
Aleesa menatap Rio dengan sorot mata penuh katakutan. Dia juga memegang lengan sang sepupu dengan sorot mata yang tak bisa berdusta.
"Restu bisa mengatasi semuanya. Percaya sama aku." Rio bertugas untuk menenangkan Aleesa walaupun dia masih terkejut dengan kenyataan yang dia dengar.
Sebelum suaminya bertindak, Aleesa sempat melaranh. Dia takut terjadi apa-apa dengan suaminya. Adik dari opanya bisa menjadi manusia sangat jahat. Apalagi pria tua itu sudah mengancam jikalau suaminya akan dipenjara dalam jangka waktu yang lama. Drama pun sedikit terjadi. Hingga Restu bisa meyakinkan Aleesa dengan usaha yang tak mudah. Dia juga berjanji akan baik-baik saja dan ancaman Satria tidak akan pernah terjadi.
"Pokoknya kita tunggu aja di sini."
.
Tubuh Satria menegang ketika melihat wanita yang ada di atas kursi roda. Wanita yang menatap nanar dan penuh kebencian.
"Terkejut 'kan." Restu berucap lagi.
Senyum penuh ejekan ditunjukkan kepada Satria. Restu Ranendra tersenyum penuh kemenangan di saat Satria tak bisa berkata apapun.
"Apa kamu kenal dengan wanita ini?"
__ADS_1
Satria masih tidak bisa berkata. Dia masih membeku. Matanya pun masih tertuju pada sosok wanita yang membuat dirinya syok.
"Aku belum mati."
Sebuah Kalimat yang keluar dari mulut si wanita. Sorot matanya penuh dendam. Jika, dia bisa berjalan sudah dipastikan akan mencekik Satria hidup-hidup.
"Tuhan masih memberikan aku kesempatan untuk mengatakan hal sebenarnya karena matinya seseorang ditentukan oleh Tuhan, bukan kamu, Mas."
Restu kini menjadi penonton saja. Nyali Satria seakan hilang begitu saja menghadapi wanita yang sedari tadi hanya duduk di kursi roda dengan tatapan penuh marah.
"Sudah terlalu banyak kebohongan yang kamu lakukan. Sudah saatnya seluruh dunia tahu siapa kamu."
Restu mendorong kursi roda tersebut ke dalam rumah dan dengan sengaja menabrak tubuh Satria hingga dia terjungkal ke belakang karena mencoba menghalanginya.
"Security!"
Satria memanggil pihak keamanan rumahnya. Namun, tak ada seorang pun yang datang. Malah pria berbadan tegap yang menghampiri.
__ADS_1
"Tangkap dia!"
Mendengar perintah Satria, Restu menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah tua Bangka itu dengan senyum sinis. Sedangkan pria berbadan tegap itu hanya melihat Satria saja tanpa mau membantu walaupun dia sudah mengulurkan tangan.
"Maaf. Saya sudah lelah bersekutu dengan orang yang salah. Saya ingin menjadi manusia baik yang berada di pihak yang benar."
Satria melebarkan mata. Satria sangat terkejut. Orang kepercayaannya kini berkhianat. Sungguh di luar dugaannya.
"Kamu ... bisa saya laporkan ke polisi." Satria mulai mengancam. Namun, pria itu tak gentar.
"Sebelum saya masuk ke dalam sel, Anda yang terlebih dahulu akan mendekam di balik sel tahanan. Catatan kejahatan Anda ada pada saya semua dan sudah saya serahkan kepada orang yang benar. Sekalipun Anda mengancam saya, saya tidak akan pernah takut karena saya tidak akan masuk ke dalam sel penjara sendirian."
Pria yang awalnya sangat hormat kepada Satria kini malah bersikap kurang ajar kepadanya. Malah berani menentangnya dengan sangat tegas.
Satria mulai berpikir perihal barang bukti yang beberapa hari kemarin dia tanyakan. Matanya hampir jatuh dari tempatnya karena jika itu sudah diserahkan kepada Restu habislah nyawanya. Ketakutan Satria semakin menjadi ketika melihat Restu mendorong wanita yang ada di kursi roda ke tempat di mana Kalfa berada. Pria tua itu mencoba untuk berdiri sendiri dan mengejar Restu beserta pria berbadan tegap yang mengikuti Restu dari belakang. Namun, dia kalah cepat dan terdengar suara wanita itu memanggil Kalfa.
"Nak--"
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...