RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 204. Harus Menjelaskan


__ADS_3

Semua orang sedang menunggu penjelasan dari Restu yang masih belum juga mengaktifkan ponselnya. Kabar yang Restu berikan membuat semua orang terkejut.


"Ini anak kayaknya sengaja," omel Rifal.


Ketiga anak mendiang Addhitama masih berkumpul di rumah besar sang papih demi mendapat sebuah kejelasan dari Restu Ranendra.


"Menantu lu bikin sport jantung." Rindra ikut mengomel kepada Radit. Kedua alis Radit pun menukik dengan tajam. Menantunya adalah anak sulung dari sang Abang sendiri.


.


Kalfa sama sekali tak keluar kamar. Dia terus memutar berita yang bisa siapa saja akses melalui jaringan internet. Ada rasa sedih bercampur nyeri di hati. Jika, berita itu benar dia benar-benar ditipu oleh pria yang dia anggap seperti malaikat.


"Aku anak siapa?" Lirih, lemah. Begitulah nada suara yang keluar dari mulut Kalfa.


Satria benar-benar mati langkah. Dia membeku dan otaknya sudah mulai buntu. Dia sama sekali tidak bisa berpikir jernih.


"Arrgh!!" erangnya.


Anehnya, ketiga keponakannya tidak menanyakan apapun kepada dirinya. Dia berpikir jika mereka tidak percaya dengan apa yang Restu beberkan.


"Harus meyakinkan mereka."


.


Ketika ketiga anak Addhitama masih berkumpul. Satria datang dengan sangat percaya diri. Kehadirannya membuat Rifal, Rindra dan Radit menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.

__ADS_1


"Anak kamu sudah keterlaluan." Satria sudah menunjuk ke arah Rindra. Menyalahkan Restu di depan Rindra Addhitama.


Anak pertama dari almarhum Addhitama hanya berdecak kesal. Dia mulai menatap malas ke arah sang paman.


"Bisa-bisanya dia menyebarkan fitnah." Satria melanjutkan ucapannya lagi. "Jika, dia berniat untuk menjatuhkan mental Kalfa itu hanya mimpi belaka. Kalfa bukan anak lemah."


Radit hanya tersenyum tipis. Keangkuhan dan kearoganan masih memenuhi hati Satria. Sudah ada berita seperti ini saja dia masih bisa membusungkan dada dan masih berani menyalahkan orang lain.


"Anak Om 'kan kayak Hulk," timpal Rifal. "Bukan kuat tenaganya, tapi harus kuat menanggung malu karena ulah Om."


Makjleb sekali ucapan dari Rifal. Rindra pun tersenyum mendengar ucapan sang adik. Wajah Satria pun berubah menjadi pucat.


Rifal menghembuskan napas kasar. Dia menyilangkan kaki dengan menatap tajam ke arah sang paman.


"Aku biasanya gak pernah mau ikut campur perihal urusan Om dengan Abang dan Radit, tapi kali ini kayaknya aku harus ikut masuk karena berita di sana sudah membawa nama almarhum Papih." Rifal berkata dengan sangat tegas.


"Aku anak yang gak berbakti. Aku yang udah buat sakit Papih parah. Itu 'kan yang mau Om katakan." Satria terdiam ketika Rifal memotong ucapannya.


"Aku mengakui kesalahanku. Aku juga tidak mengkambing hitamkan orang lain atas kesalahanku." Rifal memaparkan dengan begitu lantang.


"Sedangkan Om--" Rifal sudah menatap Satria dengan alis yang diangkat sebelah.


"Kenapa dengan Om?" Satria pura-pura bodoh.


Rifal malah tertawa, begitu juga dengan Rindra. Sedangkan Radit hanya melipat kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Ini apa?" Rindra menunjukkan akta kelahiran Kalfa. Di sana tertera nama Satria dengan seorang wanita yang asing bagi mereka bertiga.


"Aku masih ingat kapan tanggal Kalfa ditemukan dan diadopsi, tapi kenapa tanggal di sini malah berbeda. Juga, bulannya dekat dengan kematian Devandra."


Satria datang ke tempat yang salah. Dia malah terpojokkan di sini. Dia juga bingung dari mana akta kelahiran Kalfa mereka dapatkan. Satria terdiam. Dia tengah memutar otak untuk menjawab pertanyaan ketiga keponakannya. Cukup lama Satria terdiam.


"Jawab wahai PAK SATRIA TERHORMAT."


Suara seseorang membuat Satria menegang. Dia mencari ke arah kanan dan kiri juga ke segala penjuru ruangan. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Radit mulai mengarahkan laptop di depannya ke arah sang paman.


"Bagaimana? Mau berlanjut atau cukup sampai di sini." Senyum menyebalkan terukir dari wajah Restu yang sedari tadi mendengar percakapan mereka yang ada di rumah sang kakek di balik sambungan video. Juga dia mendengar alibi yang keluar dari mulut Satria.


"Siyalan!"


"Hahaha!" Tawa Restu menggema ketika melihat wajah Satria yang sudah pias.


"Masa begini aja keok," cibir Restu. Dia malah memperlihatkan grafik saham Zenth Corporation kepada Satria dengan wajah sombong.


"Apa berita yang Anda sebarkan berpengaruh pada karir saya? Tentu tidak." Senyum smirk terukir di wajahnya. "Maaf, saya dikenal karena prestasi bukan sensasi." Pedas sekali ucapan dari mulut Restu Ranendra.


"Berhati-hatilah!" Restu memberi peringatan. "Bisa saja karir Anda yang tenggelam ke dasar lautan dan putra kesayangan Anda kena mental."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


Banyakin lagi dong komennya. Minim 50 komen deh 🤭 biar up lagi.


__ADS_2