
Dokter Rocki menghela napas lega ketika semuanya sudah diatur. Dia baru tahu jika Aleesa adalah anak yang memiliki kelebihan. Apa yang dijelaskan oleh Raditya selaku sang ayah membuat dokter Rocki mengangguk mengerti.
Skenario perjalanan sudah mereka atur dan dokter Rocki merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan keluarga Aleesa yang sangat luar biasa itu. Kecerdikan mereka miliki.
Rindra menatap ke arah Aksa dengan tatapan penuh terima kasih. Aksa tersenyum dan menepuk pundak Rindra.
"Demi calon keponakan." Akhirnya, Rindra pun tertawa. "Gua udah nge-klik sama brandal piaraan lu itu, Bang." Aksa berkata bagai kepada temannya saja. Itulah dia. Jika, sudah sefrekuensi dengan orang, tidak akan ada kesopanan yang Aksa katakan. Rindra pun malah senang karena dia merasa masih seusia Aksa.
"Jaga Aleesa ya, Om." Rio menatap penuh harap kepada Aksa. Paman dari Aleesa itupun mengangguk.
.
Sang ibu sudah membereskan pakaian Aleesa. Dia juga tidak membawakan banyak pakaian untuk putrinya. Radit sudah mempersiapkan pengawal untuk Aleesa selama berada di sana. Menyiapkan semua kebutuhan Aleesa. Juga, dokter khusus.
"Jangan nangis terus ya, Sa. Kamu akan bertemu Restu." Echa sudah mengusap lembut rambut sang putri yang tengah memeluk sang ayah.
__ADS_1
"Restu pasti akan sedih kalau kamu menangis terus." Radit sudah membuka suara.
Semenjak bersama Restu dan sikap Restu yang terkadang galak kepada Aleesa membuat Aleesa mampu menahan dirinya. Sehingga Aritmia yang masih bersarang di tubuhnya tidak kambuh. Contohnya sekarang, Aleesa sering menangis dan hampir setiap hari dia menangisi Restu. Akan tetapi, tidak pernah sekalipun aritmia itu kambuh. Radit bahagia akhirnya Aleesa mampu mengendalikan emosinya dengan baik.
Kedua orang tua Aleesa menyuruh Aleesa untuk terpejam satu sampai dua jam agar jantungnya tidak terkejut. Aleesa pun menuruti apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya. Dia merebahkan tubuhnya dengan tangan yang memegang liontin kalung pemberian Restu.
"Aku akan berada di samping kamu, Bie. Aku akan menemani kamu."
.
Aleesa melihat seorang pria tengah memeluk lututnya dan terduduk di atas rerumputan hijau. Dia ingin mendekat, tapi pria itu seperti berada di dalam bubble besar. Dahi Aleesa mengkerut ketika melihat ada orang lain di sana. Orang terus mendekat, tapi pria itu terus menggibaskan tangan pria paruh baya yang seakan ingin mengajaknya pergi.
"Bie--"
Air matanya melaju dengan begitu deras. Begitu juga dengan pria itu. Dia mulai mendekat dengan air mata yang mengalir juga.
__ADS_1
"Lovely."
"Sasa!"
Aleesa membuka matanya dengan air mata yang semakin deras mengalir di wajahnya.
"Kamu kenapa, Sa?" Sang ibu sudah memeluk tubuh Aleesa. Dia yakin Aleesa memimpikan sesuatu.
"Apa ini alasan kenapa aku harus ke sana? Kakek itu siapa?"
Jam dua belas malam Aleesa sudah siap dan akan diantar ke Bandara oleh kedua orang tuanya. Namun, dia tidak diberi tahu dengan siapa saja dia ke Zurich. Dahi Aleesa mengkerut ketika mobilnya melaju bukan ke arah bandara internasional. Tibanya di sana, dia terkejut ketika tiga orang pria dewasa menyambutnya dengan senyuman hangat.
"Sudah siap?" Aleesa mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca.
Aksa, Aska dan Iyan yang akan menemani Aleesa ke Zurich. Tentunya dengan skenario yang sudah mereka susun.
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ....