
Aleesa datang ketika jam menunjukkan pukul tujuh malam. Sebelumnya Restu sudah menghubunginya dan menanyakan apakah dia akan menginap atau tidak. Aleesa merasa aneh dengan sikap Restu. Biasanya dia akan selalu memaksa, tapi kali ini sangat berbeda.
Tibanya di sana, Restu terlihat berbeda kepadanya. Aleesa menghampiri sang tunangan dan tersenyum manis ke arahnya.
"Uncle Papih dan Aunty Mamih belum datang?" tanya Aleesa.
"Belum." Sebuah kata yang menjadi jawaban yang teramat singkat.
Aleesa pun duduk di tepian ranjang pesakitan seorang Restu Ranendra. Dia menggenggam tangan sang tunangan dan menatapnya begitu dalam.
"Kami kenapa, Bie?" tanyanya. Restu sudah menatap dalam ke arah wajah Aleesa. Sorot matanya seakan ingin mengungkapkan sesuatu. Tangan Aleesa menyentuh wajah Restu yang memang masih tampan.
"Ada apa?"
Tidak ada jawaban dari Restu. Aleesa sekarang berpikir keras. Apakah dia melakukan kesalahan sehingga membuat Restu seperti ini? Selama bersama Restu, dia berubah menjadi manusia peka. Setiap kali ada perubahan pada sikap Restu, dia selalu introspeksi diri.
"Maaf," ucap Aleesa. Dahi Restu tiba-tiba mengkerut mendengar permintaan maaf dari Aleesa.
"Tadi aku berbicara sama Yansen." Restu hanya menghembuskan nafas kasar. Dia tahu, tapi dia tidak ingin membahas itu
"Kamu nggak marah 'kan?"
Hanya gelengan yang menjadi jawaban. Lagi-lagi Aleesa harus berpikir keras. Ada apa sebenarnya? Kenapa dengan kekasihnya?
"Ada apa dengan kamu? Katakanlah! Apa salahku?" tanya Alisa dengan begitu lembut.
Hembusan nafas kasar keluar dari mulut Restu. Dia semakin menatap dalam wajah kekasihnya. "Apa aku boleh bicara serius dengan kamu?" Kini gantian Aleesa yang dibuat tercengang. Hatinya berdegup tak karuhan.
"Bicara apa, Bie?".
"Apa selama ini sikapku terlalu berlebihan kepada kamu? Apa aku terlalu mengekang kamu? Apakah posesifanku membuat kamu risih?" Bertubi-tubi pertanyaan keluar dari mulut Restu. Aleesa hanya tersenyum ketika mendengarnya
"Apa perlu aku jawab?" Restu mengangguk.
"Aku tidak menilai semua sikap kamu kepadaku itu berlebihan. Aku menilai sikap kamu itu sebagai rasa sayang, tapi aku juga menginginkan sedikit kebebasan untuk berbicara dengan seseorang."
"Kekasih kamu?" Restu langsung menebak ke arah situ.
Aleesa menggenggam tangan Restu dengan begitu erat. Dia menatap kekasihnya dengan sangat dalam dan penuh cinta.
"Aku ingin membahas masalah hubungan Aku dengan dia. Aku ingin mengakhirinya karena aku hanya mencintai kamu," papar Aleesa dengan begitu serius.
"Apa kamu yakin dengan perasaan kamu kepadaku?" Restu sudah berbicara tidak seperti biasanya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Aleesa nampak bingung. Kenapa mendadak Restu menjadi orang yang tidak percaya diri.
"Aku tahu bagaimana hubungan kamu dengan kekasih kamu. Aku tahu seberapa manisnya dia, dan aku tahu--"
"Dia hanya masa laluku. Kamu adalah masa depanku." Sebuah senyum terukir di wajah Aleesa. Senyum yang begitu tulus dan juga menenangkan. Tak Restu sangka Aleesa mengecup kening Restu begitu dalam.
"Aku hanya mencintai kamu, Restu Ranendra."
Hati Restu pun lega seketika. Bibirnya kini melengkung dengan sempurna, dan dia pun menarik tangan Aleesa untuk masuk ke dalam pelukannya
"Aku juga mencintai kamu, Aleesa Addhitama." Restu mengecup ujung kepala Aleesa hingga membuat mereka berdua tersenyum dengan saling pandang.
"Cepat sehat, aku ingin menghabiskan waktu berdua bersama kamu." Mode manja sudah mulai on pada Aleesa.
"Besok juga aku sudah keluar dari rumah sakit." Aleesa terkejut. Dia langsung mengendurkan pelukannya dan menatap tajam ke arah Restu.
"Jangan bercanda, Bie!"
"Aku gak bercanda." Restu menarik kembali tangan Aleesa agar memeluknya.
"Kamu belum sembuh." Aleesa berucap dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang Restu.
"Aku sudah enakan. Aku harus kembali bekerja lagi karena meminang kamu membutuhkan uang banyak, Lovely," kelakar Restu.
"Bie--"
"Aku sudah mendapat ijin dari dokter ku. Jika, kondisiku malam ini semakin membaik besok aku keluar dari rumah sakit dan langsung kembali ke pekerjaan awal."
"Aku gak ngijinin." Tangan Aleesa semakin erat memeluk pinggang Restu. "Aku gak ingin kamu terluka lagi." Restu malah tertawa.
"Aku pasti akan memakai pelindung, Lovely. Aku tidak akan ceroboh lagi."
"Tetap saja, itu masih bahaya menurut aku." Aleesa tidak ingin kekasih kembali bekerja dulu.
"Hey, dengar aku." Restu sudah memundurkan tubuh Aleesa. Dia menatap dalam kekasihnya.
"Setelah aku pulang kerja, aku akan pulang ke rumah kamu. Aku akan tidur bersama kamu dan memeluk kamu hingga pagi menjelang. Aku janji itu."
Mata Aleesa berair. Dia belum rela kekasihnya kembali ke pekerjaan yang membahayakan itu.
"Aku janji, aku akan pulang dengan selamat tanpa luka sedikit pun." Aleesa memeluk tubuh Restu kembali dan membuat Restu tersenyum dibuatnya.
"Jangan buat aku khawatir."
"Iya, Lovely."
Suara cicak terdengar dan membuat pelukan Restu dan Aleesa terurai. Siapa lagi jika bukan Rio pelakunya. Dia datang bersama kedua orang tuanya.
"Kami ganggu, ya." Nesha sudah menggoda.
Restu hanya tersenyum dan dia malah menggenggam erat sang kekasih. Aleesa pun menggeleng dengan pelan.
"Dokter Rocki belum datang?" Rindra sudah membuka suara.
__ADS_1
"Belum, Pih."
Nesha membawa makanan untuk sang putra dan juga cemilan untuk Aleesa. Dia tahu jika keponakannya itu sangat suka dengan cokelat.
"Makasih, Aunty Mamih." Restu menggeleng ketika melihat Aleesa bagai anak kecil.
"Mau?" Restu pun menggeleng.
"Jangan kasih dia cokelat, kasih dia wine atau rokok. Dijamin gak bakal nolak." Ucapan Rio membuat Aleesa menatap ke arah Restu.
"Apa sih? Jangan dengerin Rio." Restu sudah mulai menjadi pria lemah jika berhadapan dengan Aleesa. Tangan Aleesa sudah mencengkeram kerah baju Restu hingga dia sedikit terkejut.
"Kalau ketahuan ngerokok atau minum wine, jangan harap aku mau ketemu kamu."
"Kenapa jadi galak begini sih?" Restu sudah meraih tangan Aleesa. Dia malah menggenggam tangan kekasihnya. "Aku ini lagi sakit, jangan digalakin." Restu malah memeluk pinggang Aleesa dan umpatan penuh kekesalan pun keluar dari mulut Rio.
"Setan!!"
.
Dokter Rocki sudah memeriksa kondisi Restu. Dia hanya menggelengkan kepala ketika melihat seorang pengawal garang tengah manja kepada seorang wanita. Sedari tadi tangan Restu terus menggenggam tangan Aleesa.
"Gimana?" Restu sudah menunggu jawaban dari dokter Rocki. "Udah sehat 'kan."
Rindra sudah menukikkan kedua alisnya. Sepertinya ada yang tidak dia ketahui. "Ada rahasia apa di antara kalian berdua?" sergah Rindra.
"Itu putra pertama Anda ingin keluar dari rumah sakit dan kembali bekerja."
"Apa?" pekik sang ibu. "Enggak! Kamu di sini dulu sampai sehat betul."
"Iya, Aunty. Sasa juga bilang begitu, tapi nih orang batu." Aleesa mulai mengompori.
"Lovely." Restu sudah memasang wajah memelas.
"Biarin, biar kamu dilarang sama Aunty Mamih."
Dokter Rocki hanya tertawa begitu juga dengan Rindra. Beda halnya dengan Rio yang sudah berdecak kesal.
"Mamih gak ngijinin," tekan Nesha.
Dokter Rocki dan Rindra saling pandang. Mereka berdua tahu apa yang diinginkan oleh Restu.
"Kondisi Restu memang sudah stabil. Lukanya juga sudah aman. Tinggal pakai pelindung saja. Saya yakin dia akan baik-baik saja."
"Enggak bisa begitu dong. Minimal pasien itu dirawat tiga hari. Ini baru dua hari." Nesha tidak mau kalah.
"Tubuh aku pegal Mih duduk dan rebahan aja." Restu sudah berani menimpali.
"Sekali-kali lu jadi anak penurut ngapa sih?" Rio mulai mengomeli. Rindra hanya menggelengkan kepala. Dokter Rocki hanya tertawa.
"Restu itu kerja di orang. Jadi, dia harus tanggung jawab dengan pekerjaannya." Sang papih mulai bersuara. Jika, sudah begini sebentar lagi lampu hijau akan menyala.
"Setiap pekerjaan memiliki risiko. Jadi, tidak ada yang salah." Rindra berkata dengan sangat tegas.
"Tapi--"
"Sekali Papih mengijinkan, tidak ada yang bisa larang."
Restu tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan sang kekasih sudah merengut.
"Jelek tahu." Restu memeluk tubuh kekasihnya yang masih khawatir dengan keadaannya.
Nesha dan Rindra sudah kembali ke rumah. Rio tengah keluar untuk mencari angin. Di ruang perawatan hanya tinggal Aleesa dan juga Restu.
"Bie, kamu beneran mau langsung kerja?" Pertanyaan Aleesa membuatnya yang tengah fokus pada benda pipih yang dia pegang menoleh. Sang kekasih yang tengah merangkul mesra lengannya nampak tidak setuju.
"Iya, Lovely. Banyak jadwal Madam yang terbengkalai dan semuanya harus disusun seperti awal." Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aleesa. Itu membuat Restu meletakkan benda pipihnya.
"Jangan gitu dong, Lovely." Restu sudah menggenggam tangan Aleesa. Menatap wajahnya juga. "Aku akan baik-baik saja."
Wajah muram Aleesa membuat Restu tidak tega. Dia pun memeluk tubuh Aleesa dengan begitu erat.
"Aku bekerja untuk masa depan kita." Restu membelai lembut rambut sang kekasih hati.
"Berjanjilah pulang dengan selamat."
.
Keesokan paginya Restu sudah siap dengan pakaian dinasnya dan mampu membuat Aleesa terpana untuk sejenak.
"Kenapa?" Restu yang tengah memakai jam tangan menatap ke arah Aleesa..
"Ganteng." Restu hanya tertawa. Dia mengecup kening sang kekasih dan merengkuh pinggang Aleesa. "Kamu kapan akan bertemu dengan dia?" Aleesa terkejut mendengar ucapan Restu. Dia menatap ke arah Restu dengan penuh tanya.
"Kamu ngijinin?" Restu mengangguk.
"Hubungi dia dan ajaklah bertemu hari ini juga. Aku tidak ingin hubungan kamu menggantung terlalu lama." Aleesa tersenyum dan menatap manik indah milik sang kekasih. "Kamu juga boleh pergi bersama dia seharian ini, tapi ini ijin pertama dan terakhir untuk kamu." Suara Restu berubah menjadi tegas.
Aleesa masih terdiam. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Restu. Pria yang terbilang kejam itu kini malah mengijinkannya bersama Yansen. Melihat Aleesa yang diam saja, Restu mulai mencari ponsel Aleesa dan mencari kontak Yansen. Sekarang, dahi Restu yang mengkerut ketika membaca nama kontak Yansen di ponsel Aleesa.
Yansen.
Hanya nama itu yang ditulis oleh Aleesa. Padahal kemarin-kemarin namanya bukan itu. Ada bahagia di hati Restu. Akhirnya, dia menghubungi Yansen dan terdengar suara Yansen sangat antusias.
"Ada apa, Sa? Apa kamu sudah mendapat ijin?" Restu menyerahkan ponsel kekasihnya agar Aleesa sendiri yang berbicara.
"Iya."
__ADS_1
"Kapan ketemunya?" Ada rasa cemburu di hati Restu ketika mendengar antusiasme Yansen. Restu memilih memeluk tubuh Aleesa dari belakang.
"Setelah pulang kuliah."
"Ya udah, kita berangkat bareng, ya." Yansen sangat girang.
"Enggak perlu, Sen. Aku diantar Kak Restu." Wajah ceria Yansen pun berubah kembali.
"Bie, kamu bisa 'kan antar aku?" Terdengar suara Aleesa bertanya dengan begitu mesra.
"Bisa dong. Apa sih yang enggak buat kamu." Restu membalasnya dengan begitu romantis. Sedangkan Yansen sakit hati mendengarnya.
Restu pun mengantarkan Aleesa menuju kampus. Di sepanjang perjalanan tangan mereka terus bertaut.
"Pulang jam berapa?"
"Enggak tahu, kemungkinan malam." Restu sudah melihat wajah Aleesa yang muram. "Jadwalnya padat banget, Lovely."
Tibanya di kampus, Aleesa tidak buru-buru turun dari mobil. Dia menatap terlebih dahulu wajah sang kekasih. Restu hanya tertawa dan dia menarik tangan Aleesa untuk kesekian kalinya agar memeluk tubuhnya.
"Love You." Aleesa pun membalas, "Love you too."
Sebuah kecupan di kening, Restu berikan untuk Aleesa. Kecupan yang begitu dalam dan begitu lama hingga mata Alisa pun terpejam untuk sesaat
"Nanti jemput, ya."
"Pasti. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu jalan berdua dengannya. Ketika kamu pulang pun aku akan menyuruh Rio untuk menjemput kamu." Aleesa hanya mengangguk. Dia juga tidak ingin pulang bersama Yansen.
Mencoba memberikan sebuah kebebasan kepada Aleesa untuk berbicara dengan Yansen. Dia juga tidak ingin berlama-lama hubungan Yansen dan Aleesa menggantung. Biarlah hubungan mereka berakhir dan biarlah hubungannya dengan Aleesa berjalan dengan semestinya hingga menuju sebuah kata sah.
Sedari tadi senyum terus terukir di wajah tampan Yansen. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aleesa. Dia mengira ini hanya sebuah salah dengar saja, tapi pada nyatanya itu memang suara Aleesa. Yansen pun menunggu Aleesa kembali di parkiran kampus. Namun, dia harus menelan pil pahit ketika Aleesa keluar dengan dari mobil dengan wajah riang dan melambaikan tangan pada seseorang yang berada di balik kemudi. Ingin dia mendekat, dua teman Aleesa sudah lebih dulu mendekat. Akhirnya dia memilih untuk menjauh.
Yansen ingin cepat siang nanti. Dia tidak sabar untuk berbicara berdua dengan Aleesa. Momen yang sangat dia tunggu. Hingga waktunya pun tiba. Yansen sudah menunggu Aleesa di tempat biasa. Sedangkan Aleesa belum datang.
Senyumnya luntur ketika melihat Aleesa datang dengan seorang pria yang memakai kemeja putih dan berjas hitam. Genggaman tangan mereka berdua membuat hati Yansen hancur untuk kesekian kali..
"Maaf lama, Sen." Aleesa sudah menyapa Yansen dengan tangan yang masih bertaut.
"Aku berangkat, ya." Yansen dapat mendengar itu dengan jelas walau orang itu menggunakan masker. Aleesa mengangguk.
Sebuah pemandangan yang tak biasa harus dia lihat. Di mana kening Aleesa dikecup mesra oleh Restu di depan matanya. Sungguh hatinya nyeri.
"Hati-hati, Bie." Tangan lebar itu mengusap lembut rambut Aleesa dan semakin membuat Yansen terluka.
"Kenapa harus sesakit ini, Tuhan?" batin Yansen.
Aleesa sudah duduk di depan Yansen. Dia tersenyum ke arah Yansen.
"Sepertinya kamu sangat bahagia dengan pasangan kamu yang sekarang." Yansen mencoba menyindir Aleesa.
"Tanpa harus aku menjawab, kamu pasti tahu akan hal itu." Aleesa mencoba menimpali dengan nada santai. Sebelumnya dia sudah menyiapkan hati dan telinga untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh Yansen.
"Aku ke sini tidak ingin berdebat," ujar Aleesa. "Aku ke sini ingin membicarakan perihal hubungan kita."
Padahal, Yansen ingin berlama-lama bersama Aleesa di sini. Akan tetapi, sepertinya itu hanya mimpi untuknya.
"Kamu mau putus?"
"Bukankah itu yang harus kita lakukan sedari awal?" Aleesa menjawab dengan lantang. "Di sini, aku akui aku yang salah. Aku mengkhianati kamu karena kamu lebih dulu mengkhianati aku," ungkap Aleesa.
"Aku terpaksa."
"Aku tahu, tapi tidak bisakah kamu bicara baik-baik kepadaku? Pasti aku akan mengerti dan mengalah dengan sendirinya." Aleesa sudah menatap wajah Yansen.
"Pada malam itu aku coba kabur, tapi aku malah keserempet motor dan akhirnya mereka semakin mudah untuk memakaikan cincin di jari manis ku." Aleesa hanya tersenyum mendengarnya.
"Aku sudah tahu perihal kamu dan Nathalie sebelum kamu bertunangan. Aku lelah dengan yang namanya teror, aku hanya ingin kejujuran dari mulut kamu. Namun, tak pernah ada yang kamu ucapkan kepadaku." Terlihat raut kecewa di wajah Aleesa.
"Aku tidak ingin menyakiti kamu."
"Aku lebih baik sakit di awal, dari pada mengetahui dari orang lain yang pastinya akan lebih menyakitkan." Aleesa mencoba untuk baik-baik saja.
"Aku tengah mencoba memperjuangkan hubungan kita."
"Apa yang mau diperjuangkan? Kakak kamu tidak setuju dengan aku, begitu juga dengan keluargaku." Aleesa bicara realita. Yansen pun terdiam.
"Setidaknya aku masih ingin bersama kamu sebelum aku pergi," ucapnya begitu lemah. Aleesa menghela napas kasar.
"Mungkin kita ditakdirkan hanya sebagai teman." Aleesa sudah meraih tangan Yansen. Itu membuat Yansen melihat ke arah tangannya.
"Bahagialah dengan wanita pilihan kakak kamu, dan aku juga akan bahagia bersama pria yang sudah mengobati rasa sakitku."
Mata Yansen berair mendengarnya. Dia menatap ke arah Aleesa dengan wajah sendu.
"Apa semudah itu kamu melupakan aku? Melupakan kenangan kita?" Suara Yansen bergetar.
"Tidak akan pernah bisa aku lupakan semua kenangan kita, Sen. Terlalu banyak dan terlalu indah," sahut Aleesa. "Biarlah kenangan itu akan aku simpan di suatu tempat yang khusus tanpa mengganggu kenangan yang akan aku ukir bersama pria yang aku cintai sekarang." Sekuat tenaga Aleesa menahan air matanya.
Yansen menyeka ujung matanya. Dia mencoba untuk tersenyum kepada Aleesa. "Ternyata hanya aku yang mencintai kamu terlalu dalam. Tidak dengan kamu."
Aleesa menghembuskan napas kasar. Dia mencoba untuk menahan laju air matanya untuk kesekian kalinya. Sakit hatinya mendengar kerapuhan dari Yansen.
"Kenapa rasa ini harus hadir? Jika, pada akhirnya kita saling menyakiti seperti ini." Yansen sudah menunduk dalam. Aleesa benar-benar tidak tega melihatnya. Dia mendekat ke arah Yansen. Dia. mengusap lembut pundak Yansen, tapi Yansen malah memeluk tangannya dan membuat tubuh Aleesa menegang.
"Ijinkan aku berada di samping kamu sampai aku pergi nanti." Aleesa mengusap lembut rambut Yansen. "Aku mencintai kamu, Sa."
Akhirnya, air mata Aleesa menetes begitu saja. Dia belum bisa berkata apapun. Dia sangat merasakan betapa sedihnya Yansen.
__ADS_1
Di dalam mobil seorang pria yang masih betah bersandar di balik kemudi hanya menatap datar video yang dikirimkan oleh anak buahnya. Tidak ada ekspresi di wajahnya. Ingin rasanya dia turun dan menarik tangan kekasihnya agar menjauh dari laki-laki yang ada di samping Aleesa itu. Namun, dia harus memberikan kesempatan kepada Aleesa untuk menyudahi semuanya.
"Apa kamu sedih juga?"