RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 100. Belum Saatnya (Pergi)


__ADS_3

🎶


Yojeum naneun eotten Jul Ani


Pyeonhi jameul jal Sudo


Mwol samkyeonael Sudo eopseo


Neol baraboda


Jeomjeom manggajyeo ganeun nal algin halkka


Jugeul get gatado


🎶


Lagu yang sering Aleesa nyanyikan akhir-akhir ini. Lagu itu menggambarkan isi hatinya. Matanya terpejam menahan sakit di dada. Sebuah pelukan dari belakang membuatnya membuka mata. Dia melihat sepasang tangan sudah melingkar di perutnya. Aleesa pun menoleh dan Restu sudah ada di belakangnya.


"Aku di sini, Lovely." Aleesa pun tersenyum. Dia membalikkan tubuhnya tanpa melepas sepasang tangan Restu yang melingkar.


"Jangan buat aku sedih dan takut." Restu hanya tersenyum, dia memeluk tubuh Aleesa dengan begitu erat.


"Makasih udah datang."


Mereka seakan tengah melepas rindu yang mendalam. Pelukan mereka sangat erat hingga tak bisa terlepas. Restu membawa Aleesa ke suatu tempat di mana tempat itu sangat asing untuk Aleesa. Tibanya di sana Aleesa sangat terkejut dengan apa yang dia lihat.


"Opa!"


Dua pria paruh baya yang sedang saling tatap menoleh. Salah satu di antara mereka menoleh dan segera merentangkan tangan. Aleesa berhambur memeluk sang kakek. Restu pun ikut memeluk tubuh Addhitama.


"Kamu sudah datang, Sa." Aleesa pun mengangguk. "Bawalah Restu. Belum saatnya dia pergi. Dia hanya menunggu kamu di sini. Menunggu seseorang yang tulus mencintainya untuk kembali ke dunianya."


"Raje harus ikut aku," timpal pria paruh baya satunya. Aleesa terkejut. Dia mulai mengurai pelukannya kepada sang kakek. Dia mendekat ke arah Restu dan memeluk tubuh Restu dari samping.


"Tidak! Kak Restu gak boleh ikut. Kak Restu harus ikut dengan Sasa!" Kalimat yang penuh dengan penekanan. Restu membalas pelukan Aleesa dan tak segan mengecup ujung kepala Aleesa di depan kedua pria paruh baya itu.

__ADS_1


"Lihatlah!" Addhitama berbicara kepada pria di depannya.


"Raje, ikutlah dengan Kakek. Kakek tidak mau kamu menderita bersama ibu kamu," ucap pria itu yang tak lain adalah Wiratama.


"Harus berapa kali aku bilang? Aku bukan Raje. Rajendra Wiratama sudah mati karena overdosis dengan segala kebohongan yang diciptakan keluarganya sendiri." Emosi sekali Restu mengatakannya.


"Dan ingatlah, aku adalah Restu Ranendra. Putra pertama Rindra Addhitama dan Nesha Permata." Penuh dengan penekana dan ketegasan yang Restu ucapkan.


"Bie," panggil Aleesa dengan nada lemah. Dia pun sudah mendongak ke atas. Menatap wajah Restu yang tampan.


"Aku tidak akan pernah ikut dengannya. Aku akan ikut bersama kamu karena kamu adalah alasan kenapa aku masih berdiam diri di sini dan menunggu kamu menjemputku." Aleesa terenyuh mendengar perkataan dari Restu. Untuk kedua kalinya Restu mengecup kening Aleesa. Kali ini lebih dalam dari sebelumnya. Addhitama tersenyum melihatnya.


"Kamu lihat 'kan?" Addhitama sudah membuka suara. "Mereka berdua diciptakan memang untuk saling melengkapi. Jadi, jangan pernah mencoba untuk memisahkan mereka lagi. Restu sudah bahagia dengan keluarganya yang sekarang. Jadi, jangan khawatirkan dia. Bersama putraku dia menjadi pribadi yang sangat baik."


Mengajak Restu pergi bukan karena Wiratama kejam, tapi lebih baik Restu mati dibandingkan harus menjadi boneka dari putrinya sendiri. Putrinya memiliki kepribadian ganda. Bisa menjadi malaikat juga iblis jahat.


"Harusnya kamu ajak putri dan menantu kamu pergi ke neraka agar hidupku damai dari gangguan dua iblis jahat yang mengaku sebagai orang tuaku." Perkataan yang dahsyat kejamnya.


.


"Tuhan, tolong lindungi Aleesa."


Senyum licik terukir di wajah dokter Kaira. Dia sangat yakin ada seseorang di bawah sana. Ditambah madam Zenith baru mengatakan bahwa Aksara ada di Zurich. Sudah pasti dia datang tidak sendiri.


"Kamu masuk ke kandang singa, bocah kecil." Seringai muncul di wajah dokter Kaira.


Ketika dia sudah berjongkok dan yakin ada orang di kolong ranjang pesakitan, ternyata tidak ada siapapun di sana. Dia harus menelan pil kecewa karena tidak ada siapa-siapa di sana.


"Lalu, itu kecupan siapa?" Pertanyaan itu masih bersarang di kepala dokter Kaira. Sudut matanya masih mencari seseorang.


"Ada?" Kepala dokter Kaira pun menggeleng. "Seprtinya saya mencium bau pengkhianatan," tambah dokter Kaira sambil menatap ke arah Gemke.


Gemke menatap dokter Kaira dengan tatapan jengah. Gemke mencium kelicikan dari dokter tersebut. Dia belum mendapat laporan dari dokter Rocki siapa dokter Kaira sebenarnya.


"Saya akan mengganti pengamanan di sini," ucap madam Zenith. Gemke tidak bisa berkutik.

__ADS_1


Mereka berdua pun keluar dari ruang perawatan Restu. Sebelumnya terdengar madam Zenith berpamitan kepada sang putra, dan Gemke menyebikkan bibirnya ketika mendengarnya. Ketika madam Zenith sudah keluar bersama dokter Kaira, dan sudah menjauhi kamar perawatan tersebut. Gemke mulai mencari kembali keberadaan Aleesa, dan memang benar kekasih Restu itu tidak ada.


Aksa dan Iyan yang melihat Zenith Andrea dan dokter Kaira sudah masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana segera keluar dari mobil dan bergegas menuju kamar perawatan Restu dengan sedikit berlari. Tibanya di sana, Gemke menggelengkan kepala.


"Masa tidak ada?" ujar Aksara.


Iyan terdiam sejenak ketika menginjakkan kakinya di rumah perawatan Restu. Bau obat dan anyir darah dapat dia cium. Di dalam pikirannya terlihat seorang wanita yang dicekoki obat oleh seorang wanita yang mengenakan jas putih. Hanya bahasa isyarat yang dia keluarkan. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Gambaran itu terputus begitu saja membuat Iyan menghela napas kasar.


"Lu ngapain? Bantu cari Aleesa." Aksa sudah mengomel.


"Harusnya Aleesa ada di kolong tempat tidur." Gemke berkata dengan begitu yakin. Iyan berjalan menuju ranjang pesakitan Restu. Sejenak dia menatap calon keponakannya itu. Lalu, dia merendahkan tubuhnya dan melihat ke arah kolong ranjang tersebut. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya.


"Ngapa cari di situ? Gak ada di situ!" Aksa bersikukuh.


Namun, Iyan masih diam di sana. Aksa dapat melihat tangan Iyan seperti tengah mengusir seseorang. Dahinya perlahan mengkerut.


Sebuah kertas tesodor ke kaki Iyan dan membuat mata Aksa dan Gemke melebar. Tulisan tangan dengan bahasa Indonesia.


"Aku hanya menjaganya agar tidak terlihat dari mereka tadi."


Iyan tersenyum dan mengucapkan terima kasih. "Sekarang, minggirlah! Keadaan sudah aman. Kasihan Aleesa." Perempuan itupun mengangguk dan benar saja Aleesa sudah meringkuk bagai anak bayi di kolong sana.


"Sasa! "


Aksa dan Iyan mencoba mengeluarkan Aleesa dari dalam kolong dan membawanya menuju sofa. Aksa sudah memanggil dokter yang khusus menangani Aleesa karena Aleesa pingsan.


Iyan sudah mengeluarkan minyak angin untuk pertolongan pertama. Dia juga terus menepuk pipi Aleesa dengan pelan dan memanggil-manggil namanya.


"Sa."


"Sasa."


"Bie--" Aleesa sudah merespon..


"Lovely--"

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2