
Tanpa berpikir panjang Restu mengembalikan surat itu. Sudah terlihat dari mimik wajahnya bahwa dia menolak.
"Saya tidak berhak atas ini." Beginilah Restu Ranendra. Padahal yang memberikannya adalah ibu kandungnya, tapi dia benar-benar tidak serakah.
"Tapi, Tuan--"
"Berikanlah pada Gemke." Sebuah perintah yang membuat pengacara itu tercengang. Dia menatap ke arah Gemke yang tersenyum.
"Maaf, Mr. Saya sudah mendapat bagian saya. Itu memang sudah Madam persiapkan untuk Anda." Gemke membeberkan.
"Saya tidak mau." Gemke malah tertawa.
"Kalau Anda tidak mau, bisa dihibahkan kepada anak Anda nanti, yang tak lain adalah cucu madam Zenith." Mata Restu pun melebar mendengarnya. Gemke meresponnya dengan tersenyum.
"Nama Anda sudah tertulis sebagai pemilik perusahaan besar ini. Anda tidak perlu mengurus perusahaan karena ada orang-orang yang akan mengurus semuanya. Anda hanya tinggal memantaunya saja. Cukup dua sampai tiga kali Anda datang ke perusahaan dalam satu tahun. Mendiang Madam sangat tahu bahwa di Indonesia pun Anda pasti akan sangat sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan Anda. Anda akan menjadi menantu dari Raditya Addhitama yang memiliki perusahaan besar. Juga ayah angkat Anda pun tidak mungkin tidak memberikan Anda perusahaan. intinya, ibu kandung Anda hanya ingin nama Anda tertulis sebagai penerus dari Zenth Grup. Hanya itu," jelas Gemke. Restu terdiam dan dia menatap ke arah Aleesa.
"Empat puluh persen penghasilan bersih perusahaan akan masuk ke dalam rekening pribadi Anda, enam puluh persen lagi untuk biaya perusahaan. Hanya bermodal nama, Anda sudah mendapatkan hampir setengah penghasilan bersih dari perusahaan yang susah payah Madam kembangkan."
"Itulah cara Nyonya Zenith Andrea menebus kesalahannya kepada Anda, Tuan. Beliau juga tahu jika kesalahannya tidak bisa dibayar dengan apapun, tapi dengan seperti ini dia berharap akan bermanfaat untuk Anda dan keluarga kecil Anda." Pengacara madam Zenith Andrea sudah membuka suara.
"Kenapa saya selalu berurusan dengan uang?" keluhnya. Gemke tertawa. Hanya Restu yang mengeluh dengan banyaknya yang dia miliki.
"Uang yang saya miliki pun sudah saya serahkan kepada calon istri saya." Aleesa malah tersenyum dan mencubit perut Restu. Tingkah Restu kali ini membuat Gemke dan pengacara itu tertawa.
.
"Sebelum Aleesa menikah kita harua menemui Papah dan Mamah." Echa sudah berbicara kepada Radit. Sang suami hanya mengangguk.
"Aksa dan Aska pun pasti akan ikut." Echa tersenyum dengan begitu manis, tapi Radit malah memeluk tubuh sang istri.
"Lebih baik kita ke sana semua. Bilang juga kepada Aleesa agar setelah dari Zurich dia terbang ke Sydney."
Di lain rumah, Aksa tengah menatap foto keluarga berukuran besar yang ada di ruang kerjanya. Bibirnya tersenyum.
__ADS_1
"Dad, Mom, secepatnya kita akan bertemu. Abang janji semuanya akan terbang ke sana."
Helaan napas kasar pun keluar dari mulutnya. Dia melihat ponselnya yang bergetar. Pesan dari sang kakak sudah masuk.
"Ternyata kita sehati," gumam Aksa.
Aksa sudah meneruskan pesan sang kakak kepada anggota kelurganya yang lain melalui pesan grup. Sang adik meresponnya dengan senyuman yang begitu mengembang. Rasa rindunya akhirnya akan terobati. Jingga yang sedang berada di kamar langsung menemui sang suami yang tengah berada di ruang kerja. Dia menanyakan pesan yang dikirim oleh sang kakak ipar. Aska tersenyum dan mengangguk.
"Ayah tadi udah telepon Abang. Besok malam kita akan terbang ke sana." Jingga tersenyum, tapi dia langsung memeluk tubuh sang suami.
"Ayah sangat rindu mereka."
Kabar itupun sudah diterima oleh Aleeya. Mau tidak mau besok pagi dia harus terbang ke Jakarta. Dia tidak ingin melewatkan momen ini. Momen melepas rindu bersama keluarga besar Wiguna.
"Pipo, Mimo, Adek rindu kalian." Foto kakek dan neneknya Aleeya pandangi. Bibirnya tersenyum, tapi ujung matanya berair.
Aleesa menunjukkan pesan kepada Restu. Wajah Aleesa begitu datar. Restu merangkul pundak Aleesa dan mencium ujung kepala Aleesa.
"Kamu akan bertemu dengan dua orang hebat yang penuh cinta. Rindu kamu akan terobati." Aleesa tersenyum.
"Ini sudah tengah malam, Non."
"Hanya sebentar, Pak." Sopir itupun akhirnya menyetujui.
Sebutan ombak, angin laut sudah menerpa tubuh Aleena. Namun, dia tak menghiraukannya. Pesan dari keluarganya membuatnya lupa akan kejadian yang baru saja menimpanya.
"Mimo, Pipo!" panggilnya. Dia pun berlari. "Mereka akan datang ke sini. Kita tidak akan bertiga lagi menatap lautan luas itu. Kita akan berkumpul bersama melihat lautan luas yang berwarna biru dengan deburan ombak yang syahdu."
Sebuah senyum yang begitu lebar. Sebuah senyum penuh arti, penuh kerinduan yang mendalam.
"Kita akan berkumpul semua."
.
__ADS_1
Keesokan siangnya, Aleeya sudah tiba di Jakarta. Mereka berkumpul di rumah besar milik Giondra. Wajah mereka nampak bahagia. Senyum tidak pernah luntur di sana.
"Yeay! Kita akan bertemu Mimo dan Pipo!" Apang, putra ketiga Aska sangat bahagia. Begitu juga dengan Ghea dan Balqis. Agha dan Abdalla memasang wajah berbeda. Diamnya mereka seakan tengah merasakan sesuatu.
"Daddy, Aqis mau kasih bunganya lebih dari satu ya buat Mimo dan Pipo." Balqis sudah meminta kepada Aksa. Sang paman pun mengangguk dan mengusap lembut rambut Balqis.
"Pilihlah bunga yang menurut Aqis bagus. Mimo dan Pipo pasti akan senang."
"Siap, Daddy."
Aleesa dan Restu pun sudah bertolak ke Sydney dengan menggunakan pesawat komersil. Restu terus menggenggam tangan Aleesa.
"Sekalian minta restu sama Pipo dan Mimo." Aleesa menoleh ke arah Restu dan ikut tersenyum bersama tunangannya itu..
Anak-anak dan cucu-cucu serta para menantu Giondra Aresta Wiguna sudah memasuki Bandara. Di sana sudah ada jet pribadi yang lebih besar karena semua keluarga ikut. Mereka kompak mengenakan pakaian serba hitam dengan kacamata hitam pula. Baik perempuan maupun laki-laki.
Akhirnya, mereka semua mulai mengudara bersama ke Sydney. Tidak banyak yang bicara. Pesawat cenderung sepi. Biasanya si quartet membuat onar, sekarang malah menjadi anak yang kalem. Mereka seakan bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.
Aleesa dan Restu yang lebih dulu tiba harus menunggu keluarga besar mereka di bandara. Mereka akan bersama-sama pergi menemui Ayanda dan Giondra.
Satu jam menunggu akhirnya keluarga besarnya yang dari Jakarta tiba di Bandara. Si quartet berlari menghampiri Aleesa dan juga Restu.
"Ahjussi!"
Mereka berempat memang nakal, tapi mereka berempat sayang kepada Restu. Tentunya kepada uang yang dimiliki Restu. Calon suami dari sepupu mereka itu adalah orang yang tak pernah protes akan permintaan mereka. Sebelum ke rumah Ayanda dan Giondra, merek mampir ke toko bunga. Masing-masing dari mereka diwajibkan membeli satu tangkai bunga untuk diberikan kepada dua orang yang mereka sayang. Tentu saja itu akan dibayar oleh Aksara.
Tiba sudah mereka di rumah Ayanda dan Giondra. Suara deburan ombak sudah menyambut mereka. Aleena pun sudah ada di sana.
"Ayo, kita temui Pipo dan Mimo." Mereka semua mulai memasuki sebuah tempat yang begitu luas nan asri. Hingga mereka kompak menghentikan langkah.
"Dad, Mom, kami datang."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...