah sahabatnya itu. Sedangkan Rindra dan Radit Sudah tersenyum.


"Terserah kalian aja," sahut Nesha.


Restu dan Rio sedang membakar beef yang sudah Nesha sediakan. Restu tak berbicara sedikit pun. Apalagi terdengar Aleesa yang masih berbincang dengan Yansen. Bukan hanya Aleesa, tapi keluarganya juga.


"Sabar ya, Mas Bro." Rio sudah mengusap lembut pundak Restu dan membuat pemuda itu berdecak kesal.


"Udahan dulu atuh, Sa. Kasihan ponselnya." Rindra yang tidak banyak bicara kini menegur keponakannya.


"Iya loh, itu dari siang." Nesha menimpali.


Telinga Restu sudah sangat panas. Jika, dilihat dengan mata batin sudah mengeluarkan kepulan asap merah.


"Asik, dibela Papih tuh," bisik Rio seraya menggoda Restu.


"Berisik!"


Rio malah tertawa. Dia baru melihat sahabatnya ini sensi seperti anak perawan yang sedang datang bulan. Wajahnya sangat tidak bersahabat.


"Ponsel kamu rusak lagi gak Baba beliin lagi," ujar sang ayah.


"Iya." Aleesa menjawab ucapan dari sang ayah.


"Udah dulu ya, Sen. Aku mau makan-makan dulu. Salam untuk Raina dan Kemala."


Ponselnya pun Aleesa letakkan di meja. Dia menghampiri Restu dan Rio yang tengah membakar-bakar.


"Ada yang bisa aku bantu gak?" tanya Aleesa.


"Ambilin air gih." Dahi Aleesa mengkerut mendengar jawaban dari Rio.


"Air untuk apa?"


"Nyiram hati seseorang yang lagi panas." Rio pun tertawa begitu kencang. Sedangkan Restu masih terdiam membisu.


Aleesa menatap ke arah Restu yang sedari tadi membeku. Dia ingin mengajak pria itu berbincang, tapi Restu terus saja terdiam.


"Kak," panggil Aleesa dengan pelan. Mereka berdua berdampingan, tapi Restu tak mengeluarkan kata. Dipanggil oleh Aleesa pun tak menjawab.


Aleesa menatap ke arah Rio, sang sepupu hanya menggedikkan bahu. Dia terus menatap Restu yang sama sekali tak menatapnya.


"Sa, itu gosong!" Suara Nesha membuyarkan lamunan Aleesa. Hingga tangan Aleesa buru-buru membalikkan beef tersebut.


"Mikirin apa sih, Sa? Teleponan udah, tapi kok masih bengong." Sang Tante malah membuat Aleesa merasa tidak enak hati kepada Restu.

__ADS_1


Restu terus membolak-balikkan daging yang tengah dia bakar. Hingga dia merasa tidak sanggup dan menyerah.


"Tante, aku ke belakang dulu, ya. Mulut aku asem pengen ngerokok."


"Di sini aja sih," sahut Rindra.


"Vibes-nya berbeda, Pih." Restu menjawab dengan seulas senyum. Kemudian, dia menuju halaman belakang. Aleesa tidak tahu jika rumah yang dia huni memiliki halaman belakang.


"Kenapa Kak Restu tahu seluk beluk rumah ini?"


Pikirannya mulai berkelana ketika Restu memegang kunci rumah yang dia huni.


Kepulan asap rokok sudah terbang di udara. Restu memejamkan matanya sejenak. Menetralkan hatinya yang tengah menahan cemburu.


"Sebenarnya gua sama Aleesa kayak gimana sih?" gumamnya.


"Gua sayang, tapi gua belum bilang. Aleesa juga seakan balas sayang gua. Dipeluk, dikecup, dia seakan menerima." Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya.


Restu tengah merenungi dirinya. Dia sudah melakukan kesalahan yang besar, datang ke kehidupan perempuan yang jelas-jelas sudah memiliki kekasih. Dia seperti simpanan bisa dibilang kekasih bayangan. Lagi-lagi hembusan napas kasar keluar dari mulutnya.


Lama dia berada di halaman belakang. Menyesap rokok dalam-dalam. Kecerdikannya hilang seketika. Malah keraguan yang dia tunjukkan.


"Apa gua bisa menikung hati Aleesa?" gumamnya lagi. "Tapi, siapa gua? Gak mungkin Om Radit dengan mudah menerima gua. Sama si bocah bucin aja dia seperti menjaga jarak."


Kepulan asap rokok dia keluarkan lagi. Dia benar-benar pusing dengan apa yang tengah dia pikirkan. Belum lagi Madam Zenith memaksa ingin bertemu dengan keluarganya. Lengkap sudah beban pikirannya.


Rio menghampiri Restu karena sudah cukup lama dia berada di belakang sendirian.


"Bentar lagi." Rio pun mengangguk. Dia tidak akan memaksa. Dia pun meninggalakan sahabatnya itu.


Restu mengambil ponselnya. Dia sedang suka dengan lagu Fiersa Besari yang berjudul Waktu yang salah. Walaupun lagu yang rilis cukup lama, tapi masih enak untuk didengar.


🎶


Jangan tanyakan perasaanku


Jika kau pun tak bisa beralih


Dari masa lalu yang menghantuimu


Karena sungguh ini tidak adil


Bukan maksudku menyakitimu


Namun tak mudah 'tuk melupakan


Cerita panjang yang pernah aku lalui


Tolong yakinkan saja raguku


Pergi saja, engkau pergi dariku

__ADS_1


Biar ku bunuh perasaan untukmu


Meski berat melangkah


Hatiku hanya tak siap terluka


Beri kisah kita sedikit waktu


Semesta mengirim dirimu untukku


Kita adalah rasa yang tepat


Di waktu yang salah


Setelah lagu itu berkahir, barulah Restu beranjak dari duduknya. Dia menarik napas panjang sebelum pergi dari sana. Tibanya di halaman depan, hanya kursi di samping Aleesa yang tersisa. Mau tidak mau Restu duduk di sana.


Ketika begini mereka berdua bagai dua orang asing yang tak saling kenal. Restu hanya berbincang serius dengan Rindra dan Radit. Sesekali beradu argumen dengan Rio. Merasa bosan dan diabaikan, Aleesa mengambil ponselnya yang berada di depan sang ayah. Kemudian, dia membuka ponsel miliknya.


Namun, tanpa Aleesa sangka Restu mengambil paksa ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku Hoodie. Pandangannya masih tertuju pada orang yang berada di depannya, tetapi tangannya benar-benar bergerak sangat cepat. Aleesa memainkan ponsel memang di bawah meja. Jadi, perampasan itu tidak diketahui mereka yang ada di sana. Sekarang, dia malah menggenggam tangan Aleesa dan meletakkannya di atas paha. Aleesa hanya dapat menatap aneh ke arah pria di sampingnya ini.


q


Itulah yang Rio katakan ketika Restu pergi ke halaman belakang. Aleesa merasa aneh dengan sikap Restu.


Para orang dewasa sudah masuk ke dalam, kini hanya tersisa Restu, Rio dan Aleesa.


"Gua gak mau jadi obat nyamuk." Rio pun masuk ke dalam.


Genggaman tangan Restu dan Aleesa sudah terlepas ketika para


orang dewasa mulai beranjak dari sana. Restu memberikan kembali ponsel yang dia sembunyikan kepada Aleesa.


"Dari tadi getar terus." Restu berkata dengan ketus. Benar, ponsel Aleesa sekarang hidup kembali dan nama Yansen yang tertera di layar ponsel.


Aleesa meraih ponselnya dan dia malah menonaktifkan ponsel tersebut dan membuat Restu menukikkan kedua alisnya.


"Takut ada yang cemburu. Cemburunya menyeramkan." Aleesa menjawab dengan wajah datar.


Dia pun hendak pergi karena sedari tadi Restu masih mengabaikannya. Namun, tangan Aleesa Restu tarik hingga dia terjatuh di pangkuan sang pencemburu.


"Aku gak suka kamu teleponan sama dia di depan aku. Aku tahu kamu sayang sama dia, tapi hargailah perasaan aku."


Aleesa memutar tubuhnya. Dia menatap wajah Restu dengan raut bersalah.


"Maaf. Aku seakan memanfaatkan kehadiran Kakak." Restu menggeleng dengan cepat.


"Aku malah senang kamu manfaatin seperti ini."


...***To Be Continue***...


Komen dong ....

__ADS_1


__ADS_2