RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 237 A. (Berkunjung Ke Goa) Bab 237 B. (Hal Yang Aneh)


__ADS_3

Aleesa sudah mulai masuk kuliah. Rasanya dia tidak tega meninggalkan sang putra. Berat sekali, tapi demi untuk lulus cepat dia harus rajin dan kejar skripsi.


"Kenapa Mami gak tega ninggalin kamu ya, Nak."


Baby Erzan malah tersenyum. Sang suami memeluk Aleesa dari belakang. Dia mengecup belakang kepala sang istri.


"Jangan buat Baba dan Bubu kecewa. Pendidikan itu penting."


Aleesa menoleh ke arah belakang dan Restu mencium bibir sang istri secara singkat. Restu akan mendukung apapun keinginan Aleesa di dalam konteks yang positif. Apalagi di dalam bidang pendidikan


"Ada Mamih dan Bubu yang akan jaga putra kita. Lagi pula kamu cuma setengah hari 'kan."


Restu terus memberikan semangat kepada istrinya. Sebenarnya ayah dan ibu mertuanya tidak melarang Aleesa untuk berhenti melanjutkan kuliah. Mereka tahu bagiamana repotnya kuliah ketika sudah memiliki anak. Akan tetapi, Restu tidak mengijinkan. Aleesa harus lulus kuliah dan membuat bangga kedua orang tua juga keluarga.


"Kamu belajar yang benar. Buat bangga Bubu dan Baba. Aku juga putra kita."


Aleesa mengangguk dan tersenyum ke arah sang suami. Dia memeluk tubuh suaminya. Baru juga beberapa detik, sang putra malah menangis dan membuat Aleesa serta Restu tertawa.


"Papi punya saingan."


.


"Anak lu udah bisa apa?" Pertanyaan Kemala membuat Aleesa yang tengah fokus pada mata kuliah menoleh.


"Udah bisa jajan."


"Gelo!"


Aleesa malah tertawa. Bagi Aleesa itu adalah pertanyaan bodoh. Anak usia empat puluh hari pada umumnya sudah bisa melakukan apa?


Ketika jam kuliah selesai, Aleesa yang biasanya ke kantin sebentar, sekarang malah memilih untuk segera kembali ke rumah. Bukan tanpa sebab, dia ingin segera bertemu dengan baby Erzan.


Tibanya di rumah, sang putra sedang tertidur dengan begitu lelapnya. Aleesa bisa bernapas lega. Apalagi kedua ibunya siaga berada di kamar baby Erzan.


"Istirahat dulu gih. Mumpung anak kamu lagi tidur.".


Banyak sedikit Echa tahu bagaimana Aleesa menjaga dan merawat baby Erzan. Sang putri tidak ingin merepotkan dirinya dan meminta sang ibu untuk tidak membantunya merawat baby Erzan, kecuali jika Aleesa meminta bantuan.


"Ya udah. Sasa mandi dulu, ya."


Nesha menggelengkan kepala mendengar cerita Aleesa yang selalu tidur larut malam untuk menunggu suaminya. Bangun lebih awal karena dia sudah harus rapi jika sang putra terbangun.


Belum lagi jika siang hari. Ketika sang putra tertidur, dia mencuci pakaian baby Erzan sendiri. Juga dot yang biasa baby Erzan gunakan. Juga, dia seringnya memompa ASI untuk stok sang putra pertama.


"Mbak tidak menyangka Aleesa akan sangat berubah."


"Iya, Mbak. Sasa yang sangat cuek kini malah sangat berubah. Baik kepada putra juga suaminya."


Ada kebahagiaan di hati dua wanita itu melihat Aleesa yang semakin dewasa setelah menikah dan juga memiliki anak.


.


Hari terus berganti. Usia baby Erzan pun sudah menginjak tiga bulan di mana bayi tampan itu sudah bisa tengkurap. Restu dan Aleesa sangat bahagia melihat sang putra. Mereka bertepuk tangan bahagia dan Aleesa menitikan air mata melihat perkembangan sang putra yang sangat cepat.


"Kenapa nangis, Mi?" Panggilan sayang Restu sudah berubah menjadi Mami.


"Kenapa Abang Er cepat banget tumbuh?"


Restu malah tertawa. Dia merangkul pundak sang istri dengan mesra. Kemudian, mencium pelipis sang istri.


"Udah tiga bulan loh, Mi. Bisa kali belalai Papi bertamu ke goa Mami."


Tiga bulan sudah Restu dan belalainya berpuasa. Setelah nifas dia inginnya langsung menghajar sang istri, tapi dia takut jika jahitannya belum sepenuhnya rapat dan kering. Alhasil, dia menahannya hingga tiga bulan. Kepalanya terasa cenat-cenut tak karuhan karena menahan hasrat yang seharusnya dia lepaskan.


"Ke dokter dulu, ya. Konsultasi perihal menunda kehamilan."


.


Wajah sumringah Restu tunjukkan ketika dia bangun lebih dulu dari Aleesa. Dia sengaja menitipkan sang putra kepada kedua mertuanya dan dengan senang hati mereka tidur bersama sang putra.


Kecupan di tengkuk leher membuat Aleesa bergerak kecil. Apalagi punggung putih itu masih terbuka dan belum tertutup oleh baju membuat Restu menciuminya dengan mesra.


"Pi--"


Tangan Restu sudah masuk ke dalam selimut putih dan memegang asupan nutrisi untuk sang putra. Bagian itu sangat besar dan membuat Restu terus ingin bermain di sana. Apalagi sumber air di sana kini mengalir, tidak kering seperti dulu.


"Sekali lagi, ya."


Tetap saja Restu akan menjadi maniak jika sudah menyangkut hal ini. Tanpa istrinya menjawab tangan Restu sudah berkelana ke sana ke sini hingga istrinya membalikkan tubuhnya dan mereka saling tatap. Restu langsung menyambar bibir Aleesa dengan tangan yang tak mau diam.

__ADS_1


Setelah istrinya kepanasan, Restu langsung memulai permainan. Restu benar-benar menikmati karena goa sang istri terasa sangat sempit dan menjepit.


"Pi--"


"Papi ingin lebih lama lagi, Mi."


Sudah cukup lama tak dijamah membuat Aleesa tidak kuat lama. Dia terus melengoeh panjang dengan tangan mencengkeram seprei. Sedangkan Restu terus memompaa agar bisanya tersembur dengan sempurna.


Jika, sudah seperti ini mereka melupakan jika mereka sudah memiliki anak. Ada putra mereka yang sedari tadi terjaga dan terus mencari sosok kedua orang tuanya yang biasanya selalu ada untuknya. Sedangkan dia berada di kamar kakek dan neneknya. Tidak seperti biasanya, melihat wajah cantik sang ibu dan juga wajah sang ayah yang begitu gagah.


Sudah beberapa kali Aleesa menjerit kecil, tapi tak membuat Restu menyudahinya. Hingga dia melengoeh panjang dan tubuhnya dia rebahkan di atas tubuh Aleesa.


"Banyak banget ibu, Pi."


Aleesa merasakan bisa itu tumpah-tumpah dengan rasa hangat di kulit. Restu mencium kening Aleesa dengan sangat lama. Tak hentinya dia mengucapkan terima kasih.


"Mami susah jalan," keluh Aleesa. Restu malah tertawa. Dia membopong tubuh istrinya dan memandikan Aleesa bagai bayi.


"Merah," ucap Restu ketika dia sedikit membuka belahan di bawah perut.


"Sedikit perih."


Restu menatap ke arah sang istri. Untuk kesekian kalinya dia mengecup kening Aleesa dan mengucapkan kata maaf.


"Nanti Papi kompres, ya."


Restu memilih untuk berangkat siang menunggu kondisi istrinya membaik. Dia yang mengambil baby Erzan dan bermain bersama sang putra sebentar.


"Maafin Mami ya, Abang Er."


Aleesa mencium gemas pipi sang putra. Restu yang sedang menggendong Erzan hanya tertawa.


"Salahin Papi ya, Bang."


Tawa Restu yang menggema membuat Abang Erzan terkejut. Dia terdiam sejenak dan menatap ke arah sang papi. Melihat ayahnya tertawa dia ikut tertawa.


"Ya ampun, kenapa gemasin banget sih kamu."


Ingin rasanya Aleesa mencubit pipi Abang Erzan saking gemasnya. Bayi berusia tiga bulan itupun sudah bisa mengoceh bagai burung beo. Itu membuat penat dan lelah yang dirasakan oleh kedua orang tuanya hilang seketika.


Apalagi sekarang Abang Er sudah mengenal kedua orang tuanya dengan baik. Jika, sang ayah pergi dari sisinya walau sebentar dia akan menangis.


Tangis baby Erzan malah semakin keras dan itu membuat Aleesa tertawa.


"Bawa atuh, Pi."


"Eh, gimana coba?"


Aleesa malah tertawa mendengar jawaban dari sang suami. Restu segera berlari ke kamar mandi karena sudah tidak tahan. Itu membuat baby Erzan menangis keras.


"Sebentar, Bang. Papi pipis dulu." Restu berteriak dari dalam kamar mandi.


.


Bab 237 B.


Baby Erzan semakin tumbuh dengan baik. Badannya pun sangat montok. Kedua kakek dan neneknya setiap akhir pekan akan berebut bermain bersama sang cucu. Itu membuat Aleesa dan Restu akan pusing mendengar perdebatan adik-kakak tersebut.


Cucunya seakan mengerti dengan jadwalnya. Jika, akhir pekan tiba dia akan mau diajak oleh siapapun kakek dan neneknya. Restu pun akan menghabiskan waktu untuk jalan ataupun berbulan madu tanpa ada pengganggu.


"Susu aman. MPASI Mamih udah siapin."


Sabtu ini Abang Er akan bersama Opa dan Oma. Bayi berusia enam bulan itupun akan anteng dan gak pernah rewel. Minggu pagi barulah mereka kembalikan si tampan itu.


Aleesa dan Restu memilih untuk pergi ke mall. Aleesa ingin menonton film Korea. Restu akan menuruti apapun yang diinginkan sang istri.


Tangan mereka terus bergandengan bagai anak muda. Apalagi penampilan mereka sangat santai. Banyak orang yang mengira mereka hanyalah sepasang kekasih atau baru saja menikah.


Melihat istrinya sangat senang ketika keluar dari bioskop membuat hati Restu bahagia. Apalagi sang istri mengajak Restu untuk makan di tempat makan kesukannya.


"Kalau udah jadi ibu mah ke mall juga udah healing, ya."


Aleesa tertawa dan membenarkan ucapan sang suami. Bukannya bosan mengurus sang putra, tapi Aleesa juga butuh kewarasan yang dinamakan me time.


"Pulang dari sini ke apartment, ya."


Aleesa menatap tajam ke arah sang suami yang sudah bisa dia tebak akan melakukan hal apa di sana.


"Waktu Mami dan Papi berdua."

__ADS_1


Aleesa mencebikkan bibirnya dan itu membuat Restu mengangkat kedua alisnya dengan genit.


"Emang gak puas setiap dua hari sekali masuk ke goa?"


"Enggaklah," sahut Restu. "Harusnya mah setiap malam."


Sontak Aleesa memukul punggung Restu. Sang suami malah tertawa. Itu membuat orang yang melihat mereka menatap mereka dengan tatapan sinis. Untung saja Restu memaki masker dan topi. Begitu juga dengan Aleesa.


Restu sudah membuat keputusan jikala keluarganya tidak boleh terekspose ke media. Dia tidak ingin privasi sang istri terganggu. Apapun yang mereka lakukan di luar tidak untuk ditunjukkan ke publik.


Kepergian mereka pun dengan pengawalan yang sangat ketat. Biarpun ada berita tentang dia dan sang istri mencuat, jika itu masih memakai masker dan tertutup wajahnya dia tidak akan menuntut. Namun, jika wajah istrinya terekspose Restu akan murka. Apalagi jika wajah sang putra yang mencuat ke media, Restu tidak akan pernah tinggal diam.


Makan pun Restu memilih tempat yang sangat private. Semakin ke sini Aleesa semakin terbiasa dengan peraturan Restu ini.


Di lain tempat, Rindra dan Nesha mengajak sang cucu jalan-jalan. Mereka berdua nampak bahagia sekali bisa mengasuh anak kecil lagi.


"Mamih seperti kembali ke masa dulu, di mana Rio masih sangat bayi."


Rindra yang sedang menggendong sang cucu hanya tertawa. Dia pun merasakan hal yang sama. Cucu dari Rindra dan Radit itu terlihat bahagia karena di matanya banyak sekali wajah-wajah lucu yang mendekat dari belakang. Namun, seroang bodyguard tinggi, besar dan berbulu sangat melindunginya. Bayi tampan itu malah terbahak dan itu membuat Rindra aneh.


"Hey, kamu ketawa sama siapa?"


Anak Restu malah semakin terkekeh. Rindra malah menggelengkan kepala melihat tingkah sang cucu. Mereka tidak tahu bahwa cucu pertama mereka bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata. Para makhluk yang ingin mengganggu malah diadukan kepalanya oleh sang makhluk yang menjaganya.


.


Minggu pagi, Abang Er Rindra dan Nesha diantarkan ke rumahnya. Kedatangan bayi tampan itu disambut oleh Moma dan Popa. Bayi itupun nampak senang sekali.


"Ke mana Mami dan Papi Abang Er?"


"Sasa lagi gak enak badan. Semalam pulang langsung muntah-muntah." Echa menjawab pertanyaan sang besan yang tak lain adalah kakak iparnya.


"Makanya Restu melarang Abang Er buat ketemu Maminya dulu. Takut nular." Kini, Radit yang angkat suara.


"Iyalah. Biar Sasa pulih dulu. Baru Abang Er boleh bersama ibunya."


Benar kata orang jika ayah dan ibu akan lebih sayang pada cucunya dibandingkan anaknya. Itu nampak jelas pada kakek dan nenek baru tersebut.


"Enjan!"


Suara cempreng terdengar. Siapa lagi jika bukan Balqis dan juga Apang yang berteriak. Serta Ahlam. Mas Dalla hanya mengikuti ketiga adiknya. dari belakang.


Abang Er nampak senang dan sudah kenal kepada empat anak Aska. Sekalinya digoda langsung tertawa.


"Baba Aqis ingin culik Enjan, boleh?"


Echa mencubit pipi Balqis dengan cukup keras hingga dia mengaduh.


"Ada ya penculik bilang-bilang." Echa meledek Balqis.


"Ada, Aqis yang nyuliknya."


Semua orang pun tertawa. Ada saja jawaban dari Balqis. Remaja yang cantik seperti ibunya, yakni Jingga. Abang Er pun terlihat sangat senang dengan kehadiran empat sepupu ibunya itu. Rindra dan Nesha ikut tertawa ketika cucu mereka berdua terkekeh dengan begitu renyahnya.


.


Di kamar kedua orang tua Abang Er, Aleesa masih terlihat pucat. Restu masih setia berada di samping sang istri dengan memijat kening Aleesa yang sedari tadi mengeluh pusing.


"Ke dokter, ya."


"Enggak, Pi."


Restu menghela napas kasar. Kejelekan Aleesa seperti ini. Dia susah untuk diajak ke dokter jika tengah sakit.


"Mami gak boleh sakit. Kalau Mami sakit siapa yang ngurus Papi dan Abang Er?"


Restu mulai membujuk sang istri. Namun, Aleesa tetap pada pendiriannya. Hingga Restu lelah dan memilih untuk diam. Namun, dia tidak berhenti memijat kepala sang istri.


Ketika Restu mencium ujung kepala Aleesa, sang istri malah menutup mulutnya menahan sesuatu. Ada rasa tak karuhan yang menerpa perutnya hingga dia berlari ke kamar mandi tanpa pamit. Restu terkejut dan dia ikut menyusul sang istri.


Aleesa yang memang belum makan apapun tentang mencoba mengeluarkan isi perutnya. Mual yang tak karuhan membuatnya mencoba untuk memuntahkan apa yang bisa dia muntahkan. Pijatan di tengkuk leher membuat Aleesa merasa sedikit nyaman. Gejolak rasa mual mulai menghilang. Tubuhnya pun dia sandarkan ke dada bidang sang suami. Restu mengusap lembut keringat yang ada di pelipis Aleesa.


"Kita ke dokter, ya." Aleesa masih menolak.


"Papi merasakan hal yang aneh."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2