RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 181. Butuh Ketenangan Bukan Kebisingan


__ADS_3

Di saat semua orang tengah sibuk mencari keberadaan Yansen, Aleeya dan Kalfa malah merencanakan pertemuan mereka. Aleeya menolak ikut bersama kedua orang tuanya untuk menemui Grace. Alasannya karena kondisi tubuhnya yang kurang fit. Aleesa tidak percaya begitu saja. Dia sedikit menaruh curiga. Ingin rasanya mengawasi Aleeya, tapi dia harus ikut serta ke rumah sakit untuk menemui Grace.


"Jangan macam-macam!" Kalimat ancaman yang keluar dari mulut Aleesa sebelum berangkat. Dia memiliki firasat tidak enak. Wajah Aleeya pun nampak terkejut dengan ancaman yang dilontarkan oleh sang kakak.


Setelah semuanya dirasa aman, Aleeya menghubungi Kalfa agar lelaki itu datang ke rumahnya. Sungguh Aleeya ingin bertemu dengan Kalfa. Sudah cukup lama dia tidak bertemu dengan Kalfa. Padahal, dia sendiri yang mengatakan untuk tidak menjalin hubungan lain dengan Kalfa, tapi pada nyatanya dia masih menaruh hati pada sosok lelaki yang dulu sering dia ejek.


Tak lama berselang, Kalfa datang dengan senyum yang merekah. Aleeya pun ikut tersenyum dan berhambur memeluk tubuh Kalfa.


"Miss you."


Aleeya tidak bisa melupakan cintanya. Dia terlalu bodoh dan terlalu bucin kepada Kalfa yang sebenarnya tidak mencintainya. Lelaki itu hanya mencintai Aleena. Akan tetapi, seiring kebersamaannya dengan Aleeya dia juga tidak ingin kehilangan adik dari mantan kekasihnya itu. Jika disuruh memilih antara Aleena dan Aleeya sudah pasti jawaban Kalfa adalah Aleena. Aleeya Hanya seperti ban serep untuknya.


Aleeya mengajak masuk Kalfa ke dalam rumah. Mereka melepas rindu karena sudah lama tak bertemu. Aleeya tak mau lepas dari Kalfa dan tangannya masih memeluk erat pinggang Kalfa.


"Pada ke mana?" Rumah nampak sepi.


"Ke rumah sakit. Jenguk kakaknya Yansen."


"Yansen beneran mati?" Ringan sekali ucapan dari Kalfa kali ini. Aleesa menggedikkan bahu menandakan dia tidak tahu dan tidak mau ikut campur lebih dalam.


"Emangnya kamu gak denger?" Kalfa penasaran.


"Bosan, yang diperhatiin Sasa terus sama semuanya. Alasannya karena Aritmia."


Sifat jelek Aleeya seperti ini. Dia sering kali iri kepada Aleesa dan juga Aleena. Semua orang hanya menyayangi dua saudaranya itu. Sedangkan kepada dirinya sangatlah acuh. Apalagi kedua orang tuanya sudah mengisyaratkan jika mereka sudah tidak suka kepada Kalfa itu yang membuat alias sedikit kecewa. Ditambah suami kakaknya bersekutu dengan sang ayah. Terlihat dia juga membenci Kalfa. Aleeya juga tidak tahu apa alasannya. Dari situlah dia merasa diabaikan dan di anak tirikan oleh sang ayah


.


Di bandara, Aleena sudah dijemput oleh seorang pria yang juga baru sampai Jakarta. Aleena sedikit marah karena dia tidak hadir dan tidak mewakili dirinya di pernikahan sang adik. Aleena dengan lancarnya mengomeli si lelaki itu. Dia tak segan dan tak malu terus mengoceh di tempat umum. Padahal si lelaki itu sudah diterima sudah mengelola nafas kasar dan memberikan kode jika sudah di ocehannya tersebut. Sayangnya, Alina tidak mau mendengar ya seakan menumpahkan segala rasa kesalnya di saat itu juga. si lelaki itu hanya bisa menghela nafas berat dan menunggu Aleena menghentikan ucapannya yang bagai knalpot yang sudah di bobok.


"Aku gak akan pernah bisa nolak perintah Daddy." Itulah alasannya. Wajah si lelaki itu pun nampak serius. Tidak ada kebohongan yang dia pancarkan. Aleena hanya menghela napas kasar. Tatapannya masih setajam elang. Setiap orang yang pendiam pasti akan menyeramkan jika tengah marah. Itulah Aleena sekarang


Si lelaki itu mulai mendinginkan suasana, mengajak Aleena berbicara dan berbincang santai hingga akhirnya mereka membicarakan tentang pesawat jatuh yang menjadi trending topik dunia.


"Kalau menurut aku sih semuanya meninggal." Aleena pun memiliki feeling yang sama. Itulah alasan kenapa dia pulang dan ingin menemui adiknya.


"Aku ingin menemani adikku. Kasihan dia." Lelaki itu mengangguk. Aleena sudah menceritakan semuanya tentang salah satu korban di dalam pesawat naha tersebut. Dia juga sudah berkonsultasi kepada para dokter perihal penemuan-penemuan anggota tubuh dari korban pesawat tersebut. Dia juga menanyakan tentang kemungkinan terbesar yang terjadi pada para korban apakah akan selamat atau memang dinyatakan tidak selamat semuanya.


Kedatangannya kali ini memang tidak diketahui oleh siapapun dengan tujuan dan harapan jika kehadirannya mampu memberikan kebahagiaan kepada keluarganya yang tengah dirundung duka. Bukan tanpa sebab Yansen sudah kedua orang tuanya anggap seperti anak mereka sendiri. Mereka berempat sudah sering bersama-sama. Sudah pasti rasa kehilangan itu ada. Walaupun tim penyelamat belum menyatakan pencarian berakhir, tetap saja kecil kemungkinan Yansen masih hidup.


Mereka berdua keluar dari Bandara. Sepintas Aleena melihat seseorang yang tak asing menggunakan tas ransel dan juga masker masuk ke dalam bandara. Aleena masih memperhatikan hingga langkahnya terhenti. Si lelaki yang sedari tadi mengajak Aleena bicara terkejut ketika Aleena tak ada di sisinya. Dia menoleh ke belakang dan ternyata perempuan itu ada jauh di belakangnya. Dia pun hanya menggelengkan kepala.


"Liatin apaan sih itu anak." Dia bergerutu itu sendiri.


"Aleena!"


Dia memanggil Aleena sambil berlari menghampiri perempuan yang dia sukai itu. Tangan Aleena ditarik hingga dia terkejut dan menatap bingung ke arah si lelaki.


"Kenapa berhenti?" Aleena tersenyum kecil tanpa menjawab apapun.


Di sepanjang perjalanan menuju kediaman Aleena, pikirannya terus berkeliaran dan tertuju pada sosok laki-laki yang dia temui di bandara tadi. Laki-laki yang dia rindukan. Laki-laki yang berhasil membuat hatinya menghangat kembali.


Tibanya di rumah, lelaki yang bersama Aleena takjub akan kemewahan rumah perempuan itu. Matanya terus menelisik setiap bagian rumah. Terdengar decakan kagum yang keluar dari mulutnya. Aleena hanya tersenyum lucu melihatnya.


"Bener-benar orang kaya." Aleena malah tergelak. Dia mengerutkan dahi ketika ada mobil yang terparkir di depan rumahnya. Dia tidak mengenal mobil tersebut.


"Neng, kenapa gak bilang kalau mau pulang?" Sopir keluarga menyapanya. Aleena tersenyum membalasnya dengan senyuman yang sangat manis dan tulus.


"Bubu dan Baba ada?" Sopir itu menggeleng.


"Ke mana?"


"Saya juga kurang tahu. Tadi, Tuan dan Nyonya berangkat sama Neng Sasa juga suaminya. Sama Pak Aksara juga."


Aleena mengangguk. Dia pamit untuk masuk ke dalam rumah. Di antara si triplets yang paling ramah adalah Aleena. Dia senang berbaur dengan para pekerja rumah besar dan juga saling memberikan makanan para pelayan di sana.

__ADS_1


Aleena mengajak temannya itu untuk masuk. Ketika dia membuka pintu dia dikejutkan dengan adegan dewasa antara adiknya dan juga lelaki yang meninggalkan trauma untuknya. Tubuh Aleena menegang dan matanya tak bisa berkedip. Temannya segera menutup mata Aleena karena dia tahu trauma Aleena akan hadir kembali ketika melihat itu. Apalagi laki-laki itulah yang telah meninggalkan goresan luka dan juga trauma di hati Aleena.


"Kalau mau begituan ya jangan di rumah lah." Suara seseorang membuat Aleeya dan Kalfa menghentikan kegiatan mereka. Aleeya melebarkan mata ketika melihat Aleena sudah ada di sana.


"Kakak Na."


"Aleena."


Aleeya dan Kalfa berucap secara berbarengan. Aleena memasang wajah datar dan berkata, "silakan lanjutkan."


Dia memilih untuk melanjutkan langkahnya dan meninggalkan pasangan tersebut. Ada rasa nyeri yang tak bisa diungkapkan oleh apapun. Ada rasa sakit yang tak akan pernah sembuh. Adiknya hanya berbicara omong kosong kepadanya. Pada nyatanya dia masih berhubungan dengan Kalfa. Dia tidak cemburu, tapi dia sedikit kecewa dengan ucapan adiknya yang tak sesuai dengan kenyataan


"Na," panggil si laki-laki. Aleena tak menghentikan langkahnya dia terus berjalan ke arah kamar


"Aku mau ke kamar. Kamar tamu di sana." Alina menunjuk ke arah kanannya. Di mana Banyak deretan kamar di sana.


Si lelaki itu menghembuskan napas kasar. Sikap dingin Aleena hadir kembali. Baru saja dia hendak menuju kamar tamu, langkahnya dihadang oleh Kalfa dan juga Aleeya.


"Lu siapa?" tanya Aleeya. Tatapan tajam pun diberikan oleh Kalfa. Tentu saja dengan tatapan penuh cemburu. Lelaki itu menghela napas kasar untuk kesekian kali dan mulai menatap Aleeya dengan penuh senyum.


"Calon kakak ipar kamu." Wajah sok manis dan sok imut juga sok tampan dia tunjukkan.



Kalfa sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh lelaki yang dia tidak tahu siapa. terlihat Alfa sudah mengepalkan tangannya dengan begitu kencang. Urat kemarahannya sudah timbul di wajahnya. Si lelaki yang mengaku sebagai calon kakak ipar Aleeya menatap ke arah Aleeya dengan penuh telisik. Cantik, sayangnya sumbu otaknya pendek. Begitulah batinnya.


Si lelaki itu hendak masuk ke kamar tamu, tapi dihadang kembali oleh Aleeya. Hingga dia pun membalas dengan tatapan tajam ke arah Aleeya.


"Mending lu keluar. Gua gak kenal sama lu," usirnya. Jangan-jangan lu orang jahat yang nyamar jadi teman dekat kakak gua." Si lelaki itupun tertawa. Ternyata adik dari Aleena lucu juga. Walaupun sangat menyebalkan.


"Orang jahat sebenarnya itu bukan gua, tapi lelaki yang ada di samping lu." Senyum smirk dia berikan ketika melihat kepada Kalfa.


"Kurang ajar!" Kalfa sudah naik pitam, tapi Aleeya menahannya. Dia segera menghubungi sang ayah. Cukup lama sang ayah menjawab telepon darinya.


"Kenapa, Dek?" Wajah sang ayah sudah mulai memenuhi layar ponsel.


"Hai, Om!"


Aleeya terkejut ketika mendengar si lelaki itu menyapa sang ayah dengan akrab. Ayahnya pun merespon dengan senyuman yang sangat lebar.


"Khairan!"


"Khairan," gumam Aleena.


Masih banyak tanya di kepalanya hingga Khairan mulai jahil dan menyorot Kalfa yang sedikit bersembunyi.


"Loh?" Radit terkejut sambil menunjuk ke arah Kalfa. Aleeya mengambil kembali ponselnya. Wajahnya mulai panik.


"Kenapa Kalfa ada di sana?" Suara sang ayah sudah sedikit meninggi.


"Res, suruh anak buah kamu untuk masuk ke dalam rumah." Aleeya terkejut ketika ayahnya berubah menjadi sedikit kejam.


"Ba--"


Radit segera mengakhiri sambungan video tersebut dan tak lama dua orang berbadan kekar masuk ke dalam rumah dan menarik paksa Kalfa. Aleeya berteriak histeris dan mencegah dua bodyguard itu. Namun, mereka tetap membawa Kalfa.


"Ini semua gara-gara lu!" Aleeya sudah menunjuk wajah Khairan.


"Deh ... makanya jangan berbuat dosa. Ingat, ada karma instan sekarang." Khairan mulai menimpali.


Di dalam kamar, Aleena sudah memasang air pod di telinga. Ketika dia dengan sedih seperti ini temannya adalah air pod. Dia tidak ingin mendengar kebisingan di luar dan dia ingin tenang.


Kalfa mulai memberontak, tapi orang itu tetap membawanya keluar dari rumah besar tersebut. Radit sudah benar-benar muak dan pada akhirnya dia menyuruh Restu untuk mengusir Kalfa.


.

__ADS_1


POV ALEENA.


Aku datang ke Jakarta untuk bertemu adikku, tapi kenapa aku malah melihat hal yang tidak ingin aku lihat. Dia ada di sini. Dia bersama adik bungsuku dan dia .... sudahlah. Dia adalah Kalfa Putra Satria, orang yang sangat tidak ingin aku temui.


Inilah alasan kenapa aku tidak mau ke Jakarta untuk saat ini. Aku takut jika rasa sakitku hadir. Aku takut traumaku muncul lagi. Susah payah aku menyembuhkan semuanya dan ketika ke sini malah ini yang aku terima. Sebisa mungkin aku harus bisa menahan semuanya agar traumaku tidak muncul lagi. Sejujurnya aku juga lelah aku ingin hidup normal seperti orang pada umumnya.


Adikku, Aleeya ... tak ada kata yang bisa aku ucapkan. Aku sudah tak ingin bicara karena aku kecewa. Bukan karena aku cemburu ketika mereka bercumbu. Aku kecewa dengan janjinya yang mengatakan tidak akan dekat lagi dengan Kalfa. Namun, pada nyatanya dia masih dekat dan lebih dekat dari sebelumnya


Air pod adalah temanku sekarang. Aku tak ingin mendengar kebisingan di luar. Kepalaku saja sudah sangat berisik. Intinya aku tidak ingin menambah keberisikan di kepala maupun di telinga. Aku ingin tenang.


Aku hanya bisa menghela napas kasar. Aku teringat akan pria tampan yang berjalan dan hampir berpapasan denganku di bandara tadi. Sepertinya dia akan kembali ke Kota di mana dia tinggal. Walaupun memakai masker dan topi, aku masih mampu mengenalinya. Dia pilot yang selalu aku tunggu ketika pesawat terbang di atas kepalaku. Sopir pesawat yang mampu membuat hatiku melayang.


"Aku kangen kamu, Ngga."


Aku menunduk dalam. Hanya melihatnya sepintas saja membuat rasa rindu begitu besar hadir untuknya.


"Akankah kita bisa bertemu?" Lagi-lagi aku bergumam sambil memeluk lututku. Aku masih memikirkannya. Sekilas, nama Khairan mengganggu pikiranku. Aku menghembuskan napas kasar.


Biarkanlah Khairan di kamar tamu. Aku sedang tak ingin bertemu dengan siapapun. Aku ingin sendiri. Ketika hati aku sedang tidak baik-baik saja aku ingin menjauh dari semua orang. Bukan tanpa alasan, aku hanya tidak ingin mereka melihat kerapuhan aku. Aku ke sini bukan untuk membuat mereka cemas.


Rangga. Nama itu yang sekarang berputar di kepalaku. Kembali bersarang di pikiranku. Aku merindukan senyumnya yang begitu manis dan tulus. Aku merindukan ucapannya yang lembut dan aku merindukan pelukannya yang hangat.


"Apa kamu merindukan aku juga?"


Egoku terlalu besar dan selalu bertolak belakang dengan keinginan hatiku yang sesungguhnya. Apa aku belum yakin dengan perasaanku kepada Rangga? Pertanyaan itu yang selalu berkeliaran di kepala. Setiap kali Agha menghubungiku, Agha selalu meminta kepadaku agar dia memberitahu keberadaanku kepada kakak angkatnya itu. Akan tetapi, aku selalu melarang. Aku memiliki keyakinan jika suatu saat nanti kita pasti akan dipertemukan dengan cara yang indah.


Suara ketukan pintu nyaring terdengar. Aku enggan membukakannya. Sengaja aku menguncinya dari dalam. Aku yakin itu pasti Aleeya. Aku sudah kecewa. Kecewanya aku pasti diam dan sudah tak respect. Aku terlalu bodoh dan selalu menjadi korban dari kebohongan mereka berdua.


#pov end.


Deru mesin mobil terdengar. Khairan yang hendak ke dapur membelokkan langkahnya dan menuju pintu depan. Dia melihat ayah Aleena turun dari mobil dan segera memanggilnya. Radit tersenyum sedangkan Aleesa dan Restu yang baru keluar dari pintu penumpang saling pandang. Khairan menyakini jika perempuan yang berada di belakang ayah dari Aleena adalah adik Aleena yang baru menikah. Sepertinya, benar dugaannya. Pria gagah nan tampan itu kini merengkuh pinggang Aleesa.


"Kenapa gak bilang?" Khairan hanya tertawa dan dia mencium tangan Radit dengan sopan. Juga mencium tangan Echa.


"Ini pasti adiknya Aleena 'kan." Khairan sudah menunjuk ke arah Aleesa. Istri dari Restu pun tersenyum dan mengangguk kecil.


"Khairan." Lelaki itu sudah mengulurkan tangan kepada Aleesa. Adik Aleena pun menyambutnya walaupun hanya sebentar karena mata Restu bagai elang.


"Ke sini sama siapa?" tanya Echa.


"Aleena." Semua orang pun terkejut dan masuk ke dalam rumah untuk mencari Aleena. Kini, hanya menyisakan Restu, Radit dan Khairan.


"Res, ini adalah calon dokter yang masih magang di salah satu rumah sakit di Singapura." Radit mengenalkan Khairan kepada Restu.


"Hai! Calon adik ipar."


Restu malah mengerutkan dahi. Sedangkan Khairan sudah tertawa begitu juga dengan Radit. Di mata Restu Khairan adalah lelaki yang ceria dan banyak bicara.


Di kamar Aleena, Aleesa dan Echa sudah memeluk tubuhnya. Aleena mengusap lembut punggung Aleesa. Dia tahu sang adik tengah berduka. Tak ada kata yang keluar dari mulut mereka bertiga. Sling melepas rindu sambil menceritakan duka yang tengah mereka terima. Kehadiran Aleeya membuat Aleesa menatapnya dengan begitu tajam.


"Dek, jangan pernah melakukan hal yang tidak Baba sukai." Sang ibu sudah memperingatkan. Aleeya ingin menyahuti, tapi ada kedua kakaknya di sampingnya. Echa pun memilih keluar dari kamar sang putri.


"Lu kenapa sih?" Aleesa sudah murka. Dia menatap nyalang ke arah Aleeya.


"Lu sama laki lu yang kenapa?" sergah Aleeya. "Jangan sok cari muka di depan Baba." Begitulah kalimat yang terlontar dari mulut Aleeya.


"Lu gak terima si kelapa itu diusir dari rumah. Iya?"


Aleena menghembuskan napas kasar. Dia mulai menekan playlist musiknya dan tak ingin mendengarkan pertikaian kedua adiknya.


"Jangan mentang-mentang laki lu mantan bodyguard main seenaknya ngusir orang." Aleeya sudah menyalahkan Aleesa. Adu mulut keduanya pun tak bisa terelakkan hingga Aleena membanting mug kesayangannya dan membuat Aleesa dan Aleeya berhenti berdebat.


"Aku ke sini butuh ketenangan. Bukan kebisingan."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2