
"Jasad Pipo yang pergi dan dimakan hewan bawah tanah. Tidak dengan hati Pipo yang akan selalu hidup di dalam hati kalian. Jangan pernah anggap Pipo mati."
Tangis Aleesa pun semakin pecah. Radit langsung menghampiri sang putri dan memeluk tubuh Aleesa.
"Sa--"
"Kenapa harus secepat ini, Ba? Bisakah diulur waktunya?" Suara Aleesa bergetar menandakan dia benar sedih dan terpukul.
Radit yang mengerti akan ucapan Aleesa hanya terdiam. Dia membelai rambut Aleesa yang hitam. Mulutnya kelu, mulutnya tak bisa terbuka. Lebih baik Radit mengamankan Aleesa daripada nanti dia yang menjadi pusat pertanyaan dari semua keluarga.
Beda halnya di dalam, banyak tawa yang tercipta di sana. Apalagi anak Askara yang membawa kegembiraan tersendiri. Mereka mampu menghibur kakek dan nenek mereka. Namun, Echa dan Aksa merasakan hal yang berbeda. Aleesa tak kunjung kembali, pasti ada sesuatu dengan anak itu. Kelebihannya tidak bisa dianggap remeh.
"Apa Pipo boleh meminta sesuatu kepada kalian?" Para cucunya pun mengangguk.
"Ini juga buat anak-anak Daddy dan semuanya," lanjutnya. "Juga buat Mommy, wanita yang paling Daddy cinta." Suasana mendadak hening.
"Jika, Daddy pergi ... Janganlah menangis. Tersenyumlah! Karena hanya jasad Daddy yang pergi, tidak dengan cinta Daddy yang akan selalu ada bersama kalian."
Agha, dia semakin menunduk dalam. Ingin rasanya dia berteriak sekencang-kencangnya mendengar ucapan yang begitu menusuk ulu hati. Sedangkan ayah dari Agha sudah menggeleng dengan cepat.
"Daddy akan panjang umur dan akan menyaksikan cucu-cucu Daddy menikah." Aksa mencoba untuk tegar walaupun hatinya teramat sakit.
"Tidak ada yang abadi di dunia, Bang. Semuanya akan kembali kepada yang menciptakan. Begitu juga dengan Daddy." Gio menimpali dengan senyum yang begitu indah.
"Jaga Mommy kalian, ya."
"Kalau Daddy pergi, Mommy ikut." semua mata anak Ayanda kini tertuju padanya.
"Jangan bicara omong kosong lah. Kita semua bukan Tuhan. Kita ke sini ingin buat Daddy dan Mommy bahagia bukan untuk terus berandai-andai tentang hal yang belum terbuktikan." Mereka semua setuju dengan ucapan Aska yang kali ini memang benar. Pada nyatanya Aska pun merasa sangat ketakutan. Dia hanya ingin mencairkan suasana.
Hingga tengah malam tiba mereka semua berada di dalam kamar perawatan menemani Giondra. Para cucu mereka sudah terlelap dan kini hanya tersisa ketiga anaknya dan juga tiga menantunya. Aleesa memilih untuk duduk di luar sendirian.
Anak indigo itu terus melihat ke arah jam dinding yang berputar perlahan. Setiap detik, hatinya terus berdegup kencang. Dadanya bergemuruh dan seakan dia tak sanggup menahan betapa kencangnya detak jantungnya sekarang.
"Tuhan, ulurlah waktunya." Aleesa menunduk dalam. Air matanya tak henti menetes.
__ADS_1
Terasa tangannya digenggam oleh tangan yang begitu dingin. Pria itu tersenyum dengan begitu manis. Tiga orang yang berarti dalam hidupnya tersenyum begitu indah.
"Walaupun nanti kami tidak bisa melihat kamu ketika menikah. Percayalah, bahwa kami akan menjadi saksi di pernikahan kamu dan laki-laki yang sudah kami pilihkan untuk kamu."
Air mata Aleesa menetes dengan begitu deras. Dia menggeleng hingga pelukan hangat Aleesa dapatkan dari sang engkong.
"Jangan buang air mata kamu. Hanya jasad kami yang pergi, tidak dengan cinta kami." Tangis itupun semakin menjadi.
Aleesa membenci hal ini. Aleesa membenci kelebihannya jika menyangkut hal kepergian untuk selamanya. Dia sangat benci.
"Berdirilah di pintu kaca itu." Sang opa menyuruh Aleesa yang sedang menangis. Dia mulai menegakkan kepalanya, sang pipo sudah tidak ada di sana.
"Lihatlah, Sa!"
Dia tidak mau, tapi nalurinya mengajaknya untuk berdiri dan menuju pintu kaca tersebut. Terlihat semuanya nampak baik-baik saja. Sang pipo tengah tertidur dan sang Mimo menggenggam tangan kakeknya dengan begitu erat. Terlihat pergerakan kecil dari Giondra. Aleesa mulai menukikkan kedua alisnya. Tangan sang pipo mengusap lembut rambut sang mimo. Ayanda pun terbangun dan tersenyum ke arah suaminya.
"Mau apa, Dad?"
"Peluk Daddy!" Ayanda mengangguk. "Bangunkan anak-anak, Mom. Daddy ingin dipeluk mereka juga." Ayanda mengangguk.
Ayanda membangunkan ketiga anaknya. Bukan hanya Aksa, Aska dan Echa yang terbangun. Ketiga menantunya pun ikut terbangun. Mereka langsung mendekat ke arah Giondra yang terus melengkungkan senyum di wajah tampannya yang sudah senja.
"Daddy mau apa?" Aksa yang selalu menjadi orang pertama untuk sang ayah.
"Peluk Daddy! Pelukalah tubuh Daddy, anak-anak Daddy."
Semuanya berhambur memeluk tubuh Gio. Tak terkecuali para menantunya. Keharuan pun tercipta. Sekuat tenaga Aksa menahan air mata. Echa, dia sudah tak sanggup lagi dan Aska dia hanya diam dengan segala rasa yang berkecamuk di dada.
Aleesa yang menatap dari luar hanya bisa terisak. Dia melihat jelas betapa kakeknya sangat bersinar di penglihatannya. Dua orang berjubah itu sudah mendekat dan Aleesa menggeleng dengan begitu cepat. Dia pun dapat melihat jelas senyum yang begitu tulus dari kakeknya.
"Apapun akan Abang lakukan untuk kesembuhan Daddy. Abang janji itu, Dad."
"Kamu tak perlu melakukan itu, Bang. Daddy akan sehat kembali sehat seperti muda lagi." Gio masih sanggup menimpali ucapan Aksa.
"Pah, ke manapun Papah ingun berobat Echa dan adik-adik Echa pasti akan membawa Papah. Jangan sungkan untuk mengatakan keinginan Papah kepada kami."
__ADS_1
"Papah tidak menginginkan itu. Kalian adalah obat paling mujarab yang Papah miliki. Kalian adalah permata berharga yang Papah miliki. Maka dari itu, berjanjilah kepada Papah kalian akan terus kompak dan terus saling menggenggam dan menguatkan satu sama lain di dalam kondisi apapun."
"Tanpa Daddy minta pun kami pasti akan melakukan itu." Aska menimpali. Gio pun tersenyum.
"Jangan buang air mata kalian hanya karena sebuah kepergian yang tak bisa dikembalikan. Ingatlah, raga bisa saja bersatu dengan tanah. Tidak dengan cinta, itu akan tumbuh dan terus hadir di dalam hati dan batin untuk selamanya."
"Dad--"
"Buang kesedihan kalian, hapus air mata kalian. Sejatinya Daddy akan terus hidup bersama kalian walaupun tak bisa mendampingi kalian secara fisik. Namun, Daddy akan selalu ada di hati kalian dan tak akan pernah pergi barang sedikitpun."
Mereka semua pun semakin memeluk erat tubuh Gio. Mereka semua takut, mereka semua tidak ingin ucapan sang ayah jadi kenyataan.
Titt ...
Suara monitor berbunyi sontak mereka kompak melihat ke arah monitor. Sedangkan Echa sudah memanggil-manggil sang Papah.
"Pah! Bangun, Pah!"
Sedangkan Radit sudah mengecek denyut nadi sang mertua dan tubuhnya pun seketika melemah. Matanya nanar. Aksa, dia terus menekan tombol emergency Agar dokter datang menangani ayahnya. Di pintu luar tubuh Aleesa luruh ke lantai karena dia melihat ruh sang pipo sudah keluar dari raganya.
Tubuh Aleesa bergetar hebat. Tangisnya pun tak kunjung reda. Dia melihat langsung bagaimana ruh sang kakek keluar dari tubuhnya.
"Pipo," lirihnya.
Seseorang duduk di sampingnya dan mengusap lembut pundak Aleesa hingga dia menoleh. Senyum yang begitu menyejukkan terukir dari wajah wanita yang dia sayangi selain sang ibu.
"Mi-mo--" Sebuah anggukan menjadi jawaban dan membuat Aleesa menggeleng.
"Jangan! Jangan pergi Mimo!"
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
Jangan biarkan tangis kalian membuat komen semakin sedikit. 🤧
__ADS_1