
Di balik kebahagiaan yang tengah Restu dan Aleesa rasakan, ada laki-laki yang tengah menegang kesedihan sambil menyanyikan lagu melepas lajang.
🎶
Mungkin saat ini ku akan melepas masa lajangku
'Kan kupersunting dirimu
Jadilah pasanganku dan hidup menua bersamaku
Terimalah cintaku
#Flashback on..
Yansen sedikit terkejut ketika dia bertemu dengan Restu di mall tempatnya bernyanyi. Tatapan Restu begitu tajam dan membuat Yansen sedikit canggung.
"Mau ke mana, Kak?" tanya Yansen. Dia masih bersikap biasa dan menyapa Restu terlebih dahulu.
"Mau nyari cincin buat tunangan besok." Yansen tersenyum kecut mendengarnya. Restu hendak meninggalkan Yansen karena buru-buru, tapi Yansen menahannya.
"Bisa kita bicara sebentar." Wajah Yansen nampak serius.
"Gua gak akan pernah lepasin Aleesa." Yansen tersenyum dan mengangguk. Sikap Restu masih saja galak.
"Aku tahu itu."
Restu menghembuskan napas kasar. Dia pun akhirnya menuruti apa yang diminta Yansen karena Yansen menunjukkan sorot mata yang berbeda pada hari itu. Mereka duduk berdua di kedai kopi ternama.
"Apa benar Kakak mau tunangan sama Sasa?" Restu mengangguk dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Tubuhnya dia sandarkan di kursi yang tengah dia duduki.
"Aku ikut bahagja mendengarnya," sahut Yansen. Restu malah berdecih. Dia tahu isi hati Yansen yang sesungguhnya seperti apa.
"Gua gak mau Aleesa terus-terusan gamang jika ketemu sama lu." Ucapan Restu begitu ketus. Namun, tak membuat Yansen sakit hati.
"Dia gak mungkin gamang, Kak. Aku sangat melihat betapa dia mencintai Kakak. Dari tatapannya pun sangatlah berbeda." Yansen mencoba untuk menjelaskan apa yang dia lihat.
"Tolong jaga Sasa ya, Kak. Jangan sakiti dia, dan ketika dia menangis tetaplah di sampingnya. Jangan pernah tinggalkan. Sekuat-kuatnya Sasa tetap saja dia membutuhkan bahu untuk bersandar dan dada untuknya menangis." Ucapan Yansen seperti memiliki clue misterius.
"Gua akan tetap jaga dia. Jangan khawatir." Begitulah jawaban Restu. Yansen pun tersenyum. Setidaknya dia merasa lega sedikit.
Sudah tidak ada lagi obrolan di antara mereka hingga Restu beranjak dari duduknya.
"Kak," panggil Yansen lagi. Restu pun menghela napas kasar dan menghentikan langkahnya.
"Bolehkah aku yang bernyanyi di acara pertunangan Kakak?"
#off.
"Senyum kamu yang begitu lebar menandakan jika kamu sungguh sangat bahagia. Aku ikut bahagia, Sa."
Berdamai dengan Restu, itulah yang coba Yansen lakukan. Walaupun pria yang lima tahun lebih tua darinya itu masih belum terlalu baik kepadanya. Restu adalah pencemburu berat. Jadi, Yansen harus dapat memaklumi.
Yansen hanya bisa melihat Aleesa dari kejauhan. Dia tidak ingin merusak semuanya. Terlebih seluruh keluarga Aleesa nampak amat bahagia. Mereka begitu akrab dengan Restu beda halnya dengan dia..
Perihal luka lebam yang dia derita memang itu hasil dari celakanya sendiri. Dia tengah berlari dan tak sengaja membentur tiang. Alhasil cendera mata hadir di wajahnya.
"Kamu sudah mendapat restu yang sesungguhnya, yakni Restu Ranendra."
__ADS_1
.
Restu sama sekali tidak melepaskan rengkuhannya pada pinggang Aleesa. Rona bahagia pun terlihat begitu jelas di wajahnya.
"Kamu jahat!" Restu tersenyum dan untuk kesekian kalinya mengecup ujung kepala Aleesa.
"Maaf ya, Lovely. Aku gak mau berlama-lama. Aku gak mau hati kamu goyah."
"Bie, aku hanya mencintai kamu. Jikalau aku menatap Sensen itu hanya tatapan sebagai sahabat." Kali ini Restu mengangguk mengerti. Aleesa pun nampak lega dan memeluk tubuh Restu dengan begitu erat.
"Berikan aku pria seperti Kak Restu, Tuhan. Pria yang tegas dengan pendirian yang kuat."
Permintaan hati dari Aleena seakan tengah menyindir seseorang. Melihat sikap tegas Restu membuatnya ingin dipertemukan dengan pria seperti itu. Tak banyak bicara, tapi bukti nyata yang dia tunjukkan.
Mereka semua sudah menikmati makan malam di meja panjang dan besar. Mereka nampak berbincang karena ini adalah momen langka. Dua insan yang baru saja bertunangan masih bermesraan. Sudah tidak ada kecanggungan di antara mereka berdua di hadapan keluarga.
"Lamaran udah, kapan nikahnya?" Rindra sudah tidak sabar. Aleesa melirik tajam ke arah sang paman.
"Ya iya dong. Emang mau kamu dianggurin terus sama Restu?" ejek Rindra. Restu hanya tersenyum dan mengusap lembut rambut calon istrinya yang nampak cemberut.
"Tanya Kakak Na dulu lah Uncle Papih." Semua mata kini tertuju pada Aleena. Termasuk Rangga.
"Kenapa ngeliatinnya begitu?" Suara Aleesa membuat hati Rangga sejuk. Sudah lama dia tidak mendengar suara lembut Aleena.
"Kamu ngijinin Aleesa ngelangkahin kamu?" tanya sang paman yang tak lain adalah orang tua angkat Restu.
"Tanya jawabannya pada putra Uncle Papih," ujar Aleena. "Kemarin Kakak Na sudah memberikan jawabannya kepada Kak Restu."
#Flashback on.
Di tengah rasa cemburu yang melanda. Setelah membeli cincin untuknya dan Aleesa, pada akhirnya Restu memutuskan untuk terbang ke Singapura. Dia teringat akan ucapan Aleesa yang harus meminta ijin terlebih dahulu kepada Aleena jika dua ingin meminang Aleesa.
"Kak Restu."
Aleena dan Restu sudah duduk di ruang tamu apartment Aleena. Kakak dari Aleesa sudah menatap penuh tanya ke arah pria yang kini menjadi kekasih adiknya itu.
"Gua mau ngelamar Aleesa." Respon Aleena hanya tersenyum, dia tidak terkejut sama sekali.
"Seyakin itukah? Bukannya terlalu cepat?" Aleena mulai menginterogasi calon kakak ipar yang lebih tua lima tahun darinya.
"Kalau gua gak yakin gak bakal gua datang ke sini. Pulang-pergi, Kurang kerjaan." Sudah meminta restu, tapi tidak ada bahasa lembut sama sekali. Aleena malah tertawa.
Aleena masih memperhatikan Restu yang sedari tadi terlihat begitu serius. Dari setiap ucapannya pun penuh keseriusan.
"Kenapa lu liatin gua?" tanya Restu dengan menukikkan kedua alisnya. Lagi-lagi Aleena hanya tersenyum. Aleena adalah titisan Raditya Addhitama tidak banyak tanya, tapi memperhatikan dengan begitu teliti.
"Kapan Kakak mau melamar Sasa?" Kini, Aleena sudah menatap serius ke arah Restu.
"Besok."
"What?" Aleena nampak terkejut. "Gak kecepatan?" Restu malah berdecak.
"Pengennya sih malam ini, tapi jam segini aja gua masih ada di Singapura. Belum lagi gua harus ke Bandung."
"Ngapain?" tanya Aleena.
"Ya minta ijin ke adik lu lah, si Aleeya. Setidaknya gua juga kudu minta restu dari saudara kandung Aleesa."
__ADS_1
Aleena menggelengkan kepala. Dia heran sekaligus bangga pada calon adik iparnya ini. Laki-laki di depannya ini memang tak main-main dengan perasaan dan ucapannya. Restu menatap Aleena kembali.
"Lu setuju 'kan?" tanya Restu. "Gak keberatan 'kan kalau dilangkahin Aleesa?" Restu menanti jawaban dari Aleena.
Aleena hanya mengangguk dan berkata, "jaga Sasa, ya. Cintai dan sayangi Sasa seperti Baba menyayangi kami. Kriteria calon suami kita yakni seperti Baba."
Ayah adalah cinta pertama untuk anak-anak perempuan. Itulah yang dirasakan oleh si triplets.
"Makasih sudah mau menerima kekurangan Sasa." Kekurangan yang Aleena maksud adalah penyakit Aritmia yang Aleesa derita. Sudah pasti ke depannya Restu harus menjadi suami siaga agar aritmia Aleesa tidak kambuh lagi.
"Gua mencintai apa yang ada pada Aleesa. Gua bukan laki-laki yang hanya ingin enaknya doang." Aleena pun mengangguk seraya tersenyum.
"Aku percaya itu kok."
Restu bisa bernapas lega karena kakak dari Aleesa tidak mengungkit masa lalunya. Satu hal yang dia takutkan jika keluarga Aleesa mengungkit masa lalunya. Sudah pasti dia akan mundur perlahan. Merasa tak pantas bersanding dengan Aleesa.
#off.
"Jadi, yang pakai Hoodie itu--" Aleena mengangguk.
"Itu calon suami kamu." Aleena menjawab dengan begitu santai.
Tatapan tajam pun Aleesa berikan kepada Restu dan disambut senyum khasnya.
"Seneng banget bikin orang kelimpungan." Aleesa pun merajuk. Semua orang pun tertawa.
"Terus kapan nikahnya?" Rindra bertanya lagi.
"Kasih jeda dulu, Pih. Aku mau kerja dulu biar gak disangka pengangguran. Masa calon menantu Raditya Addhitama seorang pengangguran? 'Kan merusak citra calon mertua dong." Tawa pun menggema. Bisa saja seorang Restu menjawabnya.
"Tau ngebet banget sih, Pih." Rio sudah menimpali dengan tatapan mata kesal.
"Ya gak apa-apalah. Nungguin kamu nikah mah sampe lebaran monyet juga belum tentu nikah." Mereka tertawa kembali. Sedangkan Rio sudah berdecak kesal.
"Putra pertama Daddy gimana? Adakah rencana menikah cepat?" Semua mata kini beralih pada Rangga. Laki-laki berwajah tampan itu nampak terkejut.
"Pasti pramugari pada cantik dong, ya." Rio bertanya kepada Rangga.
"Semua pramugari memang cantik." Seketika hati Aleena terasa perih mendengarnya.
"Tapi, gak bisa mengalihkan kecantikan seseorang yang sulit aku gapai." Semua orang menatap lebih dalam lagi ke arah Rangga.
"Siapa?" Mereka pun kompak bertanya.
Aleena menunduk dalam dan ingin sekali dia pergi dari sana.
"Spill lah orangnya," ujar Rio penasaran. Aleesa mengulum senyum dan menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Restu sambil memeluk pinggang Restu dari samping karena melihat wajah sang kakak yang sudah merasa tidak nyaman. Mereka semua tengah menanti jawaban dari Rangga.
"Maaf, aku telat." Tubuh Aleena menegang ketika mendengar suara yang sangat dia kenali.
Tatapan tajam Aksa berikan kepada laki-laki seusia keponakannya sudah berada di sana. Begitu juga dengan Restu.
"Lu ngundang dia?" tanya Aksa kepada Restu. Tunangan dari Aleesa itupun menggeleng.
"Yaya yang ajak dia ke sini."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Ayo dong komen ...