RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 168. Kasih Sayang Tulus


__ADS_3

Nesha sudah mengecek seserahan yang akan dibawa. Dia menggelengkan kepala ketika semua seserahan yang Restu berikan kepada calon menantu sekaligus keponakannya itu bukanlah barang murah.


"Nak, kenapa kamu membeli semua barang ini tidak meminta uang kepada Mamih atau Papih?" Nesha baru melihat karena barang itu baru diantar oleh orang yang biasa menghias seserahan. Restu tak ingin merepotkan orang tuanya.


Restu yang sedang di make up tipis menoleh. Dia tersenyum hangat ke arah sang ibu angkat yang sangat tulus mencintainya.


"Itu doang mah masih mampu aku beli, Mih." Kalimat yang begitu enteng yang keluar dari mulut Restu.


"Apa Mamih mau juga?" Restu menawari sang ibu. Namun, sang ibu menolak. Restu meraih tangan Nesha dan menatapnya dengan begitu lekat.


"Kalau Mamih mau apapun, bilang aja sama aku, Mih. Semuanya akan aku belikan untuk Mamih."


Tak terasa bulir bening menetes dari pelupuk mata Nesha. Hatinya mencelos mendengar ucapan yang begitu tulus dari Restu. Apalagi kini Restu sudah mencium tangannya dengan begitu dalam.


"Makasih, Mih. Udah memberikan kasih sayang yang tak pernah bisa aku balaskan. Makasih, sudah sabar menjaga dan merawat aku di hampir tiga perempat usiaku. Makasih banyak, Mih."


Nesha memeluk tubuh Restu. Air matanya sangat deras mengalir. Dia seperti melepaskan putra kandungnya sendiri. Rasanya sangat bahagia dan juga sedih.


"Jangan bicara seperti itu, Nak. Kamu adalah putra Mamih. Sudah kewajiban Mamih untuk memberikan kasih sayang dan cinta Mamih kepada kamu."


Hati Restu pun terenyuh, air matanya pun menetes. Laki-laki yang selalu kuat, kini menitikan air mata. Bukan karena sedih, melainkan bahagia yang tak terkira..


"Jadilah suami yang bertanggung jawab. Imam yang baik untuk keluarga dan yang paling penting sekali bahagiakan istri kamu karena dia lah yang nantinya akan menemani kamu di kala kamu senang maupun susah." Restu mengangguk.


Pov. Nesha.

__ADS_1


Aku memang bukan ibu kandung dari Restu Ranendra. Anak malang yang suamiku adopsi ketika dia berusia tujuh tahun. Anak yang membawa kebahagiaan luar biasa ke dalam keluargaku yang pada waktu itu minim kebahagiaan.


Kehadiran Restu membuat aku merasa menjadi ibu dan istri yang sempurna. Putraku pun memiliki teman. Walaupun sulit untuk mendekati Restu dan terkadang traumanya muncul dan akan mencelakai dirinya sendiri. Bahkan suamiku pun pernah celaka olehnya, tapi itu tak membuat suamiku dan aku membencinya.


Sekarang, anak laki-laki yang aku dan suamiku rawat seperti kami merawat Rio akan melepas masa lajangnya. Hatiku bahagia, hatiku senang. Selama hampir delapan belas tahun bersama Restu, aku tak pernah melihat Restu membawa perempuan ataupun membicarakan perempuan. Dia terlalu fokus pada perkelahian.


Namun, aku sedikit terkejut ketika aku mengetahui Restu menyukai Aleesa, keponakanku. Aku tertawa karena bahagia. Setidaknya restu pasti langsung aku berikan karena aku tahu bagaimana Aleesa. Aku tidak perlu mencari tahu perihal wanita yang dicintai putraku dan aku juga tidak perlu menjadi calon mertua galak penuh seleksi.


Restu memang tidak terlahir dari rahimku. Namun, dia aku rawat dengan sepenuh hati. Aku mencoba memberikan kasih sayang yang tak pernah dia dapatkan sebelumnya. Aku selalu memberikan yang terbaik kepada putra sulungku itu.


Mendengar perkataan Restu barusan, hatiku sedikit sedih. Selama delapan belas tahun menjaganya aku baru mendengar kata manis penuh arti yang membuat aku menangis. Aku bahagia dan sangat bahagia karena Restu benar-benar manyayangiku sebagai ibunya.


"Tuhan, terima kasih telah mengirimkan Restu kepada keluarga kecilku. Aku sangat bahagia."


#Pov. End


"Gak kerasa kamu udah mau nikah aja," gumam Rindra.


Pria itu teringat bagaimana pertama kali dia bertemu dengan Restu. Bagaimana sulitnya dia mendekati Restu. Namun, perlahan dia mampu dekat dengan anak yang mengalami trauma cukup dalam dan sekarang sudah sah menjadi putranya secara hukum.


"Semoga kamu bahagia selalu, Nak."


.


Selesai dengan penampilannya, Restu masih betah berdiri di depan cermin. Dia melihat pantulan dirinya yang sangat tampan mengenakan baju pengantin warna putih yang senada dengan kebaya Aleesa.

__ADS_1


"Tak terasa ... umurku sudah seperempat abad," gumamnya. Restu tersenyum kecil.


Dia tidak menyangka jika dia masih hidup sampai di usia ini. Padahal, ketika dia siksa sang ayah dia berharap mati. Namun, Tuhan berkehendak lain. Tuhan mendatangkan para manusia berhati malaikat untuknya. Tangan mereka terbuka dengan lebar menyambut kedatangan dirinya yang bukan siapa-siapa. Mereka memberikan kasih sayang yang tak pernah Restu dapatkan sebelumnya. Mereka banyak mengajarkan ilmu kehidupan hingga Restu menjadi anak kuat sampai detik ini.


"Terima kasih kedua orang tuaku karena telah menyia-nyiakan aku," tutur Restu. "Jika, kalian menyayangiku, mungkin aku tidak akan pernah bisaa bertemu dengan keluarga hangat ini." Senyum tipis dapat Restu lihat dari pantulan cermin.


Tak terasa hari ini di mana dia akan melepas masa lajangnya. Ada rasa bahagia sekaligus nervous. Terlebih dia akan meminang keponakan dari ayah angkatnya. Wanita yang dia kenal sedari dia masuk ke keluarga Addhitama. Wanita yang dulu adalah teman bertengkar. Namun, Tuhan malah membuatnya jatuh cinta pada cucu dari Addhitama tersebut dan kini dia akan menggenggam tangan ayah dari Aleesa untuk mengucapkan ijab kabul.


"Kek, aku akan menjaga Aleesa sampai akhir hayat aku. Aku akan memenuhi keinginan Kakek." Restu berbicara sendiri.


Ada sebuah pesan yang Addhitama ucapkan ketika dia hendak pergi selamanya.


"Kamu adalah cucu Kakek. Kamu adalah anak dari Papih Rindra dan Mamih Nesha. Jika, orang lain berbicara hal aneh jangan didengar. Percayalah, semua keluarga Kakek sangat menyayangi kamu. Apalagi kedua orang tua kamu."


Restu masih ingat jelas ucapan dari sang kakek sebelum beliau menutup mata. Di sanapun ada Mamih, sang Tante, Rindra dan juga Radit. Semuanya dapat mendengar pesan terakhir dari Addhitama.


"Jaga cucu Kakek, ya. Jangan bertengkar terus sama Aleesa. Belajarlah mencintai Aleesa dan terus lindungi dia karena Kakek yakin kamu akan menjadi malaikat pelindung untuknya."


Hembusan napas kasar keluar. Restu masih menatap dirinya dari pantulan cermin. Semenjak SMA dia sudah mulai belajar menyayangi Aleesa hingga rasa itu semakin hari semakin besar dan tak bisa dikendalikan. Malah rasa sayang itu semakin hari semakin berubah dan mulai berganti dengan cinta.


"Aku bukan hanya menyayangi Aleesa, Kek. Aku juga cinta dia. Hari ini ... aku akan mengikat dia dalam janji suci pernikahan." Senyum mengembang di wajahnya. Untuk kesekian kalinya dia membenarkan penampilannya. Dia mengulurkan tangannya ke depan cermin.


"Saya terima nikah dan kawinnya Aleesa Addhitama binti Raditya Addhitama dengan mas kawin tersebut tunai."


"SAH!"

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2