RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 157. Pundakku Tak Terlalu Kuat


__ADS_3

Restu salut kepada keluarga Aleesa. Mereka benar-benar kompak. Mereka saling menggenggam walaupun mereka tenggelam dalam kesedihan. Terutama Aksa yang terus menggenggam tangan kedua saudaranya. Dia sangat kuat, itulah yang dapat Restu lihat.


Dia menatap ke arah calon istrinya yang berwajah sendu. Dia menggenggam tangan Aleesa dan membuat Aleesa sedikit terkejut. Senyuman, Restu berikan.


Aleesa menunjuk ke arah lautan, Restu pun mengikuti jari Aleesa. Sontak matanya melebar. Kakek dan Nenek Aleesa terlihat jelas. Tubuh mereka terlihat besar dan tersenyum ke arah anak-anak dan cucu-cucunya. Restu kembali menoleh ke arah Aleesa, tapi kali ini Aleesa sudah menunduk.


"Itulah kenapa kami selalu menghabiskan waktu duduk seperti ini jika datang ke sini. Pipo dan Mimo ada di sana, tapi tak bisa mendekat." Aleesa mengusap ujung matanya dan membuat Restu memeluk tubuh sang calon istri.


"Apa setiap orang yang menyentuh tangan kamu dapet melihat apa yang tengah kamu lihat?" Aleesa mengangguk dalam dekapan Restu. Satu hal yang baru Restu tahu.


Mereka semua bermalam di rumah yang dihuni oleh Aleena. Malam itu tidak ada yang keluar dari kamar sama sekali. Restu yang tidak tahu apa-apa. Celingak-celinguk mencari orang. Sang calon istri pun tidak ada. Dia mengeluarkan ponsel, menghubungi Aleesa. Namun, sambungan teleponnya tidak dijawab. Restu hanya menghela napas kasar. Hingga dia memilih untuk duduk di teras. Seorang pegawai rumah itu mendekat.


"Tuan, kenapa Anda keluar?" Dahi Restu mengerut mendengar teguran tersebut. Dia menatap ke arah penjaga rumah.


"Setiap kali keluarga mendiang Tuan Gio ke sini, mereka tidak akan pernah keluar rumah untuk hari pertama." Restu sedikit terkejut.


"Mereka akan mengeluarkan sedih mereka di kamar mereka masing-masing. Rumah ini bukan hanya sekedar untuk dihuni, tapi sudah seperti galeri foto Tuan Gio dan Nyonya. Banyak foto almarhum Tuan Gio dan Nyonya Ayanda. Terlebih di setiap kamar dipajang foto yang begitu banyak." Restu sama sekali tidak tahu akan hal itu. Dia juga tidak.menyadari jika di kamar yang dia huni pun terpajang foto mendiang kakek dan nenek Aleesa.


POV. AKSA

__ADS_1


Setiap aku berada di Sydney, di rumah Daddy yang menjadi tempat untukku dan keluargaku meluapkan sedih, aku akan keluar dari sana ketika tengah malam tiba. Aku akan pergi ke makam Mommy dan Daddy tanpa seorang lun tahu. Tak aku pedulikan bagaimana suasana di sana. Kata orang menyeramkan, tapi bagiku itu tempat yang sangat menenangkan.


Aku duduk di samping pusara Mommy. Aku mengusap lembut Nisan yang bertuliskan Ayanda Rishani. Mataku tiba-tiba perih. Mataku berair dan meneteslah bulir bening di wajahku. Bibirku melengkungkan senyum dengan air mata yang tak kunjung surut.


"Ternyata aku masih bisa menangis, Mom." Suaraku bergetar.


Setelah aku kehilangan mereka, aku merasa hampir semua jiwaku ikut pergi. Aku kehilangan arah. Tidak ada tempat bertanya, tidak ada tempat untuk aku berkeluh kesah. Walaupun Mommy dan Daddy sudah lebih dari satu tahun pergi, tapi rasa kehilangan itu tidak pernah hilang. Aku selalu merindukan mereka.m dan aku selalu berharap mereka ada bersamaku lagi. Memeluk tubuhku dan mengusap lembut rambutku.


"Tak terasa sudah satu tahun lebih Mommy dan Daddy tidak mendampingi Abang, Kakak dan Adek. Kami bertiga bagai anak ayam yang kehilangan induk. Kami selalu menguatkan satu sama lain padahal kami juga tidak sekuat itu." Air mata Aksa mengalir deras. Namun, bibirnya berusha tetap melengkungkan senyum.


"Abang mencoba untuk menggantikan Daddy. Abang mencoba untuk selalu menjadi tameng untuk keluarga Kakak yang sedang tidak baik-baik saja. Abang berusaha semaksimal mungkin, Dad. Abang berusaha untuk melakukan yang terbaik, dan Abang menangis ketika Kakak memeluk Abang dan mengucapkan terima kasih seraya menangis. Padahal, Abang belum bisa memberikan yang tebaik untuk Kakak. Apalagi, Kakak selalu bilang jika Abang adalah Daddy versi muda. Bagi Abang, Daddy tidak akan pernah bisa tergantikan."


"Abang sangat merindukan kalian. Abang lelah, Mom. Abang sakit, Dad."


Air mataku tak pernah surut. Aku terisak bagai anak kecil. Sedihku melebih sedihnya Aska di hari kedua orang tuaku tiada. Sebenarnya aku yang lebih rapuh. Aku yang lebih hancur. Namun, aku tidak menunjukkannya. Sekalipun kepada istriku.


Mencoba untuk berpura-pura membuat aku seperti orang lain. Aku kehilangan jati diri jika tengah sendiri. Aku tidak mengenali diriku sendiri karena sebuah keadaan yang memaksa aku untuk terus bertahan dan berdiri tegak. Menyembunyikan segala rasa sedihku agar semua orang melihat jika aku memang anak hebat dan kuat.


Aku tak bisa berkata, hanya air mata yang mengungkapkan semua yang aku rasakan. Aku hanya bisa memeluk dua pusara yang selalu aku anggap mereka tak pernah pergi. Aku selalu menganggap mereka ada, tapi mereka tengah berada di belahan dunia yang berbeda. Namun, ketika aku melihat nisan yang bertuliskan nama orang yang aku sayang, aku baru sadar jika mereka berdua sudah tiada. Itulah yang membuat rasa sedihku berlipat ganda jika datang ke tempat ini. Hanya tempat ini yang bisa melepaskan rinduku, tapi tempat ini juga yang akan membuat aku menangis keras meluapkan senyumnya.

__ADS_1


"Dad, Mom ... terlalu berat beban di pundak Abang. Abang ingin berbagi beban ini kepada Adek, tapi hati Adek terlalu lemah. Abang tidak tega. Ditambah dia sangat terpukul atas kepergian kalian. Sampai sekarang pun Abang masih melihat kesedihan yang tak pernah hilang dari sorot matanya." Aku mengadu. Aku bercerita.


"Kak Echa ....."


Jika, mengadu perihal kakakku, mulutku tiba-tiba kelu. Di antara kami bertiga menurut aku yang paling kuat adalah Kakak Echa. Kenapa? Belum juga tiga tahun ditinggal oleh Ayah Rion, Kak Echa harus ditinggal oleh Mommy dan Daddy. Rasanya pasti sangat sakit dan sulit. Namun, Kakak yang menyuruh aku dan Adek untuk move on dari rasa sedih ini. Kakak yang kini menjadi sosok ibu untuk aku dan Aska. Setiap hari selalu menanyakan kabarku, menanyakan kabar Aska. Walaupun hal kecil, tapi buatku itu adalah sesuatu luar biasa. Itulah alasan kenapa aku akan selalu memasang badan untuk Kak Echa.


"Pundak Abang tak lebih kuat dari pundak Kak Echa, Mom, Dad." Aku melanjutkan aduanku kepada ayah dan ibuku. "Seberat apapun masalah yang tengah Kak Echa dan Bang Radit hadapi, mereka berdua tak pernah berbicara dan mengeluh. Abang juga tak pernah tinggal diam. Abang selalu membantu mereka dalam diam. Bagaimanapun Kak Echa dan Bang Radit kini adalah orang tua untuk Abang dan Adek."


Aku tersenyum ketika melaporkan itu. Aku menunjukkan wajah penuh kebanggaan kepada kedua orang tuaku perihal kakak dan kakak iparku.


"Daddy dan Mommy tak perlu khawatir, Abang janji akan selalu menggenggam tangan Kak Echa dan selalu menjaga Kak Echa. Begitu juga dengan ketiga anaknya. Abang janji itu."


Angin laut semakin menusuk tulangku. Namun, aku masih betah memeluk pusara kedua orang tuaku, hingga tak terasa air mataku sudah tak menetes lagi. Aku juga mencium aroma parfum yang biasa ibu dan ayahku gunakan.


"Daddy ... Mommy ... kalian ada si sini?"


...***To Be Continue***...


Komen dong ....

__ADS_1


__ADS_2