RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 40. Murung


__ADS_3

Setelah melihat foto ciuman tersebut, Yansen terlihat murung. Dia nampak sedih. Wajar jika itu terjadi. Tidak mudah untuk melepaskan Aleesa, perempuan yang sedari kecil sudah bersamanya.


"Sedih sehari atau dua hati gak apa-apa. Toh, nantinya juga kamu akan pergi dan tak akan kembali 'kan."


Sebuah bisikan yang mampu Yansen dengar. Namun, tak ada siapa-siapa di sana. Hanya senyum kecil yang dia sunggingkan.


Melihat adiknya murung seperti itu membuat Grace merasa sakit hati. Dia tidak terima Aleesa melukai hati adiknya.


"Kamu lihat sendiri 'kan sekarang, bagaimana sikap Aleesa. Dia bukan wanita baik-baik."


Yansen segera menoleh ketika mendengar pernyataan dari kakaknya. Grace nampak marah dan Yansen hanya tersenyum tipis.


"Kenapa Kakak marah? Bukankah harusnya Kakak senang. Jadi, tidak perlu susah payah lagi memisahkan aku dengan Sasa." Grace terdiam.


"Aku lebih tahu Sasa dibandingkan Kakak. Sasa bukan wanita gak benar. Dia wanita baik-baik."


"Mana ada wanita baik-baik seperti itu," sergah Grace. "Mau dicium laki-laki yang berlatar belakang jahat."


"Cukup, Kak!" cegah Yansen. "Tidak usah merendahkan latar belakang orang lain."


"Kenapa? Apa emang kamu sudah tahu sedari dulu bahwa Aleesa itu menduakan kamu, iya?"


Yansen menghela napas kasar dan memejamkan matanya sejenak. Dia menatap ke arah kakaknya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Sasa adalah wanita setia, dia bukan peselingkuh," elak Yansen.


"Buka mata kamu, Sen! Ini bukti udah di tangan." Grace geram sendiri kepada adiknya.


"Sasa tidak akan mengkhianati aku jika Kakak tidak terus mengancamnya!" Akhirnya, Yansen tahu yang sebenarnya. Grace membeku.

__ADS_1


"Alasan Sasa pergi ke Swiss karena ancaman Kakak. Sasa tidak meminta pergi, tapi babanya tahu apa yang Kakak katakan pada putrinya." Yansen menjelaskan dengan mata yang nanar. "Kakak juga 'kan yang memberikan video pertunangan aku dengan Nathalie, dan Kakak tahu apa yang terjadi. Sasa kambuh lagi!" Suara Yansen pun akhirnya meninggi.


"Pria itu! Pria yang Kakak cibir orang jahat, bagi keluarga Om Radit dia adalah seorang penyelamat. Dia yang menyelamatkan Sasa dari sakit yang hadir karena ulah Kakak." Yansen menutup matanya sejenak. Bulir bening menetes begitu saja.


"Cukup, Kak. Biarkan Sasa bahagia. Aku akan melepaskan Sasa, dan akan aku pastikan tidak akan ada yang bisa memiliki aku, kecuali Tuhan Yesus."


.


Restu masuk ke kamar Aleesa di mana sang penghuni kamar tengah memainkan ponselnya. Aleesa mengalihkan pandangannya ketika Restu sudah duduk di tepian tempat tidur.


"Aku keluar sebentar, ya."


"Ke mana?"


"Ke depan doang. Ada teman aku di sana."


"Cowok, Lovely." Aleesa masih terdiam. Hati kecilnya tidak ingin ditinggal oleh Restu. Namun, dia juga tidak boleh terlalu mengekang Restu.


"Boleh gak?" tanya Restu. Aleesa hanya mengangguk.


"Jangan lama-lama." Mode manja Aleesa keluar dan membuat Restu tertawa. Pria itu memeluk tubuh Aleesa dan mengecup ujung rambut sang kekasih.


"Aku janji sebentar doang kok. Kamu jangan keluar, ya." Aleesa mengangguk.


Selepas Restu pergi, Aleesa kembali memainkan ponselnya. Dia tengah melihat media sosial milik kakaknya, yakni Aleena. Foto Aleena bersama Kalfa.


"Semoga kalian bersatu."


Mata Aleesa melebar ketika melihat nomor baru menghubunginya. Dia ragu untuk menjawab atau jangan. Namun, tangannya refleks menggeser ke arah gagang telepon yang berwarna hijau.

__ADS_1


"Halo."


"Dasar lacoer!"


Deg.


Jantung Aleesa terasa berhenti berdetak ketika mendengar kalimat yang sangat tidak sopan itu. Dia mengenali suara siapa itu. Dia memilih untuk turun dari tempat tidur.


"Murahan amat lu jadi cewek! Punya pacar, tapi asyik selingkuh. Gak ada harga dirinya banget lu jadi cewek."


Mulut Aleesa Kelu mendengar ucapan dari Grace tersebut. Hanya air mata yang mulai menetes begitu saja. Tubuhnya pun mulai luruh ke lantai. Belum sembuh luka akan pertunangan Yansen, kini kakak dari Yansen malah memakinya dengan lancar dan tak berkeperimanusiaan.


"Lu anak orang kaya, tapi kok murahan, ya." Dada Aleesa terasa sesak mendengar penuturan dari Grace untuk kesekian kalinya ini.


"Apa orang tua lu gak ngajarin bagaimana jadi wanita berkelas? Apa emang lu-nya aja yang kegatelan kayak ulat bulu."


"Jangan bawa-bawa orang tua aku, Kak. Kakak boleh hina aku, Kakak boleh maki aku sepuas hati Kakak, tapi jangan pernah Kakak merendahkan orang tua aku." Suara Aleesa sudah bergetar.


Aleesa terkejut ketika ponselnya sudah dirampas oleh seseorang yang mengenakan jaket hitam yang kini ikut berjongkok di lantai bersamanya. Juga menatap wajahnya.



"Kenapa? Orang tua lu salah memilihkan jodoh, mantan pembunuh dijadiiin calon mantu. Kakeknya aja dia bunuh, nanti orang tua lu yang akan dia bunuh." Tawa pun menggema.


"Bukan orang tua Aleesa yang akan saya bunuh, tapi KAMU YANG AKAN SAYA BUNUH DENGAN TANGAN SAYA SENDIRI."


...***To Be Continue***...


Komen atuh ...

__ADS_1


__ADS_2