
"Bie, mau lihat wajah Ayah kamu gak buat terakhir kalinya?" Restu menggelengkan kepala dengan cepat. Aleesa yang memang sudah bisa berjalan hanya menghela napas kasar. Dia duduk di samping ranjang pesakitan sang kekasih.
Aleesa meraih tangan sang kekasih, mengusap lembut punggung tangan Restu. Laki-laki itu merangkulkan tangannya di lengan Aleesa. Restu seakan membutuhkan pundak untuk bersandar. Segagah-gagahnya dia, dia memiliki sisi rapuh yang hanya dia pendam sendiri.
"Aku tahu bagaimana sakitnya hati kamu."
Aleesa mengusap lembut rambut sang kekasih dan Restu meletakkan kepalanya di bahu Aleesa.
"Aku ingin kembali ke Indonesia. Aku ingin berhenti dari pekerjaanku ini." Aleesa menatap ke arah sang kekasih tak percaya mendengar ucapan Restu yang begitu jelas.
"Serius?" Restu mengangguk dan mulai menatap ke arah Aleesa.
"Aku gak mau buat kamu selalu dalam bahaya." Aleesa tersenyum dan mengusap lembut pipi sang kekasih.
"I Miss kissing you."
Aleesa malah terbahak. Dia mengecup singkat bibir Restu, tapi Restu malah berdecak kesal. "Gak kerasa."
.
Radit dan Echa yang mengurus jenazah Jordan Genea. Bagaimanapun itu adalah orang tua dari calon menantu mereka. Menyingkirkan rasa marah dan benci untuk sesaat. Jordan pun manusia biasa. Dia hanya salah jalan. Ketika seseorang meninggal harus segera diurus dan dikebumikan. Radit tahu bagaimana watak sang kakak pertamanya. Juga adik iparnya yang super kejam. Dia memilih untuk menjadi penanggung jawab. Masalah uang tidak jadi masalah untuknya. Dia hanya berpikir jika Jordan adalah manusai yang harus dimakamkan dengan layak. Dia bukan binatang yang bangkainya bisa dibuang di mana saja.
"Bapak siapanya jenazah?" tanya pengurus jenazah disalah satu rumah sakit di mana jenazah Jordan ada di sana. Setiap orang yang akan bertanggung jawab atas jenazah itu akan ditanya apa.hubungam mereka dengan jenazah.
"Saya calon besannya." Radit menjawab dengan begitu lugas. Sontak Echa sedikit terkejut mendengarnya.
"Kenapa Bapak yang urus semuanya?" Pengurus itu sedikit curiga. Banyak yang mengatsanamakan orang lain dan malah menggunakan tubuh jenazah sebagai alat parktik.
"Anaknya sedang berada di luar negeri dan sedang diopname juga. Dia tidak bisa segera kembali ke sini. Jadi, saya yang mewakilkan anak dan keluarganya."
Echa hanya bisa menatap bangga kepada suami tercinta. Dia benar-benar merasa beruntung karena ditakdirkan bersama Raditya Addhitama manusia yang berhati bagai malaikat. Sikap Echa yang terkadang berbanding terbalik akhirnya bisa mengikuti kebaikan suaminya. Saking bangganya, Echa meraih tangan Radit dan menggenggamnya. Radit menoleh ke arah sang istri yang sudah tersenyum begitu bangga.
__ADS_1
"Love you so much." Perkataan yang begitu pelan, tapi mampu Radit dengar. Dia tersenyum bahagia ke arah istrinya.
Di lain negara, beberapa pria dewasa mendengkus kesal karena disuruh berkumpul di ruang perawatan Restu oleh Radit.
"Mau ngapain sih?" Kesal, itulah yang Aksa rasakan. Bagaimana tidak, dia ingin rehat sejenak hari ini. Tidak ke rumah sakit karena diam lama-lama di rumah sakit membuat kepalanya pusing. Namun, perintah sang Abang yang tak bisa dibantah membuatnya mengerang kesal.
Sama halnya dengan Iyan. Dia sudah tidak ingin bertemu dengan hantu rumah sakit yang super ganjen. Dia lelah diikuti para hantu bule. Dia malah senang bertemu dengan hantu lokal. Sedangkan dokter Rocki sudah tahu apa yang akan dilakukan Radit. Dia sedikit bisa menilai watak dari adik Rindra Addhitama yang terkadang berbanding terbalik dengan sang kakak.
Aleesa yang tengah menyuapi Restu sedikit terkejut ketika melihat dua pamannya dan dokter Rocki datang secara bersamaan dengan wajah tak bersahabat.
"Pada kenapa?" Aleesa nampak bingung. Begitu juga dengan Restu.
"Tanya Baba kamu coba." Aleesa segera meraih ponselnya dan menghubungi sang ayah. Tak lama berselang ada pihak rumah sakit yang membawakan kain putih berukuran sedang dan dibentangkan di dinding. Juga ada sebuah ponsel dan sebuah proyektor.
Pihak rumah sakit pun menyalakan ponselnya dan benar dugaan dokter Rocki. Dia harus melihat pemakaman dari Jordan Genea.
"Idih!!" decak Aksa. Dia ingin keluar, tapi ruangan sudah dikunci membuat dia harus mengerang kesal untuk kesekian kalinya.
"Mending nemenin bini gua nonton drama Korea dari pada nonton beginian mah." Mulut Aksa sudah sangat lancar mengomel.
"Lanjut makan lagi, ya." Dia seperti memiliki bayi besar. Namun, Restu menolak. Itu membuat Aleesa menghela napas kasar.
"Bie, ini masih banyak."
"Aku mendadak kenyang." Semua orang menatap ke arah Restu. Mereka sangat tahu bagaimana bencinya Restu kepada ayah kandungnya.
"Setidaknya kamu lihat bagaimana dia masuk ke liang lahat. Apa akan ada azab seperti di sinetron-sinetron." Dokter Rocki sudah membuka suara.
Restu hanya terdiam, Aleesa mencoba menenangkan. Dia duduk di samping Restu dan menggenggam tangan kekasihnya sambil menatapnya dengan begitu dalam.
"My big baby."
__ADS_1
Restu malah meletakkan kepalanya di bahu Aleesa. Dokter Rocki tersenyum akhirnya laki-laki yang sudah dia anggap seperti anaknya menemukan bahu untuknya bersandar di saat seperti ini. Restu bukan orang yang mudah untuk membuka hati. Dia sangat tahu itu.
Video prosesi pemakaman pun diputar. Terlihat Radit dan Echa ada di sana. Juga ada Rio. Restu yang malas menonton pun terpaksa menyaksikannya. Tidak ada air mata di sana. Malah dia bisa bernapas lega. Beda halnya dengan Kaira. Dia menangis dan menjerit membuat Aska ingin menyudahi rekaman video tersebut.
"Set dah! Suara lu kayak knalpot bocor," omel Askara.
Zenith Andrea hanya bisa menatap layar putih dengan mata yang tak berkedip. Ada seringai yang muncul di sana.
"Akhirnya kau ke neraka juga." Suara yang menyeramkan dan membuat Aska berdecih meremehkan.
"Lu juga bakalan ke neraka entar. Belum saatnya aja." Aska menimpali. Zenith malah menatap tajam ke arah Aska dan Aska sama sekali tidak takut.
.
Rindra sudah mengatur kepulangan Restu. Kondisi Restu pun sudah mulai membaik. Lukanya sudah mulai kering. Dia sangat menikmati waktu bersama Aleesa di rumah sakit. Memeluk tubuh Aleesa dari belakang yang tengah membereskan meja di samping ranjang pesakitan.
"Bie." Restu sudah meletakkan dagunya di bahu Aleesa.
"Kamu rindu hal kaya gini gak?" Aleesa tersenyum.
"Sangat rindu." Restu membalikkan tubuh Aleesa dan tersenyum ke arah wanita yang sangat dia cintai.
"I Miss your lips." Tangan Restu sudah menyentuh bibir Aleesa yang kini sudah tersenyum.
Bibir Restu sangat cepat hingga sudah beradu dengan bibir milik Aleesa. Lebih dari dua Minggu tak melakukan hal ini membuat mereka seakan tengah menuntaskan hasrat mereka dengan begitu panas dan ganas.
Hanya mengambil napas beberapa detik. Kemudian, melanjutkan cumbuan bibir mereka lagi dan lagi. Hingga sekarang Aleesa sudah berada di pangkuan Restu.
"Aku ingin memilikimu." Suara Restu sudah parau. Matanya pun sudah sayu.
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Lanjut jangan? Komen atuh lah ...