
Rio sudah berdecak kesal ketika dia seperti nyamuk di antara Restu dan juga Aleesa. Di mana dua pasangan itu kompak memakai masker dan sedari tadi tangan mereka terus bertaut. Ditambah Restu yang selalu protektif kepada Aleesa.
"Mana sih si Agha?" Rio pun mulai geram. Sepupu dari Aleesa itu belum juga datang. Sedangkan mereka sudah memutari mall dan sekarang sudah di kedai minuman.
"Kok cuma satu?" Aleesa bingung karena kekasihnya hanya membeli dua minuman, satu untuk Rio dan satunya untuk dirinya.
"Biar romantis."
Rio pun tersedak mendengar penuturan dari Restu. Sontak Aleesa dan Restu menatap ke arah Rio.
"Romantis sama pelit beda tipis." Aleesa tertawa sedangkan Restu sudah menatap tajam ke arah sahabatnya itu.
"Kedainya aja bisa gua beli." Sombongnya pun keluar. Namun, Aleesa segera memukul lengan Restu.
"Jangan sombong ah, Bie." Aleesa memarahi sang kekasih hati.
"Tuh denger," timpal Rio. Restu hanya berdecak kesal, tapi selalu saja Aleesa bisa menenangkannya. Dia memberikan Restu minuman yang baru dia minum membuat Restu tersenyum.
"Kan bekas bibir kamu itu lebih manis," bisiknya dan membuat Aleesa tertawa.
"Dasar pasangan bucin!" ejek Rio sambil memainkan ponselnya.
Sepuluh menit berselang Agha pun datang. Dia memasang wajah santai sedangkan wajah Rio sudah sangat emosi.
"Maaf, di bawah dimintain foto."
"Berasa artis lu?" Rio mulai geram sendiri. Setidaknya jika ada Agha dia tidak akan jadi obat nyamuk seorang diri.
Aleesa hanya tertawa. Sudah biasa jika sepupu tampannya itu akan menjadi pusat perhatian jika berada di mall. Wajahnya yang tampan membuat orang-orang yang melihatnya terpesona pada remaja itu.
Pasangan bucin di depan mereka membuat mata mereka berdua sepet. Bagaimana tidak, Restu sangat posesif kepada Aleesa hingga tak membiarkan Aleesa terlepas dari genggaman tangannya barang sedikit pun.
"Kok gua berasa pasangan hemos ya sama lu." Agha berdecak kesal sedangkan Aleesa dan Restu tetap terus berjalan dengan tangan yang terus bergenggaman.
Tanpa mereka sadari, di sana ada Yansen yang juga akan menonton film yang sama dengan mereka. Melihat Aleesa dan Restu membuat hatinya sedikit sakit dan nyeri. Apalagi, Aleesa yang nampak sangat bahagia bersama pria yang lima tahun lebih tua darinya.
__ADS_1
Kursi yang mereka duduki pun sejajar. Mereka berempat, tapi Restu membeli 5 tiket. Satu kursi sengaja dikosongkan Agar tidak ada yang dekat dengan kekasihnya.
Sedari tadi Restu tahu Aleesa tidak menyukai film ini. Restu merangkul pundak sang kekasih dan membuat Aleesa menoleh. Aleesa merangkul lengan Restu dan bersandar di pundak kekasihnya.
"Berasa lagi nontonin kamu berantem." Restu malah tertawa dan mengecup ujung kepala Aleesa.
Mereka berempat sudah berada di sebuah restoran di mana Rio dan Agha yang memilih tempatnya. Restu sekali mengiyakan karena jarang sekali momen ini terjadi. Namun, disela makan malam mereka sebuah telepon masuk ke ponsel Restu. Dia tidak menjauh, dia menjawab telepon itu di samping Aleesa.
"Ya."
"01.00 AM?"
Aleesa segera menoleh begitu juga Rio. Dua anak manusia itu seakan menunggu penjelasan dari Restu.
"Gua harus berangkat jam satu malam nanti."
Tiba-tiba rasa lapar menghilang begitu saja. Aleesa meletakkan sendoknya hingga berbunyi. Restu menggenggam tangan Aleesa dengan tatapan sedih juga.
"LDR again?" Mata Aleesa sudah berkaca-kaca.
Diamnya Aleesa sedari tadi membuat Restu tidak tega meninggalkan kekasihnya itu. Apalagi, ketika tiba di rumah Aleesa segera masuk dan meninggalkannya. Bukan Restu jika dia menyerah. Dia menarik tangan cukup kencang hingga wajahnya berbalik arah dan berada di dada bidang sang kekasih.
"Jangan buat aku berat meninggalkan kamu, Lovely." Suara yang begitu tulus yang keluar dari bibir Restu. Tangan Aleesa pun mulai melingkar di pinggang Restu.
"Aku masih ingin bersama kamu, Bie."
Sama-sama tidak ingin meninggalkan. Itulah mereka berdua. Ada rasa khawatir ketika Aleesa akan dia tinggalkan. Dia takut, Jordan akan terus mengincar Aleesa.
Setelah berusaha keras meyakinkan Aleesa, akhirnya jam setengah dua belas malam barulah Aleesa mampu melepaskan Restu. Aleesa memeluk erat tubuh Restu sebelum dia masuk ke dalam mobil. Pelukan yang tidak rela.
"Jaga diri kamu baik-baik, Bie. Selalu hubungi aku jika kamu ada waktu luang."
"Pasti."
Restu mengecup kening Aleesa dengan begitu dalam, dan kini kecupan itu berpindah ke bibir Aleesa. Pagutan itu seakan tidak mau lepas. Cukup lama mereka berbalas, akhirnya itu harus berakhir. Restu mengusap lembut bibir Aleesa yang basah.
__ADS_1
"Dua Minggu lagi aku akan kembali dan akan mengecup bibir kamu lebih lama dari ini." Aleesa tersnyum dan dia memulainya kembali sebagai perpisahan selamat tinggal.
Sebelum ke hotel di mana madam Zenith berada. Restu pergi ke sel tahanan di mana Jordan berada. Dia masuk dengan begitu mudah karena dia memiliki orang dalam. Dia tertawa puas melihat Jordan bagai ikan yang terdampar di daratan. Napasnya semakin tersengal.
"Bagaimana rasanya ditelantarkan seperti ini?" Ingin rasanya Jordan menimpali, tapi matanya tidak bisa dia buka dan mulutnya tak bisa dia gerakkan.
"Masihkah Anda ingin hidup? Atau ingin segera cepat mati?"
Dendam seorang Restu Ranendra sangatlah besar. Dia akan menjadi monster pembunuh ketika kesabarannya sudah habis. Ingin rasanya dia membunuh Jordan, tapi itu malah akan menyenangkan untuk Jordan.
"Biarkanlah aku menyiksa Anda dulu supaya Anda tahu bagaimana jadi aku pada waktu itu." Senyum jahat terukir di wajah tampan Restu. Dia pun meninggalkan sel tahanan dengan meninggalkan anak buahnya yang tak terlihat untuk memantau Jordan.
Penerbangan jam satu malam terasa sangat aneh bagi Restu. Namun, dia harus tetap menjalankan tugasnya dengan baik disisa masa kontraknya. Risiko yang harus dia hadapi.
Tak dia sangka kedua orang tuanya juga Rio sudah ada di Bandara. Dia sangat terharu. Nesha segera memeluk putra pertamanya dan membuat hati Restu menghangat.
"Jaga diri kamu baik-baik, Nak. Jangan pernah pulang dengan terluka. Ingatlah, banyak orang yang menantimu di sini."
Rindra sudah mengusap lembut pundak Restu, dan Restu memeluk tubuh ayahnya.
"Kembalilah pada tempat di mana seharusnya kamu kembali. Kamu sudah dewasa, Papih yakin kamu tidak akan pernah salah menilai." Sebuah petuah yang dijawab anggukan oleh Restu. Namun, seperti tamparan keras untuk madam Zenith yang mendengarnya.
Rio, dia sudah memeluk tubuh sahabatnya. Restu pun nampak berat meninggalkan.
"Pulang dengan selamat, kalau bonyok lagi dan buat Mamih serta Aleesa nangis gua akan tonjok muka lu." Restu pun terkekeh dan mengusap lembut rambut Rio..
"Jaga diri lu juga. Maaf, belum bisa jagain lu."
Keraguan hinggap lagi di hati Madam Zenith ketika melihat interaksi Restu dengan Rio yang seperti adik-kakak sungguhan.
"Tuhan, semoga keputusanku untuk tes DNA ini tidak salah."
...***To Be Continue***...
Komen atuh ...
__ADS_1