
Bapa, aku sudah siap.
Peluklah aku, dan sembunyikan aku di balik punggung kekar-Mu agar mereka tak bisa melihatku.
Aku tak ingin mereka menitikan air mata.
Leburlah tubuhku dengan air laut agar tak ada tangis yang aku dengar.
Jadikanlah air laut sebagai penawar rindu untuk mereka ketika mengingatku.
-Yansen Geremy-
Ada air mata yang jatuh membasahi kertas yang dipegang. Hatinya hancur, hatinya sangat sakit. Restu mengusap lembut pundak sang istri dan perlahan Aleesa menoleh ke arah sang suami yang sampai saat ini masih sabar menemaninya. Masih setia mendampinginya mencari tahu perihal Yansen yang belum menemukan titik terang.
Tanpa Restu duga, sang istri memeluknya dengan derai air mata. Terdengar sangat lirih Isakan yang keluar dari mulut Aleesa. Beriringan dengan teramat perih hatinya ketika sang istri menangisi pria lain yang tak lain adalah mantan kekasihnya. Restu masih menyimpan cemburu karena harunya dia yang Aleesa pikirkan bukan orang lain.
"Maafkan aku, Bie."
Sebuah kalimat yang membuat Restu terkejut. Tangan Aleesa semakin erat memeluk pinggang Restu. Seketika rasa cemburu itu menguar.
"Aku tahu hati kamu sakit. Aku tahu kamu sekuat tenaga nahan kecewa dan cemburu. Aku tahu--"
Hembusan napas kecil keluar dari mulut Restu. Dia memang kecewa, dia memang sakit, tapi dia juga tahu bagaimana hubungan Aleesa dengan manatan kekasihnya itu. Juga dengan keluarga Aleesa yang masih menganggap Yansen seperti keluarganya. Walaupun Yansen sudah menyakiti hati Aleesa hingga sakitnya kambuh kembali. Sedari kecil Yansen memang mereka perhatikan layaknya anak sendiri.
"Aku harus mengerti istriku. Aku juga udah janji 'kan di kondisi apapun aku akan tetap berada di samping kamu. Menggenggam tangan kamu, dan memeluk kamu."
"Pasti ini sangat sakit 'kan, Bie."
Bulir bening semakin lancar menetes. Perkataan yang begitu tulus dari Restu membuat hati Aleesa benar-benar hangat dan tenang. Benar kata ayahnya, Restu adalah pria baik. Tak pantas dia disakiti.
Perlahan Aleesa melonggarkan pelukannya dan menatap dalam ke arah sang suami. Matanya masih berair. Wajahnya pun masih basah.
"Sekarang bagaimana?" Restu mulai bertanya dengan sangat lembut. Dia tahu sang istri pasti akan sulit menerima kenyataan ini. Dari sorot matanya terlihat dia ingin berkata sesuatu. Namun, sebelumnya sudah Restu tanya lebih dulu.
"Dia memang telah pergi." Begitu lemah ucapan dari Aleesa. Restu menggenggam tangan sang istri dengan begitu erat.
"Apa kamu tidak penasaran? Pencarian masih berlanjut." Aleesa menggeleng.
"Aku sudah bertemu dengan dia. Aku sudah banyak berbicara dengan dia." Restu pun terusan dan mendengarkan.
"Dia masuk ke dalam air dan melambaikan tangan kepadaku. Dia ... mengatakan jika air laut nanti menyapu kakiku, itu tandanya dia merindukan aku. Aku juga harus merindukan dia." Aleesa mencoba tersenyum dengan air mata yang sekuat tenaga dia tahan.
"Dia disembunyikan oleh Bapa di balik punggung kekar-Nya hingga tak ada seorang pun yang bisa menemukannya." Aleesa tak kuasa bercerita hingga Restu memeluknya lagi. Tangisan itu lebih kencang. Isakan tangis itu semakin jelas terdengar. Petugas yang membawa baju Yansen pun hanya menunduk dalam.
"Jika, sudah ditemukan jaringan kulit, bagian tubuh yang tak utuh ... Sangat kecil kemungkinan ada korban yang ditemukan dalam keadaan utuh." Aleesa semakin yakin ketika mendengarkan penuturan petugas.
"Diperkirakan pesawat itu meledak di dalam air karena jarak antara penemuan potongan tubuh korban cukup jauh." Petugas memaparkan dan hati Aleesa semakin sakit.
"Kenapa dia pergi dengan cara seperti ini, Bie? Kenapa gak meninggalkan jejak?" Lemah sekali suara istri Restu.
"Tidak ada yang tahu bagaimana kita akan menghadap kepada sang maha pencipta. Semuanya adalah rahasia Tuhan. Cara apapun yang Tuhan gunakan untuk memanggil kita harus kita terima dan tidak bisa kita tolak."
Lama Aleesa memeluk tubuh Restu. Tubuh suaminya begitu nyaman membuat Aleesa semakin tenang. Restu pun tak pernah keberatan atau melarang istrinya seperti ini walaupun di tempat umum. Seperti sekarang ini. Tangisan yang cukup kencang perlahan menghilang.
"Aku akan terus menyuruh orang untuk terus memantau di sini. Siapa tahu ada keajaiban." Restu sudah berujar sambil mengusap lembut t rambut belakang Aleesa.
"Aku gak mau banyak berharap. Ini sudah menjadi bukti yang sangat jelas untukku." Kali ini Aleesa menolak. Dia percaya dengan apa yang dituliskan Yansen di sini." Aleesa mengangkat surat yang masih dia pegang
"Surat ini berisikan pesan yang dalam juga menyakitkan untuk mereka yang membaca dan juga mengenal Yansen." Aleesa melanjutkan ucapannya dengan begitu lirih.
"Lalu, sekarang kita harus bagaimana?" Restu tak mau mengambil keputusan sendiri.
"Pulang." Restu pun mengangguk setuju. Dia akan menuruti apa yang dikatakan oleh sang istri.
Di sepanjang perjalanan, Aleesa sama sekali tak melepaskan tangan Restu. Untungnya Restu mahir dalam mengemudi. Jadi, menggunakan satu tangan pun tak masalah. Mobil sudah berhenti di depan rumah Aleesa. Dia menahan tangan Restu yang sudah membuka seatbelt. Restu pun menoleh.
"Mata aku bengkak." Restu malah tertawa. Dia melanjutkan membuka seatbelt dan menatap dalam ke arah istri tercinta. Mengusap lembut mata Aleesa. Kemudian, mencium kelopak mata bagian kiri dan kanan secara bergantian. Hal kecil, tapi mampu membuat hati Aleesa menghangat untuk kesekian kali.
__ADS_1
"Aku akan terus menggenggam tangan kamu dan memeluk tubuh kamu. Tumpahkan segala sedihmu hanya kepadaku. Namun, jangan lama-lama karena aku juga manusia biasa yang bisa saja menyerah." Aleesa menggeleng dengan wajah kembali sendu.
Restu tersenyum dan mulai mendekatkan wajahnya ke arah Aleesa. Ciuman manis dan hangat Restu berikan hingga tangan Aleesa merangkul di leher Restu. Menikmati setiap sesapan manis dan lembut hingga tangan Restu sudah tak mampu diam dan tubuh Aleesa pun mulai menggeliat.
Gedoran kaca mobil membuat ci Uman panas itu terhenti. Untung saja kaca mobil Restu gelap. Jadi, tak ada yang bisa melihat tembus ke dalam. Seketika Restu mengerang kesal. Ternyata pelakunya sepupunya Aleesa, Apang.
"Bocah ini lagi, ini lagi." Aleesa malah tertawa.
"Mau ngapain?" Restu membentak Apang yang malah mencebikkan bibir.
"Ahjussi sendiri ngapain? Lama amat gak keluar-keluar." Anak itu malah balik bertanya dan membuat Aleesa yang baru turun dari mobil tergelak.
Restu sudah ingin mencubit gemas anak SMP di depannya ini, tapi Aleesa sudah menarik tangan Restu agar cepat masuk ke dalam.
"Kamu mah ke anak-anak galak banget. Gimana ke anak sendiri coba." Mendengar Alees bilang anak membuat Restu menarik tangan Aleesa hingga langkahnya terhenti.
"Kapan mau bikin anaknya?"
"Kata Ayah suruh siapin susu kental manis yang banyak biar jadi anaknya." Si bocah SMP itu malah menyahuti dan membuat sepasang pengantin baru tercengang.
"Om kamu gak waras."
.
Ternyata di kediaman Aleesa masih banyak orang. Mereka masih berkumpul dan memantengi layar televisi besar yang menyiarkan pencarian korban pesawat jatuh.
"Hampir sembilan puluh persen korban jatuhnya pesawat sudah ditemukan. Baru Lima puluh persen teridentifikasi."
Kedatangan Aleesa dan Restu membuat mereka menoleh. Radit berdiri dan menghampiri sang putri yang berjalan dengan menggenggam tangan Restu.
"Bagaimana kondisi di sana?"
Aleesa tak menjawab. Dia membuka tas kecil dan mengambil sesuatu dari sana. Radit meraihnya dan membacanya. Dia terdiam seribu bahasa. Sedangkan tangan Aleesa sudah memeluk mesra pinggang Restu.
"Kamu percaya?" Radit sudah menatap ke arah Aleesa yang berwajah sendu.
"Aku bertemu dia di dalam mimpi."
"Apa yang terjadi, Om? Apa yang dikatakan oleh Kak Rangga benar adanya?" Rangga mengatakan jika kemungkinan besar semua korban meninggal. Juga, untuk penemuan bagian tubuh yang utuh itu sangat mudtahi. Iyan kini menatap wajah tampan sang keponakan. Wajah Iyan sangat datar.
"Kita dengar apa yang dikatakan oleh Aleesa."
"Mimpi?" ulang sang ayah. Semua orang sudah menatap Aleesa yang memeluk tubuh Restu dari samping.
"Sensen masuk ke dalam laut. Dia melambaikan tangan dan mengatakan jika air pantai menyapu kaki Sasa ... itu tandanya dia merindukan Sasa." Semua orang terdiam. Termasuk di kuartet yang ikut mendengarkan.
"Dia bilang ... dia disembunyikan oleh Tuhannya. Jadi, tidak akan ada yang bisa menemukannya." Aleesa membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Terlihat dia menangis karena punggungnya bergetar.
"Masih ada kemungkinan, Sa." Jingga mulai membuka suara.
"Sangat kecil dan hampir tak mungkin." Aleesa menjawab dengan suara berat.
Agha menatap ke arah Iyan dan kali ini Iyan mengangguk. Agha pun mulai menunjukkan wajah sedihnya. Semua orang tak bisa berkata. Mereka bergelut dengan pikirannya masing-masing. Hingga suara Echa terdengar dan membuat semua orang kembali terdiam.
"Bagaimana dengan Grace?"
.
"Kakak, aku pergi."
Kalimat yang tidak ingin Grace dengar. Kalimat yang ingin Grace larang untuk dikatakan oleh Yansen. Dia hanya menangis ketika melihat dengan jelas sang adik dibawa pergi oleh diia orang berbaju putih. Adiknya tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya.
"Yansen!"
Grace terbangun dari tidurnya. Keringatnya sudah bercucuran. Dia mimpi buruk dan dia tidak ingin mimpi itu menjadi kenyataan.
Grace membual goody bag-nya. Dia mencari album foto mini yang Yansen berikan. Setiap lembar foto yang dia lihat membawanya kembali ke masa lalu. Hanya air mata yang bisa menetes. Hanya isakan kecil yang terdengar. Tangannya selalu menyentuh gambar Yansen, hatinya pasti akan sangat sakit.
__ADS_1
"Sen, jangan buat Kakak sedih. Bertahanlah! Kita akan bahagia bersama. Tunggu Kakak keluar dari penjara."
Grace hanya bisa menangis dan menangis. Dia ingin ke posko pencarian, tapi belum diperbolehkan oleh dokter yang menanganinya. Dia juga diberitahukan jika Aksa menjenguknya di rumah sakit. Dia juga tidak memperbolehkan dirinya dibawa ke dalam sel sebelum kondisinya benar-benar pulih. Sungguh sangat baik Aksara kali ini. Itu membuat Grace tak percaya. Namun, dia juga sadar jika tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Termasuk keselamatan adiknya.
Grace masih banyak berharap kepada Tuhan. Kepada juru keselamatan hamba-Nya. Dia percaya Tuhan hanya tengah menyembunyikan adiknya sebentar. Pasti akan dikembalikan lagi.
Mencoba untuk tegar, padahal perasaan yang sesungguhnya sangat gusar. Grace tidak ingin mendahului takdir Tuhan. Namun, ketika berita Yansen diangkat oleh media hatinya teriris kembali. Potongan wawancara Yansen dengan senyum indah membuat hati Grace sangat sakit. Dia merasakan rindu yang mendalam.
Yansen mulai dikenal ketika mengcover lagu cinta segitiga milik salah seorang penyanyi ternama. Wajahnya sering ada di Touyoube karena cara bernyanyinya yang sungguh luar biasa merdia sang sangat mengahayati. Usut punya usut ternyata itu adalah kisah asmaranya sendiri. Hingga sebuah kalimat cukup panjang terlontar dari bibir Yansen ketika diwawancara.
"Lagu ini seperti kisah nyata saya. Dia berbeda dengan saya, tapi dia akan tetap menjadi cinta pertama dan terkahir untuk saya."
Grace menangis mendengarnya. Dia belum ingin memeprcayai kabar burung jika Yansen sudah tiada. Dia belum mendapatkan bukti konkrit.
"Kamu masih hidup. Kakak yakin itu."
Jika, terus mengingat Yansen kepalanya akan pusing. Grace pun ingin merebahkan tubuhnya kembali. Namun, pintu ruangan perawatan terbuka dan beberapa orang datang menemuinya. Termasuk Aleesa dan suaminya.
"A-ada apa?" Grace bingung.
"Bagaimana kondisi kamu, Grace?" Radit sudah tersenyum kepada kakak dari Yansen itu.
"Sedikit membaik, Om." Grace ketakutan. Apalagi dia tahu siapa Restu Ranendra. Tangan Aleesa pun terus menggenggam tangan si pria kekar yang telah menjadi suaminya.
Aleesa tersenyum ke arah kakak dari Yansen. Walaupun masih terlihat rasa takut di wajahnya.
"Ma-maafkan aku, Sa." Aleesa menggeleng.
"Aku ke sini bukan untuk itu." Aleesa tak ingin berbasa-basi. Dia tak ingin menunda kabar ini karena sudah pasti kakak Yansen masih berharap yang terbaik untuk adiknya.
Radit menyerahkan sebuah kertas kepada Grace dan nampak wajah Grace yang kebingungan.
"Bacalah!"
Perlahan Grace membuka kertas yang dilipat itu. Dia terdiam ketika melihat tulisan tangan yang dia kenali. Pelan-pelan dia membaca kata demi kata yang tertulis di sana. Dia tersenyum dengan air mata yang tertahan. Semua orang dapat merasakan betapa hancurnya hati seorang Grace ketika membaca coretan tinta sang adik.
"Leburlah tubuhku dengan air laut agar tak ada tangis yang aku dengar." Grace membaca kalimat itu dengan begitu lemah dan lirih. Air matanya pun menetes begitu saja.
"Kamu pasti selamat, Sen. Selamat." Kepalanya menunduk dalam dan tubuhnya bergetar dengan begitu hebat. Echa memeluk tubuh Grace.
"Yansen belum pergi, Tante. Kalau dia pergi pasti dia ajak aku." Grace berkata di dalam pelukan Echa.
Semua orang terkejut mendengarnya. Mereka kompak menatap ke arah Grace yang sudah berlinang air mata.
"Kamu akan tetap di sini, Grace. Bersama Tante dan Om Radit." Grace menggeleng cepat.
"Aku ingin bersama Yansen, Tan. Kami berdua sudah berjanji untuk selalu bersama. Jika, Yansen pergi aku juga harus pergi."
Tak ada yang bisa berkata sekarang ini. Mereka berharap perkataan Grace tidak menjadi kenyataan. Walaupun dia akan menjadi sebatang kara masih banyak yang menyayanginya.
Psikiater ditugaskan untuk menjaga Grace di rumah sakit. Bukan tanpa alasan Radit dan Echa tidak ingin Grace bertindak nekat. Walaupun dia masih bersikukuh jika Yansen masih tetap hidup, tak dipungkiri ada rasa sakit dan sedih yang dia rasakan. Apalagi surat yang ditemukan di baju groomsmen Yansen terus dia peluk.
"Adikku masih hidup, Kak." Kakak, dia memanggil psikiater itu dengan sebutan kakak.
"Dia tidak akan tega meninggalkan aku sendirian." Mulut Grace sudah merancau. Sorot matanya begitu kosong.
"Iya. Sekarang kamu tidur, ya."
Kakak dan adik yang hidup hanya berdua sedari mereka kecil dan ditinggalkan oleh ibunya untuk selama-lamanya. Mereka selalu bersama dan cobaan mulai hadir ketika Grace dipenjara. Yansen yang bergantung hidup pada kakaknya harus bisa mandiri dan mencari uang sendiri. Ketika dia sudah menemukan jalan rejeki, dia harus menghadap ilahi. Grace kini sendiri. Walaupun dia masih memiliki asa, tapi di hati yang terdalamnya dia menangis sangat keras dan sedih karena harus ditinggalkan oleh adiknya.
Ini akan menjadi pukulan berat untuk Grace. Jika, mentalnya tidak kuat ini akan membawanya pada depresi parah. Grace masih memiliki luka yang tak terlihat. Kepergian ibunya membawa luka yang sangat dalam. Namun, luka itu terus dia tutupi hingga kini sudah sangat lebar.
"Jaga dia terus. Jangan tinggalkan dia." Begitulah pesan dari Raditya.
Ketika pagi datang, ponsel Radit berdering. Radit yang baru saja bangun segera meraih ponsel miliknya.
"Pak, ke rumah sakit sekarang. Grace--".
__ADS_1
...***,To Be Continue***...
Komen dong ...