RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 158. Rindu


__ADS_3

Aroma parfum ayah dan ibuku sangat jelas aku cium. Sangat menyengat di hidungku. Aku mencari, aku berharap aku akan bertemu dengan mereka. Ke setiap sudut mataku terus mencari. Namun, tidak ada apa-apa hingga akupun menunduk dalam lagi. Sekarang, aku mulai merebahkan tubuhku. Memeluk nisan ibuku yang tepat berada di sampingku.


"Mom, Abang rindu dibelai sama Mommy."


Aku bagai anak kecil yang ingin bermanja dengan ibuku. Aku merasakan sebuah rindu yang tak akan pernah ada penawarnya. Aku baru merasakan rindu yang teramat menyakitkan, yakni rindu kepada mereka yang telah tiada. Angin pantai yang dingin membuat mataku terpejam.


"Kamu sudah berhasil, Bang."


Aku mendengar suara Barito sang ayah. Aku ingin membuka mata, tapi rasanya sangat susah. Namun, aku merasakan ada tangan yang menyentuh rambutku. Ada bibir yang mengecup ujung kepalaku. Begitu hangat, begitu lembut.


"Tuhan, ijinkan aku membuka mata. Aku tahu itu Daddy dan Mommy."


Hatiku menjerit. Hatiku berteriak kepada Tuhan. Datanganya, Tuhan seakan tidak memperbolehkan aku untuk membuka mata dan melihat kedua orang tuaku.


"Makasih, Bang. Kamu sudah menjadi pria kuat. Kamu sudah bisa menggantikan posisi Daddy dengan sangat baik. Tetaplah jaga kakakmu. Jangan pernah tinggalkan dia karena dia tengah berada di titik terlemah."


Suara yang menyerukan pesan penuh arti. Aku sangat hafal suara itu. Suara ayahku. Suara pahlawan di hidupku.


"Ajarkan adikmu arti ketegaran yang sesungguhnya. Didik dia agar dia bisa seperti kamu. Daddy yakin kamu bisa."


Daddy.


Ya, itu memang suara ayahku. Aku ingin melihatnya. Aku ingin membuka mata. Lagi-lagi mataku bagai diberi lem yang begitu kuat.


"Tuhan, tolong sekali saja ...."

__ADS_1


Aku masih berharap. Aku hanya rindu kedua orang tuaku. Hanya itu.


#Pov. Aksa End.


Di lain tempat, seorang pria dewasa masih berdiri di depan jendela kamar. Dia menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang kosong. Dia, Ghattan Askara Wiguna. Laki-laki yang bisa mencairkan suasana, tapi tak bisa menyembuhkan duka atas kepergian kedua orang tuanya secara bersamaan. Hatinya masih sangat hancur sampai saat ini hingga dia tidak bisa berkata. Hanya air mata yang mengungkapkan isi hatinya.


Hati anak mana yang tak sakit dan sedih ketika Tuhan dengan tega mengambil dua manusia yang yang sangat dia sayang di dunia ini. Dia belum siap kehilangan, tapi Tuhan sudah mengambilnya duluan.


"Mommy ... Daddy ... Adek kangen."


Jeritan hati anak bungsu dari Gio dan Ayanda. Dia tak sekuat sang Abang. Dia juga tak setegar sang kakak. Dia terlalu rapuh.


"Mulut berkata Adek sudah tak sedih. Pada nyatanya Adek masih sangat sedih. Hati Adek masih sangat sakit."


Aska menunduk dengan begitu dalam di bawah cahaya temaram. Sungguh kerapuhannya kali ini dia tunjukkan. Meninggalkan kepura-puraan yang selama ini dia perankan. Walaupun semua orang juga tahu bahwa dia tidak pandai menyimpan kebohongan.


"Tuhan, ternyata sesakit ini ditinggal oleh orang yang aku sayang dan tak bisa aku lihat lagi untuk selamanya. Sungguh sakit, Tuhan."


Aksa begitu rapuh. Dia menangis sedu tanpa suara. Umur tak menjamin orang itu akan dewasa. Sama seperti Aska. Usia yang sudah tak muda, tapi masih menangis dikala ditinggal orang yang dia cinta.


"Kenapa setiap kali Adek ingin melepas rindu, hanya air mata yang menetes pilu? Adek ingin memeluk tubuh Mommy dan Daddy. Adek ingin berbincang dengan kalian."


Jingga, dia yang memang tidak tidur menatap sedih ke arah sang suami yang setiap kali datang ke sini pasti akan seperti ini. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Suaminya akan menangis sepanjang malam dan membuat hatinya teriris.


"Mom, Dad, bukan hanya Bang Aska yang masih merasakan kehilangan yang mendalam. Aku pun merasakan hal yang sama. Namun, hatiku akan sangat sedih ketika melihat Bang Aska seperti ini. Dengan cara apa aku menyembuhkan sedihnya, Mom? Dengan cara apa aku bisa menenangkannya?"

__ADS_1


Jingga tidak tahu harus berbuat apa. Suaminya sangat rapuh. Suaminya sangat sedih. Satu tahun ternyata tak membuat rasa sedih itu hilang. Tak membuat air mata itu surut.


Di lain kamar, Elthasya Afani atau Echa hanya bisa memandang foto Ayah, mamah, dan juga papahnya. Sebuah foto yang selalu Echa bawa ke mana-mana. Ada rasa sedih yang tak berkesudahan. Ada air mata yang tak pernah menemukan kemarau. Bulir bening itu menetes dengan begitu lancar. Seakan tidak ada penghalang untuknya meluncur dengan bebas.


Dia diam, dia tak berkata. Hanya sorot matanya yang seakan tengah mengungkapkan semuanya.


"Ayah sekarang sudah tak sendirian lagi," lirih Echa seraya menatap foto sang ayah. "Mamah dan Papah sudah ikut dengan Ayah." Bibir Echa tersenyum. Namun, bulir bening masih menetes. Hanya bisa memandang, tanpa bisa memeluk. Hanya bisa berkata rindu, tanpa bisa bertemu.


"Kenapa waktu begitu cepat berputar? Baru saja Echa merasakan kasih sayang yang begitu besar dari dua orang ayah dan satu ibu, tapi kini kebahagiaan itu lenyap terkubur dengan jasad kalian bertiga. Tak ada lagi tempat untuk bercerita. Tak ada lagi tempat untuk bercanda. Echa anak tertua, tapi Echa belum mampu menjadi ibu untuk mereka."


Orang melihat Echa tak terlalu sedih ketika Ayanda dan Gio pergi. Orang melihat kasih sayang Echa lebih besar untuk sang ayah dibandingkan sang ibu. Seruan itu terdengar ketika air mata belum kering, makam masih basah. Orang-orang sangat kejam berkata seperti itu. Untung saja Radit selalu ada di samping Echa. Menguatkan dan terus memberikan dukungan terhadap istrinya yang memang sangat lemah hinggga kondisinya drop selama seminggu.


"Tidak perlu dengarkan ucapan Orang lain. Mereka hanya bisa menilai tanpa tahu bagaimana keadaan yang sesungguhnya." Kalimat itu yang membuat Echa merasa sedikit tenang. Ditambah kedua adiknya selalu ada bersama Echa dan tak terpengaruh akan perkataan orang di luaran sana.


"Itu hanya ucapan dari provokator agar keluarga kita terpecah belah." Aksa sudah menjelaskan.


"Bagaimanapun kondisinya, sebesar apapun masalahnya, kita bertiga harus terus saling menggenggam, berjalan beriringan. Kita akan kuat jika kita hadapi bersama-sama." Aska, dia juga yang menguatkan Echa.


Jika, mengingat itu Echa merasa belum pantas disebut sebagai pengganti ibu untuk mereka berdua. Si kembar Aksa dan Aska terlalu kuat dan tangguh. Sedangkan dia terlalu rapuh.


"Mah, Pah ... Echa rindu kalian. Echa rindu Ayah juga. Tidak bisakah kalian hadir di dalam mimpi Echa?" Tatapannya masih pada selembar foto yang dia genggam.


"Echa rindu ...."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2