
Restu sudah menggenggam tangan sang istri dan tangan satunya menggendong sang putra. Kedatangannya sangat ditunggu para pewarta berita di sana. Penampilan baru Restu, juga wanita yang ada di depan Restu membuat pewarta berita semakin mengarahkan kamera mereka ke arah pria dan wanita yang sangat berkelas tersebut.
Restu tak mau berlama, dia menjelaskan kepada publik Zurich jika dia sudah menikah dan memiliki satu orang putra. Dia juga tengah menanti kelahiran anak kedua yang tengah dikandung oleh istrinya. Perihal masa lalu Restu pun ikut dibahas. Itu membuat Aleesa menoleh ke arah sang suami dengan raut sedikit ketakutan. Bukan tanpa sebab, dia takut jika suaminya tidak bisa mengendalikan emosi.
Namun, ketakutan Aleesa salah. Restu bersikap biasa dan masih penuh wibawa menjelaskan silsilah keluarganya yang rumit hingga perubahan namanya. Dia menjelaskan secara rinci agar tak ada yang berspekulasi lagi.
Setelah semuanya dirasa selesai, Restu dan Aleesa juga Abang Er pergi dari tempat itu. Seperti biasa Aleena akan membawa Abang Er karena sudah pasti kedua orang tua Erzan akan dikepung wartawan.
Restu terus memberi kode kepada para bodyguard-nya untuk terus mencegah wartawan maju. Restu dengan posesifnya memeluk tubuh Aleesa agar terhindar dari wartawan.
"Ini yang tidak aku suka."
Sebuah kalimat yang Restu ucapkan ketika masuk ke dalam mobil. Dia memeriksa keadaan istrinya dengan teliti. Dia tidak ingin melihat luka di tubuh Aleesa.
"Mami gak apa, Pi." Aleesa tersenyum ke arah sang suami agar kepanikannya menguar. Restu pun menghela napas lega.
"Maaf, ya." Restu langsung memeluk tubuh Aleesa. Betapa manisnya perlakuan sang suami kepada Aleesa.
Berita CEO Zenth Corporation menjadi trending topik. Restu hanya menghela napas kasar karena berita lama tentang dirinya mulai di up lagi.
"Begitulah di dunia bisnis. Ada celah sedikit langsung disenggol."
"Udah basi, Pih." Begitulah respon dari Restu kepada ayahnya.
"Basi di negeri kita, beda dengan di negeri ini."
__ADS_1
Banyak petuah yang ayahnya berikan kepada Restu. Itulah alasan kenapa Rindra selalu mendampingi sang putra karena Restu belum terlalu bisa menahan emosinya..
"Mau jadi ayah dua anak, harus bisa ngatur emosi." Rindra menepuk pundak sang putra.
.
Baru berusia sebelas bulan, Abang Er sudah lancar berjalan. Balita itu sama sekali tak mengenal takut. Berkali-kali dia terjatuh tetap tidak menangis sama sekali.
"Ya ampun, Bang."
Aleesa yang Baru saja keluar dari kamar mandi bersuara. Putranya terjatuh di lantai kamar hingga terdengar benturan yang cukup keras. Dia memeriksa bagian tubuh sang putra dan lututnya memerah.
"Sakit gak, Bang?"
Aleesa hanya bisa menghela napas kasar. Dia tidak bisa menggendong putra pertamanya karena perutnya yang semakin membuncit. Lagi pula sang putra tidak akan mau digendong olehnya. Abang Er mulai bangkit dan tersenyum manis ke arah sang ibu.
"De de de." Tangan kecilnya mengusap lembut perut Aleesa. Itu membuat Aleesa terharu.
"Nanti Abang harus sayang Dedek, ya." Balita itu mengangguk seperti mengerti akan perkataan sang ibu.
Ketika malam tiba, Restu lah yang akan menemani Abang Er. Mereka akan bermain bersama hingga Abang Er lelah dan terlelap.
"Pi, nih."
Abang Er menunjuk ke arah lututnya yang membiru. Restu terkejut dan menyentuhnya. Putranya menjerit kecil.
__ADS_1
"Sakit?" Balita itu mengangguk.
"Jatuh di mana?" Abang Er menunjuk ke arah kamar sampingnya di mana kamar kedua orang tuanya.
"Abang nangis gak?" Putra pertama Restu itupun menggeleng.
"Emih--"
Restu tersenyum dan mengusap lembut rambut Abang Er. Emih yang anaknya maksud adalah Mami. Putra pertama Restu tidak ingin menangis di depan sang ibu. Jadi, dia pura-pura kuat.
"Good boy," puji Restu. "Sesakit apapun jangan pernah menangis di depan Mami. Cukup nangis di depan Papi." Abang Er mengangguk dan Restu pun memeluk tubuh Abang Er dengan erat.
"Makasih ya, Bang. Sudah menjadi anak yang sangat pengertian dan kuat."
Aleesa menitikan air mata ketika mendengar dan melihat percakapan anak dan suaminya di kamar sang putra. Hatinya mencelos dan dia merasa bangga kepada Abang Er. Walaupun masih balita dia sudah mengerti dengan apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Juga mengerti kondisi ibu dan ayahnya seperti apa.
"Lukanya Papi obatin, ya. Biar gak sakit lagi."
Selama mengobati luka lebam di lutut Abang Er, Restu terus mengajak ngobrol sang putra. Walaupun anaknya belum lancar berbicara dan hanya bisa beberapa kata saja, tak membuat Restu diam saja. Dia ingin membangun kedekatan dengan putranya dengan cara seperti ini. Supaya nantinya tidak ada jarak lagu antara dirinya dengan sang putra.
"Abang harus jadi Restu junior, yang selalu kuat dan tangguh dan tak terkalahkan. Mau adu jotos pun Papi tidak akan melarang."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1